Semoga Tulus Tidak Pernah Mati

… ku lihat mu sang penari menghibur sepenuh hati, ingin aku tahu apakah yang engkau cari ?- Sang Penari, Anggun C Sasmi

tulus_tarisaman

Ilustrasi : Bukang Sang Penari Saman (Nottingham, 2013)

Wolak-walike jaman edan. Sing ora edan ora kedumen. Sing watu dipoles berlian diagung-agungkan. Sing berlian beneran, tersingkirkan. Serba kebalik di jaman yang sudah gila. Yang tidak gila, tidak kebagian. Yang batu dipoles berlian diagung-agungkan. Yang berlian sungguhan malah disingkirkan.

‘Tulus’. Rasanya kata ini semakin jarang terdengar di telinga kita. Di jaman yang hampir semuanya ada label harganya seperti sekarang, kata ‘berapa harganya sis’ lebih sering terdengar. ‘Free Ongkir’ menjadi kata sandi pembicaraan. Setiap tindakan tak pernih sepi dari pamrih, dan harap akan sanjung dan pujian. Seolah semua pola interaksi antara kita harus saling menguntungkan. Kapankah kita berinteraksi layaknya dua manusia biasa, tanpa ada label-label yang melekat pada kita, tanpa kepentingan-kepentingan yang mengikat kita.

Tapi disini aku masih sering bisa melihat tulus itu.

Pada uluran tangan yang menawarkan bantuan mengabadikan momen jalan-jalan kami dengan jepretan kamera tanpa diminta bantuan. Menjadi bagian tak terlihat dari setiap foto kenangan. Pada gadis remaja yang berlari mengejarku dari belakang, mengulurkan sarung tangan ku yang jatuh jauh di belakang. Pada perempuan tua yang memberikan ku senyum dan sapaan hangatnya disetiap pagi buta. Pada lelaki paruh baya yang membukakan pintu, tanpa ku ketuk saat aku menepi kedinginan. Pada seorang pemuda yang merelakan sebotol minuman dan sebungkus coklatnya, untuk ku yang terlihat kehausan. Pada seorang kawan, yang membuatkan ku secangkir kopi dan teh hangat  saat melihat ku terlihat tak bersemangat. Pada seorang sahabat yang menepuk bahu dan memeluk punggung ku, saat aku membutuhkan dukungan. Pada teman setia yang selalu meminjamkan telinganya saat aku ingin berkeluh kesah. Pada sang belahan jiwa yang selalu ada tanpa diminta.

Masih ada Tulus, pada semuanya itu.

Seperti gemulai gerak tubuh sang penari, yang tulus menghibur sepenuh hati. Semoga Tulus tidak pernah benar-benar mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s