Kue Apem, Pan Cake, Puasa Ramadlan, dan Puasanya Orang Kristen

agama dan budaya  tidak bisa dipisahkan, namun bisa dibedakan asal-usulnya. Ajaran agama diyakini berasal dari Tuhan yang disampaikan lewat Rasul-Nya, sedangkan budaya merupakan budi daya ciptaan manusia. – Prof. Komaruddin Hidayat

Salah satu hal yang paling saya suka dari ndoro dosen pembimbing riset saya adalah ketika di sela-sela obrolan tentang riset, beliau tidak jarang mengajak saya mengobrol hal-hal lain tentang manusia dan kehidupan. Obrolan ringan seputar sisi-sisi kemanusian kita sebagai manusia. Seperti satu pagi itu, di bulan Ramadlan. Meski tidak pernah saya kasih tahu, setiap tahunya beliau selalu aware kalau saya sedang berpuasa Ramadlan.

***

kamu sedang berpuasa kan hari ini? masak sih sekedar minum air putih saja ndak boleh? ini kan musim panas yang sangat panjang siangnya, apa kamu tidak takut dehidrasi“. Pertanyaan ini selalu diulang setiap tahunya.

” ya benar, tidak boleh. Tapi saya baik-baik saja kok. Meskipun puasa disini lebih panjang, tetapi rasanya lebih mudah puasa disini ketimbang puasa di Indonesia”.

ooo, pasti karena di Indonesia lebih panas, kan?

“iya, benar “.

eh, ngomong-ngomong, sebenarnya di Agama Kristen juga ada lo ibadah puasa seperti puasa kamu itu. Kamu tahu yang namanya ‘lent’ ?

“kayaknya, saya baru dengar istilah itu”

ini lo, kamu bisa baca disini ” sambil mengetikan kata kunci ‘lent’ di google

” ooo, i see “.

Kamu tahu Pan Cake, kan?

” iya saya tahu”

nah, sebenarnya tradisi membuat kue pan cake di Inggris itu dulu dilakukan sebelum menjalankan ‘lent’ “.

” ohya, berarti sama dengan kue apem di Indonesia dong, Orang Islam di Indonesia, di Jawa khususnya, jamanya embah saya dulu selalu membuat kue apem sehari menjelang puasa Ramadlan”.

kayak apa kue apem itu, gimana tulisanya?

” boleh saya ketikkan di google anda?”

oh ya monggo !

Saya mengetikkan kata kunci ‘kue apem’ di google dari komputer beliau, kemudian saya klik ‘tab’ image.

” aha, kok mirip sekali dengan Pan Cake ya?” dengan ekspresi surprise

” ternyata budaya negara kamu ada kemiripan dengan budaya orang Inggris ya, saya baru tahu, dan ini sangat menarik sekali”.

***

pan cake edited

Pan Cake (Sumber: multiplydelicious.wordpress.com )

Dialog antar budaya, antar agama memang selalu menarik. Karena pada akhirnya kita bisa saling mengerti dan memahami bukan mencurigai. Karena pada akhirnya kita bisa saling belajar satu sama lain. Pada satu titik saya pernah merasa inferior melihat fakta umat islam yang terpecah belah, saling mengkafirkan antar kelompok, adanya perbedaan aliran. Tetapi, kalau kita melihat di Kristen pun ternyata pernah lebih parah, sejarah mencatat perperangan berdarah-darah pernah terjadi di Eropa hanya karena perbedaan denominasi kekristenan di Eropa. Saya pun bisa menjadi sangat bangga, Indonesia bisa menyatukan ribuan suku bangsa dengan bahasa berbeda-beda, ketika melihat bangsa Eropa yang relatif homogen pun, pernah mengalami sejarah kelam hanya karena perbedaan suku bangsa. Argh, pada dasarnya manusia dimana saja sama saja. ” People are People” kata ndoro dosen saya.

Eit, kembali ke kue apem dan pan cake. Saya jadi mendadak kangen dengan Kue apem bikinan si mbah saya (Allau yarham hum). Sayang, sekarang orang-orang desa pun udah wegah bikin kue apem ini menjelang puasa Ramadlan. Kalaupun ada selametan atau syukuran, yang dibikin adalah kue-kue modern yang kebarat-baratan. Memang tidak ada kaitanya kue apem dengan Ramadlan. Karena kue apem adalah produk budaya, dan Ramadlan adalah produk Agama. Tetapi, tak ada salahnya bukan, agama memperkaya budaya, dan sebaliknya budaya memperkaya ekpresi keberagamaan, asalkan tidak menyalahi esensi dari agama itu sendiri.

Kering rasanya, jika agama harus dimurnikan dari unsur budaya. Bukankah kita tidak pernah bisa lepas dari budaya dimana kita berada. Bukankah kita semua adalah anak kandung dari budaya?

Tak terasa, hari ini adalah hari terakhir kita berpuasa Ramadlan. Dan besok hari kemenangan itu telah kita. Besok kita umat Islam di Indonesia selain sholat ied, juga akan merayakan festival budaya terbesar di tanah air. Festival budaya yang telah diperkaya oleh nilai-nilai agama. Mudik, kumpul keluarga, halal-bihalal, makan ketupat dan opor ayam, serta jangan lupa saling maaf-memaafkan.

Selamat hari lebaran, kawan! Mohon maaf lahir dan batin ! Semoga kita termasuk orang yang kembali fitrah, dan termasuk orang-orang yang bejo. Allahumma Ammiiin.

Advertisements

6 comments

  1. lucu yo kang. Pan cake itu kalau di jowo rasane mirip Serabi kang. Nek apem rasane bedo haha.

    Btw, secara batiniah, sebenarnya ngobrol sama beda agama itu enak. Apalagi kalau membahas persamaan2 di agama lain, kayak puasa dan apem tadi haha.

    Jadi damai sekali rasanya.

    1. exactly betul ndop. Dialog antar agama, dialog antar budaya, atau pun dialog antar peradaban penting. Ben ndak saling curiga, tapi saling memahami, then saling menghormati. Tapi yen ngunu engkok kudu siap2 di stempel JIL ndop di Indo :D, wes siap mental rung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s