Amsterdam dan Segala Kenangan yang Tertinggal Bersamanya

… perjalanan mengajari ku bahwa hidup bukanlah tentang bagaimana menghadapi hidup itu sendiri. Hidup adalah tentang bagaimana menghayati hidup itu. Karena, sebenarnya menghidupi hidup itu adalah sangat sederhana. – A Random Thought

byAmsterdamCentralStationGood

Kota Amsterdam Dengan Latar Belakang Stasiun Kereta Api Amsterdam Centraal, Belanda (2015)

Kata para traveler belum ke Belanda, kalau belum berkunjung ke kota Amsterdam. Aku salah satu yang tidak setuju dengan pernyataan itu, karena pada tahun 2013 saat mengunjungi negeri kincir angin ini dari Belgia karena keterbatasan waktu, belum sempat mampir di kota kosmopolit ini. Tetapi, tanpa direncanakan, takdir membawa aku kembali ke negeri ini dan kali ini alhamdulilah sempat merasai suasana kota yang sangat indah di malam hari ini.

Januari 2015, musim dingin kemaren aku berkunjung di kota ini untuk sebuah acara, mewakili ketua PCINU UK (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama- UK) yang kebetulan ditakdirkan berhalangan hadir untuk sebuah acara yang diadakan teman-teman PCINU Belanda. Aku sampai di kota ini ketika hari sudah gelap. Setelah, kurang dari satu jam perjalanan dari Bandara Gatwick, London – Bandara Schipol, Amsterdam, aku langsung menuju kota ini menggunakan kereta api langsung dari stasiun kereta api di bandara schipol ke stasiun kereta api Amsterdam Centraal.

amsterdam_malam_hari

Amsterdam Yang Tak Pernah Tertidur

Keluar dari stasiun kereta api, cuaca agak kurang bersahat. Selain dingin yang menggigit, saya taksir suhunya kurang dari 4 derajat celsius, juga hujan rintik-rintik. Tidak bawa mantel atau pun payung lagi. Tetapi, sedikit rasa tidak nyaman karena dingin dan hujan itu segera luntur oleh rasa senang menyaksikan pemandangan kota Amsterdam di malam hari yang begitu cantik. Stasiun kereta api Amsterdam centraal itu ternyata arsitektur sangat cantik dilengkapi dengan gemerlap lampu yang menghiasinya. Tak salah, jika stasiun ini katanya salah satu stasiun kereta api dengan arsitektur terindah di dunia. Bangunan-bangunan pencakar langit dengan arsitektur khas Belanda yang tak kalah gemerlap di sekitar stasiun semakin menambah pesona kecantikan kota ini.

amsterdam_sungai_malam_hari

Suasana Kanal Sungai Yang Membelah Jantung Kota Amsterdam di Malam Hari

Di depan stasiun itu, ada sebuah canal/ sungai yang cukup lebar, dan aku berhenti di pinggir jembatan di atas canal itu. Merasai suasana malam kota ini yang terlihat begitu sibuk. Bukan ibu kota namanya kalau tidak sibuk dan crowded. Aku hanya sedikit nggumun, di kota sesibuk dan crowded ini anehnya semuanya masih terlihat teratur. Tram yang berlalu lalang setiap saat bersaing dengan bus umum, mobil pribadi, sepeda pancal, dan para pejalan kaki di jalan yang sama. Tak ketinggalan perahu-perahu yang bersandar di tepi sungai, melengkapi semua jenis moda transportasi di kota metropolis ini. Hati ku sedikit mbatin, di malam dingin sedikit diguyur hujan, di kota se crowded Amsterdam ini, kok ya masih saja banyak orang dengan nyamanya naik sepeda ontel berlalu lalang di jalan-jalan utama kota ini.

