Mengibarkan Islam di Kota Birmingham

…. salah satu kunci kesuksesan para Ilmuwan Islam di masa keemasan peradaban Islam adalah bahwa selain menguasai ilmu umum, mereka sangat paham terhadap syariat ilmu agama – Habiburrahman El.

birmingham_iconic_landmark_2

Salah Satu Bangunan Landmark Kota Birmingham

Akhirnya saya kembali lagi ke kota ini. Entah, sudah keempat atau kelima kalinya saya tidak begitu mengingatnya. Birmingham, salah satu kota terbesar di Inggris yang seolah tak pernah habis untuk ditelusuri jalan-jalan nya. Bedanya, kali ini saya ditemani anak istri, dan satu rombongan dari Nottingham. Kami berangkat dari setasiun kereta api Nottingham. Di stasiun kota Robin Hood ini, kami bertemu dengan Mas Novan sekeluarga dari Sheffield yang sedang menuju kota yang sama. Ternyata istri mas Novan yang dosen UIN Sukijo Yogya itu adalah senior saya di ITS, seangkatan dengan beberapa dosen saya. Entahlah, selalu ada kegembiraan dan kebanggaan yang menyelinap setiap kali bertemu dengan teman sealmamater di negeri perantauan ini. Ohya, niat kami datang ke kota ini adalah untuk ngaji bareng bersama-sama teman KIBAR, keluarga Islam Indonesia di Britania Raya, yang setahun dua kali mengadakan pul kumpul bareng di musim semi dan gugur. Kebetulan musim semi ini bertempat di kota Birmingham.

kibar_bekas_gereja

Tempat Pengajian, The Muad Trust, Birmingham

Hanya 1.5 jam perjalanan, kami serombongan sampai di stasiun kereta api Birmingham. Sebuah setasiun yang sangat besar dan crowded dan sejak pertama kali 2 tahun yang lalu berada di stasiun ini, proses renovasi stasiun ini tak kunjung usai. Dari stasiun, kami naik bus menuju lokasi acara, Muath Trust,The Bordesley Centre, Stratford Road. Melihat arsitektur bangunan ini, saya sangat yakin kalau bangunan ini adalah bekas sebuah gereja Katolik. Tidak hanya di Birmingham, hampir di setiap kota di Inggris dan negara di belahan Eropa lainya, banyak gereja yang beralih fungsi menjadi masjid, atau semacam Islamic Centre. Hal yang sangat wajar terjadi, ketika orang eropa mulai berpaling ‘menyembah’ sains dari menyembah Tuhan di gereja-gereja. Sementara di waktu yang sama, para Imigran muslim bekas jajahan negara-negara Bangsa kulit putih ini, sangat bersemangat dengan kegiatan ritual keagamaanya. Bangsa Imigran yang didominasi dari India, Pakistan, Bangladesh itu sangat gemar memiliki banyak anak dan pandai berwiraswasta dari usaha potong rambut, penjual kebab, hingga membuka supermarket besar. Sementara, bangsa kulit putih lebih suka memelihara anjing dari pada merawat bayi. Tak heran, jika Islam adalah agama dengan pertumbuhan sangat pesat di Barat, yang jika trend itu terus berlanjut, akan menjadi agama mayoritas setidaknya 10 dekade lagi.

kibar_dangan_kang_abik

Sebagian Peserta Pengajian KIBAR Spring Gathering 2015

Tema pengajian kali ini adalah peran muslim dalam membangun peradaban, dengan keynote speaker Ustad Habiburrahman ‘Kang Abik’ Elshirazy. Kedatangan beliau ini disponsori oleh yayasan Dompet Duafa, harian Republika, yang berencana membuka kantor cabang di UK. Membaca tema pengajian kali ini sampean pasti menduga materinya tak jauh-jauh dengan nostalgia kejayaan peradaban Islam di masa lampau. Hehe, yang jelas tidak seperti biasanya, saya yang biasa ngantuk dan tertidur ketika diceramahi, kali ini ndilalah kok enggak. Saya baru tahu kalau referensi bacaan Kang Abik sama dengan bacaan santri pondok pesantren. Kitab tafsir Jalalain, Hikam, dan kitab-kitab Imam Nawawi yang berkali-kali disebut Kang Abik dalam ceramahnya.

