Calon Sarjana Komputer Ndak Bisa Ngoding? Salah Siapa?

… Belajar pemrograman (ngoding) itu tidak seperti belajar matematika di jaman SMA, kalau nilainya kurang bagus bisa ikut BimBel atau Les Privat, latihan ngerjakan soal-soal yang mirip dengan soal-soal diujian. Karena ngoding itu tentang cara berfikir dan skill menyelesaikan permasalahan komputasional – A Random Thought

belajar_coding

Ilustarsi: Code Program Java

Hari ini di milis dosen jurusan saya isu itu muncul kembali. Lagi-lagi, para dosen mengeluhkan semakin banyak mahasiswa yang tidak bisa ngoding di Jurusan yang meluluskan para Sarjana Komputer itu. Dulu, kurikulumnya yang dituduh jadi biang kerok karena banyak mata kuliah pemrograman yang tidak dimunculkan tapi disisipkan di mata kuliah yang lain. Sekarang ketika kurikulum sudah diganti dengan yang baru, dimana mata kuliah – mata kuliah pemrograman itu dimunculkan kembali, nyatanya juga sama saja. Semakin banyak saja mahasiswa yang masih tidak bisa. Mungkin, tidak lebih dari 20% saja mahasiswa yang menguasai core skill sarjana komputer ini. Bahkan, bukan rahasia lagi yang sudah lulus dengan gelar S.Kom dan IPK bagus pun, banyak yang tetep tidak bisa ngoding properly. Ndak malu apa ya, dengan gelar Sarjana Komputer nya?

Benar memang, bahwa pekerjaan untuk lulusan sarjana komputer tidak terbatas pada ngoding saja. Tetapi, rasanya ada yang salah ketika kurikulumnya didesain untuk membuat mereka menguasai pemrograman, tetapi luaranya tidak seperti yang diharapkan. Dan ini menurut saya menjadi semacam alarm menjelang dimulainya MEA. Jika bigini, bagaimana para sarjana yang diharapkan jadi pemain unggul di industri kreatif ini mampu bersaing dengan pemain dari negara tetangga, seperti: Singapura, Thailand, Malaysia? Lalu, siapa yang salah?

Mahasiswanya pasti menyalahkan dosen nya yang ndak becus ngajar. Sebaliknya, dosen nya menyalahkan mahasiswanya yang tidak bisa diajar. Siapa yang benar, siapa yang salah? Baiklah, saya sebagai mantan mahasiswa, pernah jadi dosen, dan sekarang menjadi  mahasiswa lagi, mencoba mengurai akar permasalahan ini secara lebih fair. Catat ya, ini sekedar opini saya, benar tidaknya silah direfleksikan kepada sampean sendiri saja.

Mengapa Banyak Mahasiswa Calon Sarjana Komputer banyak yang merasa kesulitan belajar ngoding?

Para calon sarjana komputer ini bisa mahasiswa Jurusan ilmu komputer, teknik informatika, sistem informasi, dan jurusan yang serumpun lainya. Menurut saya penyebabnya adalah:

Pertama, karena banyak mahasiswa yang gagal ‘move on’ dari cara belajar di bangku sekolah ke cara belajar bangku kuliah. Dasar mata kuliah pemorgraman biasanya diberikan di semester 1 dan semester 2. Nah ketika cara belajar yang dipakai mahasiswa masih cara belajar di SMA disitulah akan menimbulkan masalah. Apa sih bedanya cara belajar anak sekolahan sama anak kuliahan? Filsosofinya sederhana sekali, anak sekolahan itu ibarat anak kecil yang belum bisa makan sendiri sehingga harus disuapi, kalau anak kuliahan sampean itu dianggap sudah besar (istilah keren nya ‘adult learner‘), sudah bisa makan sendiri. Kalau lapar ya makan sendiri dan tahu makanan apa yang terbaik untuk kamu. Hampir semua mahasiswa hanya mengandalkan dan merasa sudah cukup belajar hanya dari perkuliahan di kelas, padahal kuliah  dikelas itu seharusnya hanya stimulus alias perangsang buat sampean untuk belajar sendiri lebih lanjut. Analoginya, kuliah di kelas hanya petunjuk makanan apa yang bagus untuk pertumbuhan sampean. Selanjutnya sampean sendiri yang harus mencari dan memakan sendiri makanan itu.

