Dari Sudut Kota London: Para Manusia Setengah Manusia Di Dalam Tabung Bawah Tanah

….. kadang sisi kemanusiaan ku sering terusik, ketika ‘mesin’ itu perlahan menghilangkan sisi-sisi kemanusian kita. Menjadikan kita tak ubahnya mesin-mesin yang sangat mekanis. – a random thought

tube_london_edit

Orang-orang Menunggu Kedatangan Tube (London, 2015)

“ziiink….ziiiinkk….. ziinkk… wushh….. wush wush….. zink zink “. Argh, suara itu. Ya suara itu. Suara yang membuat ketenangan ku sellau terusik. Suara roda besi bergesekan dengan rel besi berpadu dengan dengan suara angin yang terjepit oleh kereta api yang melaju super cepat, di dalam lorong-lorong berbentuk tabung di bawah tanah. Lorong-lorong bawah itu tak ubahnya lorong-lorong kerajaan rayap di istana bawah tanah kota london. Kereta api itu mereka sebut ‘Tube’. Ya, nama itu mungkin karena bentuk nya yang memang berbentung tabung yang membujur panjang.

Orang-orang berjalan, tapi seperti berlari, di lorong-lorong sempit, di eskalator yang sangat panjang, di setiap stasiun kereta api bawah tanah di kota itu. Aku, yang cah ndeso, yang biasa berjalan perlahan menikmati segarnya udara di antara pepohonan yang daunya rimbun, tak pelak sering jadi korban tabrak lari. Tapi akhirnya aku menemukan aturan main nya. Minggir di sisi paling kanan jalan, atau kamu akan tergilas. Entahlah, apa yang mereka kejar, bukankah kereta api cepat itu selalu pasti datang setiap 2 menit sekali. Mungkin filsafat hidup orang-orang modern itu: “Time is Money”, literally benar buat mereka. Satu detik waktu yang terbuang barang kali bisa berarti kehilangan ribuan poundsterling bagi mereka.

Tapi ada yang aneh buat ku, di antara kerumunan manusia yang merayap itu, nyaris tak terdengar suara manusia bercakap-cakap. Hanya suara “prak prak prak”, hentakan sepatu-sepatu yang beradu dengan lantai, dan suara ‘tit’ ‘tit’ ketika mesin-mesin itu beinteraksi dengan manusia tanpa perlu sepatah kata pun harus terucap. Bahkan seorang asing yang baru pertama kali datang pun, tak perlu bertanya, harus kemana bila hendak kemana. Semua mesin-mesin itu, papan-papan informasi, dan papan display digital yang menempel di dinding atau menggantung di atap itu, sudah memberi tahu segalanya.

Di pagi hari, kereta api bawah tanah itu selalu penuh tumpah ruah oleh manusia-manusia. Ratusan manusia itu duduk-duduk di kursi yang berderet di pinggir gerbong, atau berdiri di tengah-tengah gerbong. Tapi mereka tak perlu berdesak-desakkan, apalagi sampai dorong-dorongan, seperti penumpang busway atau KRL di kota Jakarta.  Mereka masuk dan keluar kereta api dengan sangat tertib tanpa sedikit pun kegaduhan, lewat pintu kereta yang membuka dan menutup secara otomatis. Karena, kereta berikutnya sudah pasti datang setiap 2 menit kemudian. Dan hanya butuh waktu dalam hitungan menit saja untuk menempuh jarak puluhan kilometer. Di dalam kereta api pun nyaris sepi tanpa kata. Orang-orang yang hampir semuanya terlihat rapi, wangi, cantik-cantik, dan ganteng-ganteng itu terlihat begitu sibuk dengan dirinya sendiri. Ada yang membaca harian Metro, koran cetak gratis yang bisa diambil di seluruh stasiun kereta api dan bus di seluruh UK itu. Atau asyik membaca Novel, dan tentunya banyak yang asyik dengan telepon genggamnya. Atau terdiam diri tanpa kata. Hanya terdengar rekaman suara perempuan dari mesin, yang memberi tahu nama setiap setasiun kereta api tujuan pemberhentian berikutnya.

