Pesona Alam Desa ‘Country-side’ di East Midland, Inggris, UK

… kalau orang kelas ekonomi menengah ke bawah tempat hiburanya adalah tempat-tempat yang ramai, kalau rang kelas ekonomi atas tempat hiburanya adalah tempat-tempat yang sepi – Abdullah Azwar Anas (Bupati Kab. Banyuwangi)

matlock_country_side

Pemandangan Country-Side, sekitar Matlock, East Midland UK

Kawan, jika sampean masih memiliki waktu dan uang untuk sekedar menikmati liburan bersama keluarga atau teman bersyukurlah, dan ceritakanlah sebagai ucapan rasa syukur (tahaddus bini’mah). Karena Tuhan suka pada hambanya yang menyebut-nyebut nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya (lihat ayat terakhir: QS Adduha). Disana juga masih banyak saudara kita yang tak memiliki uang, tak memiliki waktu, sekedar untuk iburan. Liburan tidak ada salahnya,asal tidak berlebihan dan tujuanya untuk foya-foya. Walaupun, sering kali dalam hati kecil hati saya, merasa bersalah, feel guilty, saya ini kok hidupnya memikirkan kesenangan dirisendiri, paling banter mimikirkan kesenangandan kebahagiaan keluarga sendiri. Apalagi, kalau terbayang keluarga para aktivis, yang rela menghabiskan waktunya, mengorbankan waktu kebersamaan bersama keluarganya, untuk mengabdi dengan tulus, memperjuangkan hak-hak kaum yang dilemahkan (Saya tidak sedang menyebut politisi yang memakan ratusan juta uang rakyat itu lo ya). Jian, kalau ingat mereka, saya merasa saya ini seperti sampah kehidupan saja.

Sudah, lupakan sejenak rasa bersalah itu. Toh, meskipun kuliah saya di Inggris ini dibayari negara, yang tidak lain uang rakyat, tetapi saya membiayai sendiri biaya anak istri saya selama hidup di Inggris, termasuk untuk jalan-jalan seperti ini, dari hasil memeras keringat ngosek WC setiap pagi buta itu lo,bhahaha. Serius! Karena uang beasiswa saya itu anya untuk bayar SPP dan biaya hidup saya seorang sendiri. So, wajar dong, kalau sekali-sekali saya ngasih reward pada diri saya sendiri.

Pada liburan sekolah anak-anak bulan April kali ini, atau lebih dikenal liburan Easter, saya jalan-jalan bersama keluarga ke kota Hull, ke rumah salah seorang teman dan jalan-jalan berjamaah ke Matlock, sebuah kawasan desa kecil sekitar 1 jam perjalanan dengan kereta api. Untuk cerita perjalanan ke kota Hull, insha Allah akan saya ceritakan di kesempatan yang lain (eit, kayak banyak yang nunggu saja :p), kali ini saya sedang ingin berbagi cerita perjalan saya dan jamaah ke sebuah kawasan desa, atau country side bernama Matlock.

matlock_On_The_way

Jamaah Piknikiyah Nottinghamiyah Berjalan Menuju Desa Ashford

Buat sampean yang pernah baca sequel novel: Laskar Pelangi nya Andrea Hirata, pasti sudah mengenal nama desa Edensor (Baca: Ensor). Saya sih belum baca novelnya, tapi sudah dua kali ke Edensor. Nah, Edensor ini adalah salah satu desa cantik di sekitar Matlock ini. Sebenarnya, masih banyak desa lain yang lebih cantik di sekitar Matlock ini,salah satunya adalah tiga desa yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini. Namanya, desa Ashford, Backwell, dan Matlock Bath. Untuk mencapai desa-desa cantik ini (termasuk Edensor), dari Nottingham bisa menggunakan kereta api tujuan Matlock (Matlock tujuan terakhir). Kereta nya 1 jam sekali, dan harganya hanya sekitar 6 poundsterling PP, tiket off-peak return, artinya sampean bisa pergi dan pulang jam berapa saja, dalam rentang waktu 1 bulan. Dari stasiun kereta api Matlock, bisa jalan kaki, atau sambung naik Bus menuju desa-desa cantik ini.

