Dikala Pagi Harus Berbalut Duka

” … kuatnya tekad, tak akan mampu menembus dinding takdir.” – M. Athoilah (Alhikam)

pelangi_di_shiffield

Ilustrasi : Mendung dan Pelangi di Langit Sheffield, UK

Seperti langit yang tidak selalu terlihat cerah nan indah kebiru-biruan tetapi terkadang terlihat mendung menghitam dan hujan, begitu juga dengan cerita lakon hidup seorang anak manusia. Tak selamanya kita bisa tersenyum dan tertawa lebar hahaha, terkadang takdir perjalanan hidup ini mengharuskan kita untuk merunduk, meratap, bersedih, dan menitikkan air mata.

Kawan, di awal tahun ini saya banyak mendengar kabar cerita hidup berbalut duka dari keluarga dan beberapa kawan dekat saya. Yang kebetulan sedang harus berjibaku dengan lakon hidup yang tidak mudah. Pastinya, semuanya tidak pernah diharapkan, tetapi harus terjadi karena sebuah alasan, yang entahlah suatu saat nanti akan kita ketahui atau bahkan tidak pernah kita ketahui hingga saat dibuka semua tabir rahasia di kehidupan kita selanjutnya. Dalam renungan kecil saya, hidup kadang seperti lakon drama, tetapi bukan di layar kaca atau pun layar lebar, tetapi di layar kehidupan sesungguhnya. Argh, bukankah hidup sekedar memainkan peran yang diberikan oleh Sang Penulis skenario kehidupan?

Ujian Hidup Bertubi-tubi untuk Seorang Kawan

Saya punya seorang sahabat dekat. Bertemu hanya beberapa hari di sebuah pesantren di dusun Blok Agung, Banyuwangi.  Saya kebetulan hanya ingin mengisi liburan sekolah di pesantren itu. Ajaibnya, pertemuan hanya beberapa hari itu membingkai jalinan pertemanan yang awet hingga saat ini.  Yah, kadang kualitas pertemenan tidak ditentukan seberapa sering kita bertemu. Walaupun, sudah lama tidak bertemu langsung, tetapi saya masih tahu kabarnya dari hari ke hari.

Belakangan, hidup kawan saya satu ini benar-benar diuji. Ujian yang datang silih berganti, seolah tiada henti. Menguras kesabaran. Berawal dari kebakaran rumahnya yang menghanguskan segala harta benda di dalamnya. Kemudian diikuti banjir bandang di desanya, yang memupuskan harapan panen raya. Tak berselang lama, ujian lebih berat kembali melanda, anak lelaki semata wayangnya, yang sedang lucu-lucunya, dipanggil oleh Allah SWT, dengan sangat mendadak. Satu malam, tiba-tiba anaknya panas tinggi, dan malam itu juga sang buah hati menghembuskan nafas yang terakhir. Belum sembuh duka yang mendalam itu, ujian berikutnya kembali menguras air mata. Adik kandungnya, tiba-tiba dikabarkan meninggal dunia di pesantren tempatnya sedang mencari ilmu, karena penyakit liver. Ya Tuhan.

Meskipun berat, kawan saya berusaha sabar dan tegar dan tak mudah larut dalam kesedihan. Seperti biasa, dia selalu bersemangat menceritakan perkembangan yayasan sekolah NU yang diperjuangkan di dusunya atas swadaya masyarakat. Saya sempat tertegun dan tersentuh, melihat foto-foto yang memotret bagaimana semua warga desa, lelaki perempuan, semuanya gotong royong membangun gedung sekolah yang mau roboh itu.

Kemudian, akhirnya hal yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Alhamdulilah, istrinya hamil lagi memasuki bulan ke-5. Dia minta do’a ke saya agar istri dan bayinya sehat selalu hingga di hari kelahiranya nanti. Tetapi, ternyata Tuhan berkehendak lain. Beberapa hari, setelah saya mendengar kabar gembira itu. Ujian itu kembali datang, istrinya tiba-tiba dikabarkan koma dan harus dilarikan di rumah sakit terbaik di kota Semarang. Untuk menyelamatkan nyawa sang Ibu, bayi yang baru 5 bulan itu terpaksa harus diangkat dan meninggal dunia. Sementara istrinya, masih harus dirawat di ICU untuk beberapa hari lagi.

Ya Allah Gusti, semoga engkau sembuhkan segera istrinya. Dan engkau beri kesabaran dan pahala yang berlipat-lipat kepada kawan ku ini. Dan segera kau naikkan kelasnya, dengan ujian-ujian ini.

