Calon Sarjana Komputer Ndak Bisa Ngoding? Salah Siapa?

… Belajar pemrograman (ngoding) itu tidak seperti belajar matematika di jaman SMA, kalau nilainya kurang bagus bisa ikut BimBel atau Les Privat, latihan ngerjakan soal-soal yang mirip dengan soal-soal diujian. Karena ngoding itu tentang cara berfikir dan skill menyelesaikan permasalahan komputasional – A Random Thought

belajar_coding

Ilustarsi: Code Program Java

Hari ini di milis dosen jurusan saya isu itu muncul kembali. Lagi-lagi, para dosen mengeluhkan semakin banyak mahasiswa yang tidak bisa ngoding di Jurusan yang meluluskan para Sarjana Komputer itu. Dulu, kurikulumnya yang dituduh jadi biang kerok karena banyak mata kuliah pemrograman yang tidak dimunculkan tapi disisipkan di mata kuliah yang lain. Sekarang ketika kurikulum sudah diganti dengan yang baru, dimana mata kuliah – mata kuliah pemrograman itu dimunculkan kembali, nyatanya juga sama saja. Semakin banyak saja mahasiswa yang masih tidak bisa. Mungkin, tidak lebih dari 20% saja mahasiswa yang menguasai core skill sarjana komputer ini. Bahkan, bukan rahasia lagi yang sudah lulus dengan gelar S.Kom dan IPK bagus pun, banyak yang tetep tidak bisa ngoding properly. Ndak malu apa ya, dengan gelar Sarjana Komputer nya?

Benar memang, bahwa pekerjaan untuk lulusan sarjana komputer tidak terbatas pada ngoding saja. Tetapi, rasanya ada yang salah ketika kurikulumnya didesain untuk membuat mereka menguasai pemrograman, tetapi luaranya tidak seperti yang diharapkan. Dan ini menurut saya menjadi semacam alarm menjelang dimulainya MEA. Jika bigini, bagaimana para sarjana yang diharapkan jadi pemain unggul di industri kreatif ini mampu bersaing dengan pemain dari negara tetangga, seperti: Singapura, Thailand, Malaysia? Lalu, siapa yang salah?

Mahasiswanya pasti menyalahkan dosen nya yang ndak becus ngajar. Sebaliknya, dosen nya menyalahkan mahasiswanya yang tidak bisa diajar. Siapa yang benar, siapa yang salah? Baiklah, saya sebagai mantan mahasiswa, pernah jadi dosen, dan sekarang menjadi  mahasiswa lagi, mencoba mengurai akar permasalahan ini secara lebih fair. Catat ya, ini sekedar opini saya, benar tidaknya silah direfleksikan kepada sampean sendiri saja.

Mengapa Banyak Mahasiswa Calon Sarjana Komputer banyak yang merasa kesulitan belajar ngoding?

Para calon sarjana komputer ini bisa mahasiswa Jurusan ilmu komputer, teknik informatika, sistem informasi, dan jurusan yang serumpun lainya. Menurut saya penyebabnya adalah:

Pertama, karena banyak mahasiswa yang gagal ‘move on’ dari cara belajar di bangku sekolah ke cara belajar bangku kuliah. Dasar mata kuliah pemorgraman biasanya diberikan di semester 1 dan semester 2. Nah ketika cara belajar yang dipakai mahasiswa masih cara belajar di SMA disitulah akan menimbulkan masalah. Apa sih bedanya cara belajar anak sekolahan sama anak kuliahan? Filsosofinya sederhana sekali, anak sekolahan itu ibarat anak kecil yang belum bisa makan sendiri sehingga harus disuapi, kalau anak kuliahan sampean itu dianggap sudah besar (istilah keren nya ‘adult learner‘), sudah bisa makan sendiri. Kalau lapar ya makan sendiri dan tahu makanan apa yang terbaik untuk kamu. Hampir semua mahasiswa hanya mengandalkan dan merasa sudah cukup belajar hanya dari perkuliahan di kelas, padahal kuliah  dikelas itu seharusnya hanya stimulus alias perangsang buat sampean untuk belajar sendiri lebih lanjut. Analoginya, kuliah di kelas hanya petunjuk makanan apa yang bagus untuk pertumbuhan sampean. Selanjutnya sampean sendiri yang harus mencari dan memakan sendiri makanan itu.