Menyusuri_Pinggiran_Sawah

Menyusri Pinggiran Sawah Bertembok Batu

Sepanjang menuju desa-desa cantik ini, mata sampean akan dimanjakan oleh pemandangan yang menyejukkan mata. Padang rumput hijau nan tertata rapi terbentang sangat luas sejauh mata memandang, sungai-sungai yang airnya jernih dan bergemiricik, rumah-rumah desa yang arsitekturnya khas, kebun bunga beraneka warna warni, segerombolan kawanan domba dan kuda, serta suasana yang tenang dan menenangkan.

matlock_dari_atas_tebing

Pemandangan Dari Atas Tebing Ashford Dale

Bak Menyusuri Tembok Besar Cina di Ashford 

matlock_ashford_dale_signboard

Menyusuri Tebing Ashford Monsale Dale

Tujuan kami yang pertama adalah Asford Monsale Dale. Di desa ini, ada sebuah tebing yang cukup curam. Medanya, sekilas seperti tembok besar Cina (sok tahu banget ini, padahal saya belum pernah kesana). Dibawahnya ada sungai, jembatan kuno, dan sebuah terowongan tua. Kami menyusuri tebing itu, dari atas ke bawah, menuju bibir sungai yang terdapat padang rumput yang cukup luas.

matlock_ashford_dale_dari_atas

Jamaah Piknikiyah Nottinghamiyah Full Team dari atas tebing Ashford

Di pinggiran sungai ini, anak-anak bermain riang. Bapak-bapak bermain bola. Ibu-ibu menggelar tenda dan karpet piknik. Dan saya menghayati air sungai yang mengalir, airnya jernih, menenangkan. Mendengarkan suara burung yang bernyanyi di tengah kesunyian alam. Dan mendengar suara anak-anak yang tertawa riang, pecah bertumpah ruah di pinggir sungai itu.

matlock_terowongan_tua

Terowongan Tua di bawah Tebing

Bukan orang Indenesia namanya, kalau pas ngumpul-ngumpul tapi tidak makan-makan dan foto-foto. Hehe, di pinggir sungai itu juga kami membuka bekal, makan bareng. Beralas rumput, sambil mengamati pergerakan air sungai. Seperti biasa, acara pul kumpul, kan makan bareng ini selalu mengundang kenggumunan orang bule yang berlalu lalang.

Matlock_Piknik

Nikmatnya Piknik Berjamaah Di Pinggir Sungai

Setiap melewati kami, mereka melongok, tersenyum lebar, tertawa kecil, dan berkata : Enjoy! Maklumlah, dalam budaya mereka. Jarang nemu yang kayak ginian. Umumnya mereka pul kumpul dan num minum bir atau anggur dan mabuk berjamaah di Bar setiap malam minggu.

matlock_sungai_yang_jernih

Sungai Yang Airnya Super Jernih Itu

Dari Ashford Mansale Dale, kami naik bus menuju desa cantik lain namanya, desa Backwell. Karena sepi, satu bus itu isinya hanya orang Indonesia, kecuali supirnya. Sepanjang perjalanan kami dipinggir jalan kami bertemu kembali dengan gerombolan pria yang dress up dengan kostum berbagai jenis binatang dan berbagai putri dalam negeri dongeng (baca: macak bencong) yang kami temui di Ashford Dale. Kebetulan, bus kami pas berhenti. Mereka tertawai menyapa ha haai, dan melambaikan tangan-tangan mereka dengan ramah. Dan kami balas dengan lambaian tangan dan senyum tawa yang tak kalah meriah. Rupanya mereka akan num minum di sebuah bar di pinggir jalan desa. Memang dimana-dimana orang desa selalu lebih ramah dari orang kota.

jembatan_tua_dipinggir_sungai

Full Team di Bawah Jembatan

Gembok Cinta di Jembatan Sungai Backwell

matlock_blackwell_flowers

Bunga 7 Warna Di Taman Desa Back Well

Bus berhenti tepat di depan taman desa Bakwell dengan yang dipenuhi bunga-bunga yang mekar merekah sempurna berwarna wani di musim semi yang cerah di sore itu. Taman itu menawan hati setiap orang yang sekedar duduk-duduk di bangku-bangku kosong yang disediakan khusus untuk duduk-duduk di sekitar taman desa. Juga menjadi mood boaster anak-anak kecil yang bermain, bekejar-kejaran, berlarian di sekitar taman desa.

