Guru Ngaji ku, Inspirasi ku

…. bila mendengar pemberitaan yang terlalu sering tentang perilaku culas dan keserakahan para pejabat, pembuat kebijakan di negeri ini, rasanya putus sudah asa mencintai negeri ku ini. Tapi bila teringat sosok wajah penuh ikhlas para guru honorer yang mengajar tanpa pamrih di pelosok-pelosok negeri; para guru ngaji di kampung-kampung yang mengabdi dengan hati mangajarkan budi pekerti kepada tunas-tunas generasi negeri ini, rasanya aku malu dibuatnya. Rasanya, seperti ada hutang yang harus aku bayar dengan berbuat untuk negeri ini. Ada asa yang tak boleh pernah redam, untuk mencintai negeri ku ini. -A Random Thought

GuruNgaji

Guru Ngaji Ku

Tiba-tiba saja, angan ku seolah terbawa kedalam pusaran lorong waktu tahun 90-an. Seolah hadir di hadapan ku sebuah ‘dampar’ tua. Sebuah meja kayu berkaki pendek berbentuk persegi panjang berwarna paduan hitam dan coklat yang sudah memudar. Di tengah ‘dampar’ itu ada sebuah lubang yang bisa dimasuki telapak tangan anak-anak yang duduk mengelilingi setiap sisi dampar di setiap malam antara waktu maghrib dan isya’. Anak-anak yang sedang belajar mengaji kitab suci Alquran.

Seorang guru ngaji berada di antara anak-anak yang sedang ‘nderes’ Alquran itu. Membacakan satu-dua ayat pada setiap anak, yang harus dibaca ulang dengan benar, sebelum diperbolehkan beralih dari ‘dampar’ itu.  Untuk mengulang dan mengulang kembali hingga terdengar suara bedug ditabuh dan suara adzan berkumandang pertanda waktu sholat isya’ telah tiba.

Pada dampar tua di masjid sederhana yang kayu-kayu jendelanya sudah keropos dimakan rayap itulah cerita masa kecil ku berpusat. Dari aku mulai belajar mengenal huruf demi huruf “alif ba’ ta’ “, ayat demi ayat, lembar demi lembar hingga aku khatam Alquran.

Ketika aku beranjak remaja, aku kembali belajar mengaji di pesantren. Masih juga belajar membaca Alquran setiap habis sholat Subuh hingga pukul 6 pagi. Dibawah bimbingan para ustad. Sementara antara Maghrib dan insya’ aku mulai belajar tafsir Alquran, dibawah bimbingan para kyai. Ustad dan para kyai yang tulus mengabdi, yang ikhlas mengajar nyaris tanpa dibayar.

***

Satu hari secara tidak sengaja, aku menemukan sosok bersahaja, salah satu guru ngaji ku dulu, pada sebuah video di youtube. Kepadanya, aku berhutang budi. Beliaulah, yang membenarkan bacaan sholat saya dari bismillah hingga assalamualaikum. Membenarkan bacaan sholat  saya dari huruf ke huruf, dari kata ke kata, dari ayat ke ayat. Masih seperti dahulu, kesederhanaanya dan kebersahajaanya, dan ketulusanya. Kepada guru-guru ngaji itulah, aku belajar tentang ketulusan dalam mengabdi, keikhlasan tanpa pamrih semata karena Allah swt. Yang memegang teguh hadist: “Koirukum man ta’allamal quran wa’alamahu”– sebaik-baik dari kamu adalah orang yang belajar alquran dan mengajarkanya.

Kawan, masihkan kalian mengingat guru ngaji sampean?

Meski sepertinya, sudah tidak ada lagi cerita guru umar bakri karena sudah adanya sertifikasi profesi, yang menjadikan profesi guru menjadi naik gengsi. Percayalah di pelosok negeri sana, masih banyak guru-guru honorer yang rasanya tak mungkin mendapatkan sertifikasi profesi karena tidak ada kesempatan untuk menjadi sarjana pendidikan, prasyarat untuk sertifikasi. Guru-guru yang mengabdi negeri dengan ketulusan hati, bukan karena gengsi profesi yang menjanjikan kemurahan materi.

Meski sekarang sudah banyak guru-guru ngaji yang mendirikan sekolah SDIT (sekolah dasar islam terpadu), yang mencoba berbisnis agama di tangga syurga dengan keuntungan yang tinggi. Yang mencoba membatasi akses hanya untuk anak-anak dari orang-orang yang berani membayar dengan biaya yang sangat tinggi. Percayalah, di pelosok negeri sana masih ada para guru ngaji yang tulus berbagi. Di surau-surau sederhana, menghidupkan lentera ilmu agama, membentengi akhlak anak-anak negeri. Buat mereka, bayaran ridlo yang maha kuasa, jauh lebih bermakna dari bayaran harta benda.

Kepada guru-guru honorer, guru-guru ngaji di pelosok negeri ini. Ribuan terima kasih kucurahkan atas segala pengabdian yang telah engaku berikan. Meskipun jasamu, seperti suara ranting yang jatuh di tengah hutan rimba. Terima kasih telah menginspirasi ku, tentang arti keihlasan dan ketulusan mengabdi dengan hati untuk negeri ini. Tidak ada balasan yang lebih baik dari Dzat yang memberikan sebaik-baik balasan. Karena merekalah, saya yakin di negeri ini tidak pernah kekurangan stok orang-orang baik. Seperti yang dilakukan Muhamad Saleh, di pelosok Bima,Nusa Tenggara Barat ini:

Dan untuk semua guru-guru di pelosok negeri, lahumul faatihah…

Advertisements

One comment

  1. Apik kang videone. Tak delok sampe bar. Ceritone menyentuh ya. Aku seneng karo wong sing konsep hidupnya gak melulu masalah target harta benda, tapi lebih ke kebahagiaan spiritual.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s