Hati ku Tertinggal di Kota Leiden, The Spirit Of Netherland

…. Leiden sebuah nama kota yang menyiratkan aura magis setiap kali aku mendengarnya. Sampai akhirnya aku benar-benar menginjakkan kaki ku di kota ini. Suasananya, sungguh telah menambat hati ku. Leiden, di kota ini kutemukan ruhnya negeri Belanda, yang membedakanya dari kota-kota lain di Eropa. -A Random Thought

leiden_01

Sign board Stasiun Kereta Api Leiden Centraal

Leiden, aku pertama kali mendengar nama kota ini dari Pak Sudirman, guru agama ku di kelas 6 SD di desa ku. Ketika bicara tentang agama, beliau sering sekali menyebut nama Snok Horgunye yang berasal dari kota ini. Di bangku SMP saya kembali mendengar nama kota ini dari Pak Sucipto, guru bahasa jawa ku yang sebenarnya lulusan pendidikan sejarah itu. Entahlah, hati ku selalu merasakan aura magis setiap kali mendengar nama kota ini. Hingga, pada akhirnya tak pernah dinyana, kersane gusti Alloh, aku benar-benar menginjakkan kedua kaki ku sendiri di atas kota ini. Yang mungkin masih sekedar sebatas angan-angan Pak Sudirman dan Pak Sucipto.

Ini adalah hari kelima, lawatan ku kedua di negeri kincir angin ini. Setelah sehari sebelumnya menghadiri acara pelantikan pengurus cabang istimea NU Belanda dan pengajian Maulid Nabi di kota Amsterdam yang dihadiri lansung rois ‘am PBNU, KH. Ahmad Mustofa Bisri, aka Gus Mus. Karena acara yang seharusnya diagendakan hari itu sudah dimajukan satu hari sebelumnya. Hari itu, saya bisa mengunjungi kota ini.

leiden_07

Menikmati Suasana Kota Leiden

Aku berangkat dari Amsterdam, dari apartemen Mas Sohib, sekretaris dewan syuro PCINU Belanda. Aku kebetulan menumpang tidur, mandi, dan makan di apartemen beliau, dan akan menginap kembali disana sekembali dari Leiden, dan keesokan harinya pulang ke London dari bandara Schipol. Dari Amsterdam, aku bersama mas Yusuf, dosen Teknik Informatika, Universitas Trunjoyo, yang sedang ambil program doktor di Universitas Poursmouth, UK dan Kusnadi, santri alumni pondok pesantren Tambak Beras yang sedang kuliah di Maroko.

Keluar dari stasiun Leiden Centraal, kami jalan kaki mengikuti petunjuk peta dari information centre di stasiun menuju centrum atau pusat kota dan Universitas Leiden. Pagi berkabut di musim dingin itu terasa menggigit dinginya. Tapi, kegembiraan ku menginjakkan kaki ku di kota ini menghangatkan semuanya. Benar, suasana khas kota ini sangat terasa. Rasanya seperti orang Jakarta yang baru pertama kali  menginjakkan kaki di kota Yogyakarta. Ritme hidup di kota ini terasa lebih lambat di banding kota Amterdam.

leiden_04

Parkir Sepeda Pancal di Stasiun Kereta Leiden

Sepeda pancal, kanal, dan kincir angin adalah icon dari negeri Belanda ini.Dan semua itu ada di kota Leiden ini. Kota yang sangat didominasi moda transportasi sepeda ontel ini menghadirkan suasana tenang dan damai sendiri. Rasanya semua orang disini menggunakan sepeda pancal sebagai alat transportasi dalam kota. Sejauh mata kamu memandang disitu pasti akan kamu lihat orang naik sepeda. Lupakan bayangan macet dan bising nya kota Jakarta. Di kota ini, kamu akan merasakan betapa damainya hidup tanpa kebanyakan mesin-mesin pembakar bensin.

leiden_08

Muda Mudi Berboncengan Sepeda Pancal

Hatiku terpesona melihat kemesraan muda-mudi berboncengan sepeda pancal. Di Indonesia, itu mungkin hanya terjadi pada jaman muda bapak-ibu ku di kampung awal tahun 80-an dulu. Atau, gerombolan mahasiswi-mahasiswi cantik Belanda berambut pirang tergerai dengan senyum riang nya menyusuri jalan-jalan sekitar kampus dan halaman kampus yang penuh dengan sepeda ontel dimana-mana. Di kampus ku di Indonesia, halaman kampus itu sekarang sudah terlalu penuh dengan deretan mobil-mobil mewah. Mungkin, karena budaya naik sepeda inilah,yang membuat tubuh cewek-cewek Belanda langsing dan singset. Jarang saya melihat perempuan obesitas di kota ini. Kontras, dengan kondisi di Inggris yang katanya lebih dari separuh perempuan Inggris bermasalah dengan obesitas.

leiden_10

Gadis Belanda dan Sepedanya

Satu lagi yang membuatku terkesan adalah keramahan orang Belanda. Jika kamu memotret di sembarang tempat, orang-orang Belanda pasti akan tersenyum dan merasa senang dengan jepretan kamu. Tak jarang, mereka akan melambaikan tangan tanda persahabatan dan kehangatan. Tetapi, jeprat jepret di sembarang tempat ini, jangan pernah kamu lakukan di Inggris. Kalau kamu tidak ingin dihardik orang. Orang Inggris sangat concern dengan privasi. So, jangan pernah memotret orang apalagi anak kecil tanpa ijin dari mereka.

