Napak Tilas Sejarah Indonesia di Kota Den Haag

“…. setiap kota menawarkan suasana khas dirinya. Klasik dan terasa seperti memasuki lorong sejarah masa lampau, begitu kesan yang saya rasakan ketika berada di kota ini. Tram kuno yang didominasi warna putih dan merah yang sudah kusam dan suara loncengnya yang khas itu, sepeda pancal model jadoel, serta bangunan-bangunan berasistektur kuno mendeskripsikan suasana itu. Seperti terperangkap dalam lorong waktu ketika kota Surabaya masih berada dalam jaman kolonial. ” – A Random Thought.

denhague_02

Suasana Pagi di Kota Den Haag

Kota Den Haag, atau kota The Hague nama internasionalnya. Siapa sih yang tidak kenal kota ini? (hayo, ngacung !) rasanya, ratusan juta anak Indonesia yang setidaknya pernah duduk di bangku sekolah dasar atau sekolah rakyat pernah mendengar nama kota ini dari guru pelajaran sejarah. Iya, sampean benar kota ini adalah tempat perjanjian konferensi meja bundar (KMB) itu.

denhague_01

Masjid Alhikmah Den Haag

Mungkin, saya termasuk sedikit orang dari ratusan juta anak Indonesia yang pada akhirnya ditakdirkan bisa menginjakkan kaki langsung di kota ini. Merasakan suasana klasik kota yang menyejarah ini. Meskipun dulu, waktu pertama kali mendengar nama kota ini, tidak pernah sedikit pun membayangkan bahwa suatu saat, langkah kaki saya akan sampai di kota ini. Argh, jangankan kota Den Haag. Untuk sampai di ibu kota kabupaten saja sudah mimpi yang sangat mewah buat saya saat itu. Saya jadi teringat kata-kata emak saya berfilosofis pada suatu saat:

yo mbok menowo-menowo,  kan jangkahe arek lanang luweh ombo ketimbang jangkahe arek wedok.

Sudah lupakan sejenak romantika sejarah dan kenangan masa lalu! Saat ini, kota Den Haag masih menjadi pusat pemerintahan kerajaan Belanda. Di kota inilah, tempat kedutaan besar negara-negara sahabat Belanda berada, termasuk kedutaan besar Republik Indonesia. Sementara, Amsterdam menjadi ibu kota dan Rotterdam dijadikan kota pusat bisnis. Konsep pemisahan kota ini ditiru negara tetangga kita Malaysia, yang membangun kota Putrajaya sebagai pusat pemerintahan, dan kota Cyberjaya sebagai pusat bisnis dan IT untuk mengimbangi Kuala Lumpur sebagai ibu kota negara yang sudah mulai padat merayap.

denhague_03

Tram dekat Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Bagaimana dengan negara tercinta kita Indonesia? sepertinya, semuanya masih menumpuk di Jakarta. Saya sampai tidak berani membayangkan bagaimana keadaan kota, yang sudah mendapat anugerah sebagai kota termacet di dunia ini, sepuluh tahun yang akan datang? jadi bertanya-tanya, Bappenas itu kerjaanya ngapain saja sih?

***

Kami tiba di bandara schipol sudah jam 3 sore setelah penerbangan selama 50 menit dari bandara Gatwick London. Dari bandara, kami langsung ke Amsterdam centraal, sekedar ingin menikmati suasana kota ini di malam hari sekaligus mencari makanan ‘berat’ yang seharian baru terisi secangkir kopi dan 2 buah jeruk. Dari Amsterdam sebenarnya saya ingin ke Rotterdam dulu, tetapi, karena ternyata rumah teman yang akan saya inapi cukup jauh dari stasiun Rotterdam centraal, saya rubah itenary nya ke Den Haag dulu.

