Dari Oxford : Tentang Si Dodo dan Manusia Indonesia

…. jangan takut akan tekanan dan masalah, karena dia akan membuat mu mengetahui bahwa kemampuan mu lebih dari yang kamu yakini. Takutlah dengan kenyamanan dan kemanjaan, karena bisa jadi itu membunuh kemampuan mu secara perlahan – a random thought.

kampus_oxford_1

Salah Satu College di Universitas Oxford, Inggris

Sabtu pagi yang cerah itu, saya dan teman-teman Indonesia lainya sedang berjalan-jalan di kampus Universitas Oxford, Inggris. Salah satu kampus tertua dan terbaik di dunia itu. Menyusuri jalan-jalan yang suasananya tenang dan meneduhkan, di antara College-College dengan bangunan-bangunan tuanya dengan arsitektur khas Romawinya yang megah dan gotic.

Seorang teman saya yang baru pertama kali berkunjung ke kampus ini, tiba-tiba nyeletuk:

eh, suasananya kok kayak suasana di komplek pesanten ya, cak ?

Hehe, exactly, kan sudah pernah saya bahas di tulisan saya di blog sebelumnya (lihat disini dan disini). Sang teman pun langsung terdiam. Entah kenapa dia terdiam. Sesekali berpapasan dengan mahasiswa-mahasiswi yang masih mengenakan pakaian wisuda. Sepertinya mereka baru saja diwisuda. Duh, merinding rasanya melihat lulusan universitas terbaik di dunia ini. Wajah-wajah mereka sangat meyakinkan, kalau mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas dan berpendidikan. Mereka pastinya adalah orang-orang pilihan dari berbagai penjuru dunia. Saya hanya bisa rasan-rasan dalam hati: duh ndah no, yok opo yo rasa banggane diwisuda dan menjadi alumni Oxford.

oxford_natural_history_museum_2

Natural History Museum, Universitas Oxford

Selain menyusuri kampus, di Universitas Oxford, kami mengunjungi beberap museum yang terbuka untuk umum dan gratis. Salah satunya adalah Museum Natural History. Di museum ini, kita bisa melihat hasil kerjaanya salah satu orang paling terkenal di dunia hingga sekarang, yaitu Charles Robert Darwin dengan Teori Evolusinya. Nah, di museum ini kita bisa melihat bukti-bukti yang mendukung Teori Evolusinya Darwin. Kerangka dinosaurus misalnya, yang menjelaskan teori seleksi alam.

oxford_natural_history_museum

Kerangka Dinosaurus di Museum Natural History, Oxford

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Si Dodo. Siapa itu si Dodo? yang jelas bukan nama orang Indonesia. Tapi nama sebuah burung, yang juga dijadikan salah satu bukti teori evolusi, khususnya teori seleksi alamnya Darwin. Konon, si Dodo ini dulu awalnya adalah burung yang layaknya burung lain yang bisa terbang. Karena kondisi alam yang kurang mendukung, konon burung dodo ini terbang dari daratan Eropa ke Kepulauan Mauritius. Nah, di kepulauan inilah burung dodo menemukan kehidupan barunya, dimana dipercaya selama jutaan tahun di Kepulauan Mauritius Si Dodo ini tidak ada pemangsanya.

oxford_si_dodo

Si Dodo, di Natural History Museum, Oxford

Karena tidak ada pemangsanya, sehingga si dodo tidak butuh lagi menggunakan sayapnya untuk terbang menghindar dari para pemangsa. Sebagai akibatnya, Si Dodo yang dulu pandai terbang, pada akhirnya tidak bisa terbang. Sebagai akibatnya, ketika para sailors yang kelaparan menemukan kepulauan Mauritius, mereka adalah santapan yang sangat lezat dan sangat mudah untuk ditangkap karena Si Dodo yang malang itu sudah kehilangan kemampuan terbangnya. Dan akhirnya, musnahlah sudah riwayat Si Dodo.

Saya tidak dalam posisi percaya atau tidak percaya tentang kebenaran Teori Evolusinya Darwin. Tetapi buat saya itu cukup masuk akal. Dan contoh nyata yang masih ada sekarang adalah tentang perbedaan bebek Indonesia dan bebek di Inggris. Secara fisik, bebek di Indonesia dan di Inggris sama persis. Sama-sama pandai berenang di sungai. Hanya saja setahu saya, bebek di Indonesia tidak bisa terbang, sementara yang saya tahu bebek-bebek di Inggris bisa terbang sangat tinggi dan sangat cepat di langit. Saya beberapa kali sangat terkesima dengan kemampuan terbang bebek-bebek di Inggris yang pandai bermanuver dari terbang di ketinggian langit biru, tiba-tiba bermanuver menjebur ke sungai, kembali berenang menyusuri sungai.

oxford_library

Perpustakaan Universitas Oxford

Kenapa bebek di Inggris bisa terbang dengan sangat gesit, sementara bebek di Indonesia tidak bisa terbang? Logika sederhana mengatakan ya kondisi alamlah yang membuatnya begitu. Matahari di Indonesia sangat murah sepanjang tahun, sehingga air di sungai pun akan tetap mengalir sepanjang tahun. Sementara di Inggris, musim berubah setiap tiga bulan sekali. Dan di musim dingin, aliran sungai itu membeku, menjadi gumpalan es batu. Kondisi inilah yang memaksa bebek-bebek Inggris untuk terbang mencari tempat lain yang lebih hangat, atau mereka pasrah dengan alam, mati membeku kedinginan.