Kedua, karena semakin banyak mahasiswa yang SPOILED alias MANJA alias Manis Jancuki.  Ini berdasarkan observasi saya membandingkan model mahasiswa jaman sekarang dan mahasiswa jaman saya dulu (awal 2000 an). Mungkin karena lingkungan jaman anak sekarang yang terlalu dimanja oleh teknologi dan dibalut budaya konsumerisme yang mengakibat mental ora wani soro ini. Mahasiswa jaman sekarang ke kampus dandananya modis, wangi. Ke kampus nyetir mobil. Peganganya berbagai Gadget. Tongkronganya (alasanya ngerjakan tugas bareng) di mall. Dari keluarga miskin, dapat tunjangan biaya hidup beasiswa Bidik Misi. Jaman saya kuliah dulu, baju andalanya jaket hima (dalamnya ndak ganti-ganti, bau pisan), ke kampus kebanyakan jalan kaki atau ngontel, atau sekeren-kerenya pakek sepeda motor butut. Handphone tuh yang punya masih beberapa orang dan masih handphone nokia monophonic yang bisa buat ngelempar asu. Saya juga tahu dengan mata kepala sendiri, ada beberapa teman saya yang harus kerja serabutan demi untuk bertahan hidup karena orang tua tak mampu membiayai. Tetapi kalau bicara daya juang jangan tanya. Masih ingat jaman kuliah dulu, kalau ngerjakan tugas harus di lab. Hampir tiap malam bahkan sabtu-minggu ngelembur ngerjakan di Lab. Jangankan laptop, PC saja masih satu dua orang saja yang punya. Internet juga masih barang mahal, tidak seperti sekarang yang tersedia WIFI dimana-mana. Sehingga semuanya harus dikerjakan di Lab. Jamanya dosen saya (tahun 90-an) lebih soro lagi. Tetapi kemudahan fasilitas yang dimiliki mahasiswa jaman sekarang itu anehnya tidak membuat mahasiswa semakin pintar. Tapi sebaliknya. Kalau jaman dulu, seorang mahasiswa bisa menguasai 3-5 bahasa pemrograman itu sudah biasa, anak sekarang bisa satu bahasa pemrograman saja sudah syukur. Indeed, semangat belajar mahasiswa jaman dulu jauh lebih tinggi dari mahasiswa jaman sekarang. Benar filosofi huruf jawa, kalau dipangku mati, artinya kalau seseorang itu terlalu diberi kemudahan malah kreatifitasnya mati, dan sebaliknya.

Ketiga, ada gap knowledge yang terlalu lebar antar dosen dan mahasiswanya. Dosen setidaknya harus berijasah S2, banyak diantarnya yang bergerlar Doktor dan Professor. Nah, ini sering kali beberapa dosen secara tidak sadar bahwa yang berada dihadapanya adalah anak-anak yang baru lulus sekolah kemaren sore. Sering kali dosen ini menggunakan jargon-jargon yang kurang membumi yang sangat biasa di kepala dosen, tapi masih sangat asing di kepala para mahasiswa. Gap knowledge inilah yang sering kali membuat mahasiswa gagal paham bahkan malah bingung. Idealnya, seorang dosen yang hebat adalah yang bisa menjelaskan konsep-konsep yang rumit menjadi hal-hal sederhana yang mudah dipahami mahasiswanya, mindset nya ketika mengajar sementara harus dirubah dulu ke mindset anak-anak yang baru lulus sekolah kemaren sore. Tetapi, indeed pengalaman saya jadi dosen, ini bukan perkara yang mudah.

Tips Belajar Bahasa Pemrograman

Seperti saya sebutkan diatas intinya adalah sampean harus bisa belajar sendiri tanpa menunggu diajari dan tidak manja. Hidup ini akan terasa keras kalau sampean terlalu lunak terhadap sampean sendiri. Sebaliknya, hidup akan terasa lunak kalau sampean keras terhadap diri sampean sendiri. Sampean tidak bisa menuntut dosen seharusnya begini dan begitu, karena sampean sudah dianggap dewasa, dianggap tahu apa yang harus dilakukan. Kalau sampean merasa tidak tahu ya tanya langsung sama dosen nya atau sampean bisa tahu sendiri dari tempat yang lain.

Belajar di jaman sekarang, apalagi belajar pemrograman dan skill IT lainya itu lo sebenarnya sangat-sangat mudah. Sampean punya laptop, punya koneksi internet, dan bisa bahasa Inggris. Sampean bisa belajar apa saja dari internet. Kalau tidak tahu tempatnya, tinggal tanya sama mbah Google. Lah sampean sih laptop hanya dipakek untuk facebookan, twitteran, ngepath, dan instragraman saja. Mas, Mbak mbok ya dipakai untuk belajar.

Belajar ngoding itu menurut saya ada dua hal yang harus dipahami. Pertama adalah conceptual skill dan yang kedua adalah technical skill. Untuk kemampuan konseptual sampean harus paham dasar-dasar algoritma dan struktur data. Algoritma itu akan membentuk pola pikir sampean bagaimana menyelesaikan permasalahan komputasi secara logis. Untuk kemampuan technical skill sampean hanya perlu membiasakan cara mengekpresikan conceptual skill dalam bahasa pemrograman yang spesifik.

Untuk pemahaman konsep, sampean bisa ikutan kuliah online gratis di berbagai MOOC  (Massive Open Online Course) dari berbagai kampus terbaik dunia, seperti:

  1. https://www.coursera.org
  2. https://www.edx.org/
  3. https://www.futurelearn.com
  4. https://www.udemy.com
  5. https://lagunita.stanford.edu
  6. khanacademy.com
  7. ocw.mit.edu

Tinggal ketikan saja kata kuncinya, algorithm atau programming atau computer science ada ratusan kuliah online gratis disitu. Layaknya kuliah sungguhan, ada video, materi, exercise, forum diskusi, quiz, dan ujian disitu. Beberapa mata kuliah yang saya sarankan: Think Create Code,  Algorithm 1 ,  Introduction to Computer Programming , Introduction to Java Programming, Java Tutorial for Complete Beginner , Introduction to Programming with Java.