Kedua, karena semakin banyak mahasiswa yang SPOILED alias MANJA alias Manis Jancuki.  Ini berdasarkan observasi saya membandingkan model mahasiswa jaman sekarang dan mahasiswa jaman saya dulu (awal 2000 an). Mungkin karena lingkungan jaman anak sekarang yang terlalu dimanja oleh teknologi dan dibalut budaya konsumerisme yang mengakibat mental ora wani soro ini. Mahasiswa jaman sekarang ke kampus dandananya modis, wangi. Ke kampus nyetir mobil. Peganganya berbagai Gadget. Tongkronganya (alasanya ngerjakan tugas bareng) di mall. Dari keluarga miskin, dapat tunjangan biaya hidup beasiswa Bidik Misi. Jaman saya kuliah dulu, baju andalanya jaket hima (dalamnya ndak ganti-ganti, bau pisan), ke kampus kebanyakan jalan kaki atau ngontel, atau sekeren-kerenya pakek sepeda motor butut. Handphone tuh yang punya masih beberapa orang dan masih handphone nokia monophonic yang bisa buat ngelempar asu. Saya juga tahu dengan mata kepala sendiri, ada beberapa teman saya yang harus kerja serabutan demi untuk bertahan hidup karena orang tua tak mampu membiayai. Tetapi kalau bicara daya juang jangan tanya. Masih ingat jaman kuliah dulu, kalau ngerjakan tugas harus di lab. Hampir tiap malam bahkan sabtu-minggu ngelembur ngerjakan di Lab. Jangankan laptop, PC saja masih satu dua orang saja yang punya. Internet juga masih barang mahal, tidak seperti sekarang yang tersedia WIFI dimana-mana. Sehingga semuanya harus dikerjakan di Lab. Jamanya dosen saya (tahun 90-an) lebih soro lagi. Tetapi kemudahan fasilitas yang dimiliki mahasiswa jaman sekarang itu anehnya tidak membuat mahasiswa semakin pintar. Tapi sebaliknya. Kalau jaman dulu, seorang mahasiswa bisa menguasai 3-5 bahasa pemrograman itu sudah biasa, anak sekarang bisa satu bahasa pemrograman saja sudah syukur. Indeed, semangat belajar mahasiswa jaman dulu jauh lebih tinggi dari mahasiswa jaman sekarang. Benar filosofi huruf jawa, kalau dipangku mati, artinya kalau seseorang itu terlalu diberi kemudahan malah kreatifitasnya mati, dan sebaliknya.

Ketiga, ada gap knowledge yang terlalu lebar antar dosen dan mahasiswanya. Dosen setidaknya harus berijasah S2, banyak diantarnya yang bergerlar Doktor dan Professor. Nah, ini sering kali beberapa dosen secara tidak sadar bahwa yang berada dihadapanya adalah anak-anak yang baru lulus sekolah kemaren sore. Sering kali dosen ini menggunakan jargon-jargon yang kurang membumi yang sangat biasa di kepala dosen, tapi masih sangat asing di kepala para mahasiswa. Gap knowledge inilah yang sering kali membuat mahasiswa gagal paham bahkan malah bingung. Idealnya, seorang dosen yang hebat adalah yang bisa menjelaskan konsep-konsep yang rumit menjadi hal-hal sederhana yang mudah dipahami mahasiswanya, mindset nya ketika mengajar sementara harus dirubah dulu ke mindset anak-anak yang baru lulus sekolah kemaren sore. Tetapi, indeed pengalaman saya jadi dosen, ini bukan perkara yang mudah.

