Menuju Universitas Kelas Dunia: Belajar Dari Tradisi Pesantren dan Oxford-Cambridge

Almuhafadzu ‘ala qadimissolih, wal akhdu biljadidil aslah – melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil hal yang baru yang lebih baik – Maqalah

mhs_cambridge_edit

Ilustrasi : Mahasiswi Oxford Dengan Seragam Akademik ‘Subfusc’

Sepuluh tahun belakangan kampus-kampus di Indonesia, berlomba-lomba mengklaim dirinya sudah atau sedang menuju ‘World-class Research University’. Klaim ini bukan tanpa alasan, berdasarkan berbagai macam pemeringkatan kampus terbaik dunia, kampus-kampus terbaik kita di tanah air ternyata berada pada posisi buncit. Tidak usah jauh-jauh membandingkan kampus kita dengan kampus-kampus di US dan UK, di lingkungan regional saja kampus-kampus kita keok telak dengan kampus-kampus di Singapura, Thailand, dan Malaysia. Karenanya, kampus-kampus kita merasa tertampar. Bagaimana tidak, lahwong, umur kampus-kampus kita itu lebih tua dari kampus-kampus di tiga negara tersebut. Sejarah pun mencatat, para founding fathers kampus-kampus di Malaysia adalah dosen-dosen dari kampus di Indonesia.

Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan kampus-kampus kita untuk merangkak mengejar ketertinggalan. Diantaranya adalah dengan mendorong para dosen untuk lebih rajin menulis publikasi ilmiah di Jurnal internasioanl. Karena, berdasarkan poin-poin pemeringkatan, yang paling kurang dari kampus-kampus kita adalah kuantitas dan kualitas publikasi jurnal internasional. Cara umum dan paling mudah yang dilakukan kampus-kampus kita untuk mendorong jumlah publikasi ini adalah dengan memberi intensif, uang tambahan, kepada dosen yang berhasil mempublikasikan karyanya di jurnal internasional. Sebagai ilustrasi, ada sebuah kampus yang memberi uang tunai Rp. 10.000.000 untuk setiap makalah yang berhasil diterbitkan. Tidak hanya itu, tunjangan khusus untuk guru besar pun fantastis (konon diatas 10 juta per bulan), belum lagi uang tunjangan sertifikasi dan renumerasi. Dana hibah penelitian pun lebih royal dikucurkan. Semuanya itu berdasarkan nalar bahwa dosen kita tidak produk karena dosen kita miskin.

Tetapi, berhasilkah cara iming-iming tambahan materi ini? berdasarkan pemeringkatan terbaru oleh QS University Rangking: Asia tahun 2015 (ref: disini), tak satupun kampus kita yang berhasil masuk 100 kampus terbaik di Asia. Sementara, Singapore berhasil menempatkan dua kampusnya pada peringkat 1 dan 4; Thailand menempatkan tiga kampusnya pada peringkat 44, 53, dan 99; Malaysia menempatkan 5 kampusnya pada peringkat 29, 49, 56, 61, 66; sementara Indonesia hanya diwakili oleh UI yang berada pada posisi ke 79.  Dengan fakta ini, kembali harus diakui kampus-kampus kita masih keok dengan kampus-kampus negara tetangga terdekat kita. Memalukan sekali, bahkan kampus terbaik di Indonesia pun peringkatnya masih dibawah 5 kampus di Malaysia.

Lalu, apa kira-kira yang salah?

Menurut hemat saya, upaya mendorong dosen rajin menulis di Jurnal internasional dengan iming-iming materi adalah strategi yang paling rendahan. Tak lebih dari memberi iming-iming ice cream kepada anak kecil. Seharusnya kita semua sudah tahu bahwa luaran yang bagus itu hanya karena proses yang bagus. Begitu juga dengan luaran berupa jumlah dan kualitas publikasi internasional yang bagus, tentunya pasti karena proses akademik yang bagus. Kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana sebuah Universitas bisa melahirkan ilmuwan sekaliber Newton, Darwin, Stephen Hawkin, Enstein?

Karena itu, tidak ada salahnya, jika mengintip sistem akademik, atau lebih tepatnya tradisi akademik di dua universitas tertua dan terbaik di Inggris, yang telah banyak melahirkan para peraih nobel dunia, yaitu Universitas Oxford dan Cambridge. Yang ternyata, seperti pada tulisan saya sebelumnya (ref: disini), mirip sekali dengan tradisi keilmuwan di pondok pesantren. Bahkan, Dr Afifi Alkity, orang Melayu alumni pesantren di Indonesia yang menjadi dosen di Oxford Centre of Islamic Studies, mengatakan:

” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok”

