Filsafat ndeso Tentang Kebahagiaan

… jangan-jangan sebenarnya kita justru tidak butuh modernitas dan teknologi yang canggih untuk hidup lebih bahagia lagi? – A Random Thought

happiness

Ilustrasi: Anak-Anak Indonesia Sedang Bersuka Ria. Derby, Inggris.

Habis membaca sebuah tulisan Umar kayam, yang ditulis pada tahun 1989, saya kok ya tiba-tiba jadi kangen momen sembilan puluhan di kampung. Kampung ndeso, tempat tipikal masyarakat agraris dengan kultur Islam NU yang kental di Ujung selatan Kabupaten Banyuwangi. Seolah momentum itu tersimpan begitu rapi dalam sebuah ruang khusus yang begitu istimewa dalam memori ingatan saya. Momentum, yang tak seorang Antropolog pun sempat mengabadikanya dalam tulisan yang barang kali bisa dibaca oleh generasi penerus satu abad mendatang, yang penasaran ingin tahu bagaiamana kehidupan para nenek moyang para pendahulu mereka.

Saya masih ingat betul, dulu di teras depan rumah saya ada sebuah lincak (bangku panjang) dari pring ori (salah satu spesies bambu yang elastisitasnya sangat tinggi) hasil karya tangan Bapak saya sendiri. Dilincak inilah, di setiap senja hingga adzan maghrib berkumandang dari corong TOA (pengeras suara) masjid dan langgar, sejumlah puluhan tetangga, pria dan wanita berkumpul dan ngobrol penuh keakraban nan gayeng. Rutinitas itu seolah menjadi pelepas lelah, setelah seharian bekerja di sawah dan ladang. Sehabis dari sawah dan ladang, mereka mandi berjamaah, pria dan wanita, anak-anak, dewasa, bahkan dengan kerbau, di sungai setail belakang rumah. Sehabis mandi, sholat ashar, dan makan sore itulah, mereka berkumpul di lincak teras depan rumah itu. Ada dua buah pohon jambu klutuk,dan sebuah pohon rambutan yang menjadi kanopi alami halaman depan rumah saya yang berada tepat dipinggir jalan utama kampung yang berdebu itu.

Sepertinya, tidak pernah ada hal serius yang diperbincangkan. Hanya guyonan dan tertawa lepas yang nyaris terdengar setiap saat. Seolah tidak ada rahasia pribadi atau rahasia keluarga diantara mereka. Semua rahasia dan permasalahan menjadi milik mereka bersama. Jarang diantara mereka yang mengeluh tentang hidup, karena buat mereka hidup adalah sekedar menjalani. Tak perlu ada yang ditakutkan dan dikhawatirkan. Jika selepas isyak, di TVRI tidak ada acara campur sari, ketoprak, ludruk, atau dagelan Kirun, mereka kembali melanjutkan obrolan di tempat yang sama hingga sekitar jam 9 malam. Tetapi, jika ada salah satu dari acara kesayangan mereka tersebut, obrolanya berpindah ke salah satu rumah warga yang memiliki TV hitam putih, yang seolah tidak lagi menjadi milik pribadi, tetapi sudah menjadi milik bersama. Rukun, damai, dan bahagia mungkin itu adalah kata yang teapat melukiskan kehidupan sosial masyarakat desa di kampung saya saat itu.

Kehidupan anak-anak pun tak kalah membahagiakan. Di samping kanan rumah saya dulu ada halaman yang cukup luas. Ada sebuah pohon jambu wer (jambu air) yang pohonya tinggi besar dan dahanya sangat rindang. Di bawah pohon,jambu inilah puluhan anak-anak berkumpul bermain riang dari sepulang sekolah hingga menjelang sholat ashar. Ada saja jenis permainan yang dimainkan. Mulai gedrik, gobak sodor, nekeran, main karet, sredek, pal-palan, cimciman (hide and seek), kasti, dan sebagainya. Di belakang rumah saya juga ada halaman yang sangat luas, ada jalan setapak yang sangat lebar menuju sungai. Ada banyak pohon kelapa, mahoni, dan pohon nangka, yang daun dan dahanya menjadi atap alamiah. Di belakang rumah inilah, anak-anak juga sering bermain untuk permainan yang lebih serius. Permainan neker dan karet gelang yang dijadikan taruhan. Yang menjadi pemenang adalah mereka yang bisa mendapakan neker dan karet gelang sebanyak-banyaknya.