matlock_taman_kota_bunga

Taman Bunga Yang Mengundang Keceriaan

Tak jauh dari taman desa itu ada sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir sungai yang begitu besar. Airnya bersih dan jernih, hingga terlihat jelas dasar sungai itu. Di sekitar jembatan itu ada ratusan burung camar, bebek, angsa, dan ikan sungai yang besar-besar.

matlock_sungai_burung_bebek_angsa

Burung-burung Bergembira di Tepi Sungai

Sementara, dipinggir sungai itu ada jalan khusus pejalan kaki yang lebar dan bersih. Berderet kursi-kursi panjang dipinggirnya, tempat kebanyakan mbah-mbah yang sudah sepuh duduk-duduk menikmati suasana sore yang cerah dan hangat sambil memperhatikan bocah-bocah kecil yang tertawa riang mengejar puluhan burung merpati dan camar di pinggir sungai itu. Cuaca yang cerah di sore yang panjang menjelang musim panas itu menambah sempurna pemandangan di pinggir sungai.

gembok_cinta_e

Gembok Cinta di Tepi Jembatan

Saat saya sedang asyik jeprat-jepret keindahan sungai itu, seorang kakek yang sedang duduk berduan dengan istrinya di bangku pinggir sungai itu, tiba-tiba melambaikan tanganya ke arah saya. Saya pun mendekat, mak tratap saya tiba-tiba merasa seolah berada di depan almarhum dan almarhumah kakek dan nenek saya.

ikan_nya_banyak_e

Ikan di sungai iti banyak dan besar-besar

Ku tatap kedua matanya yang sudah rapuh itu, kulit wajahnya yang sudah sangat keriput, dan rambutnya yang sudah memutih. Dengan suaranya yang sudah berat, dan lemah dia mengajak ngobrol saya, saya berdiri merunduk di hadapanya.

kakek_nenek_e

Kakek dan Nenek Menghabiskan Waktu Sore

**

Kakek : Hai anak muda, kamu mahasiswa Universitas Sheffield ya?
Saya : Oh bukan, saya Mahasiswa Universitas Nottingham.
Kakek : Ooo, saya tahu. Pada bidang apa kamu belajar di Universitas Nottingham?
Saya : Ilmu Komputer.
Kakek :Wah luar biasa.Ngomong-ngomong kamu aslinya dari negara mana? Dari Hongkong ya?
Saya : *dalam hati saya mbatin, masak item gini dari Hongkong sih, tapi dia bukan orang pertama yang mengira saya dari Hongkong* Oh, bukan. Saya dari Indonesia.
Kakek: Saya tahu banyak sekali Mahasiswa Cina di Universitas Sheffield bagaimana dengan Nottingham.
Saya : Iya sama saja. Saya kira mahasiswa Cina mendominasi dimana-mana. Hampir semua mahasiswa internasional di kampus-kampus di Inggris, sebagian besar Orang Cina.
Kakek : Ada berapa orang Indonesia di Nottingham?
Saya : sekitar 100 orang kek.
Kakek : Lumayan banyak. Ngomong-ngomong, kamu seorang muslim ya?
Saya : Iya.
Kakek : *Mengulurkan tanganya, dan menyalami saya* Assalamu’alaikum!
Saya : Waalaikumsalam wr wbt. Lowh, emangnya kakek Muslim juga to?
Kakek : Oh bukan. Tapi saya sudah pernah tinggal di banyak negara, terakhir saya bekerja lama di Jerman, sebelum akhirnya pensiun, dan akhirnya menghabiskan masa tua saya kembali ke tanah kelahiran di Inggris ini.
Saya : Wah luar biasa !
Kakek : Anak saya lebih hebat lagi. Dia pernah tinggal di banyak negara di hampir semua benua, termasuk India, Khatmandu, dan Cina. Terakhir, sekarang dia sedang bekerja di Singapura.
Saya: Awesome.
Kakek : Mereka itu anak kamu ya? (sambil menunjuk anak saya dan anak teman saya yang sedang asyik memberi makan ikan dan bebek di pinggir sungai)
Saya : Iya, satu di antara mereka.
Kakek: Lovely. Baik, terima kasih banyak sudah mengobrol dengan saya. Silahkan dilanjutkan apa yang mau kamu lakukan.
Saya: (aku mbatin kakek ini pasti sangat merindukan kehadiran cucu) Iya kek, sama-sama. btw: Nama kakek siapa?
Kakek : Saya William, dan kamu?
Saya: Saya Ahmad kek.
Kakek: Senang bertemu dengan kamu, Ahmad!
Saya : Saya juga kek.