Saya dan mas yusuf sampai di Den Haag sekitar jam 9 malam. Udara malam itu di Den Haag sangat dingin sekali. Meskipun sudah pakek baju 3 lapis, jaket musim dingin, long john, syal, penutup kepala, dan sarung tangan tetapi udara dingin itu masih terasa menusuk di kulit. Karena tidak tahan dingin, akhirnya kami masuk ke kedai starbuck di dalam stasiun, hanya sekedar numpang duduk, sambil menunggu si Reza, seorang teman panitia sarasehan yang akan menjemput kami. Sekitar tiga puluh menit kemudian, si Reza datang lengkap dengan kesupelan dan keramahtamahan khas santri jawa timuran. Dari stasiun, kami langsung naik tram menuju masjid Alhikmah.

Sarasehan dan Pengajian Maulid Nabi di Masjid Indonesia Al-hikmah, Den Haag

Saya pikir saya akan tidur di dalam masjid, literally. Ternyata, ada rumah cukup besar yang integrated dengan masjid. Ada tiga kamar besar dirumah itu. dan kami sudah disiapkan single bed, bantal dan selimutnya. Di rumah inilah kami bertemu, mengobrol santai dengan beberapa anak muda NU dari beberapa kota di Belanda, Belgia, Jerman, Inggris, dan Maroko. Senang rasanya bertemu anak-anak cerdas NU dari berbagai disiplin ilmu yang membuat saya semakin teguh dan mantap dengan ke-NU-an saya, di antara benturan berbagai ideologi keislaman yang menggoda akhir-akhir ini.

denhague_16

Obrolan Di Rumah Masjid Al-Hikmah Dengan Anak-Anak Muda NU di Eropa

Salah satunya yang cukup berkesan adalah cerita mas Aiman, anak muda berdarah biru dari Malaysia yang pernah mondok 13 tahun di salah satu pesantren di Jawa Timur, yang saat ini sedang mengambil kuliah master di Universitas Al-Qarawiyin, Maroko; Universitas tertua di Dunia. Beliau cerita bahwa ternyata Islam di Maroko mirip banget dengan Islam di Indonesia. Bahkan, tradisi tahlilan 7 hari, 40 hari, dst. yang selama ini kita pahami sebagai pengaruh agama Hindu, disana juga ada. Padahal, Hindu tidak pernah ada di bumi Maroko. Beliau juga, yang menjadi pointer bagi saya kenal dengan salah satu paman beliau, salah satu pakar Islam ‘nusantara’ yang katanya NU banget, di Universitas Oford Inggris, Dr Afifi Al-kiti. Mas Aiman juga berpesan, kalau teman-teman NU Inggris mau mengadakan acara pengajian, beliau pasti bakalan senang sekali.

Saya juga ketemu mas Danu, kolega saya sesama dosen di jurusan yang sama di kampus sukolilo Surabya, untuk kedua kalinya di negara kincir angin ini. Sebelumnya, kami sempat bertemu di kota Eindhoven (baca ceritanya disini: Wisata Ilmu dan Persahabatan Di Eropa: 6 Kota 3 Negara 1 Benua). Bedanya, kali ini mas Danu baru saja lulus studi doktoralnya dalam bidang serious game, dari T.U. Endhoven. Saya ikut merasakan betapa leganya jalan panjang perjuangan PhD life itu. Selamat, mas Dr Danu ! Semoga Barokah ilmunya !

Ohya, masjid alhikmah ini dahulu katanya adalah sebuah gereja besar. Kemudian, dibeli orang-orang muslim Indonesia untuk dijadikan masjid. Makanya, namanya ada embel-embel masjid Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, di Belanda dan negara-negara Eropa lainya, banyak bangunan gereja yang beralih fungsi. Masih mending jika beralih fungsi menjadi masjid, banyak di antaranya berubah menjadi diskotik. Ada dua lantai di masjid ini, lantai pertama dijadikan semacam ruang seminar, kamar mandi, dan tempat wudlu. Sementara lantai dua dijadikan tempat sholat untuk jamaah pria dan wanita.