kibar_materi

Materi Pengajian Kang Abik

Secara umum, dari materi yang disampaikan dalam tulisan arab gundul  ala kitab kuning pesantren (beruntung saya pernah sedikit belajar ilmu Nahwu dan Shorof , so bisa baca dan ngerti artinya dikit-dikit ) oleh kang Abik itu ada tujuh kekuatan yang harus dimiliki oleh umat Islam agar bisa kembali menguasai peradaban dunia. Ketujuh kunci itu, merupakan inti sari dari Surat Alfatihah. Pertama, kuatnya hubungan dengan Allah SWT. Kedua, kuatnya ilmu pengetahuan yang luas. Ketiga, kuatnya ruh cinta yang sampai ke negeri akhirat. Keempat, kuatnya pegangan kehidupan akhirat. Kelima, kuatnya ruh kegiatan/gerakan secara berjamaah. Keenam, kuatnya do’a dan istikomah. Dan yang ketujuh adalah kuatnya pemahaman terhadap sejarah. Kalau diringkas lagi intinya sebenarnya, bahwa ilmuwan jaman dulu itu sama-sama kuat antara intelektual dan spiritualnya. Tidak hanya pintar pengetahuan umumnya saja, tetapi juga tafaquh fiddin sangat paham agama dan sangat religius. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan ilmuwan islam jaman sekarang, yang seolah-seolah ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Yang paham agama biasanya pengetahuan umumnya kurang. Sebaliknya yang pengetahuan umumnya hebat, tapi pemahaman agamanya sangat minim. Selain pengajian kang Abik, pada acara ini duta besar RI untuk Inggris berkenan memberi sambutan, serta diskusi panel dengan beberapa kelompok islam Indonesia di Inggris dari NU, Muhammadiyah, PKS, PPI UK, dan Masyarakat Ekonomi Syariah UK mengenai pendidikan di Indonesia.

nginap_di_masjid

Diskusi Setelah Bangun Tidur di Masjid

Senang rasanya, di pengajian ini, saya bisa bertemu dengan saudara baru seiman. Bertemu dengan beberapa teman sesama blogger, teman facebook, yang baru kali ini ketemu langsung di darat. Bertemu beberapa orang tetangga desa di kota kelahiran saya, Banyuwangi. Bertemu juga, salah satu mantan mahasiswa dan yunior saya di ITS dan Pondok Pesantren Darul Ulum, yang saat ini sedang mengambil S2 di Universitas Manchester. Serta bertemu kembali dengan orang-orang yang saya kenal sebelumnya. Semuanya menghadirkan kebehagiaan yang bertumpah ruah di dalam dada.

kibar_futsal

Tim Futsal Nottingham Vs Birmingham

Malam harinya, kami menginap di masjid yang terletak tidak begitu jauh dari lokasi acara. Argh, ini mengingatkan tidur tanpa bantar dan tikar ala ikan pindang di pesantren saja. Cara tidur, yang mengajarkan kedederhanaan, kebersahajaan, dan rasa egaliter dalam hidup. Paginya, kami ada pertandingan futsal dan Bazar makanan khas Indonesia. Untuk kali ini, pertandingan futsal dimenangkan oleh teman-teman dari kelompok pengajian lokaliti dari Manchester. Di bazar makanan, ada sate padang dan empek-empek Palembang yang terlihat begitu menggoda air liur.  Tetapi, makanan Indonesia yang dimasak di luar Indonesia, tidak pernah seenak makanan Indonesia yang dimasak di kandangnya sendiri. Badokan asli Indonesia memang tidak pernah bisa tergantikan. Keberagamanya, cita rasanya, penyajianya dan cerita dibalik makanan-makanan Indonesia itu, tidak ada sainganya dengan makanan bangsa kulit putih di benua biru Eropa ini. Argh, Indonesia memang syurganya untuk nggeplek ilat, syurganya jajan makanan.

kibar_sate_padang

Sate Padang KW 10 Made in Birmingham

Mlipir (Lagi) ke Kota Birmingham

Kami akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti penutupan acara. Kami pamit duluan untuk mlipir menghabiskan sore di musim gugur menjelang musim panas yang cukup panjang, karena matahari baru akan tenggelam sekitar jam delapan malam. Saya dan rombongan dari Nottingham menyusuri labirin-labirin kota Birmingham yang sangat luas itu. Sebenarnya, saya sudah bosan menyusuri kembali kota ini, tetapi dengan orang berbeda, selalu menghadirkan momen yang berbeda pula.

birmingham_bullring

Ini Bukan Ainun dan Habibi

Pertama kami makan siang bersama di pelataran gedung Bullring, kami duduk-duduk di undak-undakan dengan view menghadap sebuah gereja tua yang loncengnya mengeluarkan suara yang khas dan epic sekali setiap 15 menit sekali. Entahlah, saya sangat suka dengan suara lonceng gereja itu. Hangatnya sinar matahari sore yang suam-suam kuku itu terasa sangat nikmat sekali. Dari Bullring, kami berjalan menyusuri jalan ke arah Victoria Park. Alun-alunya kota Birmingham. Sepanjang perjalanan, Ibu-ibu tak pernah kehilangan kodrat jiwa keemakanya, mudah tergiur dengan barang-barang bagus. Meskipun hanya berani mampir di toko Charity, yang menjual baju-baju bekas. Sepertinya, mereka sadar suami mereka tak pernah punya uang lebih untuk sekedar membeli baju baru di toko-toko pakaian branded yang tampak begitu menggoda di kota ini. Untung ada kamera di tangan saya, untuk membunuh kebosanan yang selalu menyiksa setiap menunggu ibu-ibu melihat-lihat barang-barang yang enak dipandang itu.