**

Si Nenek di sebelahnya, hanya senyum-senyum manis ketika kami berdua asyik mengobrol. Tak lama kemudian, saya perhatikan keduanya berjalan meninggalkan bangku itu, ke arah membelakangi saya menyusuri pinggiran. Terima kasih Kakek untuk momentum langka sore itu, sampean benar-benar mengobati kerinduan saya akan figur seorang kakek dan nenek, yang sudah lama sekali berpulang.

memberi_makan_ikan_e

Mengejar Burung Dan Bebek

Ohya, ada yang menarik pada jembatan di atas sungai itu. Mungkin jembatan itu namanya jembatan cinta. Kenapa? Karena di kedua sisi jembatan itu banyak sekali gembok cinta, lock of love. Ada ribuan mungkin jumlahnya, pada setiap gembok itu tertulis dua buah nama. Entahlah, apa tujuanya. Mungkin ada sebuah mitos, cinta keduanya akan langgeng abadi dengan gembok cinta itu. Sungguh, ini sebuah ironi di negara yang sangat ‘menuhankan’ ilmu pengetahuan.

gembok_cinta_detail_e

Mitos Gembok Cinta Itu

Jika ingin merasakan nikmatnya ikan sungai yang besar-besar dengan warna kulit seperti macan tutul dan kelihatanya gurih sekali jika digoreng itu. Tidak jauh dari sungai banyak sekali kedai makan yang menjual fish and chips alias kentang goreng dan ikan goreng tepung yang renyah. Walaupun saya kurang yakin, apakah ikan nya benar-benar diambil dari sungai itu atau dari tempat yang lain. Anggap saja, dan bayangkan saja itu ikan yang ditangkap dari sungai itu.Hehehe…

Matlock Bath,Swisnya Inggris di East Midland

Dari Backwell, sebelum bertolak balik ke Nottingham, kami meluncur ke desa lainya namanya Matlock Bath. Konon, tempat ini dikenal sebagai Swissnya Inggris di kawasan East Midland. Kondisi geografisnya yang berbukit-bukit, dan hutan subtropis yang masih alami membuat kawasan ini sangat memesona jika dinikmati dari ketinggian. Sampean bisa naik cable car yang disewakan untuk menikmati keindahan alam itu. Sayang, hari itu sudah terlalu sore untuk naik cable car. Kami hanya menikmati jalan-jalan sore, lagi-lagi di pinggir sungai yang membelah desa Matlock Bath.

jubilee_bridge_e

The Jubilee Bridge

Ada jembatan tua yang dibangun pada tahun 1881 di atas sungai kecil itu. Di pinggiran sungai ada museum desa, tugu pahlawan dan play ground. Kami menyusuri jalan setapak sepanjang sungai yang disebut ‘lover walk’, dan duduk-duduk di bangku panjang yang menghadap sungai sambil mengamati kecerian anak-anak yang bermain di Play ground.

lover_walks_e

The Lover Walk

Di sisi lain sungai, di samping luar pedestrian terdapat jalan untuk bus dan mobil. Di pinggir sebelah nya lagi terdapat deretan bangunan pusat ekonomi rakyat. Ada pasar indoor yang menjual berbagai kerjianan tangan, kedai makan, bar. dan tempat hiburan. Deretan bangunan itu seperti menempel di kaki bukit yang terlihat tinggi di belakangnya.

Khas suasana alam pedesaan, saya selalu jatuh cinta merasai suasana tenang dan damai nya itu.

Apa yang bisa kita pelajari?