denhague_19

Gus Mus dalam Sarasehan Islam Nusantara di Masjid Alhikmah Den Haag

Selain desain interiornya yang indah, penuh dengan kaligarafi cantik berwarna emas, ada yang istimewa sekali di masjid ini. Setiap usai sholat jamaah ada salam-salaman sesama jamaah, dan wiridanya dibaca keras. Ini benar-benar membuat saya merasa nostalgic suasana di kampung dan pesantren. Membuat saya merasa sedang di dalam masjid pondok induk, pesantren Darul Ulum, rejoso Jombang. Apalagi, ada tangan Gus Mus yang bisa saya cium, ngalap barokah doa, sehabis sholat. Argh, saya jadi teramat kangen aroma wangi khas telapak tangan kyai Mad, kyai Hisyam, dan kyai Hasyim di Blokagung. Dan telapak tangan kyai Hanan, kyai As’ad, kyai Cholil, dan kyai Dim yang dulu selalu saya ciumi bersama ribuan santri lainya setiap selesai sholat jamaah di masjid. Sayang, hal yang nostalgic ini lebih sering dibid’ahkan di tempat saya berada saat ini.

denhague_17

Selepas Pengajian Peringatan Maulid Nabi Muhammad, Masjid Alhikmah, Den Haag

Di masjid inilah, kegiatan sarasehan tentang islam nusantara dan pengajian umum peringatan maulid nabi diselenggarakan. Sarasehan diselenggarakan dari pagi hingga sore di ruang seminar masjid lantai satu, dihadiri Gus Mus, Akademisi Belanda, Ulama Indonesia dan Ulama Suriname yang tinggal di Belanda, serta anak-anak muda NU dari berbagai kota di Belanda, dan negara-negara eropa lainya, serta dari Maroko. Uniknya, sarasehan kali ini pakek setting lesehan, yang membuat saya terbawa suasana bahtsul masaail di pesantren. Kemudian malamnya dilanjut pengajian umum peringatan Maulid Nabi tepat sehabis jamaah sholat isya’ di masjid lantai dua dengan Gus Mus sebagai pembicara utamanya. Banyak ilmu yang bisa saya serap dari beliau, lihat postingan saya sebelumnya: Ngaji Bareng Gus Mus Nang Londo.

Satu lagi yang mencuri perhatian saya selama sarasehan dan pengajian itu adalah ternyata di antara para peserta sarasehan dan pengajian ada beberapa mualaf cina dan bule-bule Belanda. Rasanya, adem menatap wajah bule-bule londo dan mata sipi cina itu. Entah mengapa, seolah ada yang berbeda dari mereka setelah menjadi muslim di bandingkan bule londo lainya yang belum muslim. Dari wajahnya terpancar cahaya, yang memancarkan inner happiness. Kebetulan, di tempat yang sama juga ada bule londo, menjadi salah satu pembicara, pakar Islam Indonesia, yang fasih berbahasa Indonesia, tapi belum mendapat hadiah untuk masuk Islam. Terlihat benar memang bedanya, wajah-wajah muslim yang dibasuh air wudlu lima kali sehari itu.

Napak Tilas Sejarah Indonesia di Kota Den Haag

denhague_04

Penunjuk Jalan Di Centrum Kota Den Haag

Selain kegiatan sarasehan, pengajian, dan silaturahmi dengan teman-teman NU, kami juga sempat keliling kota Den Haag. Hanya sekedar ingin merasakan suasana khas kota Den Haag dan napak tilas sejarah Indonesia di kota ini. Saya percaya bahwa setiap kota selalu menawarkan suasana khas yang dimilikinya.

denhague_14

Tram Merah Putih di Kota Den Haag

Meskipun Den Haag adalah salah satu kota terbesar di Belanda, tapi suasana macet jauh dari kota ini. Kotanya lengang dan nyaman. Suara cicit cuit burung yang terbang bebas berseliweran tanpa rasa takut masih bisa didengar setiap saat di kota ini. Dengan kereta api sebagai alat transport utama antar kota; tram dan sepeda pancal yang jumlahnya massive sebagai alat transportasi utama dalam kota, sangat masuk akal rasanya jika menjadikan kota ini tetap tenang dan nyaman untuk hidup.

denhague_05

Green Tram Kota Den Haag

“Centeng, Centeng, Centeng “, “Kring Kring Kring Kring”, “Kwak-Kwak-Kwak” adalah tiga suara dominan di kota ini.

