Bersepeda Ke Sekolah bersama Ayah

… salah satu momentum paling berarti sepanjang kehidupan seorang laki-laki adalah ketika ada ‘malaikat’ kecil yang memanggilnya: ” AYAH !!!” – A Random Thought

ilyas_sekolah_1

Get Ready: Bike to School

Bumi tak pernah lelah dan tak pernah terlambat, menuruti hukum Tuhan, mengelilingi Matahari. Dan bulan September pun kembali datang. Menandai berakhirnya liburan musim panas yang panjang dan kembalinya anak-anak ke sekolah. Back to School.

September ini, berarti saya sudah tiga tahun di UK. Dan ternyata saya belum lulus. Berarti target yang saya buat waktu baru memulai tiga tahun yang lalu dulu meleset. Hahaha. Waktunya menertawakan diri sendiri. Yah, jalan yang saya pikir halus mulus, ternyata terjal, banyak tanjakan, dan berliku. Tapi merutuki hidup tidak ada artinya, lebih baik, meminjam istilah Prof. Komaruddin Hidayat, merayakan festival kehidupan ini. Dan terus bergerak, menuju tujuan.

September ini, Ilyas, diusianya yang 4 tahun, memasuki sekolah yang baru. Setelah selama setahun kemaren sekolah di Nursery School, tahun ini Ilyas masuk di kelas Reception di Primary School. Sekolah yang membuat setiap anak di negara ini merasa sangat senang dan excited di dalamnya.

Kalau sebelumnya, sekolah nursery berada di belakang rumah dan hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki dari rumah. Untuk sekolah baru ini, berada cukup jauh dari rumah. Hampir 30 menit kalau ditempuh jalan kaki. Nama sekolah baru tersebut adalah Berridge Primary School.

ilyas_sekolah_3

Seragam Sekolah Baru

Sebenarnya, ada Primary School di belakang rumah, tetapi entah kenapa hasil registrasi online kemaren, dapat sekolah pilihan yang ke 4. Padahal saya memilih berdasarkan, jarak terdekat dari rumah. Pengalaman dari teman, agar dapat sekolah yang diinginkan sebaiknya diisi dua pilihan sekolah saja dari lima pilihan yang disediakan. Yah, sayang tahunya baru setelah ada pengumuman diterima.

Karena jarak dari rumah jauh, kali ini Ilyas harus dibonceng ayah naik sepeda. Sepeda ayah terpaksa harus dipasang baby seat di belakangnya. Hehe, Ilyas ternyata sangat menikmati dibonceng naik sepeda. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya dia menyanyi girang. Apalagi kalau jalanya menanjak atau menurun ekstrim. Faster, faster, Ayah ! Alhamdulilah, saya pun juga sangat menikmatinya. Kebersamaan dengan si kecil diatas sepeda seperti ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidup saya.

ilyas_sekolah_2

Fasten the seat belt and Go !

Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di gerbang sekolah. Hari ini, karena hari pertama masuk sekolah, para staf sekolah terlihat lebih sibuk dari biasanya. Untuk melayani orang tua seperti saya yang belum tahu dimana kelas anaknya. Dan juga melayani pembelian seragam sekolah.

Sekolah hanya menyediakan jumper, seharga £ 6.5 itu pun tidak wajib sebenarnya. Untuk seragamnya bisa di beli di super market terdekat. Di Asda, 2 buah seragam atasan harganya hanya £2.5 . Sementara bawahanya hanya £3. Harga yang sangat murah untuk ukuran di UK ini. Lebih murah dari harga kentang dan ayam goreng di warung-warung Pakistan.

Seorang Ibu guru British, yang cantik dan funky (bibirnya ditindik, dan anting2nya tidak konvensional), mengantarkan kami sampai di depan kelas. Ilyas ditempatkan di Kelas Holy. Di depan kelas, seorang ibu guru yang lain sudah menunggu menyambut kami. What’s your name? tanyanya ke Ilyas dengan ramah. Ilyas jawab Ilyas dengan malu-malu. Kemudian sebuah stiker bertuliskan Ilyas ditempelkan di jumper Ilyas sambil mempersilahkan kami masuk kelas.

ilyas_sekolah_4

Feedback from his Teachers in the first Week

Di dalam kelas ada tempat gantungan jaket yang ada gambar dan nama masing-masing murid. Untuk ilyas dapat gambar pelangi, yang mungkin waktu otak saya lagi error, saya sebut it is umbrella. Yang kemudian dikoreksi sama Ilyas, No Ayah, it is a rainbow !

Setelah menggantungkan jaket, setiap murid yang datang harus memindahkan batu-batu kecil ke dalam kantong kain. Di batu-batu kecil itu, terlukis nama masing-masing surid. Dan setiap murid harus bisa menemukan namanya, dan memindahkan ke kantong kain. Eits, meskipun Ilyas belum bisa membaca, ternyata dia bisa mengenali namanya.

Di dalam kelas, murid-murid duduk mengelilingi seorang Ibu guru yang duduk di sebuah kursi dan sedang berusaha menangkan seorang muridnya yang sedang menangis tersedu-sedu. Saya pun meninggalkan ruang kelas itu dan kembali di rumah.

Mulai usia 4 tahun ini, sistem pendidikan di Inggris mewajibkan murid berada di sekolah dari jam 9 pagi hingga jam setengah 4 sore. Entah mata pelajaran apa yang diajarkan untuk bocah-bocah kecil yang masih suka menangis itu, sehingga mereka harus belajar selama itu. Yang jelas, setiap murid mendapatkan makan siang gratis di sekolah. Sekolahnya pun 100% gratis tis. Dan tidak pakai ribet. Pendaftaran hanya mengisi formulir online yang tidak banyak isianya, dan tidak pakai upload dokumen apa pun. Sudah habis itu, langsung masuk sekolah. Indeed, menyenangkan sekali pelayanan publik di Trust Society di negara maju seperti Inggris ini.

***

Di hari yang sama, seorang kawan yang baru saja pulang dari Inggris dan kembali ke Indonesia, curhat tentang ribetnya ngurusi sekolah anak-anaknya kembali di Indonesia. Apalagi, hampir 5 tahun sudah terbiasa dengan pelayanan serba mudah di Inggris.

Sudah lama jadi tren di kalangan kelas ekonomi menengah ke atas di perkotaan bahkan di daerah, bahwa sekolah dasar negeri tidak lagi diminati. Sudah distempel tidak maju dan ketinggalan jaman oleh para orang tua yang berada. Sebagai pengganti adalah SD full day yang ada labelnya Islam Terpadu, atau nama-nama yang kemarab. Konon sistem pendidikanya lebih maju, lebih islami, lebih mengedepankan pendidikan karakter dan sebagainya. Sehingga para orang tua pun tak keberatan meskipun harus membayar puluhan juta untuk biaya pendaftaran dan tentu saja biaya bulanan yang juga pastinya sangat mahal.

Sang Kawan pun, karena juga dari kelas ‘islam borjuis’ tak mau setengah-setengah dalam hal pendidikan anak-anaknya. Sekolah sejenis yang katanya salah satu yang terbaik di kotanya pun menjadi pilihan. Tetapi, ternyata kata sang kawan sekolah tersebut tak sebagus yang dibayangkan. Selain ribet administrasinya, anak-anaknya yang terbiasa sekolah di Inggris merasa tidak nyaman di sekolah dan mengatakan sekolahnya tidak bagus.

” Ibu, the school is not good. The students are uncontrolled. They are fighting and shouting”. Begitu kira-kira curhatan anak-anak kepada emboknya. Yang membuat anak-anak menjadi takut pergi ke sekolah. Hal sangat berkebalikan ketika mereka sekolah di Inggris.

Yah, hidup di Indonesia memang selalu lebih Challenging ! mudah-mudahan kita terus mau berbenah.

Advertisements

4 comments

    1. Beasiswa saya sebenarnya tidak meng cover buat family. Tapi alhamdulilah, cukup buat bertiga. Tentunya dengan memilih hidup sederhana, tidak hidup dengan gaya hidup orang sini yang suka party hehe. Biaya hidup di Nottingham kebetulan juga relatif lebih murah dibanding kota lain di UK. Gimana sif, mau bawa keluarga juga? it is once in life-time experience lo 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s