Ku Mengenang Mu dalam Sunyi

Tiba-tiba, aku teringat penggalan sebuah lirik lagu, yang senang aku nyanyikan di waktu kecil dulu,

Gurulah pelita, penerang dalam gulita, jasa mu tiada tara,

Saat tiada sengaja ku temukan aura wajah-wajah teduh itu, senyum-senyum tulus itu, dan tatapan mata penuh makna itu di antara belantara rimba jagat maya. Argh, rupanya sudah hampir dua dasawarsa, aku meninggalkan tempat wajah-wajah dan senyum-senyum terindah itu bertahta. Jiwa ku luruh, saat ku menemukanya kembali. Perhatian ku tersihir, seolah tak pernah jemu, kupandangi wajah-wajah itu, lagi dan lagi.

Wajah-wajah itu, seolah berkata kepada ku:

piye, le kabar mu? wes lali to kambek aku. Yowes, Gak popo, sing penting awak mu sukses selalu !

guru_smp

Pelita yang tak pernah redup itu:  Bu Mahmudah, Bu Nurul, Bu Prihatin, Bu Istianah, Bu Tutik Indrawati, Bu Sugiati

Dan aku pun menjawab,

Oalah, Bu! Pak! nggih mboten to. Saya masih ingat dan akan selalu mengingat panjenengan selalu!

guru_smp_2

Pelita yang tak pernah redup itu: Pak Agus, Pak Hasanudin, Pak Sodikin, Pak Winariyanto

Karena, nama panjenengan selalu hidup dalam sanubari kami. Ilmu yang panjenengan tulari selalu menyinari hari-hari kehidupan kami, hingga saat ini. Inspirasi yang pernah panjenengan nyalakan sejak saat itu, selalu menemani semangat hidup kami. Mimpi-mimpi setinggi langit biru yang dulu pernah panjenengan tunjukkan selalu menjadi gairah hidup kami.

Ibu, bapak guru ku yang ku hormati selalu, apakah ini yang namanya rindu. Andai saja mesin waktu itu benar-benar ada. Ingin ku pinjam sekali saja, sekedar untuk mengulang kembali, kenangan-kenangan penuh arti bersama panjenengan di kampus 289, di jl  basuki rahmat sebelah timur pom bensin itu. Di deret-deret gedung penuh cerita di belakang patung burung garuda.

Sekedar untuk mendengar kembali teori ekonomi dari Bu Mahmudah. Kembali belajar bahasa dan sastra Indonesia dari Bu Nurul, Pak Hasan dan Bu Tutik. Menggali kembali keindahan dan keagungan bahasa dan sastra Jawa bersama Bu Prihatin dan Pak Sucipto. Atau pun bahasa dan sastra Inggris dengan gaya khasnya Pak Sodikin. Dan juga belajar berbagai seni dan kerajinan tangan dengan bimbingan halus tangan dingin Pak Agus.

Aku pun kangen kembali belajar sejarah dengan Bu Sugiati yang begitu gamblang bercerita kehidupan manusia-manusia di masa lalu, untuk kita petik sebuah pelajaran untuk kehidupan kita di masa depan. Memahami kerumitan dan keteraturan makhluk hidup di kelas Biologinya Bu Istianah. Atau hukum-hukum alam di kelas Fisika nya Bu Sri Maeni dan Pak Suryadi, berikut hitungan rumit angka-angka di kelas Matematikanya Pak Manan, Pak Imron, dan Pak Sugiyarwadi. Dan boleh juga kegiatan Pramuka di hari Minggu bersama Pak Winariyanto.

Bapak dan Ibu guru, betapa kini aku sadari, hingga detik ini, ilmu-ilmu yang telah panjenengan tulari sejak saat itu, terasa manfaatnya buat kehidupan kami, hingga saat ini. Mohon maaf yang setulusnya, jika kesanya, kami melupakan jasa-jasa mu itu. Mohon diridloi, jika kesanya kami tak ingin menengok panjenengan kembali sejak perpisahan itu. Percayalah, kami selalu ingat dan mengenang panjenengan selalu. Walaupun hanya mengenang dalam sunyi. Terima kasih atas semuanya. Terima kasih telah menyalakan kembali lentera inspirasi itu kembali pada ku, hari ini !  Semoga kesehatan, keselamatan, dan keberkahan hidup selalu menyertai panjenangan dan keluarga panjenengan selalu. Untuk Bapak dan Ibu Guru yang telah berpulang, semoga pengampunan dan rahmat Tuhan menyelimuti panjenengan selalu.

Lahumul fatihah…

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s