Suara pertama adalah suara tram. Tram tua yang kebanyakan berwarna putih berpadu dengan warna merah kusam  itu  belnya mengingatkan bel sekolah SD saya di kampung. Bel yang selalu ditunggu setiap murid, yang mengharap segera pulang. Suara yang kedua adalah bunyi bel sepeda pancal. Seperti di kota-kota lain di negara ini, sepeda pancal tetap menjadi alat transportasi primadona setiap orang. Bahkan,Ibu Retno, Menteri luar negeri RI, yang pernah tinggal di kota ini sebagai Duta Besar RI untuk kerajaan Belanda, sering naik sepeda kalau ke kantor dari rumah dinasnya.

denhague_07

Sungai Yang Membelah Kota Den Haag

Sedangkan suara yang ketiga adalah suara burung camar. Gerombolan burung dengan bulu didominasi warna putih itu sangat banyak di kota ini. Terbang bebas di antara kerumunan orang, dan sesekali menjeburkan diri dan berenang ke dalam air sungai yang membelah kota ini.

denhague_06

Bendera Indonesia Sebelum disobek Warna Birunya

Salah satu saksi bisu sejarah Indonesia di kota ini adalah gedung Ridderzaal, gedung parlemen kerajaan Belanda. Di gedung yang dibangun abad 13 inilah dulu Konferensi Meja Bundar berlangsung. Konferensi yang hasilnya ditandatangani oleh J.H. Maarseveen, Sultan Hamid II dan Mohammad Hatta pada tanggal 2 November 1949.

denhague_08

Gedung Ridderzaal, Tempat KMB

Dari segi arsitektur, menurut saya tidak ada yang istimewa dari bangunan ini. Kalau dibanding dengan gedung-gedung berasitektur romawi yang dibangun pada abad yang sama di Inggris, bangunan ini tidak ada apa-apanya. Kalah cantik dan artistik. Arsitekturnya sangat sederhana, berbeda dengan bangunan-bangunan di kota London yang arsitektur nya begitu rumit, njlimet, tapi sangat artistik.

denhague_09

Sisi Lain Gedung Ridderzaal

Selain gedung Ridderzaal, tempat yang bisa dikunjungi di sekitar gedung itu adalah Museum. Salah satunya adalah museum seni Mauritshuis. Ini sepertinya syurga buat yang ngerti dan penikmat seni. Terutama pegiat maupun penikmat seni rupa. Tapi sayang, saya bukan termasuk dua-duanya. Saya tidak tahu bagaimana merasai indahnya sebuah lukisan itu? Haruskah, saya harus belajar olah rasa agar mampu merasai keindahan dibalik goresan kanvas itu?

denhague_11

Gerbang Menuju Gedung Ridderzaal

Salah satu koleksi yang menjadi icon museum ini adalah lukisan Gadis Berkerudung dengan Anting-anting Mutiara karya pelukis legendaris Belanda, Johannes Vermeer. Entahlah apa yang menjadikan lukisan ini menjadi paling istimewa. Apakah karena Kerudungnya? Apakah perempuan itu seorang Muslimah? Atau apakah karena anting-anting nya yang bersinar berkilauan yang terbuat dari mutiara itu? Sayang, saya belum sempat mendapatkan jawabanya.