amsterdam_naik_sepeda

Naik Sepeda di Malam Hari

Dari jembatan depan stasiun kereta api itu, sebenarnya aku tidak tahu mau kemana? Bukan aku namanya kalau merencanakan secara detail setiap rencana perjalanan. Buat ku, setiap kejutan yang hadir dalam setiap perjalanan adalah esensi dari perjalanan itu sendiri. Parahnya lagi, aku hanya membawa handphone jadul yang hanya bisa telpon dan sms saja. Sementara satu-satunya teman perjalanan ku kali ini, iphone nya tidak bisa dipakai. Dan kami berdua, sama-sama baru pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Dalam kondisi seperti ini, aku hanya menggunakan filosofi algoritma koloni semut. Bahwa, jalan yang paling banyak dilalui orang lah yang akan membawa kita pada tempat dengan nilai fungsi tujuan yang paling optimal.

amsterdam_halal_resto

Salah Satu Kedai Makanan Halal di Kota Amsterdam

Karenanya, aku hanya ngikut saja kemana paling banyak orang melangkah. Tujuan ku kali ini adalah menikmati suasana malam kota Amsterdam sambil menikmati makan malam. Untuk urusan tempat makan, aku biasanya juga masih menggunakan filosofi algoritma koloni semut, tempat makan yang paling optimal (artinya dengan harga semurah mungkin diperoleh kepuasan semaksimal mungkin) adalah tempat makan yang paling ramai dikerumuni orang. Jangan pergi ke tempat makan yang sepi, pasti ada apa-apanya. Hanya saja, sebagai seorang mahasiswa muslim kantong cekak, aku memiliki beberapa hard constraints pertama harus halal dan harus murah. Tetapi, jika dalam kondisi kepepet, hard constraints tersebut bisa menjadi soft constraints. 

makan_ayam_kentang

Ayam Panggang, Kentang Goreng, dan Salad di Amstedam

Ternyata benar, jalan yang aku lewati itu menuju kawasan turis, dimana banyak sekali ditemukan penjual pusat oleh-oleh, cindera mata. Dan tentunya kedai penjual makanan. Ternyata tempat yang paling ramai dikunjungi orang adalah kedai makanan penjual ayam goreng franchise yang mudah sekali ditemui di Indonesia. Hanya saja satu hard constraint tidak terpenuhi tidak ada label halalnya. Meskipun di Indonesia juga tidak ada label halalnya, tapi kalau di luar negeri ini kayak gini aku agak berhati-hati. Akhirnya, setelah masuk ke dalam gang-gang sempit, ketemu juga salah satu kedai makan halal. Sayang kedai makan itu sangat sepi, dan sesuai teori algoritma koloni semut, pasti ada apa-apanya, dan yang jelas pasti bukat tempat yang optimal.

amsterdam_sexmuseum

Museum Sex di Amsterdam

Tetapi perut sudah tidak tahan, karena dari pagi perut hanya terisi secangkir kecil kopi pahit dan beberapa buah jeruk mandarin di Bandara Gatwick London. Sudahlah, akhirnya pasrah saja. Aku memesan sepiring makanan berisi ayam panggang, salad, dan kentang goreng. Wah mantap, ayamnya masih panas. Tapi tentu saja rasanya tak senikmat ayam  kampung panggang di Indonesia. Untuk minumnya, karena tidak ada kopi, akhirnya hanya minum 1 botol kecil jus jeruk dari lemari es di kedai makan itu. Sambil ngobrol dengan teman perjalanan yang sebenarnya belum lama aku kenal itu, aku lahab habis kentang dan ayamnya, menyisakan salad yang tidak biasa aku makan. Beruntung punya teman ngobrol yang sangat nyambung, sehingga cita rasa makanan yang sebenarnya tidak begitu nikmat itu, terasa sangat nikmat. Ditambah lagi perut dalam kondisi sangat lapar. Untuk satu piring makanan ini, aku harus membayar 10 Euro dan untuk satu botol jus jeruk aku harus bayar lagi 3.5 Euro. Alamak, mahal amir !

amsterdam_cerutu_sumatera

Cerutu Sumatera di Amsterdam Belanda

Keluar dari kedai makan itu, aku langsung jalan kembali menuju stasiun kereta api. Sambil kembali menikmati suasana malam kota Amsterdam. Ada hal yang menarik di sepanjang jalan pusat oleh-oleh itu, di antaranya adalah museum SEX dan Cerutu Sumatera. Entahlah, apa yang ada di dalam museum itu. Aku sendiri tidak tertarik dengan hal-hal berbau sex, karena menurut ku itu urusan paling privasi dalam hidup seseorang. Untuk cerutu sumatera, aku selalu bangga setiap melihat produk lokal Indonesia yang berhasil menembus pasar di Eropa.

