Mengalah dalam ‘Permainan’ Kehidupan

Wani ngalah, luhur wekasane.  Berani mengalah, menjadikan kita luhur pada akhirnya -pitutur wong tuo Jawa

pamer_gaya_hidup

Ilustrasi: Pamer Gaya Hidup (Lincoln, Inggris, 2015)

Ada satu kata yang nyaris tak pernah terlewatkan oleh ndoro dosen pembimbing saya, setiap kali saya diskusi dengan beliau. Kata itu adalah ‘game’, ya permainan. ” you know the game, right?“, ” that’s the game.“. Walaupun, saya tidak pernah benar-benar mengerti apa filosofi dibalik kata ‘permainan itu’, yang jelas saya tidak sedang meniliti game theory, atau pun pengembangan software game. Saya juga tak pernah benar-benar paham, setiap kali membaca salah satu ayat dalam kitab suci Alquran, yang artinya:

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.

Satu yang saya tahu, bahwa dalam setiap permainan pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Dan setiap orang pasti berharap menjadi pemenangnya. Karena dalam setiap permainan seseorang ingin menjadi pemenang, permainan ini menjadi tak ubahnya sebuah persaingan untuk menjadi pemenang.

Saya yakin, selain ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa berinteraksi dengan yang lain, manusia juga ditakdirkan memendam rasa persaingan dengan manusia lainya. Bukankah, menurut ilmu biologi, kita berasal dari sel sperma yang berhasil memenangkan persaingan diantara jutaan sel sperma lainya untuk membuahi sel telur? Menurut saya sangat manusiawai, jika kita mau jujur, ketika melihat orang lain lebih bahagia, lebih sukses, lebih menang, dalam hati kita sering muncul rasa tidak bahagia, rasa iri, dan rasa tidak senang. Sebaliknya, ketika kita melihat orang lain lebih susah, lebih gagal, lebih kalah, dalam hati kita kadang malah muncul rasa senang. Namun sering kali, manusia sangat pandai berpura-pura.

Mungkin karena sifat dasar ingin bersaing memenangkan ‘permainan kehidupan’ itulah, sejarah mencatat adanya Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin. Dan tentunya perang-perang tanpa senjata yang terus terjadi hingga detik ini. Hanya saja bentuk dan rupanya yang berbeda mengikuti dinamika jamanya.

Diantara permainan yang paling dekat dengan kita adalah, permainan gaya hidup. Semua berlomba-lomba menjadi yang paling bergaya hidupnya. Masih ingat bagaimana sesama teman-teman sekolah dulu, kami bersaing memperebutkan kursi yang terbatas di jurusan-jurusan favorit di PTN. Begitupun, setamat kuliah, sesama teman-teman kuliah, bersaing memperoleh pekerjaan bergaji tinggi di perusahaan bergengsi. Persaingan pun berlanjut di tempat bekerja, dengan ukuran kesusksesan karir yang diukur dengan seberapa tingginya jabatan, kedudukan, gaji, dan seberapa wah atribut-atribut gaya hidupnya. Lihat mobilnya, lihat titel di depan dan belakang namanya, lihat rumahnya, lihat segala yang menempel ditubuhnya, lihat tempat nongkrongnya. Dan yang paling wah dan wow lah yang dianggap sebagai pemenangnya. Ada yang ‘fair’ dan jujur dalam permainan itu, tetapi lebih banyak lagi yang tidak ‘fair’ dan tidak jujur.

Kata emak saya, diantara ketiga anaknya, sayalah yang paling tidak mau kalah dalam persaiangan. Sayalah yang paling berambisi untuk menang dalam setiap permainan kehidupan di banding yang lain bahkan diantara teman-teman sepermainan. Memang, satu sisi saya merasa bisa ‘maju’ karena semangat memenangkan setiap permainan kehidupan.

Tetapi, belakangan, seiring bertambahnya umur, ketika melihat permainan kehidupan yang pemenangnya sering kali diukur dengan ukuran yang sering kali bertentangan dengan hati nurani saya, saya justru malah senang mengalah. Masih ingat dulu, waktu lulus master, saya lebih memilih tetap menjadi dosen honorer bergaji 950.000 ketika saya lulus seleksi perusahaan minyak. Walaupun, kadang kala menjadi orang yang kalah itu sering kali menyakitkan, mengalah lebih sering menenangkan dan menentramkan.

Dalam setiap hubungan dengan manusia, bahkan dengan saudara, bahkan dengan pasangan hidup sendiri, mengalah sering kali malah lebih menyelamatkan kita. Tidak tampak yang terhebat, terpandai, terhormat, dan ter ter lainya di antara sesama kadang justru malah menenangkan dan menentramkan hati. Karena, kalau sudah menjadi yang ter ter, turunanya adalah kegelisahan dan ketakutan menurunya label yang ter-ter tadi. Mengejar kesempurnaan, membuat kita lupa, bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan semata. Sepasang suami istri pun, jika keduanya memaksakan memenangkan egonya, sudah bisa dipastikan hasilnya berantakan. Pun demikian, ketika kita selalu ingin terlihat sempurna, memaksakan memenangkan setiap permainan kehidupan, bisa jadi kehidupan kita malah menjadi berantakan.

Berani mengalah dalam permainan kehidupan, bukan berarti kita kalah. Tetapi, Wani ngalah, luhur wekasane.  Berani mengalah, menjadikan kita luhur pada akhirnya. Tidak menjadi pemenang dalam permainan kehidupan, bukan berarti menjadi pecundang. Tetapi mendefinisikan pemenang secara berbeda dari definisi pemenang orang-orang kebanyakan. Semoga kita bisa bersabar untuk mengalah di awal dan di tengah alur cerita kehidupan kita, dan menjadi mulia di akhir cerita. Ammiin.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s