Seperti apa kemiripan pesantren dan sistem pendidikan di Universitas Oxford dan Cambridge (Oxbridge)? Menurut, Dr Afifi, ada 4 hal utama yang menjadi ciri khas Oxbridge yang juga tidak lain dan tidak bukan ciri khas pondok pesantren di Indonesia. Berikut penjelasanya:

(a) Respect for tradition and traditional ritual

Sebelum melihat langsung ke Oxbridge, saya pernah berimajinasi bahwa sebagai salah satu kampus terbaik didunia, pastinya Oxbridge memiliki gedung-gedung ultra-modern dengan arsitektur kekinian. Rupanya malah sebaliknya, bangunan kampus Oxbridge adalah bangunan-bangunan kuno yang dibangun sekitar abad 10, yang sampai sekarang masih dipertahankan keaslianya. Ini mengingatkan saya pada masjid-masjid kuno di pesantren yang sengaja dipertahankan keaslianya. Tidak hanya mempertahankan bangunan fisik, ritual tradisional pun masih dipertahankan sampai sekarang. Diantarnya adalah tradisi makan bersama di dining room, kwajiban memakai pakain khas Oxford (i.e. Subfusc) bagi mahasiswa ketika mengikuti ujian. Oxbridge ternyata sangat kuat mempertahankan tradisi yang berumur ribuan tahun ini. Hal ini sangat relevan sekali dengan jargon yang dijadikan pegangan pesantren-pesantren NU, yaitu:
Almuhafadzu ‘ala qadimissolih, wal akhdu biljadidil aslah – melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil hal yang baru yang lebih baik
Menariknya, motto Universitas Oxford, “Dominus Illuminatio Mea” itu ternyata terjemahan dari bahasa Arab “Rabbi Zidni ‘Ilma” – Ya Tuhan ku, Beri aku tambahan ilmu. Yang merupakan do’a yang selalu diucapkan santri di pesantren sebelum memulai belajar.

(b) Academic Excelence

Yang membedakan Oxbridge dengan kampus-kampus lain di dunia adalah sistem College. Oxbridge ini adalah sebuah komunitas yang terdiri dari beberapa College. Di Oxford sendiri, kurang lebih terdiri dari 31 College. College ini bukan sekedar asrama mahasiswa yang berfungsi sebagai tempat akomodasi. College juga bukan sekedar fakultas yang menaungi berbagai jurusan sebagaimana yang kita tahu seperti di kampus-kampus di Indonesia. College adalah tempat dimana terjadi tradisi pendidikan utama Oxbridge terjadi antara mahasiswa dan para tutor yang tak lain adalah para dosen dan professor dari hampir semua bidang ilmu di Oxbridge. pada setiap College umumnya terdapat, sebuah kapel/gereja sebagai tempat ibadah, student hall, sebagai tempat tidur mahasiswa, dining room tempat makan malam bersama, common room, dan lecture/tutorial room.

Tradisi pendidikan di masing-masing college ini terdiri dari:

Pertama adalah tradisi Tutorial System, dimana para Tutor memberikan tutorial kepada mahasiswa secara Individu, atau kelompok yang kecil (terdiri dari 2-5 orang). Sehingga masing-masing mahasiswa mendapat perhatian yang unik dan intensif dari tutornya masing-masing dalam menyerap kelimuwan yang diajarkan. Di pesantren salaf, sistem tutorial ini tak lain adalah apa yang disebut sistem sorogan (bahasa Arab: Talaki) dimana masing-masing santri mengkaji kitab kuning halaman demi halaman secara private , individual, dengan para ustad atau kyainya. Sistem tutorial ini, diakui oleh Oxford sebagai kunci keberhasilan sistem pendidikan di Oxford. Selain tutorial ini, mahasiswa juga mengikuti kuliah di departemen, layaknya kuliah di Indonesia. Di pesantren, kuliah dengan banyak mahasiswa ini dikenal dengan sistem bandongan.

Kedua adalah adanya Moral Tutor, yang bertugas mengawasi aspek non-akademis masing-masing mahasiswa. Sebagaimana namanya, moral tutor ini bertanggung jawab mengawasi moral mahasiswa. Moral Tutor ini biasanya adalah mahasiswa senior. Nah kalau di pesantren, peran ini biasanya dilakukan oleh lurah pondok, atau pembina asrama.

Ketiga adalah adanya tradisi debat. Di masing-masing college, biasnya seminggu sekali diadakan semacam seminar untuk membahas sebuah permasalahan atau isu yang telah ditentukan. Dalam seminar inilah terjadi debat antar mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda, mengutarakan pandanganya dari latar belakang keilmuanya yang berbeda-beda. Ini adalah ajang untuk melatih kemampuan analisis dan sintesis mahasiswa. Lagi-lagi tradisi ini juga sama dengan tradisi di pesantren yang disebut dengan syawir dan bahtsul matsail untuk memecahkan berbagai persoalan agama di Masyarakat.