Nah, logika inilah yang selalu saya gunakan, untuk menjawab tanya setiap berkunjung ke negara-negara maju. Kenapa ya, negara yang tanahnya tidak subur, sumber daya alamnya sangat minim, seperti Inggris ini tetapi bisa leading menjadi manusia-manusia pencetus ide-ide besar, temuan-temuan besar, yang merubah peradaban umat manusia hingga semaju seperti yang kita lihat seperti saat ini. Sementara manusia-manusia Indonesia yang hidup di tanah yang gemah ripah, tanah syurga katanya, seolah tenggelam kontribusinya dalam penciptaan peradaban dunia.

Manusia-manusia Indonesia yang menurut Mochtar Lubis, sebagaimana dikutip oleh Gus Dur, digambarkan sebagai bangsa pemalas, bersikap pasif di hadapan tantangan yang dibawa proses modernisasi dan paling jauh tidak mampu melakukan sesuatu yang berarti atas prakarsa sendiri.

Mengapa demikian? Jawaban logika sederhana saya adalah karena manusia Indonesia yang terlalu di manja oleh keadaan alam yang begitu sangat melimpah. Semua kebutuhan hidup disediakan begitu melimpah oleh alam Indonesia. Seolah semuanya tinggal diambil. Sementara manusia-manusia di Inggris, di Jepang, di Perancis, di Jerman mereka digembleng oleh alam yang berubah-berubah. Ada musim dingin yang membuat mereka tidak saja kedinginan, tetapi membuat tak sebatang pohon pun yang menghasilkan buah atau umbi yang bisa dimakan.

Kondisi itulah yang mungkin membuat manusia Indonesia pada akhirnya malas berolah pikir, dan membuat manusia-manusia di negara-negara maju sekarang terbiasa berolah pikir, bahkan berfikir sangat keras. Akibatnya, ketika sumber daya alam itu sudah mulai habis, dan komoditas ekonomi dunia tidak lagi berupa hasil alam, tetapi bergeser komoditasnya menjadi teknologi dan ilmu pengetahuan, kita saksikan seperti sekarang. Negara mana yang memperoleh kemakmuran berlimpah? Singapore negara kecil yang tidak punya sumber daya alam atau negara besar Indonesia yang sumber daya alamnya melimpah?

Padahal kanjeng nabi, pada abad ke-6 sudah mengingatkan:

…. barang siapa ingin menghendaki dunia, maka hendaklah dengan ilmu. barang siapa ingin menhendaki akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya, hendaknya juga dengan ilmu.

Yah ilmu yang tidak lain dan tidak bukan adalah hasil olah pikir, bukan? Berapa banyak ayat Alquran yang berakhiran dengan:

…. supaya kamu berfikir.

Semoga kita bangsa Indonesia, tidak bernasib setragis burung Dodo. Dengan belajar dari sejarah alam tentang si Dodo, semoga kita tidak takut akan tekanan dan masalah, karena dia akan membuat kita  mengetahui bahwa kemampuan kita lebih dari yang kita yakini. Sebaliknya, semoga kita hendaknya merasa takut dengan kenyamanan dan kemanjaan, karena bisa jadi, justru itu yang akan membunuh kemampuan kita secara perlahan-lahan.

oxford_computer_science

Jurusan Ilmu Komputer , Universitas Oxford

Salam semangat dan optimis untuk kita manusia-manusia Indonesia, yang insha Allah akan berkemajuan dan diperhitungkan dalam pemajuan peradaban umat manusia di dunia. Salam hangat dari kota Oxford !

Advertisements

4 comments

    1. hehe, saya juga baru tahu disini mbka, ke kampus tiap hari lewat pinggir sungai, takjub pertama kali lihat bebeknya bisa terbang tinggi sekali, seperti burung 🙂

  1. Salam Kang Ahmad,
    Tulisan diatas sangat menginspiratif Kang
    Tulisan diatas memang benar adanya bahwa ketika kita dimanjakan dengan ketersediaan “semuanya” kita akan jadi malas dan tidak semangat untuk berjuang, berbeda dengan yang “terbatas” justru menjadi pekerja keras, berinisiatif dan tangguh, seperti negara Iran [terlepas dari ideologi mereka yang Syiah] yang di embargo PBB justru menjadi salah satu negara Islam yang maju karena “kepaksa” untuk mandiri dalam segala hal.

    Saya kok melihat kecenderungan hal itu Kang didunia akademik khususnya didunia kampus. Saya melihat mahasiswa yang pas-pasan, jadi pas butuh kurang hehehe.., mereka “rekoso tenan” dalam belajar, rajin puasa, lelaku prihatin, rajin ke perpustakaan dan uniknya lebih berprestasi.
    Dan hal itu jarang saya temui pada mehasiswa yang keadaannya cukup dan berada.

    Jadi memang keterbatasan itu bisa menjadi motor penggerak bagi kita untuk mencapai apa yang dicita-citakan, Wallahu ‘Alam

    Selamat berakhir pekan Kang Ahmad sekeluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s