Belajar Kearifan Hidup dari Pelosok-Pelosok Negeri

“… Jangan bilang salah atau tidak salah. Datanglah ke sana, itu lebih arif. Datang ke sana, kenali adat istiadat, dan kita akan tahu sebuah benda posisinya seperti apa. Kalau kita ingin mengenali adat culture di wilayah negeri ini, tolong jangan menggunakan kacamata Jakarta saja. Datang ke mereka, kenali mereka, sapalah mereka, baru kita akan mengenali adat culture dan tradisi setempat,” Khofifah Indar Parawansa (detik.com, 2015).

islam_di_papua_04

Ilustrasi: Seorang Muslimah Asli Warga Papua, Indonesia (Net.tv at Youtube)

Di setiap akhir pekan, ada dua hal yang hampir selalu saya lakukan di tengah waktu leyeh-leyeh memberikan hak tubuh tubuh istirahat dan pikiran untuk disegarkan dari rutinitas di hari kerja yang sepertinya ya itu-itu saja. Pertama adalah membaca tulisan-tulisan antropolog sosial Almarhum Umar Kayam yang ditulis pada akhir tahun 80-an, dan yang kedua adalah menonton channel Indonesia Bagus di youtube, punya net.tv, stasiun TV paling bermutu di Indonesia menurut saya. Mungkin karena faktor umur kali ya (padahal masih awal 30-an je), saya sudah merasa agak jeleh alias alergi dengan media sosial semacam facebook, yang isinya ya begitu-begitu saja. Isinya mung wong ‘pamer’ gaya hidup komsumtif. Situ berita online ya isinya mong begitu-begitu saja, 99% isinya mung kemriyeke wong urip nang Jakarta.

Tulisan-tulisan umar kayam, meski ditulis tahun 80-an, terasa masih sangat relevan dan sangat berbobot dengan kehidupan jaman sekarang. Bukane, sakjane dari dahulu hidup itu yo ngono-ngono iku. Seperti kata Pramoedya A.N:

hidup adalah sangat sederhana, yang hebat-hebat hanyalah tafsiranya.

Seperti, gaya tulisan umar kayam itu menyampaikan pesan secara tersirat dengan cerita-cerita sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga membuat tulisanya kaya interpretasi, dan masih sangat pas direfleksikan dalam kehidupan kekinian.

islam_di_papua_01

Ilustrasi: Komunitas Muslim di Papua Dalam Sebuah Acara Adat (netTV,youtube)

Channel Indonesia Bagus ini sangat luar biasa menurut saya. Seolah membawa saya jalan-jalan ke pelosok-pelosok negeri Indonesia. Perjalanan yang sangat mahal tentunya jika dilakukan sendiri. Tidak hanya menyuguhkan keindahan alam yang masih perawan dan esotik, acara ini juga menonjolkan sisi-sisi manusianya, lengkap dengan budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang sungguh sangat beragam. Sungguh, acara ini membuat mata, hati, dan pikiran saya terbuka, bahwa sangat tidak arif dan bijak ketika kita sering kali mengasosiasikan Indonesia dengan Jakarta saja. Indonesia tidak boleh hanya diwakili oleh Jakarta saja.

Dari Indonesia Bagus, saya jadi banyak tahu sisi-sisi lain dari kemanusian. Seperti ternyata di pelosok papua sana ada sebuah kampung di pinggir pantai, penduduk asli Papua, yang merupakan komunitas islam. Menampilkan wajah muslim Papua dengan tradisi budayanya yang khas. Benar, begitulah seharusnya Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Selain itu, ternyata banyak sekali kearifan hidup yang bisa dipelajari dari saudara-saudara kita yang berada di pelosok-pelosok negeri. Saya tidak pernah sekalipun terbesit untuk berfikir, wah kasihan terbelakang sekali ya mereka. Justru sebaliknya, dalam hati saya sering terbesit: Jangan-jangan untuk hidup bahagia dan berkelanjutan, kita sebenarnya tidak butuh kemajuan teknologi?

Bagaimana tidak,di satu pelosok negeri sana, ada sebuah tempat yang alamnya sangat cantik, udaranya segar, semua kebutuhan pangan tersedia melimpah. Semua kebutuhan gizi yang dipersyaratkan oleh orang-orang yang berpendidikan jaman sekarang semua tersedia melimpah disediakan oleh alam. Tanah yang subur memberkati penduduknya dengan tananaman pangan, tanaman obat-obaan, sayur-sayuran,buah-buahan yang beragam. Laut, danau, dan sungai menghasilkan berbagai jenis ikan, udang dan sumber mata air yang melimpah pula. Tetapi mereka tidak serakah, kearifan lokal mereka mengajarkan untuk tidak mengambil dari alam melebihi dari yang mereka butuhkan. Karena alam akan marah kepada mereka. Seorang dokter muda lulusan sebuah universitas di jawa Timur, yang ditugaskan di pelosok negeri itu merasa sangat terkagum, mengetahui bahwa meskipun Ia dokter pertama yang ditugaskan di lokasi itu, masyarakarnya sehat-sehat semua hingga di usia senja mereka, jarang sakit, serta umurnya panjang-panjang. Sangat berkebalikan dengan manusia modern di kota-kota besar, yang justru semakin banyak dan beragam jenis penyakitnya, termasuk penyakit kejiwaan.

Betapa jauh-jauh hari sebelum para akademisi, orang-orang pintar di seluruh dunia ini berkoar-koar tentang konsep dan kebijakan green technology, sustainable development. Saudara-suadara kita di pelosok negeri sana, sudah punya kearifan lokal, adat istiadat, dan budaya untuk melestarikan alam agar kehidupan terus berkelanjutan.

Satu lagi, yang dapat kita pelajari adalah bahwa values nilai-nilai kehidupan di berbagai daerah itu sangatlah beragam. Bahwa sangatlah tidak arif, mengejudge masyarakat dengan budaya yang berbeda menggunakan standard values yang kita anggap kebenaranya. Sangatlah tidak arif mengukur kehidupan masyarakat Papua dengan ukuran Jakarta, lebih-lebih mengatakan mereka terbelakang. Seperti kasus teman-teman di media sosial yang membully Mensos yang memberikan rokok ke suku dalam Jambi. Sangat benar kata Mbak Khofifah bahwa:

Jangan bilang salah atau tidak salah. Datanglah ke sana, itu lebih arif. Datang ke sana, kenali adat istiadat, dan kita akan tahu sebuah benda posisinya seperti apa. Kalau kita ingin mengenali adat culture di wilayah negeri ini, tolong jangan menggunakan kacamata Jakarta saja. Datang ke mereka, kenali mereka, sapalah mereka, baru kita akan mengenali adat culture dan tradisi setempat.

Kalo sampean ke kyai-kyai Jawa Timur, kyai-kyai Madura, kyai-kyai NU di kampung-kampung mas, memberikan rokok kepada mereka itu adalah bagian dari sebuah penghormatan. Kalaupun anda percaya bahwa rokok itu haram, karena sampean yakin rokok itu membahayakan kesehatan. Percayalah, di pelosok negeri sana, banyak yang berbeda pendapat dengan sampean. Banyak kyai-kyai yang disegani dan dihormati masyarakat yang merokok mas, dan mereka juga sehat-sehat saja. Merokok bukanlah hal tabu karena mereka memiliki value yang berbeda dengan value yang sampean yakini selama ini.

Semoga kita bisa menjadi lebih pijak, dengan berani belajar dan memahami sisi-sisi lain dari kemanusian yang berbeda dari yang biasa kita lihat. Intinya saling memahami, bukan menghakimi value orang lain dengan value yang kita yakini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s