leiden_13

Kanal dan Perahu di Kota Leiden

Sepanjang jalan menuju kampus Universitas Leiden, terdapat sejumlah museum yang katanya banyak menyimpan koleksi sejarah Indonesia. Tapi sayang, kebetulan hari itu hari senin, dimana museum tutup. Setelah puas menikmati sausana khas kota Leiden, kami bertiga memutuskan untuk istirahat di Lipsus, semacam kantin dan pusat kegiatan mahasiswa Universitas Leiden, sambil menunggu Mas Fahrizal, ketua tanfidziyah NU Belanda, yang akan menjadi guide kami keliling kampus. Mas Fahrizal, mahasiswa PhD yang dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang itu, kebetulan masih ada meeting dengan Profesornya.

Di lipsus, kami membuka bekal makanan yang dibuation oleh istri Mas Sohib. Alamak, sudah numpang makan tidur mandi gratis, masih dibawain bekal untuk makan siang. Duh, beruntungnya, setiap jalan-jalan aku selalu bertemu dengan orang-orang yang sangat baik hatinya. Meskipun baru kenal, sudah menganggap aku seperti saudara mereka sendiri. Kebetulan lagi, di lipsus ini ada mesin pembuat kopi gratis. Langsung deh,naluri mahasiswa kami kambuh tiba-tiba. Ambil kopi gratis berkali-kali.

leiden_20

Di Salah satu sudut Kampus Univ. Leiden

Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya mas Fahrizal datang juga dengan seorang satu lagi teman nya. Namanya, mas mashuri, yang juga mahasiswa program doktor Jurusan psikologi di Universitas Leiden. Dengan menuntun sepeda ‘unto’ pancalnya, mas fahrizal mengajak kami keliling kampus. Pertama ditunjukkan rumah snok horgunye yang berada di dalam kompleks kampus. Kemudian, kami diajak ke sebuah bangunan tempat pendadaran calon doktor baru. Saya lupa namanya. Di tempat inilah, diabadikan patung Husein Djoyodiningrat, orang Indonesia yang memperoleh gelar doktor pertama sepanjang sejarah. Menarik karena patungnya, digambarkan sosok beliau dengan pakaian jawanya.

leiden_18

Patung Orang Jawa Peraih Gelar Doktor Pertama Dan Kandidat Doktor

Kemudian, kami diajak ke fakultas hukum. Fakultas hukum ini adalah salah satu fakultas hukum terbaik di dunia. Yah, Universitas Leiden yang berdiri pada tahun 1575 ini memang terkenal keunggulan pada ilmu-ilmu sosialnya. Di fakultas hukum ini, kami diajak mas Fahrizal masuk ke dalam perpustakaan khusus fakultas hukum. Alamak, perpustakaanya bagus dan klasik banget. Rasanya, langsung terpampang sebuah syurga belajar di mata ku.

leiden_23

Suasana Perpustakaan Fak. Hukum, Univ. Leiden

Di perpustakaan ini juga terdapat ribuan koleksi referensi hukum Indonesia. Yang kata mas Fahrizal, sangat susah dicari di Indonesia. Aneh rasanya, masak iya, kalau seseorang mau belajar hukum Indonesia harus pergi ke Belanda. Di perpustakaan ini, kami secara tidak sengaja bertemu dengan profesornya mas fahrizal, yang ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia.

leiden_25

Koleksi Referensi Hukum Indonesia

Argh, sayang hari keburu sudah gelap. Musim dingin ini memang membuat hari terasa lebih pendek. Dan kami harus segera menyudahi kunjungan kami di perpustakaan. Dari Perpustakaan, kami berpisah dengan mas Fahrizal yang kelihatan sangat sibuk dan pusing dengan PhD nya. Kami berempat menuju masjid Alhijrah, masjid bekas gereja, yang masih berada di dalam kompleks kampus Universitas Leiden.

leiden_29

Fakultas Hukum, Universitas Leiden

Di masjid kami sholat ashar, dan jamaah sholat Maghrib. Di masjid yang cukup luas ini kami bertemu banyak orang Indonesia, yang kebetulan semuanya penerima beasiswa LPDP untuk mengambil program master pada ilmu-ilmu sosial di kampus ini. Mereka kebanyakan alumni fakultas ilmu budaya, Universitas Indonesia.

leiden_30

Masjid Alhijrah, Leiden

Selepas dari masjid, aku dan mas yusuf langsung menuju stasiun Leiden Sentral untuk kembali ke Amsterdam. Sementara kusnadi balik ke kota Leiden. Puas rasanya menghabiskan waktu seharian di kota ini. Kota ini kembali membuka perspektif baru tentang bagaimana melihat dunia dari sisi yang berbeda bagi  ku. Buat teman-teman yang ingin merasakan suasana khas Belanda, datanglah ke kota Leiden.

Ohya, untuk khas oleh-oleh Belanda jangan lupa membeli strop wafle di supermarket di dalam stasiun leiden. Enak sekali rasanya. Selemat Melakukan Perjalanan ! Selamat mendefiniskan arti perjalanan versi anda sendiri !

Advertisements

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s