Dongeng Sebelum Lelap Ku, Sebelum Lelap Mu

….. kuingin satu, satu ceria. Pengantarku tidur biarku terlelap. Mimpikan hal yang indah. Lelah hati tertutupi. Dongeng sebelum tidur. Ceritakan yang indah biarku terlelap. Dongeng sebelum tidur. Mimpikan diriku mimpikan yang indah – Wayang

Dongeng_Sebelum_Tidur

Ilyas, Anak Lanang ku, Sedang Mendongeng

Salah satu anugerah Gusti Allah yang paling saya syukuri dalam hidup saya saat ini adalah takdir menjadi seorang ayah dan memiliki sedikit waktu untuk menghayati peran tersebut. Saya tahu, banyak saudara saya disana yang ditakdirkan menjadi suami, tetepi Allah belum menakdirkan menjadi seorang Ayah. Saya sadar, banyak saudara saya disana yang ditakdirkan menjadi seorang ayah, tetapi tidak banyak yang memiliki sedikit waktu untuk menghayati peran menjadi seorang ayah. Maklum, umumnya orang-orang pada usia saat ini, sedang semangat-semangatnya meniti karir, dan menumpuk-numpuk kekayaan sebanyak-banyak nya. Sebelum akhirnya tergapai sebuah ‘kemapanan’ semu pada usia 40 tahun. Angka usia, dimana katanya hidup yang sebenarnya dimulai. Argh, entahlah persetan dengan ‘kemapanan’ itu. Bukankah setiap orang berhak mendefinisikan dengan definisi  yang berbeda pada ‘kemapanan’ itu?

Saya merasa bukanlah seorang Ayah yang baik, tetapi saya sungguh beruntung memiliki seorang ‘ Anak Lanang’ yang baik. Hari-hari bukan di akhir pekan, nyaris saya dan anak lanang ku hanya bisa meluangkan waktu bersama saat kami melepas lelah di tempat tidur, ketika malam telah teramat larut, dan ruh kami berada di alam yang berbeda. Saya harus sudah terbangun ketika dia masih terlelap dalam tidur, bertemu sebentar beberapa menit sebelum saya pergi ke kampus dan anak lanang ku pergi ke sekolah. Dan kami bertemu kembali ketika hari sudah gelap.

Tetapi, ada saat yang paling sangat saya nikmati, yaitu saat diantara saya tiba di rumah dari kampus dan saat kami terlelap dalam tidur. Saya biasanya sampai di rumah hampir jam 10 malam. Lelah pikiran seharian berkutat dengan riset di kampus, pegal kaki mengayuh sepeda,  dan dingin nya udara malam rasanya hilang ketika saya membuka pintu rumah, dan terdengar suara penuh gairah:

” Ayah … !!  Ayah … !! Ayah … !!!” Dak dak dak dak Dak …

Suara langkah kaki anak lanang ku berlari menuruni anak tangga dari lantai dua menuju ruang tamu menyambut ku dengan kegembiraan yang berlimpah ruah. Seperti peretemuan sepasang kekasih setelah sekian lama berpisah. Saya memeluk nya erat, dan menghujani kedua pipi dan keningnya dengan ciuman-ciuman. Anak lanang saya minta digendong lalu diayun-ayunkan dalam posisi tengkurap, sambil mengepak-ngepak kan kedua tanganya layaknya seekor burung yang sedang terbang di langit.

Ayah.. ! I want to fly high like a bird .

Kemudian anak lanangku dengan sabar menungguiku duduk di sofa menikmati makan malam lezat yang telah disiapkan istriku tersayang sambil mendengarkan anak lanangku ‘ngoceh’ random stories. Hingga saya selesai makan, sikat gigi, wudlu, dan sholat. Dan tibalah saat yang dia tunggu-tunggu: STORY TIME. Dalam posisi ‘mapan’ tidur, di antara dekapan ayah dan bundanya, anak lanangku bersiap mendengarkankan saya membacakan dongeng baru dari tumpukan buku-buku cerita yang dia pinjam bersama bundanya dari perpustakaan komunitas terdekat.

Dongeng_Sebelum_Tidur_2

Buku Dongeng Untuk Anak Lanang ku

Saya berusaha membacanya, kata demi kata, dengan aksen British yang saya coba paksa-paksa kan, tetapi tidak pernah bisa, karena logat bahasa Jawa yang sudah begitu kuat membentuk lidah dan pita suara ini. Ilyas, anak lanangku terlihat begitu menghayati setiap halaman dari buku cerita penuh gambar yang sedang saya baca. Seolah, alam pikiranya dalam sekejap sudah terlarut dalam dunia imajinasi cerita yang  saya bacakan. Saya selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan spontanitas untuk memastikan bahwa dia paham dengan alur cerita pada dongeng sekaligus mengetes daya ingat nya. Luar biasa, dia hampir selalu mampu menjawab pertanyaan saya dengan sempurna.

Selanjutnya setelah saya selesai membaca dongeng, giliran anak lanangku yang mendongeng a random story yang ada di pikiranya. Dongeng yang selalu dimulai dengan kata: One Day …. dan diakhiri dengan kata …. The End. Dan saya tidak pernah paham alur cerita dongeng diantara dua kata itu.

One Day. Butterflies. &&&&  Birds. $$$$ !!!. ***&&&&&. Fly High. ***&&&!! Splash. Splash. Splash. Splash. !$$%% Up. **&&&& . The End”.

Selesai sudah ritual menjelang tidur itu, yang diakhiri dengan tawa kita bersama. Sebelum akhirnya berganti dengan kesunyian, ketika kami terhanyut dalam lelap ketika malam sudah semakin larut. Aku selalu berdoa untuk kebaikan kita semua dalam lelap ku dan lelap mu.

Maafkan ayah mu nak ! tak banyak waktu yang bisa kuhabiskan berdua dengan mu ! Tetapi aku ingin kau tahu suatu saat nanti. Betapa bahagianya diri ku menghabiskan setiap detik waktu bersama mu. Aku ingin kau tahu, betapa aku sangat bersyukur kepada Gusti Allah, atas kehadiran mu mengisi hari-hari ku. Dalam setiap dongeng sebelum lelap ku dan lelap mu.  Kuselipkan rapalan doa-doa kebaikan untuk mu. Dalam setiap dongeng sebelum lelap ku dan lelap mu. Ingin aku katakan:  I love You, Anak Lanang ku !

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s