Dalam Bayang-Bayang Keluarga Aktivis

‘… kita ingin mengajarkan nilai bahwa hidupnya (i.e. anak) tidak boleh hanya untuk dirinya sendiri tapi juga dipergunakan untuk bisa sebesar mungkin berguna orang lain.’ – Yenny Wahid

keluarga_gus_dur

Foto Keluarga KH Abdurahman Wahid / Gus Dur (Gusdur.Net)

Kawan, sebagai keluarga muda yang baru memulai membangun keluarga dalam hitungan tahun yang masih bisa dihitung dengan jari tangan, terkadang dari hati lubuk saya yang paling dalam sering muncul pertanyaan: seperti apa sih keluarga yang ideal itu?

Dalam setiap acara pernikahan, titik awal dimulainya sebuah mahligai keluarga baru, selalu bertaburan doa-doa dan harapan-harapan. Salah satu do’a yang paling sering dimohonkan adalah keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Keluarga yang bisa membawa rasa penuh ketentraman dan ketenangan dalam hati, penuh cinta, dan penuh kasih sayang.

Tetapi, seperti apakah idealnya wujud keluarga yang membawa ketenangan, cinta, dan kasih sayang itu? tentu setiap dari kita memiliki gambaran yang berbeda-beda.

Untuk ukuran jaman dan gaya hidup kebanyakan orang sekarang, mungkin gambaran keluarga yang ideal adalah ketika kedua pasangan memiliki pekerjaan tetap dan karir yang moncer pada perusahaan mentereng atau memiliki usaha bisnis yang menggurita keuntunganya, mimiliki rumah dan mobil pribadi yang nyaman, mempunyai buah hati yang unyu-unyu, cerdas-cerdas, dan menggemaskan. Yang setiap akhir pekan bisa meluangkan waktu bersama, bersenang-senang bergembira bersama menghabiskan waktu bersama keluarga, beberapa bulan sekali jalan-jalan ke tempat wisata idaman dalam dan luar negeri, dan setiap tahun sekali bisa ‘pamer’ kesuksesan hidup pada orang tua dan keluarga di kampung. Syukur-syukur, kalau sudah berhijab syar’i dan memelihara jenggot sunah sedikit ‘terkenal’ lagi. Paripurna sudah, gambaran keluarga sakinah wawadah warahmah, fiddunya walakhiroh itu?

Jikalau, itu adalah gambaran keluarga ideal itu, rasanya tidak susah mencari sample nya di antara kita. Tetapi, terkadang hati kecil saya masih saja sering bertanya: cukupkah hidup ini adalah semuanya tentang kebahagiaan antara diri, kelurga, dan Tuhan kita?

**
Dahulu, waktu saya masih bujang, diawal menjalani karir setelah tamat kuliah, saya kebetulan dipertemukan dengan seseorang yang sangat istimewa dalam hidup saya. Seseorang, yang merubah cara pandang saya tentang arti kebersamaan dalam keluarga. Menurut pandangan saya, beliau termasuk salah seorang yang sangat dedicated dan menghayati karirnya pun paling moncer dalam karirnya, sagat religius, memiliki istri yang cantik, dan memiliki banyak anak yang unyu-unyu. Tetapi selalu meninggalkan tanda tanya besar dalam hati saya: Bagaimana ya beliau ini membagi waktu luangnya untuk keluarganya? Apakah istri dan anak-anak nya tidak menuntut waktu beliau?

Kenapa muncul pertanyaan demikian?

Karena saya tahu betul dengan jabatan beliau, beliaunya sudah sangat sibuk. Tetapi, setiap akhir pekan nya selalu didedikasikan untuk kegiatan sosial, kemanusian, dan keagamaan. Saya tahu betul jadwal akhir pekan beliau sudah over booked untuk beberapa minggu kedepan. Berangkat jumat malam kembali ke rumah hari minggu larut malam. Tidak jarang, waktu istirahatnya hanya ketika di dalam mobil dalam setiap perjalanan.

