Menengok Jejak Revolusi Industri Inggris di Manchester

By 1830, there were 101 cotton mills on Manchester. They employed over 28,000 people. – Museum of Science and Industry

Itenari Perjalanan Nottingham-Manchester PP

Manchester? Ya, rasanya hampir semua orang yang melek informasi tahu kota ini. Di Indonesia, saya yakin nama kota ini lebih sering disebut ketimbang kota London. Karena, ada jutaan penggemar fanatik dua klub sepak bola Inggris di kota ini. Tak heran, jika mahasiswa Indonesia dan Malaysia yang sedang belajar di Inggris, banyak yang memilih kota ini sebagai pilihan tempat belajar. Mungkin, banyak orang Indonesia memimpikan datang ke kota ini langsung, tetapi belum kesampain. Dan beruntung, saya bisa datang ke kota ini langsung, meskipun bukan penggemar sepak bola klub manapun. Berikut cerita perjalanan saya.

blog_nott_station_edit

Dari Stasiun Kereta Api Nottingham

Ini sebenarnya cerita perjalanan hampir dua tahun yang lalu. Saat masih menjadi jomblo lokal di kota Nottingham. Seperti biasa, tidak saya rencanakan sebelumnya. Seorang teman menawarkan ide pergi ke kota ini, yasudah saya amini saja, tanpa banyak pertimbangan. Saat itu juga, kami langsung pesan tiket online untuk keberangkatan dua hari berikutnya. Untungnya, teman saya ini orang dengan jenis golongan darah A yang perfeksionis. Sang teman yang bikin peta perjalanan kami sehari sebelumnya dengan petunjuk seorang teman, seorang arsitek bergelar doktor, ahli planologi, yang pernah lebih tiga tahun tinggal di kota Manchester.

blog_east_midlan_train_edit

Kereta Api East Midland Dari Nottingham

Kami berangkat pagi-pagi di hari Sabtu dari rumah kosan masing-masing, bertemu di stasiun Nottingham untuk keberangkat pukul 06.40 pagi. Di musim panas, jam segitu sudah lumayan siang sebenarnya, mengingat subuh nya sekitar jam 3 pagi. Yah, musim panas memang saat yang paling tepat buat jalan-jalan. Siang yang sangat panjang, karena matahari baru benar-benar tenggelam setelah lewat jam 22.00. Musim panas, yang menurut saya sebenarnya lebih tepat disebut musim hangat, karena suhu tak pernah mampu menembus 20 derajat celsius.

blog_manchester_piccadilly_edit

Stasiun Kereta Api: Manchester Piccadily

Saya selalu menikmati perjalanan dengan kereta api lebih dari moda transportasi apapun. Apalagi memiliki teman perjalanan yang sangat nyambung. Sehingga setiap obrolan mengalir seperti aliran, begitu alamiah, tanpa kepura-puraan.Setiap obrolan terasa begitu menggairahkan. Walaupun sebenarnya, kami dididik di school of thought yang berbeda, Art versus Science. Tetapi, justru itulah yang menjadikan selalu menarik buat saya pribadi. Melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda dengan kacamata yang biasa saya pakai melihat dunia yang berbeda. Mungkin juga, kenyambungan itu karena masih ada himpunan irisan antara pengalaman kami berdua. Sama-sama pernah tinggal di pesantren di Jawa Timur.

blog_manchester_from_station_edit

Kota Manchester dari Stasiun Kereta Api Manchester Picaddily

Kereta api sampai di tempat tujuan tepat sesuai yang dijadwalkan. Perencanaan yang baik dan cerdas memang menjadikan hal-hal yang probababilistic di perjalanan menjadi sesuatu yang nyaris deterministic sempurna. Dan sebaliknya. Argh, tidak kebayang betapa kacau balaunya hidup orang Inggris, jika kereta ekonomi Sritanjung jurusan Banyuwangi-Yogyakarta itu hidup di negara ini.

Dari stasiun kereta api Manchester Picadily, kita bisa menatap sekilas wajah kota Manchester. Sekilas, citra kota ini terasa seperti kota Surabaya di Indonesia. Tapi terlalu jauh jika menyamakan kota ini dengan kota Surabaya. Dari setasiun kereta api, yang terintegrasi dengan moda transportasi darat lainya ini, tujuan pertama kami adalah ke stadion etihad, kandangnya klub sepak bola Manchester city dengan menggunakan Tram, atau di kota ini disebut Metrolink. Ciri khas tram kota Manchester adalah warna kuning, dari tram, stasiun, mesin tiket, sampai tiketnya pun semua didominasi warna kuning. Kami membeli tiket di mesin tiket yang ada disetiap stasiun pemberhentian.