Sedangkan untuk kemampuan teknis, cara belajar yang terbaik adalah learning by doing yaitu dengan coba nulis code langsung. Kalau sampean sudah paham konsepnya, dan familiar dengan salah satu bahasa pemrograman saja. Untuk mencoba bahasa pemrograman yang lain tidaklah sulit. Ada beberapa online learning by doing yang bagus, diantaranya adalah:

  1. Codeacademy
  2. w3schools
  3. LearnJavaOnline 

Intinya banyak sekali resource belajar di internet asal sampean mau belajar sendiri. Tinggal googling saja. Sayangnya, resource belajar yang terbaik semuanya masih dalam bahasa Inggris. Kalau sampean masih pusing dengan bahasa inggris yah, ya wassalam. Tapi kan sudah ada google translate to? Dan mau tidak mau menurut saya sampean harus paksa diri untuk paham itu bahasa Inggris. Terkadang yang perlu sampean lakukan adalah memaksa sampean sendiri untuk tidak manja dan wani soro untuk belajar sendiri. Saya ingatkan sekali lagi, Jangan manja! Seiring berjalanya waktu, resource belajar yang bahasa inggris itu akan menjadi terbiasa buat sampean. Dan terjemahan google translate itu akan berpindah dan mengendap di otak sampean. Kalau manja, ndak berani memaksa dan keras pada diri sendiri, ya selamanya ndak bakalan bisa to? Jika merasa kesulitan, bingung, gagal paham, itu wajar bero ! namanya belajar sesuatu yang baru. Belajar kadang terasa menyakitkan, jika begitu berbahagialah, karena itu artinya sampean benar-benar belajar. Ibarat membuka berlian yang dibungkus ikatan kain yang berlapis-lapis, dibutuhkan kesabaran, dan daya juang tanpa lelah. Kadang harus mengulang dan mengulang lagi, mencoba dan mencoba lagi. Hingga akhirnya, ketemulah berlian itu.

Pengalaman saya belajar ngoding , saya merasa skill ngoding saya well-improved ketika saya belajar sendiri. Dan memang kuliah di kelas itu hanya perangsang untuk belajar lebih lanjut. Selanjutnya, terserah sampean. Satu lagi tips biar jago coding adalah by practice. Saya dulu sejak semester 3 hingga lulus kuliah (4 tahun pas) nyambi kerja part-time di software house milik salah satu alumni. Disanalah skill pemrograman saya terasah. Indeed, kalau sampean sudah nemu cara belajar yang tepat buat sampean sendiri, belajar ngoding itu sangat menyenangkan dan menantang. Sangat merangsang otak untuk mikir secara logis.

Kalaupun tidak harus kerja part-time, karena mengganngu kuliah sampean. Ada websitu untuk mengasah problem solving sampean, dari yang level paling ecek-ecek sampai level dewa. Disini sampean bisa submit code program, dan akan dicompile diserver. Sampean akan tahu benar tidaknya, dan seberapa cepat dan hemat memori program sampean. Semakin banyak problem yang bisa diselesaikan, semakin tinggi skor sampean layaknya sebuah permainan game. Salah satunya adalah: SPOJ

Terakhir, menurut saya kemampuan ngoding adalah inti dari kuliah di jurusan ilmu komputer dan jurusan turunanya termasuk sistem informasi. Seperti riset operasi di jurusan Teknik Industri. Kalau sarjana komputer ndak bisa ngoding itu ibarat dokter ndak bisa nyuntik. Mengapa? karena tanpa kemampuan ngoding yang proper sampean tidak akan bisa mengimplementasikan algoritma-algoritma terbaru yang bisa sampean baca pada paper di jurnal-jurnal ilmiah terbitan terbaru. Disamping, sampean juga harus paham betul konsep matematika diskrit untuk bisa membaca paper jurnal tersebut, karena sudah pasti paper jurnal tersebut dijelaskan dengan simbol-simbol konsep-konsep di matematika diskrit (termasuk aljabar linier dan matrik). Tahukah sampean dibalik aplikasi-aplikasi cerdas yang sampean gunakan di smart phone ataupun desktop adalah algoritma-algoritma yang sophisticated. Pernahkah sampean berfikir apa yang terjadi dibelakang layar, ketika sampean terkagum-kagum dengan terjemahan google translate lebih bagus dari bahasa inggris sampean? Atau facebook yang bisa mengenali foto teman sampean? Tentu di belakangnya adalah algoritma yang shopisticated. Jadi mahasiswa IT malu dong, jika hanya menjadi pengguna teknologi IT. Saatnya, sampean yang seharusnya develop aplikasi-aplikasi cerdas tersebut.

