Belajar Filsafat Hidup dari Tradisi Tedak Siten

… hidup adalah tentang keberanian menentukan pilihan. Aku punya nyali tinggi, tapi kadang tak mampu menguasai diri menentukan pilihan yang ada. Hidup itu ibarat perjalanan, ada tantangan, ada suka dan dukanya. Jika terus berjalan, lelah ku, lelah mu tak cukup untuk mengarunginya. Tapi aku menikmati berjuang dan bertahan disana. Karena seperti senja, kita tak hidup selamanya. -Muhammad Soleh, Lentera Indonesia (@netmedia).

tedak_siten_yenny

Upacara Tedak Sinten Anak Kedua Yenny Wahid (Kapanlagi.com)

Tidak banyak dari kita yang masih mau dan mampu menjunjung dan melestrasikan tradisi di tengah gempuran budaya global seperti saat ini. Tidak perlu jauh-jauh melestarikan tradisi, lihat saja berapa banyak anak-anak orang Jawa di Jakarta yang masih bisa berbahasa Jawa? Bandingkan dengan, berapa banyak anak-nak remaja kita yang ikut-ikutan budaya k-pop?

Salah satu dari yang sedikit itu diantaranya adalah Mbak Yenny Wahid, putri mendiang presiden Gus Dur. Ditakdirkan sebagai putri seorang kyai, pernah mengenyam pendidikan di dunia barat, dan menjadi lingkungan pergaulan yang sangat kosmopolit, tak menjadikanya kehilangan ke-jawa-an nya. Mbak Yenny, tetaplah perempuan Jawa yang bangga yang bangga dengan segala tradisi dan adat istiadatnya yang harus terus dilestarikan.

Salah satu tradisi jawa yang masih dilestarikan oleh keluarga mbak Yenny adalah tradisi Tedak Siten atau Turun Tanah. Upacara tradisi adat jawa yang diadakan untuk anak kecil ketika pertama kali menginjakkan kakinya ke tanah. Tradisi apaan ini? Bid’ah ini? Syirik ini?

Sama seperti kebanyakan teman-teman di tengah-tengah budaya urban lainya, saya pernah berada dalam fase kehidupan yang menggap hal-hal seperti ini sebagai bid’ah, hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh kanjeng nabi Muhammad dan tidak ada faedahnya. Tetapi seiring proses pendewasaan saya dalam memahami agama yang saya yakini, sebagai orang jawa tidak ada salahnya melestarikan tradisi ini. Islam adalah agama rahmat bagi semua alam. Karenanya, untuk berislam secara sempurna, tidak perlu menjadi orang Arab dan mengikuti budayanya. Harus dibedakan mana yang esensi ajaran agama dan mana yang hanya bungkus budaya. Menjadi seorang muslim yang sempurna, tidak perlu harus membuat kita tercerabut dari akar budaya kita. Islam mengajarkan bahwa tidaklah orang Arab lebih mulia dibanding orang Jawa.

Seperti tradisi jawa lainya, jika kita sebagai orang jawa mau belajar dan mendalami, banyak sekali filsafat kehidupan yang  diajarkan oleh leluhur kita melalui tradisi tedak siten ini. Selain sebagai ekspresi rasa syukur, momen berdoa dan berbagi terhadap sesama, di setiap tradisi jawa terselip ajaran filsafat kehidupan yang agung.

Sebagai contoh dari sedikit yang saya ketahui, karena saya tidak tahu dimana saya bisa belajar filsafat dibalik budaya luhur tradisi jawa ini (sepertinya perlu dilakukan penelitian khusus, sebelum budaya ini punah), ada beberapa selipan wejangan hidup dari rangkain acara tedak sinten ini.

Pertama, ritual si anak disuruh berjalan di atas jadah, makanan olahan dari beras ketan, yang dibuat dengan 7 warna. Ternyata ini adalah sebuah wejangan bahwa dalam hidup ini banyak sekali warna-warni kehidupan. Ada banyak orang dengan berbagai karakternya masing-masing yang unik. Ada banyak sisi-sisi lain dari kehidupan ini.

Kedua, ritual si anak disuruh menaiki tangga. Ini adalah perlambang bawa kehidupan  itu tak ubahnya seperti perjalanan menaiki anak tangga. Ada perjuangan, ada suka dan duka di setiap menapaki setiap anak tangga kehidupan. Serta diperlukan kehati-hatian agar tidak terjatuh.

Ketiga, ritual si anak dikurung dalam kurungan dan disuruh memilih berbagai barang di dalamnya: uang, tasbih, buku, bolpoin, stetoskop, dll. Ini adalah perlambang bahwa dalam kehidupan ini kita akan dihadapkan pada banyak pilihan. Dan hidup adalah tentang keberanian memilih salah satu pilihan itu.

Ada yang mau menambahkan?

Semoga dimanapun kita berada, kita tidak pernah melupakan darimana kita berasal. Kalau bukan kita yang merasa bangga dan melestarikan budaya kita sendiri, lalu siapa lagi?

Advertisements

3 comments

  1. Aku biyen dirayakan koyok ngene gak ya? Koyoke ora. Mergo ancen ora nduwe biaya merayakan. Maklum bapakku khan senajan pegawai tapi gak sugih2 banget hahaha..

    1. aku yo ndak Ndop :D. Pegawe yang Jujur ndak ndak suka korupsi berarti ndop. Bersyukurlah, karena warisan berupa keteladanan ‘kebersahajaan’ itu lebih berharga dari harta hasil korupsi. #halah

      1. Betul banget kang. Lha omahe koncone bapakku sing pangkate di bawah bapakku ae sugih sugih nduwe mobil. Bapakku mung trimo motor honda tahun 90. Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s