blog_metro_link_edit

Di Dalam Tram, Manchester Picaddily – Etihad Campus

Alamak, kami ternyata the only passenger saat itu. Tram sepanjang dan senyaman itu hanya kami berdua penumpangnya. So, sifat kekatrokan kami pun muncul secara alamiah, foto-foto dan cengingisan di dalam tram. Sambil duduk selonjoran, saya seperti biasa selalu mbatin, kapan ya kota-kota di Indonesia punya moda transportasi murah dan nyaman seperti ini. Bagaimana tidak nyaman, tram ini keliling kota Manchester yang bisa dijumpai di setiap tempat pemberhentian setiap 10-15 menit sekali. Tidak perlu menunggu angkot penuh sesak, baru bisa jalan dari terminal ke terminal lainya di kota Surabaya. Tidak perlu was-was bertaruh dengan resiko kehilangan nyawa, berebut jalan raya dengan ribuan pengendara lainya di bawah teriknya sinar matahari yang menyengat. Bukankah Soerabaya tempoe doeloe pernah punya tram sebagai alat transportasi utama dalam kota? Mengapa kemudian berubah menjadi angkot-angkot tua yang menyebalkan itu? Argh, saya tidak pernah tahu pasti.

blog_etihad_campus_edit

Tempat Pemberhentian Tram: Etihad Campus

Sekitar 15 menit perjalanan, kami sampai di pemberhentian Etihad Campus. Tak seperti dalam bayangan saya, ternyata tempat stadion salah satu klub bola yang banyak penggemarnya di Indonesia itu sangat sepi sekali. Jauh dari suasana hiruk pikuk kota Metropolitan. Sebaliknya, lebih terasa seperti hawa pedesaan: sepi dan lengang. Dari pemberhentian tram, kami berjalan menuju stadion Etihad.

blog_etihad_stadium_edit

Di Depan Etihad Stadium

Di depan stadion etihad itu, terdapat bangunan kerucut dengan tulisan ucapan ‘welcome’ dengan berbagai macam bahasa di dunia, termasuk dalam bahasa Indonesia, ‘Selamat Datang’. Tidak banyak yang ingin kami lakukan di stadion yang didominasi warna biru muda ini kecuali foto-foto di sekitar, membuat jejak-jejak kenangan, yang mungkin indah untuk diceritakan kembali di masa yang akan datang. Kami juga masuk ke gift shop, tempat membeli kenang-kenangan khas Manchester City. Tapi, kami pun tidak membeli apa-apa, kecuali menyebut ‘ duh rek, cek larange, tidak bersahata dengan dompet‘.  Lagian ternyata banyak official merchandise yang dijual itu ternyata made in Indonesia. Daripada keluar duit mahal-mahal, halah mending beli merchandise KW nya saja nanti di tanah abang. Mental kere saya selalu muncul setiap melihat barang-barang berlabel harga mahal.

Cukup puas dengan sight seeing dan pemotretan, kami kembali naik Tram ke arah city centre, turun di pemberhentian Victoria Centre. Turun dari tram, hiruk pikuk Manchester sebagai salah satu kota terbesar di Inggris langsung terasa. Crowded. Tetapi, se crowded-crowded nya kota di Inggris tak se crowded kota besar di Indonesia. Karena kota-kota di Inggris itu crowded manusia-manusia yang berjalan kaki di dalam kota. Hanya suara bel tram yang terdengar dan hingar bingar keramaian lautan manusia yang berjalan menyemut mengeremuni pusat kota. Bukan suara bising klakson dan deru mesin di tengah-tengah kemacetan parah jalan raya.

blog_national_foodball_edit

Pintu Gerbang Masuk National Football Museum

Tujuan kami berikutnya adalah National Football Museum. Di museum ini saya ingin mencari sebuah jawaban, bagaimana sepak bola di Inggris bisa menjadi tak sekedar olah raga yang digemari oleh masyarakat, tetapi juga menjadi sebuah industri yang sangat tinggi nilai ekonominya. Sepak bola juga menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi bangsa Inggris. Seperti yang saya duga sebelumnya, museum ini dengan sangat apik mendokumentasikan sejarah persepakbolaan Inggris. Termasuk sejarah kedigjayaan Inggris yang pernah berkali-kali memenangkan Piala Dunia. Satu pesan dari museum ini adalah, bagaiamana sebuah kebanggaan kolektif bisa tumbuh dari olah raga bernama sepak bola.

blog_national_foodball_inside_edit

Salah satu sudut di National Football Museum

Dari museum sepak bola, kami beranjak ke salah satu andalan museum ciri khas kota Manchester, yaitu Museum of Science and Industry (MOSI). Dari sekitar Victoria centre, kita bisa  naik bus nomor 2, bus gratis untuk keliling dalam kota, untuk menuju museum ini.