Sebagai tambahan dari komentar di bawah, ada yang bertanya:

Di perkuliahan, satu hal yang masih menjadi kendala bagi saya yaitu melogikakan suatu permasalahan kedalam program. Apalagi tentang, mengenai pemahaman Matematika Diskrit hampir semua soal yang berkaitan dengan logika seperti ini tak ada satupun yang bisa saya jawab, pak -_-
Mohon sarannya pak, bagaiman seharusnya saya bisa mengatasi hal seperti ini

Well, ini pertanyaan menarik sekali menurut saya. Karena permasalahan ini saya yakin banyak dihadapi oleh kebanyakan mahasiswa. Ada yang missing ketika mata kuliah Pemrograman diajarkan di semester pertama. Bayangno!, seorang mahasiswa yang masih kosongan itu dipaksa’ memahami coding oleh seorang dosen yang sudah berpuluh-puluh tahun bergumul dengan pemrograman, yang tentu saja di kepala sang dosen sudah embedded algorithmic problem solving skill atau logical thinking skill. Mungkin inilah, penyebab mata kuliah pemrograman terasa sulit buat mahasiswa baru, yang pada akhirnya tidak menyukai pemrograman.

Di kampus saya, di Universitas Nottingham, ternyata sebelum mahasiswa mengambil mata kuliah Pemrograman, mereka wajib lulus mata kuliah ‘Algorithmic Problem Solving‘ terlebih dahulu. Saya kebetulan pernah mengikuti mata kuliah ini, atau menyusup lebih tepatnya (karena saya mahasiswa PhD yang sedang ngepoin sistem pendidikan S1 ilmu komputer di Universitas Nottingham). Di mata kuliah ini, mahasiswa sama sekali belum bersentuhan dengan komputer. Belajarnya hanya menggunakan kertas dan bolpoin. Saat itu, kita dikelas sedang diskusi memecahkan  permasalahan Pak Tani yang akan menyebrang sungai. Intinya adalah bagaimana mahasiswa diajak memecahkan permasalahan dengan memformulasikan dan mencari solusi permasalhan tersebut secara logis, step by step. Kemampuan inilah kemampuan ‘melogikakan suatu permasalahan kedalam program’ itu.

Profesor yang ngajar mata kuliah ini, Prof. Roland Backhouse,  kebetulan sudah membukukan bahan ajarnya dalam sebuah buku tipis. Buat sampean yang tertarik dengan mata kuliah ini, bisa dilihat disini dan disini (sampean bisa download lecture notes, tugas-tugas, dan tutorial untuk mata kuliah ini). Dan bukunya bisa dibeli disini, jangan tanyan pdf lo ya! Bondo Rek, Bondo!  Untuk improve kemampuan logika sampean juga bisa melatihnya dengan game-game atau puzzle logika. Search saja di google play dengan kata kunci : ‘logic’. Barangkali bisa membantu.

Ohya, mungkin dari teman-teman bagaimana sih cara ngajar mata kuliah algoritma dan pemrograman di kampus luar negeri? Well, saya mungkin sedikit bisa cerita pengalaman di kampus saya. Yang jelas sebelum masuk ke mata kuliah programming, mereka sudah mengambil mata kuliah Algorithmic problem solving terlebih dahulu seperti cerita saya di atas. Lalu bagiaman kuliah algoritma pemrograman nya?

Kebetulan setiap semester musim gugur, saya diminta jadi asisten dosen ndoro dosen pembimbing S3 saya pada mata kuliah Algoritma dan Struktur Data. Lebih tepatnya dipaksa, lahwong saya ini background nya sistem informasi bukan ilmu komputer, yang tentu saja ndak sedalam di jurusan ilmu komputer/teknik informatika belajar algoritmanya. Sehingga, saya sempat menolak tawaran itu. But, the show must go on.

Untuk mata kuliah angker ini, ada tiga jenis tatap muka dalam seminggu. Pertama, dua kali  pertemuan kuliah masing-masing 50 menit (di kampus ini hampir semua kuliah maksimal 50 menit, biar mahasiswa nya ndak teler). Kedua, tutorial selama 50 menit, untuk materi tambahan di kelas. Ketiga, lab. session, juga selama 50 menit. FYI, ketiga jenis tatap muka ini, semuanya tidak wajib hadir, karena disini tidak ada yang namanya absensi kuliah.

Sistem penilainya, 20% dari coursework dan 80% dari ujian tulis final examination. Coursework itu semacam tugas gitu kali ya kalau di Indonesia. Ada 3 coursework untuk mata kuliah ini. Setiap coursework, berisi problem set dan open question yang harus diselesaikan dengan coding dan dijelaskan dalam sebuah report yang harus disubmit pada saat deadline bersama dengan code program nya. Nah, pada waktu lab. session itulah, mahasiswa mengerjakan coursework. Di lab. ndoro dosen, saya, dan beberapa teman asisten dosen lainya stand by di lab. Kita sama sekali tidak guide mereka di lab, kita juga sama sekali tidak boleh ngasih clue dari problem yang harus mereka selesaikan. Mereka benar-benar diumbar begitu saja, kecuali jika mereka ada hal yang ingin ditanyakan atau didiskusikan, mereka cukup melambaikan tangan, dan kita para asisten dosen akan datang. Layaknya, memanggil pelayan di sebuah restoran.