Dari Asmterdam, malam itu aku langsung menuju Den Haag dimana salah seorang panitia acara di Den Haag yang akan aku hadiri, sudah menunggu untuk menjemput kami di Stasiun kereta api.

***

rumahDoyong_Amstedam

Rumah Doyong : Bangunan Arsitektur Khas Belanda

Setelah acara dua hari di Den Haag, akhirnya aku harus kembali ke Amsterdam untuk acara yang lain. Sebelum pergi ke acara tersebut, aku ada reuni kecil dengan dua orang sahabat lama ku waktu kami sama-sama sedang belajar di Universiti Teknologi Petronas, Malaysia. Seorang adalah alumni MSc dari Universitas Twente Belanda dengan beasiswa dari Depkominfo, yang baru saja lulus, dan mendapatkan pekerjaan di Belanda, sebagai sistem analis di perusahaan pengolah susu dan produk turunanya yang kalau di Indonesia produknya dikenal dengan label Susu Bendera. Seorang lagi, baru beberapa hari sampai di Belanda, akan memulai belajar di program MBA di Erasmus University, Rotterdam dengan beasiswa LPDP.

Dam_Square

Ketemu Dua Sahabat Lama (Dam Square, Amsterdam, 2015)

Kami janjian ketemu di stasiun kereta api Amsterdam Centraal, kemudian jalan bareng ke beberapa titik penting di kota Amsterdam. Rasanya, senang luar biasa, bisa ketemu sahabat lama kembali, setelah lama tidak ketemu seperti ini. Dari stasiun kereta, kami berjalan menuju Dam Square, museum dekat dam square, dan sebuah warung kopi. Sayang kami memiliki waktu yang sangat singkat, karena aku harus segera meluncur ke tempat acara di pinggiran kota Amsterdam. Terima kasih buat dua sahabat saya ini dkk, yang sudah menemani, walaupun hanya sebentar.

amsterdam_museum

Dalam sebuah Museum di Asmterdam

Pengajian Maulid Nabi Bersama Gus Mus

Dari Dam Square aku naik tram menuju tempat Pengajian Maulid Nabi Muhammad dan pelantikan pengurus, PCINU-Belanda yang berada di pinggiran kota Amsterdam yang sepi yaitu di masjid PPME Al-Ikhlas Amsterdam. Sempat sedikit kesasar karena, tapi akhirnya ketemu juga, berkat orang-orang Belanda yang sangat ramah dan very helpful.

PengurusBaru_PCINU_Belanda

Pengurus Baru PCI NU Belanda Bersama Gus Mus

Sampai di tempat acara, saya sangat kaget karena terdengar suara anak-anak kecil Indonesia sedang sholawatan. Ada ratusan, atau bahkan mungkin ada seribu orang Indonesia berkumpul di masjid PPME Al-Ikhlas ini. Yang membuat aku merasa tidak sedang berada di Belanda, tetapi merasa di masjid al-akbar Surabaya. Para jamaah ini didominasi para pelajar dan pekerja Indonesia yang tinggal di Asmterdam. Luar biasa. Acara utama hari ini adalah pelantikan pengurus baru PCINU Belanda dan Pengajian Maulid Nabi oleh Gus Mus.