blog_mosi_edit

Pintu Masuk Museum of Science and Industry

Perlu diketahui, Manchester adalah salah satu kota paling penting pada saat revolusi Industri di Inggris. Dan di museum inilah jejak-jejak revolusi Industri yang merubah tatanan ekonomi dunia itu bisa ditelusuri. Hampir semua asal muasal teknologi Industri bisa ditelisik di museum yang sangat luas ini. Dari industri tenun, industri kimia, industri kereta api, hingga industri pesawat terbang bisa ditelusuri di tempat ini.

blog_uom_cs_edit

Salah satu sudut di MOSI

Bagaiman mesin-mesin Industri yang pada akhirnya menggantikan tenaga manusia dan mampu menghasilkan produk secara masal itu terdokumentasikan dengan sangat ciamik. Bagaiman perkembangan teknologi dari waktu ke waktu yang terus mengalami perbaikan sedikit demi sedikit itu dipamerkan di tempat ini. Termasuk bagaimana teori-teori sains ditranformasikan kedalam teknologi terapan yang memudahkan manusia.

blog_mosi_industri_edit

Mesin Industri Pemintalan Benang

Ada beberapa spot yang menarik minat hati saya, di antaranya adalah dokumentasi teknologi toilet dari masa ke masa. Tidak sekedar dokumentasi dalam bentuk foto, tetapi dokumentasi dalam wujud aslinya. Betapa ternyata toilet duduk dengan teknologi auto flush sekarang ini adalah pengembangan dari ide yang sangat sederhana sekali. Dari ide peneraman teori sain sederhana, menjadi teknologi sederhana, kemudian terus menerus hingga menjadi sebuah teknologi yang very-very sophisticated yang kita nikmati sekarang.

blog_mosi_Rinso_edit

Kota Kelahiran Rinso

Museum ini mengajarkan kepada saya arti sebuah proses panjang. Bahwa capaian hebat saat ini ternyata melalui proses riset, inovasi, yang sangat-sangat panjang jalanya. Bahwa sebuah capaian itu tidak ujug-ujug sebuah capain yang luar biasa. Tetapi semuanya bermula dari capaian-capaian sederhana, yang terus dan terus dikembangkan sedikit demi sedikit. Ada proses terus dan menerus belajar didalamnya. Museum ini mengajarkan kepada saya untuk bisa menghargai sekecil apapun, sesederhana pun capaian diri saya sendiri maupun orang lain. Dan juga bagaimana menghargai kontribusi orang lain yang menghantarkan pada capain kolektif yang luar biasa.

Dari MOSI, kami mencari masjid di sekitar victoria centre untuk sholat Duhur. Manchester adalah salah satu kota di Inggris yang paling banyak penduduk Muslimnya. Sehingga tidak susah mencari masjid maupun restoran halal di kota ini. Kami sholat di masjid yang dikelola oleh Muslim Youth Foundation. Selain sholat, di masjid itu kami sempat leyeh-leyeh sebentar meluruskan punggung. Dari masjid, kami makan di salah satu restoran melayu, namanya Aladin Halal Restaurant. Kami disapa dengan bahasa Melayu begitu memasuki warung makan ini. Maklum, kota ini adalah kota paling favorit tujuan tempat belajar para mahasiswa Malaysia dan Indonesia. Selain ranking universitasnya yang bagus, saya yakin salah satu alasan memilih kota ini adalah karena kepopuleran klub sepak bola, setan merah, Manchester United.

Habis makan siang, kami menyusuri suasana musim panas yang sangat hangat itu. Senang rasanya berada diantara ribuan para pejalan kaki yang menyemut memenuhi setiap sudut-sudut kota. Di musim panas seperti ini, tidak sedikit baik lelaki maupun perempuan yang memamerkan belahan dadanya. Jika sampean tinggal di Inggris, sampean akan menyadari betapa berharganya hangatnya sinar matahari.

blogold_traffold_edit

Pemberhentian Tram Old Traford

Dari pusat kota, kami naik tram menuju stadion old traffold. Untuk menuju stadion, kandangnya Manchester United itu, dari permberhentian tram, bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 10 menit. Berbeda dengan etihad, alamak stadion old traford ini ramai sekali oleh manusia. Ribuan manusia dari berbagai bangsa dan kwarganegaraan tumpek blek di depan stadion yang didominasi warna merah itu. Semuanya terlihat begitu very-very excited, jingkrak-jingkrak, penuh rona-rona wajah kegirangan bisa berad di halaman stadion itu. Saya menebak, mereka adalah para fans fanantik kesebelasan setan merah ini.