Di akhir deadline, mereka harus submit report, yang berisi penjelasan solusi dari problem set, penjelasan dan analisa code program yang sudah mereka buat. Analisa code ini harus mereka jelaskan secara matematik, maupun secara experiment. Tugas saya sebagai asisten dosen adalah menilai report tadi, dan memberi feedback. Nilai dari coursework, 80% dari report, dan 20% dari feedback session (something like interview).

Saat menilai report dan memeriksa code inilah, saya benar-benar terkagum. Mahasiswa disini, benar-benar genuine, ndak ada yang namanya nyontek code orang lain dengan mengganti nama variabel nya doang. Saya bisa melihat mana yang genuine, dan mana yang nyontek logika orang lain. Dan saya menemukan disini, 99.9% genuine. Aplagi, pertanyaanya open. Dimana jawaban yang benar tidak pasti A, tetapi bisa B, C, D sesuai dengan analisa dan interprestasi mahasiswa. Sementara, di sesi feedback. Saya menginterview, masing-masing mahasiswa satu persatu, memastikan mereka paham dengan problem set di coursework, dan menjelaskan kepada mereka jika mereka kurang paham.

Point saya adalah saya melihat bahwa mahasiwa disini begitu independent dalam belajar, serta memiliki kesadaran belajar yang sangat tinggi. Nah, ini yang kurang dengan kebanyakan mahasiswa-mahasisa di tempat kita. Coba deh, absensi ditiadakan dan 80% penilainya dari final exam. Mungkin kelas-kelas jadi sepi, hehehe….. Tapi mungkin saya salah.

Baiklah, semoga sampean jadi semangat dan tidak manja untuk berani memaksa sampean sendiri belajar ngoding. Semoga sukses belajarnya ! Dan lulus jadi Sarjana Komputer yang bisa ngoding. Good Luck!

About Cak Shon

Santri yang tak kunjung jadi kyai. View all posts by Cak Shon

340 responses to “Calon Sarjana Komputer Ndak Bisa Ngoding? Salah Siapa?

  • akhsanhamas

    Tulisannya inspiratif bgt mas.
    Ane jurusan sipil, lg study tp lintas jurusan masuk di teknik kelautan. Dapat materi tesis ttng komputasi bidang kelautan.
    Wlpn gak ad background programming, insya Allah tulisan mas sgt menginspirasi. Learning by doing and do the best.

  • jesaya92

    sangat bermanfaat mas ( atau bapak sepertinya pemanggilan yang tepat hehe). kebetulan saya juga masih mahasiswa tingkat atas teknik informatika.. wawasan cara belajar saya jadi terbuka.. ijin share ya .

  • Calon Sarjana Komputer Ndak Bisa Ngoding? Salah Siapa? | My Inspiration

    […] Calon Sarjana Komputer Ndak Bisa Ngoding? Salah Siapa?. […]

  • kluxkluxklux

    kalo yang ga bisa ngoding sarjana komputer berarti yang salah universitas dong cak? hehehehe 😀

  • How Can Coding Help You ? | Kiki Ahmadi's Blog

    […] senior di kampus dulu yang sekarang sedang menempuh studi lanjut di Nottingham, menuliskan artikel menarik tentang fenomena banyaknya mahasiswa jurusan IT yang tidak familiar dengan programming / coding di […]

  • Pentingnya Indentasi Saat Coding - AbangFadli Blog

    […]  Side note, bacaan bagus: Calon Sarjana Komputer Ndak Bisa Ngoding? Salah Siapa? […]

  • khair affan

    Terimakasih mas. Artikelnya sangat menginspirasi saya. Saya kira semua jurusan memiliki masalah yg sama yaitu semangat juang yg kurang dan terlalu dimanja oleh teknologi. Saya sendiri jurusan ekonomi syariah namun merasakan sekali problem mahasiswa zaman sekarang yg sampean paparkan diatas. Thanks mas.

  • zikri

    Wah senang rasanya kalo bisa berteman dan berbagi ilmu dgn mas cak shon

  • wanprabu

    Bayangno! biyen iku “baju andalanya jaket hima (dalamnya ndak ganti-ganti, bau pisan)”
    haha… joss mas 😀

  • Adi Januarsyah

    Postingan yang nendang bagi saya mahasiswa IT 😀 , memang kemudahan – kemudahan yang didapat pada saat ini justru kebanyakan digunakan buat hal yang gak berguna oleh mahasiswa, tapi beruntung saya bisa merantau buat kuliah , hidup serba pas-pasan, saya termotivasi untuk terus menerus berusaha mempersiapkan masa depan lebih baik dari pada kalau saya cuma dikampung aja, Semangat ngoding 🙂

  • zhientian

    makasih mas, tulisannya bikin semangat belajar coding 😀
    saya baru semester 2 mas jurusan sistem informasi semoga awal yg baik 😀 saya akan terusah berusaha 🙂
    Semangat ngoding 🙂

  • Rivaldi Thunder Gear

    ha gue ngoding aplikasi android liat di youtube aja pake android studio dan beli kamus console, kalo java gue juga bisa tapi gue, nyerah dah capek belom ada build coding nya

  • Mang Ali

    Keluhan yang sama, dan thanks buat alternatif solusinya.
    Mudah-mudahan bisa dicoba 🙂
    Suwun, Cak 🙂

  • guntur

    Trimksih pncrahn nya mas…

  • Hardi Boeboet

    Ngerasa ketampar sih mas dg tulisan mas ini, udah lulus 2 tahun
    Hilang semua bayang2 koding mengkoding itu.
    Buat mulai lagi bingung dari mana mulainya.
    Sekarang ilmu yg dipake waktu kerja malahan soft skil dari organisasi bukan ilmu dari kampus.
    Bisa kasih saran buat saya mas, soalnya saya ada planning lanjut kuliah S2.