denhague_10

Museum Mauritshuis, Den Haag Januari 2015

Mengenai perempuan berkerudung itu. ternyata tidak hanya wujud dalam bentuk lukisan. Di tengah kota Den Haag juga ada patung dua perempuan muda berkerudung. Semakin menambah rasa penasaran saya saja untuk tahu pasti siapa perempuan muda cantik berkerudung itu. Mungkin jawabanya bisa ditemukan dari cerita novel sejarah dengan judul yang sama: Girl with a Pearl Earring.

denhague_12

Lukisan Gadis Cantik Berjilbab dan Beranting Mutiara, Den Haag

Walaupun kota ini terlihat klasik, dengan bangunan-bangunan abad 12-13 yang masih dipertahankan dengan apik, bukan berarti kota ini anti kemajuan. Di sisi lain dari kota ini, nampak gedung-gedung tinggi dengan arsitektur modern, lazimnya di kota-kota besar lain di dunia. Bagusnya, kehadiran gedung-gedung baru itu tidak dengan merobohkan gedung-gedung tua bersejarah. Alangkah bijaknya, sebuah bangsa yang bisa menghargai karya peninggalan peradaban para pendahulunya.

denhague_13

Sudut Lain Kota Den Haag : Gedung BerasitekturModern

 Makanan di Kota Denhaag

Jalan-jalan rasanya kurang sempurna kalau tidak disertai wisata kuliner. Di Belanda katanya syurganya masakan Indonesia di Eropa. Memang banyak restoran Indonesia, dan banyak juga restoran suriname, yang  menunya sama kayak makanan orang khas orang Jawa. Selain masakanya yang memper orang Jawa seperti ada sambel terasi, lemper, rempelo ati, sampean juga bercakap-cakap pakek bahasa Jawa ngoko lho. Yang dari Maluku, disini juga banyak orang Maluku dibawah bendera Republik Maluku Serikat (RMS), yang konon keberadaanya diakui keberadaanya oleh Kerajaan Belanda.

Tapi sayang, saya kurang beruntung, selama satu jam clingak clinguk di kota ini tidak nemu restoran Indonesia. Akhirnya,  saya dan mas yusuf karena keburu tidak tahan lapar, terpaksa makan ayam goreng restoran cepat saji yang juga banyak ditemui di Indonesia. Nah, ternyata ada salah satu pelayannya yang bagian ngelap meja ternyata orang Indonesia. Ibu-ibu paruh baya itu menyarankan kalau mau mencari masakan khas Indonesia yang paling lengkap, enak, dan dengan harga yang murah ada di restoran Cina, namanya Ming Kee. Ada Es dawet dan tahu campur juga lo katanya. Tapi kok ya yang jualan kenapa harus orang Cina?

denhague_18

Restoran Cina Ming Kee Penjual Masakan Khas Indonesia

Dan sayangnya lagi, waktu kami kesana pas warungnya belum buka karena terlalu kepagian. Tapi, meskipun demikian, kami sudah puas dengan makanan khas Indonesia yang disajikan gratis oleh Ibu-ibu Muslimat NU di masjid Al-Hikmah waktu acara sarasehan dan pengajian. Terutama menemukan kerupuk dan rempeyek kacang hijau yang rasanya nendang dan Indonesia banget.

***

Dari kota Den Haag, kami melanjutkan perjalanan kembali ke kota Amsterdam untuk cerita dan pengalaman yang lain. Tunggu cerita saya selanjutnya. Semoga, buat sampean yang berangan bisa sampai di kota ini, saya doakan segera keturutan, Ammmiiin! Selamat mendefinisikan arti perjalanan anda sendiri!

Advertisements

2 comments

  1. Damai sekali ya kang hidup di Den Haag dan sekitarnya. Penduduknya well educated semua ya. Gak berani ah mbandingin sama di Indonesia ini. Paling malah dinyek, “Ndop, kapan majumu kalau masih ngontel?”

    Mak jleb!

    1. Iyo ndop, damai. Hehe… betul ndop kebanyakan dari orang kita jadi korban iklan, jadine yang berkembang budaya konsumerisme yang berlebihan. And you are on the right track, ndop !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s