blog_manch_u_edit

Di Depan Stadion Old Traford, Manchester

Padahal, sebenarnya tempat itu biasa-biasa saja. Hanya saja saya membayangkan betapa banyak teman-teman saya di Indonesia yang sangat-sangat ingin berada di tempat ini, sehingga saya pun ikut larut suasana excited itu. Orang-orang tak henti-hentinya berebut foto dengan latar belakang stadion itu. Di samping stadion, juga terdapat mega store yang menjual berbagai official marchendise Manchester United. Sama seperti di etihad stadion, tidak ada barang murah di tempat ini dan lagi-lagi kebanyakan barangnya adalah made in Indonesia saudara-saudara. Jadi mending beli ditanah abang saja ya!

blog_iwm_edit

Puas thowaf mengelilingi stadion kami berjalan menuju museum perang, Imperial War Museum, yang tidak jauh dari stadion. Argh sayangnya, waktu kami datang museumnya sudah tutup. Jadi ya harus puas dengan foto-foto dengan bakcground museum saja. Tetapi pemandangan sungai di depan museum itu mengobati kekecewaan kami. Tempat di sekitar sungai itu sangat indah sekali. Sungainya lebar, bersih airnya, ada jembatan cantik yang membentang di atas sungai.

blog_jembatan_dua_edit

Pemandangan Sungai sekitar IWM

Dari atas jembatan, kita bisa melihat perahu-perahu yang sedang berlabuh menyusuri aliran sungai. Sepertinya, sangat mengasikkan menghabiskan sore di musim panas yang sangat panjang itu dengan menyusuri sungai. Sungguh pemandangan di sekitar sungai itu sangat memanjakan mata. Apalagi angin bertiup cukup kencang yang menambah indahnya suasana.

blog_sungai_boat_edit

Dari atas Jembatan Sungai

Kami hanya duduk-duduk di pinggiran sungai sambil melepas lelah dan melanjutkan obrolan-obrolan kami yang belum sampai pada tanda titik. Saya paling senang mendengar suara gemericik air, suara desau angin, dan suara burung-burung camar yang menghangatkan suasana. Sebuah Orkestra alam yang indah, bukan?

blog_badboy_edit

Pura-Pura Merokok

Ketika matahari terlihat semakin redup, kami segera menuju stasiun tram yang tidak jauh dari sungai itu. Kami naik tram ke arah kembali ke pusat kota. Tujuan kami adalah merasai suasana kota di sekitar alun-alun kota. Sore itu, suasana alun-alun kota semakin ramai saja, maklum hari itu adalah hari sabtu malam minggu. Ada pertunjukan musik tradisional afrika yang diiringi oleh orang-orang yang menari sesuka hati.

blog_alun2_edit

Pertunjukan Musik di Alun2 Kota Manchester

Ada juga air mancur yang ramai dikerumuni oleh anak-anak dan burung-burung merpati. Saya nggumun ternyata pada saat seperti itu, alun-alun ini menjadi kota yang penuh dengan sampah. Tempat sampah yang tersedia tak lagi mampu menampung sampah yang dibuang seenaknya. Benar-benar merusak pemandangan kota. Rasanya, kota Nottingham jauh lebih bersih dibanding kota Manchester ini. Sampah-sampah itu sungguh merusak mood menikmati suasana kota.

blog_manchester_univ_edit

Kampus Universitas Manchester

Sebelum matahari benar-benar tenggelam ditelan cakrawala, kami menyempatkan diri bermain di kampus Universitas Manchester. Sekilas, kampus yang didominasi warna merah bata ini terlihat sudah cukup berumur. Terlihat dari warna bangunan yang terlihat sudah mulai kusam. Kami menuju kampus Ilmu Komputer. Sekedar untuk pemotretan, sebagai pertanda bahwa saya pernah menginjakkan di kampus almamater Profesor saya waktu kuliah S1.

blog_UoM_edit

Anak-Anak Jalanan

Di gedung ilmu komputer itu, banyak terdata poster Alan Turing, sang bapak Ilmu komputer. Ketika kami foto-foto, tiba-tiba ada segerombolan anak-anak lelaki yang memaksa untuk ikutan berfoto. Baru kali ini, saya menemukan orang Inggris minta diajak berfoto, biasanya mah mereka paling tidak suka difoto tanpa ijin. Dan ketika matahari benar-benar tenggelam, kami segera kembali ke stasiun kereta api, untuk kembali ke kota Nottingham.

blog_uom_mas_walid_edit

Bersama sang teman perjalanan

Terima kasih kepada sang teman perjalanan. Kita tidak pernah tahu, kapan kita akan merindukan tempat ini kembali. Perjalanan selalu mengajarkan cara melihat dunia secara berbeda. Sampai jumpa di cerita perjalanan selanjutnya!

Untuk yang sedang bermimpi menggapai kota ini, saya doakan semoga segera tercapai keinginanya. Kota Manchester sabar menunggu mu, kawan !

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s