  • Sancol Gates

    nice story mas, inspiratif 🙂

  • Bahasa Pemrograman

    Pak kalau bahasa C++ lebih cocok di unix ya dari pada windows os. Soalnya pada waktu saya ingin kompile source code yang dari unix make mingw bawaan windows banyak atribut-atribut yang nggak terdefinisi. Mohon pencerahannya..

  • nanang

    Assalamu’alaikum Cak,

    Ulasan sampeyan menginspirasi saya, ada email cak? Ada sesuatu yg harus saya “serep” dari ilmu panjenengan.

    Matur suwun cak

    Wassalam

    Nanang

  • Muh. Sabri Rahman

    bahkan yang bukan sarjana pun bisa ngoding. miris

  • Alfian

    Sangat menginspirasi. Ijin share 🙂

  • Charles

    Setuju banget

    saya dari jurusan sistem informasi.. memang pada awal masuk perkuliahan saya sudah memiliki modal pemikiran logika yang baik, tapi saya sendiri sadar bahwa kalau belajar programming tanpa kemauan belajar sendiri, modal saya yang saya bawa sebelum masuk perkuliahan akan menjadi sia”, jadi saya setuju banget dengan artikel ini.

    Dan kalau boleh ditambahkan lagi nih mas, belajar coding jangan dianggap serem atau susah, anggap coding itu sebagai mainan, seperti bermain menjadi raja, anda coder adalah orang yang memegang kuasa, dan code anda adalah rakyat anda, anda dapat mengatur mereka seperti apa yang anda inginkan agar negara anda (program) bisa berjalan dengan baik.

  • no name

    Tulisan.y ngispirasi banget mas,

  • Anggara

    Sarjana gak bisa ngoding? Maksudnya? Bener2 gak tau dasar pemrograman samasekali?

    Jujur ane juga mahasiswa yg terlibat dalam codingan,
    ngoding emang menyenangkan,
    mengasah otak, tapi kalo lagi mood aja,
    selama ane ngoding ane bener2 ane kaya orang autis,
    lupa sama semuanya yang ada di otak,
    cuma codingan dan script, hidup gak normal,
    Begadang setiap malam,
    setiap mau tidur pun otak masih mikir jalannya codingan,
    Bahkan ane lagi sholat pun mikir codingan 😫 jadi gak khusyu,
    Belum lagi ada trouble? Bener bikin gak bisa tidur!
    Belum lagi deadline? Bikin setereeesssss!
    Program selesai customer minta yang aneh2? 😕

    Ah… Sudahlah 😥

  • aldi

    ane bingung nih mas entah memang otak ane yg ga nyampe buat ngoding begini apa anenya yg males, ane juga bingung ntar lulus bakalan jd programer apa ambil ke bidang yg lain. padahal udah semester 6 😦

  • edi

    jadi inget 7 tahun lalu
    belajar programming otodidak sampai 2 tahun berikutnya sudah paham,tapi masih taraf belajar lanjutan
    dan kerja jadi web maker
    setelah puas menghasilkan profit di dunia web desain kurang lebih 2 tahun akhirnya meninggalkan juga dengan pindah konsentrasi ke karir non-IT selama 3 tahun ini nggak nyentuh coding sama sekali hingga sekarang hanya ingat
    public function namafunction($a, $b, $c, $d)
    {
    $kalaubegini = $artinyagini->harus_begini($a, $b, $c);
    return $kalaubegini == $d;
    }
    dan beberapa syntax bash script,setelah baca post anda saya mau update ilmu programming lagi
    matur sembah suwun cakshon

  • ArieL FX

    bukan salah siapa2 mas, cuma judul post mas membuat saya tertarik kesini. gak maksud offense mas. sarjana komputer kan gak hanya menjadi programmer, bisa jadi IT konsultan, system administrator, dll

    coding kan udah mengarah passion mas

  • Fakhrur

    Waduh jadi tambah greget, saya baru akan menjadi mahasiswa ilkomp tahun ini, saran nya mas buat maba seperti saya?

  • dhiar

    Artikel nya menginspirasi. Tapi ingin menambahkan sj, klo kbnyakan mhasiswa, blm kompeten dlm coding, mngkin salah satunya krena kurang beramal/praktek. Hal yg prlu ditanamkan pada generasi saat ini adalah bhw ilmu adalah pmimpin amal/praktek dan ketika amal/praktek kita brguna bgi org lain, cepat atau lmbat kita akan mnjadi trampil /kompeten.