Tips Belajar Bahasa Pemrograman

Seperti saya sebutkan diatas intinya adalah sampean harus bisa belajar sendiri tanpa menunggu diajari dan tidak manja. Hidup ini akan terasa keras kalau sampean terlalu lunak terhadap sampean sendiri. Sebaliknya, hidup akan terasa lunak kalau sampean keras terhadap diri sampean sendiri. Sampean tidak bisa menuntut dosen seharusnya begini dan begitu, karena sampean sudah dianggap dewasa, dianggap tahu apa yang harus dilakukan. Kalau sampean merasa tidak tahu ya tanya langsung sama dosen nya atau sampean bisa tahu sendiri dari tempat yang lain.

Belajar di jaman sekarang, apalagi belajar pemrograman dan skill IT lainya itu lo sebenarnya sangat-sangat mudah. Sampean punya laptop, punya koneksi internet, dan bisa bahasa Inggris. Sampean bisa belajar apa saja dari internet. Kalau tidak tahu tempatnya, tinggal tanya sama mbah Google. Lah sampean sih laptop hanya dipakek untuk facebookan, twitteran, ngepath, dan instragraman saja. Mas, Mbak mbok ya dipakai untuk belajar.

Belajar ngoding itu menurut saya ada dua hal yang harus dipahami. Pertama adalah conceptual skill dan yang kedua adalah technical skill. Untuk kemampuan konseptual sampean harus paham dasar-dasar algoritma dan struktur data. Algoritma itu akan membentuk pola pikir sampean bagaimana menyelesaikan permasalahan komputasi secara logis. Untuk kemampuan technical skill sampean hanya perlu membiasakan cara mengekpresikan conceptual skill dalam bahasa pemrograman yang spesifik.

Untuk pemahaman konsep, sampean bisa ikutan kuliah online gratis di berbagai MOOC  (Massive Open Online Course) dari berbagai kampus terbaik dunia, seperti:

  1. https://www.coursera.org
  2. https://www.edx.org/
  3. https://www.futurelearn.com
  4. https://www.udemy.com
  5. https://lagunita.stanford.edu
  6. khanacademy.com
  7. ocw.mit.edu

Tinggal ketikan saja kata kuncinya, algorithm atau programming atau computer science ada ratusan kuliah online gratis disitu. Layaknya kuliah sungguhan, ada video, materi, exercise, forum diskusi, quiz, dan ujian disitu. Beberapa mata kuliah yang saya sarankan: Think Create Code,  Algorithm 1 ,  Introduction to Computer Programming , Introduction to Java Programming, Java Tutorial for Complete Beginner , Introduction to Programming with Java.

Sedangkan untuk kemampuan teknis, cara belajar yang terbaik adalah learning by doing yaitu dengan coba nulis code langsung. Kalau sampean sudah paham konsepnya, dan familiar dengan salah satu bahasa pemrograman saja. Untuk mencoba bahasa pemrograman yang lain tidaklah sulit. Ada beberapa online learning by doing yang bagus, diantaranya adalah:

  1. Codeacademy
  2. w3schools
  3. LearnJavaOnline 

Intinya banyak sekali resource belajar di internet asal sampean mau belajar sendiri. Tinggal googling saja. Sayangnya, resource belajar yang terbaik semuanya masih dalam bahasa Inggris. Kalau sampean masih pusing dengan bahasa inggris yah, ya wassalam. Tapi kan sudah ada google translate to? Dan mau tidak mau menurut saya sampean harus paksa diri untuk paham itu bahasa Inggris. Terkadang yang perlu sampean lakukan adalah memaksa sampean sendiri untuk tidak manja dan wani soro untuk belajar sendiri. Saya ingatkan sekali lagi, Jangan manja! Seiring berjalanya waktu, resource belajar yang bahasa inggris itu akan menjadi terbiasa buat sampean. Dan terjemahan google translate itu akan berpindah dan mengendap di otak sampean. Kalau manja, ndak berani memaksa dan keras pada diri sendiri, ya selamanya ndak bakalan bisa to? Jika merasa kesulitan, bingung, gagal paham, itu wajar bero ! namanya belajar sesuatu yang baru. Belajar kadang terasa menyakitkan, jika begitu berbahagialah, karena itu artinya sampean benar-benar belajar. Ibarat membuka berlian yang dibungkus ikatan kain yang berlapis-lapis, dibutuhkan kesabaran, dan daya juang tanpa lelah. Kadang harus mengulang dan mengulang lagi, mencoba dan mencoba lagi. Hingga akhirnya, ketemulah berlian itu.