Seorang Bapak dan Keenam Krucilnya

Ada satu momen yang paling saya tunggu setiap usai sholat jumat di Prayer Room kampus. Yaitu melihat seorang lelaki sederhana, berperawakan pendek , berambut agak gondrong dan bermuka jawa bersama dengan ketiga krucil laki-lakinya dan kedua krucil perempuanya.  Saya selalu memperhatikan dalam-dalam, terlarut dalam kebahagian bapak dan kelima krucilnya itu. Melihat saya yang selalu memperhatikan mereka dengan tatapan kosong itu, menimbulkan tanya oleh nya: ” Kenapa Cak?”. Lalu saya pun menjawab: ” Oh, endak. Saya suke sekali melihat kau dengan budak-budak kecik kau ini”. “Alhamdulilah, yah inilah cak harta saya yang paling berharga yang saya punyai di dunia ini” timpal kawan saya dari negara tetangga yang sedang sekolah PhD bidang kewirausahaan itu sambil mengelus-ngelus rambut krucil-krucilnya.

Mata saya tak pernah berkedip untuk terus memperhatikan si Bapak, Istri, dan 5 krucil-krucil itu  berjalan hingga menghilang di persimpangan jalan dai an. Entahlah, ada kebehagiaan yang mengalir deras di hati, setiap saat saya menatap wajah-wajah polos sederhana mereka.

Sekarang setiap usai sholat jumat, saya merasa sangat kehilangan momen itu. Sejak kabar duka itu terdengar di telinga saya.  Istrinya dikabarkan meninggal dunia di rumah ketika melahirkan anak ke-enamnya. Tetapi alhamdulilah, nyawa bayi tampan itu masih terselamatkan. Kawan saya satu ini memang agak berbeda dengan orang pada umumnya. Gaya hidupnya, seolah menentang arus jaman. Keenam anaknya semua lahir di rumah, tak satupun yang lahir di rumah sakit. Dia juga menolak imunisasi dan pendidikan formal di sekolah untuk semua anaknya. “Alhamdulilah semuanya sehat-sehat saja kok cak, meskipun tidak ada yang diimunisasi” katanya kepada saya suatu saat.

Sejak saat itu, saya kehilangan kontak dengan sang kawan. Padahal biasanya, hampir setiap hari bertemu di prayer room. Semoga sang kawan diberi ketabahan dan kesabaran yang berlipat-lipat dan diberikan yang terbaik untuknya.

Berita Duka dari Keluarga

Berita duka juga datang dari keluarga saya. Pek De saya, yang rumahnya gandeng dengan rumah orang tua saya di Banyuwangi, dikabarkan sedang sakit kanker otak sehingga harus dirawat intensif di rumah sakit. Salah seorang Pak Lik saya, yang dari dulu ceritanya penuh keperihatinan, dikabarkan tertangkap polisi dan tidak bisa dihubungi di Malaysia, karena paspor dan visa bekerjanya ditahan oleh agent nya. Dan hari ini, saya dikabari kalau adek embah tiri saya, yang dahulu waktu saya sekolah SMP kelas 3 pernah tinggal di rumahnya, meninggal dunia. Inna lillahi wainna ilai roji’uun.

Ya. Allah ampuni dosa kami, ampuni dosa-dosa keluarga dan sahabat-sahabat kami. Berilah kami kesabaran dan ketabahan, dan mudahkan segala urusan-urusan kami.

Untuk teman yang sedang diberi ujian, percayalah bahwa kita hanya bisa melihat indahnya pelangi, ketika hujan. Mungkin, duka adalah cara Tuhan untuk memanggil hati hambanya untuk kembali mendekat dan tertunduk kepada Nya. Karena, sudah tabiat kita sebagai manusia, jika kesenangan dan kemudahan ada digenggaman, kita sering kali melupakanya. Kita sering kali sombong dengan daya upaya kita. Seolah capaian kita semata karena usaha dan kerja keras kita. Padahal ada tangan Tuhan dibalik semuanya. La haula Wala quwwata Illa billahil ‘aliyil ‘adzim.

 

Advertisements

One comment

  1. Tak sengaja menemukan tulisan ini,…
    Dan begitu selesai membacanya membuat saya tambah yakin, bahwa hal sekecilpun tak ada yg terjadi scara kebetulan, pun ketika saya tanpa sengaja menemukan tulisan ini 😉
    Sebuah tulisan pengingat diri, tuk senantiasa “travel” happily 🙂
    Thank you Cak Shon, tlah berbagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s