  • aboutnewbie

    sangat menginspirasi gan, ane baru lulus 2 bulan lalu di jurusan sistem komputer, jujur hanya tau c#,c++,php, java, itu pun yang paling demen cuma c# doang 😦

  • Warsoni Arsandika

    mantaff … izin share ya om 🙂

  • adindaalfiraningrum

    sae artikelny Bapak, 🙂
    sy mahasswa SI semester 9 (hiks), stlh sy baca artikelny,
    byk ‘tibak e’ yg ‘koyo e ncen ngunu’, sy sadar kalo sy manja, tp menurut sy, manjany saya krna kemampuan otak sy Pak. ktika sy agak memaksakn sdkit, fisik yg kena, tp sy sendiri sbnarny ingin belajar lebih, lalu baikny gimana ya Pak? coding itu ….. susah lo Pak.. 😦

  • mrxxx

    ane numpang comment bapak bapak kakak kakak .. ane wktu itu klas 4 Sd udh biasa coding bash … sekarang alhamdulillah skill ane jdi programer memang menjadi programer itu susah bener tapi bisa kok … hanya perlu mencoba dan terus mencoba sehari harus ngabisin waktu 13jam buat komputer .. waktu tsbut digunakan untuk latihan coding … klo ane yng gampang dlu yaitu bash ato cmd … mulai dari echo off sampai powershell … mati lo yng gk pernah nyoba coding sok sok coding ….tetapi … ada tapinya nehh… klo orang gk tau coding terus ketemu sama masternya coding pasti bisa .. brarti klo diatas dosen yang salah soalnya tidak bisa ngajarin … klo mahasiswanya gk punya salah … orng nuntut ilmu kok salah tidak bisa disalakan menurut ane skarang ane kelas 2smp ,, kakak ane dlu pernah ikit lomba pascal 1sma juara 1 kabupaten yang ngajarin ane … lah kalo yang diajarin juara 1 apalagi yng ngajarin … kelas 3 ini gw mau focus ama pascal … cmd gw udh paham 99% ilmu cmd gw kira kira bisa nyuri data orng pkek ftplah…

  • Laila

    keren mas, mindsetnya, wejangan nya, smua yg mas ungkapin itu bener 100%. saya sbagai salah satu mahasiswi mrasa mmg betul apa yg mas bilang. dan saya adalah seorang yg prnh mrasa bhwa dunia IT ini bkn dunia saya, salah jurusan krna trlalu jenuh dengan koding2. namun akhir2 ini saya mikir, kalo saya slalu mikir saya salah jurusan, maka saya akan terpaku disni dan gk akan maju ya mas..??

    dan saya mrenung jg kmrn2, bahwa saya bisa didunia IT ini meskipun ilmu saya bisa diblg masih jauh banget dr yg sharusnya anak IT miliki, itu smua udah takdir yg dikasih Allah, ada hikmahnya jg. lama kelamaan saya koq smakin jatuh hati sama ini jurusan. meski tman2 saya pada blg, ini dunianya cowok, logika cowok yg lbih nangkep ke pemrograman. tp mnrut saya, cewek jg bisa, slagi ada kemauan blajar, ingin tahu, dan act dr diri sndiri, saya prcaya suatu saat saya bisa, stidaknya 1 jenis pemrograman saya bisa.

    trimakasih banget lah mas, wejangan nya.
    Allah beserta keluarga mas slalu 🙂

    dan impian saya kyk mas, keren bisa study abroad.
    mantap mas.. mohon do’anya smoga saya bisa ya mas. agar indonesia jg punya ahli IT wanita, sperti yg dimiliki negara2 luar sana.

    Bismillah,,Aamiin, ,

  • Ginda

    WOW anak tahun 90 an bisa menguasai 3 – 5 bahasa pemrograman.?
    keren deh
    saya lulusan smk dan mau mencoba kuliah, tapi setelah membaca artikel ini kelihatannya kok rugi kuliah sama sama kita belajar pemgrograman sendiri

  • yugo

    Numpang urun rembuk mas,
    Pengalaman saya dulu di Tahun pertama di kasih tugas project pemrograman langsung sebagai syarat kenaikan tingkat, dengan topik terserah mahasiswa dan presentasi ke dosen.

    Terus juga ada tugas programming sederhana, seperti bila kita input angka 99, akan keluar di layar sembilan-sembilan, atau buat pernyataan “bukan bilangan prima”, dll.

    Intinya harus ada tugas programming langsung, jadi nyantol.

    Nach saya nggak tahu anak-anak sekarang kebanyakan tugas akhirnya jarang sekali yang programming, ya jadi bagaimana mau berharap mereka bisa programming.

    Salam kenal
    http://www.ygautomo.com

  • Sarjana Begok

    Artikel yang bagus,
    Sarjana komputer tidak bisa coding?
    Ini gua banget. (Dulu)

    mahasiswa di paksa untuk belajar? percuma saja, karena mereka merasa tidak membutuhkan pelajaran itu. (Sama seperti saya dulu)

    Yang perlu di berikan ke mahasiswa mau jurusan apa aja adalah kebutuhan. Karena selama ini mahasiwa merasa tidak membutuhkan pelajaran itu karena tidak mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari hasil karyanya.
    Yang mereka butuhkan hanya nilai yang bagus dan serifikat kelulusan dan itu semua bisa didapat hanya dengan membayar ke oknum-oknum yang mencari keuntungan lebih.