Pengalaman saya belajar ngoding , saya merasa skill ngoding saya well-improved ketika saya belajar sendiri. Dan memang kuliah di kelas itu hanya perangsang untuk belajar lebih lanjut. Selanjutnya, terserah sampean. Satu lagi tips biar jago coding adalah by practice. Saya dulu sejak semester 3 hingga lulus kuliah (4 tahun pas) nyambi kerja part-time di software house milik salah satu alumni. Disanalah skill pemrograman saya terasah. Indeed, kalau sampean sudah nemu cara belajar yang tepat buat sampean sendiri, belajar ngoding itu sangat menyenangkan dan menantang. Sangat merangsang otak untuk mikir secara logis.

Kalaupun tidak harus kerja part-time, karena mengganngu kuliah sampean. Ada websitu untuk mengasah problem solving sampean, dari yang level paling ecek-ecek sampai level dewa. Disini sampean bisa submit code program, dan akan dicompile diserver. Sampean akan tahu benar tidaknya, dan seberapa cepat dan hemat memori program sampean. Semakin banyak problem yang bisa diselesaikan, semakin tinggi skor sampean layaknya sebuah permainan game. Salah satunya adalah: SPOJ

Terakhir, menurut saya kemampuan ngoding adalah inti dari kuliah di jurusan ilmu komputer dan jurusan turunanya termasuk sistem informasi. Seperti riset operasi di jurusan Teknik Industri. Kalau sarjana komputer ndak bisa ngoding itu ibarat dokter ndak bisa nyuntik. Mengapa? karena tanpa kemampuan ngoding yang proper sampean tidak akan bisa mengimplementasikan algoritma-algoritma terbaru yang bisa sampean baca pada paper di jurnal-jurnal ilmiah terbitan terbaru. Disamping, sampean juga harus paham betul konsep matematika diskrit untuk bisa membaca paper jurnal tersebut, karena sudah pasti paper jurnal tersebut dijelaskan dengan simbol-simbol konsep-konsep di matematika diskrit (termasuk aljabar linier dan matrik). Tahukah sampean dibalik aplikasi-aplikasi cerdas yang sampean gunakan di smart phone ataupun desktop adalah algoritma-algoritma yang sophisticated. Pernahkah sampean berfikir apa yang terjadi dibelakang layar, ketika sampean terkagum-kagum dengan terjemahan google translate lebih bagus dari bahasa inggris sampean? Atau facebook yang bisa mengenali foto teman sampean? Tentu di belakangnya adalah algoritma yang shopisticated. Jadi mahasiswa IT malu dong, jika hanya menjadi pengguna teknologi IT. Saatnya, sampean yang seharusnya develop aplikasi-aplikasi cerdas tersebut.

Sebagai tambahan dari komentar di bawah, ada yang bertanya:

Di perkuliahan, satu hal yang masih menjadi kendala bagi saya yaitu melogikakan suatu permasalahan kedalam program. Apalagi tentang, mengenai pemahaman Matematika Diskrit hampir semua soal yang berkaitan dengan logika seperti ini tak ada satupun yang bisa saya jawab, pak -_-
Mohon sarannya pak, bagaiman seharusnya saya bisa mengatasi hal seperti ini

Well, ini pertanyaan menarik sekali menurut saya. Karena permasalahan ini saya yakin banyak dihadapi oleh kebanyakan mahasiswa. Ada yang missing ketika mata kuliah Pemrograman diajarkan di semester pertama. Bayangno!, seorang mahasiswa yang masih kosongan itu dipaksa’ memahami coding oleh seorang dosen yang sudah berpuluh-puluh tahun bergumul dengan pemrograman, yang tentu saja di kepala sang dosen sudah embedded algorithmic problem solving skill atau logical thinking skill. Mungkin inilah, penyebab mata kuliah pemrograman terasa sulit buat mahasiswa baru, yang pada akhirnya tidak menyukai pemrograman.

