Sistem VS Bisnis Keuangan Syariah

Dimana-mana yang namanya bisnis tujuanya hanya hanya ada tiga. Tujuan yang pertama adalah profit, kedua profit, dan yang ketiga profit – Suherman Rosyidi

pedln_derby_mes_bapak2_edit

Bersama Mengenal Sistem Keuangan Syariah (Derby, 23 Maret 2015)

Dulu waktu kuliah master di Universiti Teknologi Petronas, Malaysia, saya pertama kali mengenal keuangan Syariah. Waktu itu, dalam rangka pengajian bulanan yang diadakan oleh kelompok pengajian PPI UTP dan materi disampaikan oleh salah seorang dosen senior, pakar ekonomi syariah Universitas Airlangga, Suherman Rosyidi. Nah, kebetulan, waktu kuliah S3 ini, saya kembali mendapatkan kuliah tentang keuangan syariah. Kali ini dalam rangka pengajian bulanan PeDLN dan materi disampaikan oleh ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, UK (MES-UK), yaitu Mas Ilham Reza Ferdian, yang juga dosen, Jurusan Manajemen, Universitas Indonesia ini,  dalam rangka road show memperkenalkan Keuangan Ekonomi Syariah kepada masyarakat Indonesia yang sedang berada di Inggris.

Ohya pengajian kali ini, bertempat di kediaman Pak Dr Dani Harmanto/ Mbak Didin, di Derby. Pak Dani ini adalah salah satu dari banyak para diaspora Indonesia yang tinggal di Inggris.  Alumni Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini, saat ini berstatus sebagai dosen di Jurusan Teknik Mesin, Universitas Derby, yang merupakan salah satu Jurusan Teknik Mesin terbaik di Inggris. Beliau juga menjabat sebagai ketua jurusan untuk program BEng (Hons) Mechanical and Manufacturing. Subhanallah, sebuah capaian yang luar biasa bukan?

Nah seperti apa sebenarnya keuangan syariah itu?

Menurut Mas Ilham, pada prinsipnya, dibanding dengan sistem keuangan konvensional, ada tiga prinsip dasar yang membuat keuangan syariah berbeda. Jika sistem keuangan konvensional tujuan utamanya adalah profit, maka pada sistem keuangan syariah meskipun diperbolehkan mencari profit, tetapi ada pantangan yang harus dihindari. Yaitu: Riba (interest atau bunga), Gharar (Uncertainty, ketidakpastian), dan Zalim (unfair). Walaupun, dalam praktiknya, bisa jadi tak seideal teori nya. Untuk detail materi tentang keuangan ekonomi syariah ini, bisa diunduh disini.

pedln_derby_mes_materi_edit

Tiga Larangan Dalam Ekonomi Syariah

Pesan dari pengajian kali ini adalah kita sebagai muslim diminta berperan aktif  dalam pengembangan keuangan syariah. Karena di Indonesia, sendiri, yang 90% penduduknya muslim, market share dari keungan syariah sendiri baru sekitar 5%. Partisipasi aktif bisa dilakukan dengan menggunakan produk-produk syariah seperti perbankan syariah, investasi dengan instrumen keuangan syariah seperti sukuk, saham syariah,  reksa dana syariah, tetapi juga harus tetap kritis terhadap produk-produk keuangan syariah sebagai kontrol agar sistem keuangan syariah tetap sesuai dengan rambu-rambu keuangan syariah itu sendiri.