(c) Completely Independence

Keberadaan Oxbridge ini sangat-sangat Independence dari campur tangan pemerintah. Pemerintah atau kerajaan tidak berhak ikut campur terhadap kebijakan maupun kurikulumnya. Bahkan konon katanya pada tahun 2002, naknya PM Tony Blaire nya saja tidak diterima di Oxford. Hal ini disebabkan karena keuangan Oxbridge tidak berasal dari kerajaan. Tetapi berasal dari dana Wakaf atau Endownment yang. jumlahnya sangat fantastis. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan PTN di Indonesia yang kebijakanya banyak diatur oleh pemerintah, termasuk masalah kurikulum, aturan pembentukan Jurusan baru, bahkan pemilihan Rektor. Ini juga tradisi pesantren, dimana dari dulu, sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, pesantren berdikari tanpa dibiayai pemerintah, pesantren pun memiliki kurikulum sendiri yang tidak mengikuti kurikulum pemerintah.

(d) Continuing Education.

Terakhir ciri khas Oxbride adalah adaya pendidikan berkelanjutan. Masyarakat tak pandang usia bisa mengakses pendidikan di Oxbridge, melalui kuliah seminggu sekali, short course, maupun sekolah musim panas. Intinya, pendidikan di Oxbridge tidak hanya bisa diakses oleh mahasiswa mereka sendiri tetapi juga bisa diakses oleh masyarakat. Continuing Education ini juga sudah menjadi tradisi pesantren di Indonesia. Di Pondok pesantren Darul Ulum Jombang misalnya, setiap kamis ada pengajian yang diperuntukkan untuk masyarakat dari berbagai usia (dikenal dengan pengajian kemisan), ada pengajian sewelasan, setiap 4 bulan sekali. Di pesantren lain, ada yang disebut tradisi pengajian wetonan (40 hari sekali), di Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi misalnya, ada pengajian setiap Ahad Legi yang terbuka untuk masyarakat umum. Termasuk pengajian khusus di bulan Ramadlan yang juga terbuka untuk masyarakat umum.

Ilustrasi : Santriwati PP Darul Ulum Jombang, Jawa Timur

 Saya merasa so amazed, bagaimana sistem pendidikan pesantren yang selama ini di Indonesia dianggap udik, ternyata memiliki filosofi pendidikan yang sama dengan Universitas terbaik di dunia, sekaliber Oxford dan Cambridge.
Mungkin sudah saatnya,  kampus-kampus kita hendaknya bisa belajar dari tradisi oxford dan cambridge yang tidak lain adalah tradisi pesantren. Jika pesantren sudah terbukti menghasilkan para Ulama bidang agama yang mumpuni, bukan tidak mungkin sistem pesantren menghasilkan ulama di bidang ilmu lain yang mumpuni dan hebat. Sebagaimana sudah dibuktikan di Oxbridge. Bukankah Oxbridge awalnya dulu juga kampus calon para ulama kristen/katolik?
Advertisements

12 comments

  1. Menarik, Cak. Betapapun insentif dsb itu penting, untuk membangun kualitas ada hal yang jauh lebih mendasar yang perlu dibenahi (seperti values, sikap mental dll). Saya jadi ingat, konon masa-masa setelah merdeka dulu, jadi dokter di UI murah, tapi sulitnya minta ampun (karena yang nguji Londo). Lalu banyak kalangan mampu yang ‘mendokterkan’ anaknya di universitas [negeri] lain yang meski jauh lebih mahal, tapi gampang lulus (karena pengujinya orang Indonesia).

    Atau kalau indikator utama tenaga pendidik itu dilihat dari kualitas peserta didik.. Yah, Cak bisa nilai sendiri. Semoga sektor pendidikan kita bukan sekadar sebuah ‘mass production industry’.

  2. Salamualaikum cak shon, tulisan yg sangat inspiratif untuk menydarkan banyak kalangan bahwa pendidikan yang baik tidak bisa hanya dibeli dengan uang tapi kualitas dan kuantitas yg seimbang dapat menciptakannya.

    Dan ttg artikel ini apa cak shon ada buku/jurnal/artikel ilmiah sbg rujukan ttg pendidikan di oxbridge mulai dari dana waqaf yg menyokong dan sistemnya yg mirip pesantren? Klo mungkin ada blh saya tau judulnya? Terima kasih
    (Butuh buat tesis saya 😆🙏)

    1. waalaikumsalam wr wbt. Terima kasih :). Sayang sepertinya belum ada yg serius meneliti sebelum nya mbak. Tapi kalau buat tesis, dari nara sumber langsung, data primer (Dr afifi) tentunya malah lebih bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s