ibu2_peserta_pengajian

Ibu-Ibu Sedang Mendengar Ceramah Gus Mus

Setelah acara pelantikan dan pengajian selesai, kami para pengurus cabang istimewa NU di Eropa mengadakan diskusi tertutup dengan Gus Mus mengenai keorganisasian NU. Baru kali ini, aku ikut diskusi begitu dekat dengan Gus Mus. Biasanya hanya lewat pengajian umum. Ternyata sangat berbeda, gaya komunikasi Gus Mus saat di pengajian umum dan forum khusus tersebut. Dan memang begitulah seharusnya seorang komunikator yang handal. Saya sangat kagum dengan wawasan Gus Mus yang sangat update diusianya yang yang sepuh. Even, beliau sangat aware terhadap isu-isu kekinian termasuk perihal kecenderungan masyarakat yang banyak menjadikan Kyai Google sebagai referensi belajar agama, sementara yang keluar dari fatwa mbah Google kebanyakan berasal dari situs-situs kelompok islam wahabi.

Usai sesi khusus dengan Gus Mus, aku rencana menginap di apartemen Mas Sohib, salah satu seorang pengurus PCINU Belanda. Tetapi, sebelum ke rumah beliau, seorang kawan dari Maroko mengajak ku jalan-jalan dulu melihat suasana malam kota Amsterdam. Dan kebetulan ada seorang kawan lagi, Reza, salah seorang mahasiswa Indonesia di Den Haag yang sangat baik hati bersedia menjadi tour guide. Kebetulan lagi, karena aku juga rencana mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang.

sepatu_bagiak_raksasa

Sepatu Bagiak Raksasa

Akhirnya kami kembali mengelilingi kota Amsterdam di Malam hari. Alhamdulilah kali ini, meskipun dingin, tetapi tidak sedang turun hujan. Fokus utama kami adalah mencari oleh-oleh. Reza menunjukkan beberapa tempat yang menjual oleh-oleh dan cindera mata yang paling murah di sekitar Dam Square. Kaos, tempelan magnit pintu kulkas, gantungan kunci, dan masih banyak lagi. Ciri khas cindera mata Belanda adalah sepatu bakiak, yang entah kenapa sepatu bakiak bisa menjadi icon negeri kincir angin ini. Sama seperti di Inggris, hampir semua barang-barang ini made in China.

Amsterdam_Malam_hari_Red_Light

Jalan Menuju Red Light District Di Amsterdam

Ohya, kalau di kota Surabaya sebelum ditutup oleh Bu Risma, ada Dolly yang terkenal sebagai pusat prostitusi terbesar di Asia Tenggara, di Amsterdam ini ada tempat sejenis yang sampai saat ini belum dan sepertinya tidak akan ditutup, namanya Red Light District. Aku pun penasaran dengan lokasi tempat ini. Awas, jangan bawa kamera di tempat ini, kalau ketauan kamera sampean akan di lempar di kanal.

Sama seperti di Gang Dolly, tempat maksiat ini berada di kompleks khusus tidak jauh dari stasiun Amsterdam Central. Terdiri dari gang-gang sempit yang dipisahkan beberapa kanal. Wisma-wisma penjaja pemuas syahwat itu memiliki ciri khusus penerangan lampu berwarna merah. Makanya disebut Red Light district. Kalau di Dolly, para pelacur nya dipajang seperti aquarium. Di Red Light district ini, lebih seperti etalase toko yang khusus menjual daleman. Setiap wisma, ada seorang pelacur yang memegang daun pintu dari dalam. Pokoknya persis orang-orangan di toko penjual daleman. Hanya memakai BH dan CD yang sangat minimalis. Pelanggan yang tertarik, tinggal buka pintunya, tawar-menawar, jika harganya cocok langsung main di kamar di belakang ruang kecil untuk pajangan itu. Hati-hati ya, tempat ini bikin senat-senut selangkangan. Hahaha….