Sebuah Catatan Pinggir Tentang Ekonomi Syariah

Menurut hemat saya, harus dibedakan antara sistem ekonomi syariah dan bisnis keuangan syariah atau perbankan syariah. Yang perlu digarisbawahi adalah kata bisnis. Dimana-mana yang namanya bisnis ya profit oriented, bagaimana mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan sistem ekonomi syariah sebenarnya yang sesuai dengan Fiqih Muammalah menurut Islam. Itulah sebabnya kenapa sekarang di fakultas ekonomi dan bisnis di universitas-universitas umum di Indonesia, hampir semuanya ramai-ramai membuka jurusan ekonomi syariah. Begitu juga di luar negeri, di Inggris misalnya, yang notabene bukan negara Islam, tetapi anehnya kalau orang-orang mau belajar bisnis keuangan syariah, termasuk orang Indonesia, mereka akan berbondong-bondong belajar di Universitas Durham.

pedln_derby_mes_ibu2_edit

Ibu-Ibu PeDLN Belajar Keuangan Syariah

Nalar kritis saya bertanya, kalau ngomongin ekonomi syariah, seharusnya orang pesantren dong yang paling memahami fiqih muammalah Islam, yang mengatur tata cara perekonomian menurut Alquran dan Hadis. Tetapi ya karena fokusnya adalah di bisnis bukan di sistem nya, yah pemahaman sistem ekonomi syariah itu menjadi tidak begitu penting. Lihat saja, profil dosen di Jurusan ekonomi syariah di Universitas-Universitas umum di Indonesia, hampir semuanya tidak memiliki latar belakang pemahaman sistem ekonomi syariah yang mumpuni. Hampir semuanya adalah lulusan Sarjana Ekonomi perguruan tinggi umum.

Nalar kritis saya juga sering berspekulasi, argh perbankan syariah tak ubahnya bungkus marketing untuk menarik hati segmen muslim puritan yang kebetulan sejak reformasi suka hal-hal yang berbau kemarab. Trend yang menurut saya lebih mementingkan bungkus dari pada isi. Lihat saja, sejak reformasi, masyarakat muslim puritan di kota-kota lebih suka menggunakan nama-nama bayi kemarab (yang nulis salah satunya :p) seperti zahra, naura, aqila, aslam padahal sama-sama artinya dengan nama bunga, kembang, waskito, selamet. Bukankah Tuhan Maha Tahu, dan tidaklah Bangsa Arab lebih mulia ketimbang Wong Jowo? Sekolah juga begitu, di kota lagi booming nama sekolah yang ada embel-embelnya Islam Terpadu dengan nama-nama kemarab juga Al-Uswah, Alfalah, Hidayah, yang terkenal dengan biaya nya lebih mahal dari biaya di bangku kuliah. Dalam hati, saya hanya bisa mbatin, ini sekolah untuk memintarkan orang bodoh apa bisnis pengeruk keuntungan? Padahal itu sekolah menurut saya tak lebih bagus dari sekolah ditambah ikut TPA/TPQ gratis selepas sekolah. Dunia mode pun tak ketinggalan, lagi ngetrend juga mode yang embel-embelnya ada syar’i  (kemarab pisan), hijab syar’i, gaun pengantin syar’i, dan sebagainya. Bahkan di dunia pengobatan pun tidak ketinggalan dengan jargon ‘thib nabawi’, alias pengobatan ala nabi.

Ada lagi, kalau warga Nahdliyin di pelosok desa-desa mengenal istilah suluk atau  thoriqoh untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Di perkotaan, muncul juga hal sejenis, tetapi hanya dengan biaya yang sangat mahal untuk bisa mengikuti pelatihan itu. Bedanya, kalau di kampung cukup dengan berbagai dzikir, yang model perkotaan ini pakai alat audio visual modern, tempat nya tak lagi di masjid atau mushola, tapi bisa di gedung-gedung atau hotel-hotel mahal. Hebatnya, orginiser si empunya pelatihan ini sukses ‘berselingkuh’ dengan pimpinan perguruan tinggi-perguruan tinggi negeri yang mewajibkan mahasiswa barunya untuk mengikuti pelatihan ini. Dan tentunya harus menanggung biaya yang mahal itu. Oalah, gusti !