Di kampus saya, di Universitas Nottingham, ternyata sebelum mahasiswa mengambil mata kuliah Pemrograman, mereka wajib lulus mata kuliah ‘Algorithmic Problem Solving‘ terlebih dahulu. Saya kebetulan pernah mengikuti mata kuliah ini, atau menyusup lebih tepatnya (karena saya mahasiswa PhD yang sedang ngepoin sistem pendidikan S1 ilmu komputer di Universitas Nottingham). Di mata kuliah ini, mahasiswa sama sekali belum bersentuhan dengan komputer. Belajarnya hanya menggunakan kertas dan bolpoin. Saat itu, kita dikelas sedang diskusi memecahkan  permasalahan Pak Tani yang akan menyebrang sungai. Intinya adalah bagaimana mahasiswa diajak memecahkan permasalahan dengan memformulasikan dan mencari solusi permasalhan tersebut secara logis, step by step. Kemampuan inilah kemampuan ‘melogikakan suatu permasalahan kedalam program’ itu.

Profesor yang ngajar mata kuliah ini, Prof. Roland Backhouse,  kebetulan sudah membukukan bahan ajarnya dalam sebuah buku tipis. Buat sampean yang tertarik dengan mata kuliah ini, bisa dilihat disini dan disini (sampean bisa download lecture notes, tugas-tugas, dan tutorial untuk mata kuliah ini). Dan bukunya bisa dibeli disini, jangan tanyan pdf lo ya! Bondo Rek, Bondo!  Untuk improve kemampuan logika sampean juga bisa melatihnya dengan game-game atau puzzle logika. Search saja di google play dengan kata kunci : ‘logic’. Barangkali bisa membantu.

Ohya, mungkin dari teman-teman bagaimana sih cara ngajar mata kuliah algoritma dan pemrograman di kampus luar negeri? Well, saya mungkin sedikit bisa cerita pengalaman di kampus saya. Yang jelas sebelum masuk ke mata kuliah programming, mereka sudah mengambil mata kuliah Algorithmic problem solving terlebih dahulu seperti cerita saya di atas. Lalu bagiaman kuliah algoritma pemrograman nya?

Kebetulan setiap semester musim gugur, saya diminta jadi asisten dosen ndoro dosen pembimbing S3 saya pada mata kuliah Algoritma dan Struktur Data. Lebih tepatnya dipaksa, lahwong saya ini background nya sistem informasi bukan ilmu komputer, yang tentu saja ndak sedalam di jurusan ilmu komputer/teknik informatika belajar algoritmanya. Sehingga, saya sempat menolak tawaran itu. But, the show must go on.

Untuk mata kuliah angker ini, ada tiga jenis tatap muka dalam seminggu. Pertama, dua kali  pertemuan kuliah masing-masing 50 menit (di kampus ini hampir semua kuliah maksimal 50 menit, biar mahasiswa nya ndak teler). Kedua, tutorial selama 50 menit, untuk materi tambahan di kelas. Ketiga, lab. session, juga selama 50 menit. FYI, ketiga jenis tatap muka ini, semuanya tidak wajib hadir, karena disini tidak ada yang namanya absensi kuliah.

Sistem penilainya, 20% dari coursework dan 80% dari ujian tulis final examination. Coursework itu semacam tugas gitu kali ya kalau di Indonesia. Ada 3 coursework untuk mata kuliah ini. Setiap coursework, berisi problem set dan open question yang harus diselesaikan dengan coding dan dijelaskan dalam sebuah report yang harus disubmit pada saat deadline bersama dengan code program nya. Nah, pada waktu lab. session itulah, mahasiswa mengerjakan coursework. Di lab. ndoro dosen, saya, dan beberapa teman asisten dosen lainya stand by di lab. Kita sama sekali tidak guide mereka di lab, kita juga sama sekali tidak boleh ngasih clue dari problem yang harus mereka selesaikan. Mereka benar-benar diumbar begitu saja, kecuali jika mereka ada hal yang ingin ditanyakan atau didiskusikan, mereka cukup melambaikan tangan, dan kita para asisten dosen akan datang. Layaknya, memanggil pelayan di sebuah restoran.

Di akhir deadline, mereka harus submit report, yang berisi penjelasan solusi dari problem set, penjelasan dan analisa code program yang sudah mereka buat. Analisa code ini harus mereka jelaskan secara matematik, maupun secara experiment. Tugas saya sebagai asisten dosen adalah menilai report tadi, dan memberi feedback. Nilai dari coursework, 80% dari report, dan 20% dari feedback session (something like interview).

Saat menilai report dan memeriksa code inilah, saya benar-benar terkagum. Mahasiswa disini, benar-benar genuine, ndak ada yang namanya nyontek code orang lain dengan mengganti nama variabel nya doang. Saya bisa melihat mana yang genuine, dan mana yang nyontek logika orang lain. Dan saya menemukan disini, 99.9% genuine. Aplagi, pertanyaanya open. Dimana jawaban yang benar tidak pasti A, tetapi bisa B, C, D sesuai dengan analisa dan interprestasi mahasiswa. Sementara, di sesi feedback. Saya menginterview, masing-masing mahasiswa satu persatu, memastikan mereka paham dengan problem set di coursework, dan menjelaskan kepada mereka jika mereka kurang paham.

Point saya adalah saya melihat bahwa mahasiwa disini begitu independent dalam belajar, serta memiliki kesadaran belajar yang sangat tinggi. Nah, ini yang kurang dengan kebanyakan mahasiswa-mahasisa di tempat kita. Coba deh, absensi ditiadakan dan 80% penilainya dari final exam. Mungkin kelas-kelas jadi sepi, hehehe….. Tapi mungkin saya salah.

Baiklah, semoga sampean jadi semangat dan tidak manja untuk berani memaksa sampean sendiri belajar ngoding. Semoga sukses belajarnya ! Dan lulus jadi Sarjana Komputer yang bisa ngoding. Good Luck!

Advertisements

335 comments

  1. ini artikel sangat bagus banget, sesuai yang saya alami. saya sekarang masih semester 7 dan masih ngerjain skripsi.dulu semester 1 saya dah di ajarin coding mulai dari c++, java dan delphi. cuma karna saya SMK lulusan administrasi perkantoran. jdi kurang mudeng apa yang di ajarkan dosennya. tetapi dari semua itu saya sekarng sudah mulai mencoba terusa memahami logika dan algoritma setiap pemrograman. pemograman juga gak cuma yg saya sebutin itu juga sich, masih banyak bahasa pemrograman yang lain. tapi untuk sekarang saya lebih suka ke pemrograman android dan web. semoga tulisan ini dapa menginspirasi yang males coding. doakan juga ya skripsi saya cepat selesai. aminn… makasih pak dah berbagi ilmu dan mengingatkan saya. Salam Sukses….

  2. semoga coding terus dikembangkan dan diberikan dari mulai sekolah dasar untuk pemrograman sederhana.
    Hilangnya matpel tik dan kkpi semoga bisa melatih kita dalam kemandirian untuk belajar coding.

    salam
    omjay

  3. Pak saya ini brlajar di salah satu universitas yang di awal semester sampek semester 3 itu mengajarkan bahasa pemrogaman yang aneh bagi orang awam seperti saya yaitu bahasa pemrogaman ruby, yang saya taudi unversitas lain itu menggunakan bahasa pemrogaman C++ atau java , saya sebagai mahasiswa sih nurut nurut saja dengan apa yanh di beri wong saya juga gak tau apa apa saat itu
    Tetapi pada saat semester 4 sampai sekarang menggunakan bahasa c++ pak ,saya kan jadi bingung harus belajar bahasa pemrogaman baru soalnya saya belum seberapa ahli di ruby kok sekarang malah di ganti lagi
    Ini yang membuat saya kualahan buat kuliah pak
    pertanyaan saya hal apakah yang harus saya lakukan untuk bisa beradaptasi dengan perubahan ini soalnya terusterang saja saya belum bisa move on sama bahasa pemrogaman yang dulu pak?
    Terimakasih
    Mohon baoak memberi jawaban yang memuaskan

  4. saya beterimakasih banayak pak atas artikel yang bapak buat ini. kedepannya saya akan berusaha lebih keras lagi dalam menuntut ilmu,dan saya harap mudah mudahan bapak tidak berhenti untuk memberikan saran saran untuk memecahkan masalah di dunia perkuliahan khususnya mengenai cara belajar ngoding.

  5. Ini saya mulai belajar VB.net secara otodidak, diwali VBA excel, belajar access apakah secara otodidak juga bisa mahir Pak??? makasih

  6. Om jay bisa aja ngajarin coding dari SD, SD mah belajar membaca dan menulis dulu aja pak. Om Jay gak tau kenyataannya kalo kuliah di Indonesia, semester awal dipaksain latihan membuat coding. Lah… belajar membaca coding aja susah, apalagi membuatnya. Bahasa pemrograman dibagi menjadi beberapa om jay. Pemrograman untuk sensorik, pemrograman web, pemrograman aplikasi. Jadi yg mana yg hrs dipilih om Jay? Sensorik utk robot, mesin, dsb. Makanya ada teknologi mesin yg canggih, mundurin mobil otomatis tanpa nabrak.
    Semester2 awal dibuat tegang oleh dosen2. Padahal mah sebenarnya materinya yg blm digodok di Indonesia, blm ada studi yg mendalam how to teaching code with pseudocode. Yang dipelajari di kuliah hanya pseudocoding-nya aja. Nantinya mahasiswanya sendiri yg mengembangkan pseudocode-nya.

    “Berusaha untuk belajar sendiri, menulis sendiri, memahami sendiri”… kalo tingkatan SD hingga SMA/SMK msh dicekokin dari gurunya om Jay. Gak ada kesadaran dari pihak muridnya om Jay, lha wong ngomong Inggris aja msh plintat-plintut. Ya okelah kalo Sekolah Maju yg ngajarnya make bahasa Inggris di kelas.
    Belum lg belajar struktur data, struktur data hrs tau matematika diskret, aljabar linear, sis bil biner. Yg diajarin di SD hingga SMP yg diajarinnya sistem bilangan basis sepuluh, bukan basis dua. Bukan pada tempatnya juga om Jay, ngajarin murid tingkatan SD ‘belajar coding’. Nanti ujug-ujugnya salah kaprah, menghitung pertambahan memakai kalkulator, memilih yg pragmatis, daripada memakai otaknya untuk berpikir secara logical. Bahwa 1+1=10 (sistem bilangan biner), 1+1=11 (operator aritmetika AND, OR), 1+1=2 (sistem bilangan desimal).
    Masih horor kalo sistem kuliah di Indonesia seperti itu, kalo saya punya duit banyak, dan gak ada korupsi hingga menyebabkan inflasi besar-besaran di Indonesia, saya milih kuliah di luar negeri daripada di Indonesia sendiri. Gagal Paham…

  7. luarbiasa artikelnya pak, saya alumni teknik informatika, dulu kuliah anti coding, sekarang kerja di web developer n consultant, justru menyesal mengenal code dengan detail ketika pas kerja, kalo dulu sungguh2 le sinau mungkin sekarang udah luar biasa tp alhamdulillah saya bukan lulusan IT yg “murtad” dalam bahasa kami, lulusan yg g bisa coding.. sedikit share ditempat kerja saya tidak mengharuskan hadir di tempat, karena kita udah online y kerjanya juga remote, mungkin g semua yang mengadopsi gaya kerja seperti ini di indonesia karena saya juga baru tau yang kaya begini itu di google. inc, dg metode kerja bagini memungkinkan kita doble atau triple kerja, betapa luar biasanya lulusan IT so saya pikir perlu buat para lulusan IT memperdalam ilmu codingnya.. sukses buat njenengan pak semoga share ilmunya bermanfaat amin..

