Saat Para Sarjana Merasa Kikuk Pulang Ke Desa nya

Apakah gunanya pendidikan?Bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota. Kikuk pulang ke daerahnya? -Sajak Seonggok Jagung, – W.S. Rendra

wisuda_ITS_bw

Sepasang Sarjana Baru (Dok. http://glapz.blogspot.com )

Beberapa hari belakangan ini, lewat jendela instagram, tidak sengaja saya banyak mengintip foto-foto wisuda sarjana. Rupanya para mahasiswa yang dulu pernah berada di kelas saya, beberapa hari ini resmi menjadi seorang sarjana. Saya begitu menikmati, pajangan foto-foto anak-anak muda belia yang terlihat cerdas, ganteng, dan cantik-cantik itu. Dan juga foto selembar kertas bertuliskan gelar kesarjanaanya yang dibubuhi tanda tangan sang rektor yang gelarnya sangat panjang itu. Foto-foto itu seolah bercerita tentang kebahagiaan, kesuksesan, dan tentang masa depan yang cerah. Dan saya pun seolah bisa turut merasakan semua rasa itu. Ijazah itu seolah menjadi tangga emas untuk menaiki kelas sosial yang baru. Ijazah itu seolah menjadi pemutus rantai kemiskinan dan kebodohan. Semoga benar-benar memang begitu.

Setiap tahunya, ada ribuan sarjana baru yang diproduksi dari kampus perjuangan itu. Tak ubahnya sebuah pabrik, setiap tahunya kapasitas produksinya pun selalu diperbaiki. Lebih cepat, lebih banyak, dan lebih baik kualitasnya harapanya. Dari ribuan sarjana calon para insinyur itu, saya yakin ada ratusan arek-arek ndeso seperti saya. Apalagi dengan program beasiswa nasional bidik misi yang digagas seorang mantan menteri yang dulu juga pernah mewisuda para sarjana baru di tempat yang sama.

Arek-arek ndeso yang sangat beruntung. Dari yang sangat sedikit dari teman-teman sedesanya, yang bisa bersaing dengan anak-anak kota, meskipun dari sekolah ndeso yang ala kadarnya, sehingga bisa diterima di kampus-kampus terbaik di negeri ini.

Benar adanya, jika pendidikan tinggi yang berkualitas itu telah mengangkat derajat sosial nya di tengah masyarakat. Memutus rantai kemiskinan yang diwariskan oleh orang tua dan kakek buyutnya. Menaikkan kelas latar belakang ekonomi mereka, dari kelas miskin kebawah, menjadi kelas ekonomi menengah ke atas.

Mereka tidak lagi harus seperti bapak emboknya. Yang harus bercucuran keringat, mengayunkan cangkul, mendorong gerobak dagangan, mendorong dan mengayuh becak, memanggul beban yang teramat berat, tersengat panasnya matahari, terguyur hujan, hanya untuk bertahan hidup.

Dengan selembar kertas itu, kini mereka bisa dengan mudah mendapatkan uang yang melimpah dengan mudah. Yang mengalir ke rekening bank nya setiap bulanya. Yang jika diinginkan cukup datang ke sebuah mesin canggih, gesek, gesek, gesek, berlembar-lembar uang pun keluar. Tak lagi perlu bermandi peluh dan terik matahari, cukup dengan berpakaian sangat rapi, berdandan cantik, ganteng dan wangi,  bekerja dari belakang meja di balik monitor, bekerja dengan cukup menggerak-gerakkan jari-jari nya. Di ruangan yang dingin, karena suhu udara yang panas sudah bisa diatur dengan mesin. Dan uang pun mengalir sendiri. Kemana-mana pun menjadi mudah, karena mobil baru segera menggenapi kesuksesan para sarjana ini. Hidup bergaya, bahagia dan sejahtera di kota-kota yang dulu selalu menimbulkan kenggumunan, yang hanya bisa terlihat dari layar beberapa inci dari desanya.

Tetapi, bagaimana dengan desa yang ditinggalkanya?

Desa selalu menemukan takdirnya sendiri. Tak banyak yang berubah. Tetap bertahan dengan keterbelakangan dan kebersahajaanya. Orang-orang pun masih bertahan hidup dengan cara yang sama. Kemiskinan pun masih enggan menjauh dari desa nya. Tetapi, diam-diam mereka pun sengaja berbahagia membiarkan desanya begitu. Agar setiap pulang ke desa, orang-orang masih bisa melihat keberhasilan dan keberuntungan hidup mereka.

Saya, jadi teringat sajak W.S Rendra, tentang seonggok jagung:

……Tak akan menolong seorang pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku
Dan tidak dari kehidupan
Yang tidak terlatih dalam metode
Dan hanya penuh hafalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
Tatapi kurang latihan bebas berkarya
Pendidikan telah memisahkanya dari kehidupanya

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoalanya?
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata :
“disini aku merasa asing dan sepi”

Dan saya hanya bisa merasa malu, menjadi bagian dari mereka. Cah-cah ndeso yang menjadi sarjana, yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk ndesonya. Semoga kelak lahir, sarjana-sarjana ndeso, yang tidak seperti saya. Sarjana-sarjana ndeso yang tercerahkan oleh pendidikan, yang belajar dari kehidupan. Bukan sekedar sarjana kutu buku. Tetapi sarjana yang mampu membaca sekitar nya. Sarjana yang mampu membawa perubahan pada desanya.

Advertisements

4 comments

  1. I really admire you as an awesome writer !!! inspiring kakak. Could I ask your email? we can share. I also want to get scholarship in Nottingham University. Glad to read your own writing.

    best regards
    Jenar
    Indonesia

    1. delematis ancen, cubo biyen cah ndeso kuliah jurusan sing dibutuhno nang ndesone yo? jurusan peternakan, perikanan, pertanian. Tapi jarene sarjana pertanian yo malah milih kerjo nang Bank, haha…. ruwet pancen. Hanya orang2 yg extra ordinary, yang mau membangun desanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s