Membandingkan kondisi sungai di desa ini dengan kondisi sungai di Indonesia yang sudah tercemar, saya jadi bertanya-tanya, apa iya ya orang British ini punya kesadaran yang tinggi menjaga habitat sungai seperti itu sejak mereka terlahir dan sungai itu ada. Atau mereka sebenarnya juga butuh proses panjang, dalam artian sungai-sungai itu dulunya juga pernah tercemar, penuh sampah, seperti kondisi sungai-sungai di pulau Jawa. Dan kemudian mereka belajar, sadar, pentingnya menjaga habitat sungai, sehingga sungai itu menjadi bersih bening alami seperti sedia kala. Mas Wisnu, teman ngobrol saya bilang sepertinya mereka juga butuh proses, lahwong untuk membuat mereka tertib di jalan saja butuh waktu yang sangat lama. Saya jadi ingat catatan sejarah di Nottingham castle yang menceritakan kondisi kota Nottingham sekitar abad 18, disitu tercatat bahwa kota Nottingham saat itu adalah kota paling kumuh di Inggris, sama kumuhnya dengan kota-kota kumuh di India.

Ya, memang manusia yang bijak adalah manusia yang mau belajar dari sejarah mereka. Saya sekarang jadi paham, kenapa pendidikan dasar di Inggris lebih menekankan pendidikan karakter. Saya jadi lebih paham kenapa filosofi pendidikan mereka adalah bahwa mereka merasa gagal jika anak didik mereka belum terbiasa antri, tidak terbiasa membuang sampah pada tempatnya, dan mereka tidak begitu khawatir jika anak didik mereka ada yang belum bisa membaca dan menulis, ataupun tidak bisa matematika. Yah, memang karakter yang mulia atau akhlaqul karimah butuh waktu dan proses yang panjang.

Dari Mas Wisnu, yang doktor di bidang planologi itu, saya juga jadi mengerti. Bahwa adanya taman kota, play ground, dan open public places lainya, dari kaca mata antropologi arsitektur itu ternyata memiliki lebih dari sekedar yang terlihat. Bukan sekedar buat mempercantik kota. Bahkan satu pohon bunga di pinggir kota itu pun memiliki makna sendiri. Ternya keberadaan taman bunga, taman kota, dan open public places itu memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Disanalah, si miskin dan si kaya bisa duduk dan berkomunikasi bersama. Yang pada akhirnya dapat menimbulkan rasa tentram, rasa aman dan nyaman di hati masyarakat. Yang pada akhirnya berdampak pada berkurangnya tingkat kriminalitas, dan yang lebih penting meningkatnya indek kebahagiaan masyarakat. Saya jadi paham, kenapa Bu Risma, walikota Surabaya itu begitu gila membangun taman-taman kota. Ternyata, setiap kelopak bunga yang mekar, dan air yang mancur di taman itu memiliki arti lebih dari yang terlihat.

Semoga, bangsa kita, terus dan terus mau belajar !

Advertisements

13 comments

  1. SUka banget sama foto2nya. Trus dua paragraf terakhir itu mak nyus banget ndik ati. Adem.

    Wingi aku numpak mobil soko Tulungagung menuju Malang. Beuh, ibukku bar mangan salak, kulite karo isine dengan santainya diguwak ning njobo koco mobil. Langsung tak seneni. Trus ibukku malah ngeyel. “Halah ora popo, mandak saitik ae”

    “Biyuh, ibuk ngajari sing ora apiik.. ”

    Trus kami diem dieman tapi sediluk tok hahahahahha

  2. Semoga ruang publik di kota2 di Indonesia makin banyak ya mas kayak di UK sana.. kan enak tuh bisa saling berinteraksi langsung di ruang publik ketimbang di ruang maya, hehe.. Salam kenal ya mas 🙂

  3. Saya sendiri kadang kadang juga masih buang sampah sembarangan, melanggar peraturan lalu lintas dan sebagainya, tapi begitu ngeliat ketertiban seperti ini, saya pengen juga kondisi seperti ini ada di sekitar saya. ^__^

  4. Seperti biasa, ada sentimentalisme yang bergelayut di setiap kalimatnya. Cak Son, anda adalah seorang storry teller yang rajin merawat bakat menulismu. Sayang sekali kalau tidak dibukukan, karena belum semua masyarakat di negara kita yang melek internet atau gadget dalam rangka membaca tulisan2mu ini. Sementara, tulisan2mu ini amatlah bernilainya bagi pencerahan.

  5. waduh enak tenan yo kayane neng inggris, aku jan pengin pisan jalan-jalan neng inggris tapi duwite esih kurang akeh…. ha…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s