Ketika Kebaikan pun Ada Harganya

…. mereka itu berbuat baik ya karena mereka baik. Justru kalau kau berusaha membalas setiap kebaikan mereka, kau telah mengajari mereka untuk pamrih. -Anonym

kebaikan_sopir

Ilustrasi : Sebuah Kebaikan

Satu hari di waktu acak di masa lampau, saya pernah dibonceng motor oleh seorang kawan. Mencari sebuah tempat yang kami belum begitu jelas jalan menuju tempat itu. Belum jamanya saat itu, ada telepon genggam cerdas yang bisa memberi penunjuk arah. Hingga sampailah kami di pelosok-pelosok desa yang jalanya sempit di antara hamparan-hamparan sawah yang luas. Bertanya kepada orang-orang yang kebetulan berpapasan di jalan, adalah satu-satunya cara untuk mendekat tempat tujuan.

Ada yang masih terekam begitu kuat dalam ingatan saya hingga saat ini dari perjalanan keluyuran itu. Adalah wajah-wajah polos, senyum-senyum tulus yang tumpah ruah, dan tutur kata sepenuh jiwa dari orang-orang desa yang kebetulan saya jumpai di pinggir jalan, untuk menjawab sebuah pertanyaan yang kami ajukan. Entahlah, hanya hati yang bisa membedakan antara kebaikan yang tulus dan kebaikan yang dipaksakan. Dan di tempat itulah, hati saya menemukan kebaikan yang benar-benar tulus. Kebaikan yang nyaris tidak ditemukan di peradaban belantara beton di kota-kota metro politan.

***

Di jaman ketika harga dan rupa dipuja, setiap kebaikan pun seolah ada harganya. Ketika kita menerima sebuah kebaikan, kita pasti sibuk memikirkan bagaimana membalasnya. ” Kemarin Jeng Sri ngasih saya Semangkok Bakso, hari ini saya harus ngasih balik apa ya?”. Bahkan terkadang memikirkan bagaimana membalasnya pun tidak cukup, ilmu matematika ekonomi pun diterapkan. ” Ini  Pak S kemaren ngasih tumpangan saya semalam, so saya harus ngasih hadiah ke anak Pak S, seharga nginap di hostel semalam”. Karena hitung-hitungan itu, sehingga sering kali, kita berbuat baik bukan karena kita yang memang niat baik. Tetapi, karena kebaikan yang dipaksakan.

Pun demikian ketika kita berbuat kebaikan, sering kali secara tidak sadar dari lubuk hati kecil kita terselip rasa pamrih. mbok ya menowo-menowo dengan saya berbuat baik ini, orang lain akan juga berbuat baik sama diri kita. Buktinya, ketika kita sudah merasa berbuat baik pada seseorang, dan orang tersebut tak membalas kebaikan kita, hati kita merasa dongkol, dan tak mau lagi berbuat baik pada orang yang kita labeli tidak tahu berterima kasih itu. Nahloh, jadi niat kita berbuat baik kemaren apa? Ternyata budaya melabeli harga pada setiap kebaikan, membuat kita kehilangan rasa Tulus, dan membuat kita kecanduan rasa Pamrih.

Di dunia kerja pada organisasi bisnis, budaya memberi harga pada kebaikan ini lebih vulgar lagi. Jika kita ingin karir kita moncer, cepat mendapat promosi jabatan, kita harus berani memamerkan kebaikan kita pada perusahaan. Setiap kebaikan kita pada perusahaan ada angka dan kalkulasinya. Belum lagi di level strategis, lobi-lobi dengan umpan kebaikan harus dimainkan dengan apik dan cantik.

Mungkin karena itulah, kenangan wajah-wajah polos, senyum-senyum sumringah yang bertumpah ruah di jalan-jalan sempit di antara hamparan sawah-sawah itu begitu memesona hati saya. Dan terekam sangat kuat dalam memori ingatan saya.

Jadi, masihkah ada kepolosan dan ketulusan diantara kita? hanya taman-taman syurga kecil di hati-hati kita yang bisa menjawabnya.

Advertisements

6 comments

  1. Apiiik banget.. Pengalaman pribadi juga iki kang. Kadang merasa aneh kalau ketika kita diberi orang dengan tulus sumringah senang riang gembira trus kalau gak membalas itu rasanya kok pelit amaaat. Hahaha..

    Tapi emang kembalinya ke niat sih. Kalau pingin ngasih ya ngasih aja. Ga usah mengungkit2 pemberian orang itu di masa lampau. Tapi yo jenenge menungso yaaa.. Pamrih kui godaan sing angel dihindari HAHAHAH..

  2. Jujur, saat jauh dari orang tua saat ini, saat saya melakukan hal2 yg baik tuk orang2 tua yg saya temui, selain karna saya merasa mendpat ‘keindahan’ tersendiri ketika melakukannya, tapi ada juga terselip harapan akan ada juga orang dibelahan bumi yg lain akan melakukan kebaikan yg sama tuk orang tua kandung saya.
    Btw, bicara ttg pamrih, saya sangat suka dg bbrp pemikiran dari Rabi’ah Al – Adawiyah, yg bahkan ketika mengharapkan surga itu pun suatu pamrih.

      1. Bahkan mbersihkan tempat sholat tuk berharap dpt semangat pun suatu pamrih ya Cak? 😀
        Makanya mungkin ga lsng “Kun” gitu yah 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s