Sayang, keadaan itu kini tinggal cerita. Sejak setiap rumah mampu membeli TV berwarna. Rumah seolah menjadi sekat-sekat yang tabu untuk dilalui bagi orang lain. Kumpul-kumpul bersama menjadi barang yang begitu mewah. Kecuali jika ada acara selamatan atau tahlilan di rumah salah satu warga. Pun demikian dengan anak-anak. TV menjadikan mereka begitu betah di dalam rumah.

Pertanyaanya adalah lebih bahagia manakah mereka, hidup di jaman sekarang atau jaman dahulu?

Sebuah pertanyaan yang sangat personal tentunya. Tetapi, menurut hemat pribadi saya, saya kok justru merasa lebih bahagia dengan keadaan ndeso jaman dahulu. Perubahan teknologi dan kemajuan jaman, ternyata telah menggeser value yang berkembang pada masyarakat. Jikalau dulu, makan ndak makan yang penting kumpul sekarang bergeser menjadi kumpul ndak kumpul yang  penting makan. Kebersamaan yang dulu lebih diutamakan daripada kepentingan ekonomi, sekarang yang terjadi sebaliknya. Banyak suami yang rela meninggalkan anak istrinya bertahun-tahun menjadi buruh di Malaysia, demi rumah dan motor baru. Banyak istri yang meninggalkan suami dan anak-anaknya bertahun-tahun menjadi babu di Abu Dhabi, demi sebidang tanah baru. Pun demikian, anak-anak yang rela hidup terpisah dari orang tua mereka atas nama kehidupan yang lebih baik. Kalau dahulu yang paling dihormati di masyarakat adalah yang paling alim di antara mereka, sekarang yang paling dihormati adalah yang paling mewah mobilnya dan paling megah rumahnya.

Dari falsafah sederhana tentang kebahagiaan orang ndeso inilah saya terkadang belajar arti kebahagiaan. Bahwa bahagia itu sebenarnya sederhana. Bahagia itu ketika kita bisa berdamai dengan diri sendiri, tidak terlalu ambisius dengan ukuran-ukuran yang kita atau orang-orang disekitar kita buat sendiri. Bahagia itu ketika kita sadar bahwa urip mung saderno ngelakoni, hidup hanya sekedar menjalani. Bahagia itu ketika kita mampu menghayati setiap langkah dalam hidup kita, seperti khusuk dalam sholat yang membuat sholat terasa indah dan penuh makna, bukan sekedar rangkaian gerakan tubuh tanpa makna.

Kebahagiaan memang yang paling dicari tapi masih penuh teka-teki. Sampai-sampai, saya pernah melihat sebuah gedung di Universitas Birmingham, Inggris, yang merupakan pusat penelitian khusus tentang kebahagiaan. Bahkan, di Universitas Berkeley, US, berkembang ilmu kebahagiaan (Science of Happiness), sampean pun bisa mengikuti kuliahnya gratis di sini.

Semoga Bahagia selalu ya Dolor !

Advertisements

3 comments

  1. Cita-citaku saiki kui kang. Simpel: Bahagia.

    Bahkan sebenarnya yg kita perjuangkan itu harusnya bukan harta benda, tapi kebahagiaan.

    Kayaknya sih simpel ya, padahal bahagia itu butuh perjuangan. Dan kadang harta kekayaan gak bisa menjamin kebahagian seseorang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s