Surat Tulisan Tangan dari Landlord di Jaman Internet

… orang boleh bilang teknologi baru akan banyak merubah, bahkan menghanguskan tradisi lama dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Bisa jadi itu betul, dan mungkin semua orang mempercayainya, tetapi tidak halnya dengan menggantikan rasa – a random thought.

surat_dari_landlord

Surat dari Landlord Kesayangan

Menulis surat. Mengambil selembar kertas putih  bergaris, mengambil tinta, membuat tulisan tangan di atasnya dengan sepenuh rasa, kemudian membubuhkan tanda tangan di bawah nya. Selanjut melipat, dan memasukkanya dalam amplop, mengelem amplop, menulis alamat tujuan di atas amplop, serta membubuhkan perangko di pojok kanan atas amplop. Terakhir, memasukkanya ke dalam kotak surat. Dan berharapa surat sampai ke alamat tujuan dengan selamat, dan menunggu Pak Pos datang membawa surat balasan.

Rasanya, itu adalah cerita nostalgic di masa lalu buat saya. Sampai-sampai dulu tahun 90-an ada lagu dangdut yang cukup ngehits di radio sampai ke pelosok kampung-kampung, liriknya kurang lebih seperti ini:

” pak pos, pak pos adakah surat buat ku, pak pos … ” (eits ternyata masih ada lagu itu di soundcloud)

Dulu juga kita akrab dengan istilah sahabat pena. Yang foto dan alamat lengkapnya tertulis lengkap di belakang buku LKS kita. What a memorable moments at that time.

Nah, belakangan saya merasa hidup di jaman dulu. Gara-gara landlord rumah saya, berkomunikasinya dengan saya dengan selalu melalui surat yang ditulis tangan, ditandatangani, dalam amplop berperangko £1 (setara Rp. 22.000) dan dikirim lewat kantor pos. Seperti hari ini, yang memberi tahu saya, akan ada orang yang memasang insulator di rumah, agar rumah lebih hangat, dan hemat energi, karena sebentar lagi memasuki musim dingin. Indeed, kalau boleh meminjam bahasanya Syahrini,  ini sungguh sesuatu buat saya. Landlord saya yang satu ini memang sangat-sangat spesial.

Bagaimana tidak, di negara semaju Inggris, di saat teknologi informasi dan komunikasi yang orang bisnis bilang sebagai disruptive technology, masih ada orang anti mainstream yang memakai cara tradisional dalam berkomunikasi jarak jauh. Padahal, sudah ada email, telpon, sms, yang lebih efisien, cepat, dan gratis. Mengapa juga repot-repot duduk di meja, menulis surat, keluar duit untuk membeli perangko, meluangkan waktu untuk pergi ke kantor pos atau kotak surat terdekat? Sepertinya landlord saya ini sengaja ingin melestarikan tradisi.

Di jaman di negara yang hampir semua transaksi keuangan serba elektronik ini, sang landlord juga dengan senang hati, tiap bulan datang ke rumah untuk mengambil pembayaran sewa rumah secara cash. Hal yang tidak lazim bukan? Padahal pembayaran bisa disetting dilakukan secara otomatis tiap bulanya melalui internet banking. Sepertinya sang landlord sengaja tak mau melewatkan momen interaksi sosial antar manusia secara langsung, mengetuk pintu, bertegur sapa, berbasa-basi sebentar, menanyakan kabar, menanyakan keadaan rumah kalau-kalau ada masalah, atau mengobrolkan hal-hal lain tentang makanan, sepak bola, sejarah, budaya, atau hal-hal ‘remeh temeh’ yang manusiawi lainya. Kegiatan yang tidak ada value ekonominya sama sekali, bahkan pemborosan sumber daya, dari sudut pandang bisnis modern jaman sekarang. Tetapi tentunya, ada value yang tak tergantikan dari sudut pandang kemanusiaan kita.

Sampean mungkin mengira Landlord saya adalah orang yang sudah berumur di usia senjanya dengan pola pikir tradisional ortodoknya. Tetapi bukan, kawan ! Landlord saya masih terlihat sangat muda diusianya yang belum genap 40 tahun.

Ohya mengenai cerita sang landlord (namanya lihat di surat di atas), beliau ini orang paling terkenal diantara mahasiswa Malaysia dan Indonesia, terutama yang membawa keluarga, di seantero Nottingham. Beliau super baik orangnya. Punya ratusan rumah di Nottingham, dan disewakan ke mahasiswa terutama yang berkeluarga dengan harga miring. Bayangkan saat disebelah rumah, untuk satu kamar sempit, dengan dapur dan kamar mandi sharing, paling murah disewakan dengan harga £109 per minggu, rumah yang saya tempati, satu rumah dengan dua kamar double bed, hanya disewakan dengan harga £325 per bulan, full furnished. Dan harga itu sudah bertahun-tahun tidak dinaikkan.

Selain murah, sang landlord baiknya luar biasa. Umumnya, jika ada kerusakan di rumah, kita yang harus lapor ke landlord, menunggu untuk diperbaiki, dan sering kali kita kena charge untuk biaya perbaikan. Nah landlord saya ini, selalu preventif, ibarat kata jangan menunggu sakit terus diobati, tetapi bagaimana caranya tidak sakit. Secara rutin, beliau mengontrol kondisi rumah, agar tidak ada masalah. Beruntungnya, kami mahasiswa Indonesia yang membawa keluarga, dengan beasiswa yang sangat cekak dari pemerintah. Kehadiran sang landlord sungguh sangat berarti. Terima kasih pak Landlord, semoga sehat dan baik selalu. God Bless you !

Advertisements

6 comments

  1. Aku maleh pingin nulis surat juga kang hahah.

    Koyoke asyik yaaa…

    Nek tak delok soko tulisane, landlordmj kui karaktere suka bersosialisasi. Soale jarak antar tulisane renggang renggang ombo. Nek tulisane rapet biasane wonge seneg dewean menyendiri di tempat sempit hahha.

      1. Hahhaha berati pikiranmu melu ruwet kang. Tapi kudu tak delok disik tulisanmu kang. Soale nek cuma meraba2 yo ga iso njelasne karaktere sing tenanan hahaha

  2. Waah…blh minta alamatnya dan kontak landlordnya ga pak?
    Boleh jg tuh nnt buat saya kuliah disana, ada yg deket sama UCL kah rmh nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s