Selain menawarkan pemuas syahwat untuk laki-laki hitung belang, di tempat ini juga banyak tempat sex live performance. Jadi sampean bisa menonton orang sedang begituan secara live dan langsung layaknya nonton pertunjukan teater. Astaghfirullahal ‘adziiim. Bejat tenan negara ini. Sebenarnya, tempat ini ramai tidak hanya oleh orang-orang yang niat mencari pemuas syahwat. Tetapi sebagian besar adalah para tourist seperti saya yang penasaran saja dengan tempat ini. Banyak aku temui mbak-mbak berjilbab yang berlalu lalang di gang-gang sempit tempat maksiat ini. Ironi, juga ada sebuah gereja besar di kompleks tersebut, yang kiri kananya adalah wisma penjual pemuas syahwat. Dan lebih parah lagi, kami kesini setelah menghadiri pengajian. Astaghfirullah !

**

IamSterdam

I amstedam

Setelah malamnya tidur di apartemen Mas Sohib yang luar biasa baik hati, termasuk numpang mandi dan makan gratis. Paginya kami kembali melanjutkan perjalanan ke kota Leiden. Eih, tapi tidak sengaja dalam perjalanan dari apartemen ke stasiun kereta api Asmterdam Sentral, kami nemu tempat yang biasa dipamerin orang-orang jika berkunjung ke Amsterdam. Itu lo, spot yang ada tulisanya I amsterdam.

museum_amsterdam

RIJKS Museum (Amsterdam 2015)

Kami pun mendadak turun dari Tram di tengah jalan, untuk sekedar foto-foto. Ternyata tempat itu namanya RIJKS MUSEUM. Ada sebuah museum besar, dan taman kota yang cukup luas di sekitar tempat itu. Alamak ternyata susah benar bisa foto sendirian di tulisam Iamsterdam itu. Saking banyaknya yang ngantri foto-foto, padahal hari masih sepagi itu. Sayangnya lagi, kami hanya memiliki waktu yang terbatas, sehingga tidak sempat mengunjungi salah satu museum terbesar dan terlengkap di benua Eropa itu.

AmsterdamMorning

Semangat Pagi Hari di kota Asmterdam

Perjalanan kali ini banyak mengajarkan ku nilai-nilai lain kehidupan. Tentang ketulusan. Tentang kebaikan keluarga Mas Sohib, yang sampek kita pergi pun dibawain bekal. Baru kali ini juga, aku ketemu seorang tour guide yang paling tulus dan begitu melayani sepanjang sejarah hidup saya. Padahal semuanya adalah orang-orang yang baru beberapa jam aku kenal. Sungguh mengesankan.

Amsterdam_Morning

Semangat Para Pengayuh Sepeda di Kota Amsterdam

Sekian cerita perjalanan ku kali ini. Sampai jumpa di cerita perjalanan ku selanjutnya! Buat sampean yang bermimpi untuk sampai di kota ini, aku doakan semoga dikabulkan mimpinya dalam waktu dekat. Allahumma Ammiin.

Advertisements

7 comments

  1. Padahal Londo ki khan sing menjajah awake dewe suwine telungatus seked tahun yo kang. Tapi kadang aku merasa beryukur dijajah Londo, soale bangunan peninggalane apik2 hahahahah.

    Kadang aku mikir, mending dijajah wae tapi kehidupane damai kuthone resik gak akeh polusi koyok ning negoro Londo tenanan daripada merdeka tapi porak poranda koyok saiki…

    1. biar terbelakang asal bisa menentukan nasib bangsanya sendiri ndop. Butuh proses panjang dan rumit memang untuk bisa menjadi bangsa yang besar. Insha Allah, saya yakin banget, kita dapet giliran jadi negara maju maneh. Saiki Eropa daratan wes mulai bangkrut lo…. pada eksodus ke Inggris, soale di Inggris pengangguran saja masih dapet gaji bulanan 😀

      1. Betul kang. Mugo2 koruptor itu bukan genetik ya. Semoga setelah semua koruptor meninggal dunia, anak2nya nggak jadi generasi penerus orang tuanya yaaaa..

  2. halo, kami kebetulan juga datang ke acara maulid nabi yang difoto itu, ternyata ketemu blogger yang datang juga. kami student di Ams, lagi nyari2 tentang bahan makanan halal di Ams lalu sampai ke blog ini. salam kenal dan keep posting..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s