birmingham_iconic_landmark

Salah Satu Landmark Di Tengah Kota Birmingham

Di alun-alun kota itu, saya selalu kagum dengan bangunan-bangunan berumur ratusan tahun yang lalu itu. Bangunan-bangunan dengan estetika arsitektur yang rumit itu seolah bercerita panjang tentang bagaimana orang-orang terdahulu pernah hidup di kota ini. Tentang kejayaan orang-orang terdahulu yang begitu perkasa dan digjaya, tetapi akhirnya mereka pun binasa. Ingin rasanya, jika ada, memasuki lorong waktu, untuk hadir dalam kehidupan 1000 tahun yang lalu.

brimingham_victoria_park

Victoria Park, Alun-Alun Kota Birmingham

Kokoh dan Indahnya bangunan-bangunan itu membuat pikiran saya tak pernah mau berhenti bertanya. Bagaimana orang-orang terdahulu membangun bangunan seindah dan semegah ini. Seperti halnya, saya selalu bertanya bagaimana nenek moyang saya membangun Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bangunan-bangunan itu adalah saksi-saksi bisu kejayaan dan kemajuan peradaban bangsa-bangsa terdahulu. Inikah sisa-saisa bukti kejayaan Bangsa Romawi yang ceritanya diabadikan dalam sebuah surah dalam Alquran itu?

birmingham_iconic_landmark_3

Bukan Tugu Yogyakarta di Tengah Kota Birmingham

Dari Victoria, kami berjalan menuju sebuah bangunan megah paling baru di kota ini. Bangunan itu adalah perpustakaan publik yang katanya adalah perpustakaan publik terbesar di benua Eropa. Sekilas, bangunan itu terlihat begitu futuristic dengan material bangunan modern dan saya yakin bangunan ini dibangun dengan konsep green sustainable building yang menjadi jargon dunia belakangan ini. Konon di dalamnya adalah sebuah taman untuk membaca buku yang sangat mewah dengan koleksi bacaan yang super lengkap. Indeed, ini benar-benar syurga level dewa bagi para pecinta buku yang hobi membaca.  Tapi sayang, sore itu perpustakaan sudah tutup. Kami terpaksa harus puas dengan sekedar foto-foto berlatar belakang bangunan megah itu.

birmingham_public_library

Perpustakaan Umum Di Kota Birmingham

Di taman depan perpustakaan ini, kami bertemu dengan rombongan orang Indonesia lainya dari kota Southampton. Sejenak, saya merasa seperti di antara kerumunan orang-orang di  Taman Bungkul Surabaya. Yah, ternyata orang Jawa semuanya. Dari gedung perpustakaan kami kembali berjalan menuju kanal yang tidak jauh dari lokasi perpustakaan. Kanal yang airnya bersih meskipun berada di tengah-tengah kota besar yang padat. Di kedua bibir sepanjang aliran kanal itu terdapat jalur pejalan kaki yang cukup lebar lengkap dengan bangku-bangku panjang di pinggir kanal. Tempat yang sangat nyaman untuk menghabiskan senja di kota ini. Jika berminat, sampean bisa naik perahu motor mengelilingi  kota Birmingham lewat kanal itu.

Sayang, hari terasa begitu cepat berubah menjadi semakin pekat. Dan kami pun harus segera pulang. Yah, terkadang kehidupan ini terasa tak ubahnya sebuah perjalanan. Ada perjuangan, kejutan-kejutan, ada kesenangan, ada kebahagiaan, kadang juga sedikit kesedihan di dalam perjalanan. Tetapi perjalanan tak pernah selamanya, karena pada akhirnya kita harus kembali pulang. Begitu pun hidup, hanya mampir ngguyu, dan kita pasti akan kembali pulang menuju rumah kita sesungguhnya. Terima kasih kepada semua teman perjalanan! Sampai jumpa di perjalanan yang lain.

Advertisements

2 comments

  1. wahh menarik sekali mas ceritanya, saya pernah lihat liputan acara KIBAR di stasiun TV Net di Indonesia meliput tentang acara ini di program Muslim Traveller bulan ramadhan lalu, acaranya menarik sekali. dan ternyata saya bisa membaca ceritanya langsung di blog ini tentang kehIdupan mahasiswa muslim Indonesia. do’akan saya smga bisa menginjakan kaki di negara ratu Elisabeth untuk menimba ilmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s