Saya pernah, sekali dua kali diajak beliau. Blusukan ke pesantren-pesantren di daerah-daerah. Bekerja dan mengamalkan ilmunya disitu. Alih-alih untuk mengumpulkan keuntungan, yang terjadi malah sebaliknya perlu banyak berkorban.

Saat itu saja, ketika saya masih bujang, sering kali beliau mengajak ‘berjuang’, lebih sering saya tidak bisa dengan berbagai alasan. Lebih-lebih setelah saya menikah dan memiliki momongan. Keluarga menjadi seperti penjara kecil buat saya. Sejak saat itu saya hanya bisa mbatin beliau ini pasti memiliki istri dan anak-anak yang luar biasa.

Itu baru potret aktivis lokal, belum lagi potret keluarga aktivis level nasional seperti keluarga Gus Dur misalnya. Dalam sebuah talkshwow, saya pernah mendengar dari putri-putrinya bahwa hidupnya Gus Dur benar-benar untuk orang lain. Bagaimana tidak, sejak jam 4 pagi sudah banyak orang mengantri di rumah untuk sowan. Dan hampir semua waktunya didedikasikan untuk umat. Bahkan sautu waktu, Mbak Yenni, putri keduanya, saat masih SMP pernah bersumpah, suatu saat kalau sudah dewasa tidak akan menikah dengan suami seorang aktivis, saking sedihnya karena merasa betapa sulitnya memiliki waktu bersama dengan bapaknya sendiri. Mbak Yenni juga pernah bilang, satu-satunya moment, once in life time, mereka merasakan yang namanya sebenar-benarnya liburan adalah saat mereka liburan satu keluarga pada satu waktu di negeri Belanda.

Sungguh, keluarga Gus Dur adalah potret keluarga aktivis yang luar biasa. Yang pastinya didukung oleh istri dan putri-putrinya yang luar biasa juga. Yang merelakan, waktunya bersenang-senang dengan keluarga dikorbankan untuk umat. Rasanya, tidak banyak keluarga lain yang berani memilih jalan hidup seperti itu. Rasanya, 1000: 1 saja belum tentu. Yang berani memilih lebih mementingkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, dan keluarganya sendiri.

Sampean sendiri berani mencoba?

Jangankan mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarga untuk umat, satu akhir pekan saja meluangkan waktu untuk macak memikirkan umat, istri sudah ngambek mengancam demo libur masak, kata seorang kawan. Hehehe, belum lagi anak-anak yang masih kecil dan unyu-unyu yang juga menuntut perhatian kita dan tentunya membuat hati kita sendiri berat meninggalkan kita.

Memang, saya tidak ditakdirkan sehebat Gus Dur. Seujung kukunya saja mungkin tidak ada. Tetapi rasanya hidup di dunia yang sebentar, dunia yang tak lain hanya sekedar ladang tempat kita bertanam untuk kita panen nanti di kampung akhirat, rasanya terlalu tidak bermakna jika kita hanya memikirkan kenikmatan dan kebahagiaan untuk diri dan keluarga kita sendiri. Bukankah, kanjeng nabi pernah dawuh:

Khoirun nas, Anfa’uhum Linnas – sebaik-baik manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi manusia lainya (catat:  manusia, bukan muslim saja).

Hidup memang tentang keberanian membuat pilihan. Semoga kita tidak pernah merasa cukup dengan kebahagiaan diri dan keluarga kita sendiri, tanpa mau memikirkan orang lain. Semoga kita bisa !

Advertisements

3 comments

  1. Nah, yg kaya gini ini yg suka buat sy jg bingung: antara pelayanan utk sesama atau menjalankan amanah terhadap keluarga. Sampai skrg blm nemu jawaban yg pas di hati walau contoh sdh banyak, tp ngelakoni yg mana yg terbaik dg ikhlas sesuai nurani ini yg msh blm ketemu jawabnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s