  8. Makasih mas (pak aja kali ya), langsung ‘mak jleb’ di hati, sesuai sekali sama yang sedang terjadi pada saya, seperti nya saya melewatkan konsep/ mindset untuk logika nya saat awal-awal semester dulu, sampai-sampai saya sedikit susah untuk melakukan problem solving.
    Saya akan coba mulai sedikit demi sedikit dulu, menutupi jalan2 yang lobang sebelumnya, mulai dari konsep sampai ke technical. 🙂
    Sukses selalu, mas/pak.

  9. Artikel yg sangat bagus.
    Saya sarjana komputer dan memang saya akui saya tidak bisa ngoding. Yg saya ingat coding enter di visual basic. Parah kan… karena memang terlalu mengharapkan apa yg diajarkan oleh dosen. Dan tidak mau belajar secara mandiri.
    Saya termotivasi karena artikel ini, tapi saya juga befikir, apa di usia saya 26th, masih bisa belajar dari dasar?

  10. Menurut saya, Coding itu masalah passion. Orang yang punya passion di dunia coding pun tidak harus kuliah di jurusan teknik informatika, ilmu komputer, dll, belajar secara otodidak maupun lembaga kursus pun bisa, adapun izasah yang didapat dari kuliah hanyalah syarat saja atau ibaratnya “lisensi” bahwa mahasiswa tersebut mempunyai kemampuan dibidangnya.

    Adapun mahasiswa komputer namun tidak bisa coding, sebabnya banyak, bisa juga minimnya informasi tentang perkuliahan yang akan diambilnya pada saat dia akan memasuki jenjang universitas. Kemudian setelah mengetahui seluk beluk hal hal yang akan dipelajarinya mungkin mereka merasa bahwa ini bukan jalannya, mereka mungkin suka dengan dunia komputer, namun tidak dengan dunia progamming.

    Mungkin sebaiknya tidak mengeneralisir bahwa sarjana komputer harus bisa coding, karena pada kenyataannya pun mereka lebih diarahkan untuk menjadi system analyst, bukan kuli coding langsung, berdasarkan pengalaman saya sendiri semasa kuliah di Teknik Informatika.

  11. Terimakasih atas berbagi ilmunya mas.. saya punya masalah terhadap belajar bahsa inggris jadinya ilmu saya nanggung jika belajar diblog-blog bahasa indonesia.. insyaallah saya akan memaksa untuk belajar bahsa inggris. namanya beljar hal baru ya pasti bingung. motivasi yang baguss sukses mas

  12. pass kul gak tahu ya mau nolak gimana tapi kebiasaan pas mau coding punggung tiba-tiba sakit kepala migrain 2jam ngoding untuk recovery 5 jam, kebanyakan main game atau nonton temen main game lebih banyak cobaan indah tapi menyengsarakan kemudian, selesai kuliah gak bisa coding tapi baru baru ini kok pas ngoding sakit di punggung dan migrain tidak kerasa

  13. pas coding kena migrain tulang punggung tiba2 sakit bukan main coding 2 jam waktu recovery 5 jam tiduran waktu itu passion sedang baik, tapi saat ini coding berapa jampun bisa tapi passion sudah redup, jadinya cari penghidupan lain

  14. Assalamualaikum
    oh sampan wong jombang to cak ? aku yo podo wong jombang, diwek, saiki aku kuliah nang nggone binus jurusan teknik informatika, wes semester 2 cak, tapi sampek saiki aku jek bingung cara ne belajar coding sg bener iku piye cak, bek ne sampean iso nulungi aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s