    Jadi untuk memaksa mahasiswa tidak manja dan memaksakan pelajaran itu percuma saja.
    Yang perlu di berikan ke mahasiswa itu persaingan yang mendapatkan penghargaan dan keuntungan secara materi ke mahasiswa.
    Misalnya dosen memberikan tugas untuk membuat suatu aplikasi dan aplikasi yang memenuhi syarat akan di beli oleh suatu perusahaan, jadi si mahasiswa terpacu untuk koding dan membuat aplikasi yang bagus agar hasil karya nya mendapatkan penghargaan dan di akui.

    Semua programer akan merasakan kepuasan tersendiri jika aplikasi yang di buat nya sempurna dan di hargai oleh orang lain.

    Kalau di buat system pendidikan seperi itu saya rasa banyak mahasiswa komputer yang tergila-gila dengan kodingnya. Dan akan menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas tinggi.

    So kalau kata-kata Tempat kuliah yang bagus itu ya ITB = Institut Tempat Bekerja(ini gua banget) saya sangat setuju. Karena saya juga tamat kuliah tidak bisa koding.
    Karena kebutuhan pekerjaan yang membuat saya bisa melakukan segala hal, alhamdulilah saya sekarang bisa menguasai bahasa program apapun yang dibutuhkan. Walaupun ketika tamat kuliah saya tidak bisa koding.

    – Just share experience from Sarjana Begok yang Sombong –

  • anisah

    Mksih pak artikelnya inspiratif bgt,,
    Smoga saya bs seperti bpk,hehe
    Jadi makin semangat belajar codingnya walaupun msh bingung hehe…

  • anisah

    Kerennn pokoknya pakk

  • andry

    Salam Kenal pak cak shon. Luar Biasa Artikelnya. Dan jangan lupa, “SAHABAT TERBAIK PROGRAMMER ADALAH GOOGLE INC.”

    SALAM IT PAK CAK SHON

  • Yuliana Komang Gede

    Salam kenal pak, Saya sangat Terinspirasi dari tulisan bapak, saya masih SMK kelas 3 saat ini, kebetulan saya jurusan RPL(Rekayasa Perangkat Lunak), saya sudah memahami algoritma sedikit2, saya sudah bisa bahasa pemrograman web, dan sudah mengambil job2, dan saat ini saya sudah mendirikan tempat les privat di rumah saya.

    Jujur, saya anaknya pemalas banget tapi pas lagi serius saya serius, saya lagi berusaha untuk menghilangkan rasa malas saya tapi tidak bisa atau memang saya masih kurang berusaha.

    Rencana saya mau melanjutkan ke jurusan Teknik Informatika, jika saya mampu membayar kuliah nanti (saya dari keluarga yang kurang mampu) saya mohon doanya para mahasiswa IT.

    Contact : http://www.yulianakomang.com

  • Adam Azano

    Sekarang ane baru paham, baru belajar iseng coding web ( seriusan dari w3school gara gara iseng manfaatin waktu kosong) udah galau, ternyata emang butuh pengantar konseptualnya,
    ahhah

    Dan setelah lama ga iseng koding lagi dan iseng belajat lagi dari code babe youtube baru paham pentingnnya teori konseptualnya ahhahaa

    Mungkin kalo para sarjana itu diajarin pake cara codebabe di youtube mungkin tambah semangat bung whwhwhwhhehhe

  • Sita

    Wah saya telat baca tulisannya mas,, dan sayang sekali tulisan ini diterbitkan tahun 2015. Coba diterbitkannya skitaran tahun 2012 atau 2013, mungkin bisa mengubah mindeset saya untuk belajar coding. Saya sekarang semester 8 mas, dan saya tidak bisa coding. Dan hal itu yg buat saya malu sebagai mahasiswa TI, apalagi sebentar lgi saya mau lulus. Kira2 solusi dari masalah saya ini apa mas? apakah telat jika saya belajar dari awal lagi..???

  • febrian220

    bener banget mas
    saya kebetulan mahasiswa teknik informatika lanjut smester 4, alhamdulillah ipk & ips smester 1 s/d 3 diatas 3,00, tapi saya kurang paham matkul algoritma pemograman 1 & 2, sama halnya dgn teman2 saya mayoritas 90% dikelas gak ngerti itu matkul / mungkin itu karna cara dosen mengajarnya kurang dipahami ataupun salah
    yg jelas dibalik smua itu saya unggul di matkul pemrograman web sperti bhs html & css, mysql
    spertinya saya lbih tertarik multimedia / sistem informasi 🙂

  • Ade Sulaeman

    Izin share yaa 🙂
    Siapa tau aja banyak yang terinspirasi…

  • teamtrainit

    artikel yg sangat menginspirasi.
    temen teman yg mau belajar coding web dari nol bisa kursus di trainit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: