Kalau Perlu Saya Mencium Kaki-kaki Anda Semua

Saya malu kepada Allah Ta’ala, malu kepada Hadratus syeikh KH Hasyim Asy’ari, Malu kepada Kyai Abdul Wahab Hasbullah, Malu kepada Kyai Bisri Syansuri, Malu kepada Kyai Romly Tamim dan pendahulu kita yang telah mengajarkan kepada kita akhlakul rosul SAW Lebih menyakitkan lagi tadi pagi saya disodori koran headline mengatakan: ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’ – KH Mustofa Bisri

FATWA ROIS AAM

Gus Mus Menenangkan Kegaduhan Muktamar NU 33 di Jombang (okezone.com)

Belajar dari Muktamar NU ke-33, 2015

Awal Agustus ini, dua ormas Islam terbesar Indonesia, NU dan Muhammadiyah, sama-sama memiliki gawe besar, yaitu Muktamar yang agenda utamanya adalah memilih ketua umum baru. Muktamar NU yang ke-33 itu diadakan tanggal 1-5 Agustus 2015 di kota santri, Jombang, Jawa Timur, kota tempat para pendiri NU berada. Sementara Muktamar Muhammadiyah yang ke-47 itu diselenggarakan pada tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makassar Sulawesi Selatan.

Boleh dibilang Muktamar NU yang ke-33 ini adalah yang paling ‘heboh’, dan paling banyak dibicarakan bahkan menimbulkan polemik dan pro kontra di media masa, khususnya di media jejaring sosial. Gerakan ayo Mondok, yang merupakan rangkaian muktamar NU yang ke-33 sempat menjadi trending topik di twitter. Banyak yang mendukung, tetapi juga tidak sedikit yang mencela. Tak kalah heboh adalah tema yang diangkat, yaitu Islam Nusantara, yang menjadi bulan-bulanan di media masa dan media jejaring sosial, selama beberapa bulan sebelum hingga hari H pelaksanaan Muktamar. Ada yang pro tetapi banyak juga yang kontra. Bahkan para kyai dan bu nyai artis di TV pada nyinyir dengan Islam Nusantara. Tak kalah hebat, serangan balik dari kelompok-kelompok yang merasa terusik dengan term ‘Islam Nusantara’. Khususnya, mereka yang lebih condong ke Salafi/Wahabi. Kesan saya, mereka terlalu terburu-buru menghakimi ‘Islam Nusantara’ dengan pandangan mereka, tanpa sabar sedikit menoca memahami, opo sing dikarepake dengan Islam Nusantara yang dijadikan tema Muktamar NU yang ke-33 ini. Bahkan teman dekat saya jaman SMP, yang kebetulan salafiyyun, terang-terangan bilang sama saya untuk meng unfriend di facebook, hanya gara-gara saya pasang status tentang Islam Nusantara. Saya pun hanya tertawa dalam hati.

Berbeda dengan NU, euforia muktamar ke-47 Muhammadiyah, relatif kurang terdengar gaungnya. Tema yang diangkat pun yaitu Islam yang berkemajuan, relatif kurang mendapat respon dari masyarakat. Relatif adem ayem.

Rupanya, kegaduhan Muktamar NU itu berlanjut hingga hari H pelaksanaan Muktamar. Sialnya, kegaduhan kali ini, tidak disebabkan oleh ‘benturan’ Nahdliyin dengan kelompok lain seperti sebelumnya, tetapi kegaduhan yang dilakukan oleh para peserta muktamar sendiri. Mulai dari proses pendaftaran yang ruwet dan amburadul, hingga sidang pleno yang ricuh. Akibatnya, agenda pembacaaan tata tertib muktamar, yang sedianya dijadwalkan selesai pada hari pertama.  Harus molor berlarut-larut penuh ketegangan, hingga tata tertib muktamar itu baru disepakati di hari ketiga.

Menurut hemat saya, penyebab sebenarnya, ya ujung-ujung nya adalah ya lagi-lagi pada berebut kuasa, pimpinan tertinggi. Antara dua kubu, yang sebenarnya rival lama, pada muktamar lima tahun sebelumnya. Yaitu kelompoknya Gus Solah dan Hasyim Muzadi di satu kubu, dan kelompoknya Kyai Aqil Siroj yang Incumbent. Tetapi, teknisnya, yang menjadikan polemik berlarut-larut adalah tentang mekanisme pemilihan ketua umum. Kubu yang satu menginginkan sistem voting untuk muktamar kali ini, sementara kelompok yang lain menginginkan sistem AHWA (Ahlu Haq Wal Ahdi) atau sistem perwakilan melalui dewan formatur diterapkan mulai muktamr kali ini.

Perbedaan pandangan inilah, yang sebenarnya sudah diprediksi, yang menimbulkan kekisruhan. Sayangnya, para peserta muktamar yang kebanyakan para kyai ini ini banyak yang tidak sabar dan tidak mampu menahan emosinya. Hingga terjadilah peristiwa yang ‘memalukan’ itu pun terjadi. Para kyai terlibat adu mulut, saling serobot mik, bahkan saling dorong-mendorong. Parahnya semua itu terekam secara Live oleh media. Dan disaksikan oleh jutaan mata masyarakat Indonesia. Belum lagi statemen-statemen beberapa kyai yang justru seperti membuka aib sendiri dengan berkoar-koar di media, dengan klaim dan tuduhan yang belum tentu kebenarnya.

Saya pribadi, yang kebetulan pas akhir pekan, sehingga bisa mengikuti dari berita online, maupun streaming, miris, ngelus dodo dan malu sekali rasanya. Betapa, jamiiyah yang selama ini saya bangga-banggakan ternyata akhlaknya seperti itu, tak ubahnya para politisi di senanyan yang gontok-gontokkan. Bukankah mereka itu para kyai yang terkenal akhlak tawadu’ dan wira’i nya. Argh, tapi mungkin jaman sudah berubah dan kyai pun akhlaknya juga berubah.

Sampai-sampai, Martin van Bruinessen,  peneliti Islam NU di Indonesia, serta pengagum Gus Dur dan Nahdlatul Ulama dari Belanda, yang sengaja datang ingin melihat proses Muktamar organisasi Islam yang dia kagumi itu, sebagaimana saya kutip dari merdeka.com, dengan mata berkaca-kaca, berkata:

Saya sedih dan ingin menangis melihat kondisi ini.

Saya yakin, ada kelompok lain yang diam-diam bertepuk tangan, sorak sorai, dengan kericuhan dan kegaduhan di dua hari pertama muktamar itu. Terutama kelompok lain, yang sebelumnya berseberangan dengan NU khususnya dengan tema yang diangkat pada muktamar kali ini.

Berbeda dengan muktamar NU yang diberitakan gaduh oleh media, muktamar Muhammadiyah di seberang lautan diberitakan sangat teduh. Semua berjalan lancar, dan tidak ada isu-isu negatif yang menyertainya.

Ketika para Kyai Sepuh Turun Tangan

Tetapi alhamdulilah, kekisruhan itu akhirnya terdamaikan. Ketika para kyai sepuh, yang dipimpin oleh Gus Mus, menengahi kekisruhan itu. Dengan wejanganya yang dalam dan menyentuh, disertai isak tangis, dan gaya khas Gus Mus yang kalem itu, akhirnya mendiamkan para muktamirin yang sebelumnya gaduh. Ketika Gus Mus memberi wejangan, mendadak semuanya sunyi senyap, bahkan sebagian para peserta muktamar tak kuasa menahan tangis. Dan akhirnya, tata tertib muktamar itu dengan solusi dari para kyai sepuh, akhirnya diterima oleh semua peserta muktamar.

Membaca, mendengar, dan melihat video, wejangan Gus Mus itu pun, membuat saya berlinang air mata di lab. hari ini. Wejangan kyai yang sangat kagumi itu begitu menyentuh, bagaimana seorang kyai yang sangat dihormati itu, berkali-kali meminta maaf kepada para peserta muktamar, bahkan beliau bilang:

kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda, agar Anda Memperlihatkan Akhlak Jamiyah Nahdlatul Ulama, Akhlaknya Kyai Hasyim As’ary.

Berikut wejangan lengkap Gus Mus:

Mudah-mudahan hingga berakhirnya muktamar nanti, semuanya berjalan adem, tentrem, dan tercapai kebaikan bersama. Semoga ini menjadi pembelajaran terbaik bagi NU, khususnya pembelajaran Demokrasi di tubuh NU. Semoga NU menjadi ormas yang semakin dewasa. Dan bersama-sama Muhammadiyah, sebagai civil society, di negara Indonesia yang kita cintai ini. Penebar islam yang moderat, damai, dan pembawa rahmat buat sekalian Alam semesta.

Selamat Bermuktamar, NU dan Muhammadiyah !

Advertisements

7 comments

  1. Minggu wingi aku ngliwati Jombang. Ruame wakeeeh wong.. Wah ternyata enek sesuatu ya Muktamare. Sampe Gus Mus njaluk ngapuro. Duh ngisin2i yo kak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s