Aku yang sendirian, terhanyut dalam pikiran ku sendiri. Di sudut kereta itu, pikiran ku terbawa pada sosok Pak De Jos, yang menjajakan nasi pecel bungkus murahnya, berdesakan dengan para penumpang di kereta api ekonomi KRD Jurusan Jombang-Surabaya. Kereta ekonomi yang benar-benar merakyat, bukan saja harga tiketnya yang super ekonomis, hanya Rp. 2000, tetapi di setiap gerbong kereta itu terjadi kegiatan ekonomi para rakyat jelata itu. Beraneka dagangan dari makanan, mainan, dompet, jepitan rambut, cutton bud, bahkan hingga BH pun ditawarkan di atas gerbong. Mereka membagikan satu per satu barang dagangan itu kepada setiap penumpang kereta, kemudian mengambilnya kembali, kecuali jika penumpang itu mau menggantinya dengan sejumlah uang. Kereta api murah itu juga berfungsi sebagai transporter utama produk ndeso seperti pisang, mangga, kelapa, jagung, telur ayam kampung dan konco-konconya dari desa ke kota Surabaya atau sebaliknya, barang-barang kota seperti pakaian dari kota Surabaya ke desa.

Di tengah kesendirian sepi tanpa kata dalam kereta tabung itu, hati ku pun tiba-tiba juga rindu pada sosok Kang Paeno, yang dengan tegar bercerita kisah hidupnya yang memilukan, kepada ku yang baru dikenalnya sejak duduk di bangku yang sama di kereta Penataran, Bangil-Surabaya. Kang Parlan bercerita tentang istri yang dicintainya, yang baru saja meninggal dunia karena kanker payudara. Juga pada sosok Yu Juariyah, yang demi menghemat ongkos, setiap hari harus menuntun dan mengantar suaminya rawat jalan di Rumah Sakit Dr. Sutomo, karena kedua mata suaminya divonis nyaris buta. Dan juga pada gosip ibu-ibu kantoran yang terlihat sangat guyup dan penuh keceriaan itu. Semuanya di kereta api yang sama.

Sayang termaat sayang, belakangan aku mendengar kereta api rakyat itu sudah mati. Gerbong-gerbong kereta KRD dan Penataran itu sudah dipasangi AC yang sebenarnya lebih tepat dipasang di dinding rumah. Para rakyat jelata yang hidup dari kereta api itu pun sudah diusir pergi. Dan harga tiketnya pun naik berkali-kali lipat. Konon negara tak mau lagi memanjakan rakyat dengan memberikan subsidi. Apa kabar mereka, para rakyat jelata itu? Ku tahu mereka hanya bisa diam, meskipun mereka banyak sekali jumlahnya, seolah sudah menjadai suratan takdir buat mereka, untuk hanya menjadi bagian silent majority dari negara yang konon katanya sidang dikuasai partai yang mengatasnamakan diri sebagai partainya wong cilik. Sekencang apapun mereka berteriak, tak ada satu pun koran yang memberitakan suara mereka.

Pada kereta api KRD dan Penataran itu, dulu aku sering merutuki keadaanya. Datang selalu tidak tepat waktu, panas dan pengab, penuh dengan orang-orang sial dan berbuat sia-sia. Kerata api ‘tube’ bawah tanah di kota London itu, dulu pernah saya impikan dan idam-idamkan. Tapi entah kenapa, ketika saya benar berada di kereta super modern ini, ada sesuatu yang kurang, ada sesuatu yang hilang, yaitu sisi-sisi kemanusiaan yang begitu melimpah ruah di kerte KRD dan Penataran. Argh, jika harus memilih, haruskah aku pilih yang mana? Haruskah kemajuan teknologi yang serba mekanis otomatis itu menggerus sisi-sisi kemanusian kita? Ataukah biarlah kita tetap bergelayut dengan keterbelakangan, agar kita tetap humanis?

Argh, ini hanya igauan hati yang sedang sepi di antara keramaian kota London, salah satu kota state-of-the-art peradaban umat manusia di muka bumi tempat kita berpijak ini.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s