Dalam Menulis, Disitu Kadang Saya Merasa Ingin Menangis

Seperti kehidupan kita pada umumnya, dalam kehidupan mahasiswa PhD juga ada pasang surut nya. Ada jatuh bangun nya. Jika pasang-surut, dan jatuh-bangun adalah sesuatu yang wajar, tak perlu larut dalam kesedihan ketika kita merasa jatuh. Hanya satu yang perlu kita lakukan: Terus Berjalan – A Random Thought.

buku_tua

ILustrasi : Karya Ilmiah dalam Tulisan Tangan di Museum Of Science and Industry (MOSI), Manchester, UK, 2013

Kawan, Alhamdulilah, pelayaran panjang PhD yang penuh gempuran ombak dan badai ini semakin kian menepi. Kelap kelip lampu mercuar itu semakin jelas terlihat, pertanda dermaga pemberhentian semakin dekat di hadapan. Aku semakin yakin, biidznillah, dengan seijin Allah, bahwa aku akan mampu menggapai tempat bersandar perahu PhD ku ini, sebentar lagi.

Setelah jatuh bangun (eit, jadi ingat lagunya biduan dangdut, Tante Kristina) berjibaku dengan ‘the big problem’ riset, tibalah saya pada kursi pesakitan berikutnya, yaitu menulis. Aih, apa susahnya dengan menulis? Anak kelas 1 SD saja juga bisa nulis mas e !

Sayangnya ini bukan menulis biasa. Tetapi scientific writing yang bikin pening. Selain mulai menulis thesis, ndoro dosen pembimbing saya menyuruh saya menulis paper untuk dipublikasikan di Jurnal internasional, walaupun tidak menjadi persyaratan kelulusan PhD di UK. Kalau tahun pertama, dan tahun kedua cukup menulis paper untuk dipresentasikan di international conference, tahun ketiga ini tidak level lagi.

Dari rencana jurnal yang impact factornya cukup 1, sekarang menjadi jurnal yang impcat faktornya 4. Dari rencana satu paper jurnal, akhirnya beranak menjadi dua paper. Seumur hidup saya, baru kali ini saya mempunyai pengalaman menulis yang begitu lama, melelahkan, dan ‘menyakitkan’. Dulu waktu kuliah master, rasanya menulis itu tidak se ‘menyakitkan’ dan melelahkan seperti ini. Toh, saya bisa menulis 3 international conference paper, dan 1 international journal.

Mungkin, ini adalah resikonya kuliah di english-speaking country. Tetapi sepertinya, menulis ilmiah ini bukan sekedar masalah bahasa. Tetapi masalah bagaimana menuangkan ide dan mengkomunikasikan kontribusi keilmuan dengan baik yang bisa diterima sesuai dengan standard tinggi di dunia akademik.

Untuk menulis satu paper journal yang pertama ini saja, rasanya saya sudah mulai cegeh. Bayangkan, sudah lebih dari tiga bulan berjibaku dengan paper ini,  sudah revisi berkali-kali, dengan komentar-komentar pedes dari dua ndoro dosen pembimbing, dan satu external co-author yang kadang menyakitkan pun. Sampai detik saat ini pun belum kelar-kelar juga. Ketika hasil pekerjaan berminggu-minggu hingga larut malam itu hanya diganjar dengan kata-kata BAD dan RUBBISH dalam tulisan kapital besar-besar berwarna, biuh  rasanya sakitnya dijempol kaki (baca: pengen nginjak-nginjak). Disitu kadang-kadang saya rasanya pengen menangis (tapi tidak pernah bisa :p). Mungkin pengalaman kuliah S1 di kampus perjuangan yang lebih sadis kali ya, yang salah satu dosen terbaik saya suka membanting pintu dan menggebrak mejad di kelas. Sehingga, kalau cuman dikatain begitu ya ndak mempan. Thanks, Pak ! Sudah menyiapkan mental saya sejak saat itu.

bad_rubbish

Komentar Draft Paper saya : BAD dan RUBBISH

Padahal waktu tes IELTS dulu, writing score saya tidak jelek-jelek amat. Masih dapat score 7.0. Tapi sekali lagi menulis ini bukan sekedar masalah bahasa. Tetapi masalah standard yang sangat tinggi. Tahukah sampean sudah berapa kali saya revisi? ping suwidak jaran. Alias sudah berkali-kali yang sampai saya tidak bisa menghitung lagi. Bahkan SVN saya sudah menunjukkan revisi yang ke 394 kali.

update_svn

SVN Revision Yang Ke-394

Saya mungkin memang bukan mahasiswa PhD yang talented apalagi mahasiswa PhD yang briliant. Tetapi, pantang rasanya bagi saya untuk menyerah. Bagi saya, perahu yang mengantar saya datang sudah terbakar. Tidak ada pilihan lain selain harus terus maju kedepan. Saya selalu berusaha percaya bahwa  The most challenging ones, now is the most rewarding ones, later. Dan saya selalu berusaha menikmati semua proses yang kadang terasa menyakitkan dan melelahkan itu. Dan Alhamdulilah, setelah mendapat komentar yang menyakitkan, pada akhirnya, saya pun bisa mendapatkan komentar yang menyejukkan baik dari ndoro dosen pembimbing sendiri, maupun external co-author saya.

good_comment

Komentar Yang Sedikit Menyejukkan

Sekarang ketika saya membaca sebuah paper journal, saya menjadi lebih aware bahwa ada behind the paper story yang tak diceritakan. Bahwa ada proses panjang untuk menghasilkan karya tulis yang berkualiatas. Seperti wine yang berkualitas tinggi membutuhkan waktu yang lama untuk pematangan, begitu juga paper yang berkualitas, butuh waktu untuk pematangan. Saya sekarang menjadi paham, kenapa bahkan di paper pada journal yang high-ranking pun, kadang kala, saya masih menemukan beberapa kesalahan. Bagaimapana pun juga:

Kemampuan untuk mampu menulis dan mengekpresikan pemikiran dengan cara yang jelas adalah langkah penting pada jalan menuju menjadi orang yang berwawasan  luas dan berpendidikan.

Walaupun sulit, intinya, selama kita masih mau berjalan meski harus merayap sekalipun, pasti akan ada terang setelah kegelapan. Tenan, cah luru ilmu sing temenan iku, memang haru wani soro.

Doakan, saya cepat lulus ya Kawan ! Jian tenan, aku wes kangen tenan kambek rujak cingur suroboyo. Kangen sarapan cenil gulo abang. Kangen camilan kerupuk black berry. Buat teman-teman yang sedang berjuang, salam semangat yo!

Advertisements

5 comments

  1. Sepertinya kita juga berhutang rasa pada dosen yg sama, beliau yg membuat setiap “bantingan” menjadi tidak begitu terasa

  2. Alhamdulillah ya, panjenengan sudah melihat tempat berlabuhnya.
    Saya nih, belum yg jelas, bisa phd nyusul panjenengan apa nggak. Berhubung saya di kemdikbud pusat, jadi belum jelas mau ke kemristekdikti atau ke kemdikbud. Itu aja belum jelas apalagi S3. hehe
    Tapi yg jelas saya sekarang sedang mengurus seseorang dengan NIP 198203022009121xxx untuk dialihkan statusnya ke kemristekdikti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s