Pengalaman pribadi menggunakan produk perbankan syariah dari salah satu bank di Indonesia yang memiliki jargon ‘pertama murni syariah’, menurut saya sama sekali tidak ada bedanya dengan Bank konvensional. Pihak bank sama sekali tidak mau menanggung resiko, apalagi mau rugi. Maunya enaknya sendiri, tetap untung tidak mau rugi (namanya juga bisnis). Padahal perbankan syariah ini kampanyenya anti riba dan diklaim lebih menguntungkan bagi nasabah. Jika yang dikampanyekan itu benar, saya yakin semua nasabah akan beralih ke perbankan syariah. Toh bank-bank konvensional dengan jaringan infrastruktur ( kantor cabang, atm) terbesar di Indonesia pun sudah memiliki perbankan syariah. Nyatanya, kenapa market share nya tak lebih dari 5% di negara yang mayoritas muslim ini?

Malah menurut saya, perbankan sekuler di Inggris disini jauh lebih syariah dibanding dengan perbankan syariah di Indonesia. Saya bisa buka rekening dengan nol rupiah, tanpa biaya administrasi 1 sen pun, semua layanan seperti ATM, Token semua gratis, bahkan kalau hilang pun bisa diganti dengan gratis, kartu ATM bisa dipakai tak ubahnya kartu kredit yang sangat memudahkan dalam transaksi, layanan internet banking dan mobile banking, bisa menarik cash dari semua bank tanpa biaya administrasi, semuanya serba gratis. Indeed, perbankan di Inggris, benar-benar fair dan memudahkan. Bandingkan dengan perbankan di Indonesia, banyak sekali biaya administrasinya, mau ATM bayar lagi, Token bayar lagi, ATM hilang bayar lagi, token keblokir, harus beli token lagi dan bayar lagi, belum lagi penggunaan ATM ada biaya administrasi bulanan sendiri, masih dipajeki bulanan lagi,  alamak……. ini mah tak ubahnya uang receh diganti dengan permen di supermarket, hehe.

Lalu seperti apa contoh ideal ekonomi syariah itu?

Menurut saya, justru sistem keuangan syariah yang benar itu diterapkan di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Pondok Salaf, yang tidak mau mengadopsi sekolah umum ini sangat sukses mengembangkan bisnisnya dengan menerapkan ilmu pengelolaan keuangan berdasarkan fiqih muammalah berdasarkan Alquran dan hadist. Pesantren ini sangat sukses mengelola keuangan umat. Mau tahu bagaimana kesuksesan Sidogiri menerapkan sistem ekonomi syariah nya?  berikut ada tulisan menarik ada disini dan juga disini. Salah satu unit bisnisnya yang sangat sukses adalah unit BMT.  Menurut saya, sidogiri ini sangat luar biasa dan seharusnya bisa menjadi contoh bagi umat Islam lainya. Padahal pesantren ini memiliki sistem pendidikan 100% kurikulum lokal pesantren, tidak mengadopsi sekolah umum atau universitas umum sebagaimana yang banyak dilakukan oleh pesantren-pesantren lainya. Tetapi dengan pemahaman dan praktik yang paripurna dari ilmu pesantren ini, Sidogiri layak dijadikan kiblat keberhasilan sistem ekonomi syariah, bukan sekedar bisnis keuangan syariah.

Yah, di jaman akhir, jaman edan sing ora edan ora keduman, yang serba wolak-walik ini terkadang sangat susah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Nalar dan rasa kritis saya sering kali berontak ketika belakangan ini lagi ngetrend orang-orang yang menurut istilah teman saya, berjualan agama di tangga syurga. Menggunakan agama, sebagai alat marketing jualan dari sebuah bisnis yang tersembunyi, yang tujuan sebenarnya adalah untuk mengeruk keuntungan duniawi semata. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya bungkus, dan lupa akan isi. Semoga Tuhan menunjukkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Advertisements

3 comments

  1. Cak Shon, tulisan sampeyan ini benar-benar mampu mengejawantahkan apa yang ada di kepala saya kalau mengamati fenomena ‘kemarab’ 😀

    Saya nggak bisa menyangkal kalimat ini, “Nalar dan rasa kritis saya sering kali berontak ketika belakangan ini lagi ngetrend orang-orang yang menurut istilah teman saya, berjualan agama di tangga syurga.”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s