Hanya Karena Sedang Beruntung atau Buntung?

Nobody plays this life with marked cards, so sometimes we win and sometimes we lose.Do not expect anything in return, do not expect your efforts to be appreciated. your genius to be discovered, your love to be understood. -Coelho

platform_934_small

Ilustrasi: Platform 9 3/4 at London King Cross Station

Pagi itu saya senyum-senyum sendiri membaca headline sebuah surat kabar nasional Inggris, yang keleleran di meja resepsionis kantor tempat kerja paruh waktu saya (kasih tau ndak ya, saya kerja apa? bocoran >> cleaner :p). Lagi, penelitian terbaru membantah hasil penelitian sebelumnya yang sudah lama dipercayai kebenaranya. Kali ini adalah tentang penyebab kanker (catet, bukan kantong kering lo ya). Sebelumnya, faktor genetik/keturunan, makanan berbahan kimia (misal: micin), dan gaya hidup yang kurang sehat (misal: merokok) dituduh menjadi biang penyebab kanker. Tetapi, penelitian terbaru dari Johns Hopkins University School of Medicine membuktikan bahwa ternyata sebagian besar kanker disebabkan karena faktor ‘bad luck’ saja. Yah karena sedang apes saja kata orang Jawa.

Belakangan memang penelitian terbaru di Inggris banyak yang membantah penelitian sebelum-sebelumnya yang dipercaya sudah mapan kebenaranya. Seperti susu, yang ternyata tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan. Apalagi kalau ada yang gembar gembor susu bisa mencegah osteoporosis dan bisa membuat anak balita bikin cerdas. Ternyata itu hanya propaganda industri susu kemasan. Pengecualian terhadap ASI yang sangat penting untuk bayi, susu buat balita ternyata tidak berdampak signifikan terhadap perkembangan otak dan pertumbuhan balita. Makanya disini susu tidak dianjurkan, yang dianjurkan adalah gizi yang seimbang. Bukan jamanya makanan 4 sehat 5 sempurna lagi, tetapi makanan sehat dan berimbang. Jenis makanan nya harus divariasi. Btw, masih ada ndak ya di Indonesia emak-emak yang suka membangga-banggain susu super mahal anak-anak nya? Saya hanya mau bilang duh sakno ne rek, dibodoni iklan tipi .

Dan juga tentang anjuran minum air putih 8 gelas sehari, yang ternyata juga penelitian terbaru membuktikan kalau itu tidak terbukti secara klinis berdampak baik bagi kesehatan. Saya sempat takut kenapa-kenapa, karena saya termasuk yang tidak suka banyak minum air. Pernah seorang teman mewanti-wanti saya untuk minum air putih 8 gelas sehari meskipun tidak sedang haus, apalagi di musim dingin. Alamak, sangat menyiksa diriku, karena setiap 30 menit harus ke kamar mandi. Alhasil, penelitian ini sangat menggembirakan saya yang hanya minum kalau merasa haus saja. Usut punya usut, anjuran minum air putih 8 gelas sehari juga ternyata hanya propaganda industri minuman air putih kemasan. Asyem tenan!

Refleksi Untung dan Buntung Dalam Hidup Kita

Kawan, pernahkah sampean merenung tentang perjalanan hidup sampean ini? Apakah hidup sampean benar-benar seperti yang sampean rencanakan dan usahakan, ataukah hanya seperti sebuah permainan, yang kadang-kadang menang dan kadang-kadang kalah. Terkadang kita merasa hidup kita penuh dengan keberuntungan satu keberuntungan yang lain. Terkadang juga, kita merasa hidup kita penuh dirundung  oleh duka.

Begitu juga kalau kita mengamati teman-teman yang kita kenal dekat kita.  Ada teman yang saya tahu hidupnya seolah beruntung terus, mujur terus. Seolah hidupnya penuh dengan drama ‘ndilalah kebetulan’. Saya dulu pas jadi mahasiswa, pernah punya murid yang terkenal di kelasnya sebagai the lucky girl. Dia itu anaknya pemalas sekali sebenarnya, tetapi katanya nasib baik selalu bersamanya. Nilainya selalu bagus, bahkan sampai tugas akhirnya pun mendapat pembimbing yang sangat helpful.  Pembimbing yang setiap murid berharap untuk dibimbing olehnya.

Saya juga pernah merasa selalu diberi kemudahan dan keberuntungan. Merasa sangat beruntung dibanding teman-teman seperjuangan. Dahulu, di antara teman-teman satu sekolah di STM Telkom Darul Ulum (Yang kebanyakan pelajaran elektronika dan tidak ada pelajaran Biologi), saya satu-satunya yang beruntung bisa lulus SPMB (UMPTN, sekarang SNMPTN ) di kampus dan jurusan yang sangat bergengsi waktu itu. Pas mau daftar ulang belum ada uang, ndilalah ada posko pendaftaran beasiswa. Menjelang lulus S1, ndilalah ada sebuah kampus dari negara tetangga yang bertandang ke kampus  dan menawarkan beasiswa S2 hanya modal wawancara dadakan yang tanpa direncanakan sama sekali sebelumnya. Menjelang ujian sidang tesis yang masih under review external supervisor, tiba-tiba dapat email dari mantan dosen penguji skripsi/TA diminta bantuan untuk ngajar di kampus almamater tercinta. Bahkan saya diminta segera pulang, karena tanpa sepengetahuan saya sudah dimasukkan plot mengajar.

Sebaliknya, saya ada juga seorang kawan yang hidupnya penuh dengan drama mesake. Padahal, dia seorang pribadi yang luar biasa. Pintar, tekun, pekerja keras, dan alim. Tetapi nasib baik seolah selalu enggan menyapanya. Waktu dia ingin lanjut ke SMA untuk kemudian lanjut kuliah, dia harus bersabar dan mengalah dengan kakaknya yang sedang di bangku SMA dan akan melanjutkan kuliah. Terpaksa harus masuk SMK dan bekerja setelah lulus sekolah. Dia harus mati-matian bekerja sambil kuliah di universitas swasta dengan biaya sendiri. Ketika dia ingin menjadi dosen dan harus lanjut S2, ndilalah kok ya dapat dosen pembimbing tesis yang agak ndak bener, yang membuatnya bertahun-tahun tidak lulus-lulus, bahkan harus mengulang dari awal penelitianya. Kehidupan pribadinya pun setali tiga uang, sudah menikah 10 tahun lebih, belum juga dikaruniai anak. Beban batin yang tidak ringan tentunya, apalagi kalau melihat teman-teman sebayanya banyak yang  menggelar pameran kelucuan balita nya di facebook.

Kawan, memang terkadang kita tidak selalu mendapatkan balasan setimpal dari setiap usaha kita. Pepatah berakit-berakit kehulu berenang-renang ketepian tidak selalu berarti bersakit sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tetapi, terkadang bersakit-sakit dahulu, malah mati kemudian. Juga, bersenang-senang dahulu, dan besenang-senang kemudian. Ada juga yang masa kecilnya dimanja-manja, mudanya foya-foya, tuanya kaya raya, mati pun masuk syurga.

Sebagai seorang muslim yang beriman, mungkin inilah makna dari beriman pada Qodho dan Qodar. Percaya adanya takdir. Percaya bahwa tidak semua yang terjadi adalah akibat dari sebab amal perbuatan kita sendiri.  Kita bisa jadi sudah berikhtiar sekuat tenanga, tapi sukses dan gagal adalah persoalan lain. Disinilah, bukti adanya kehadiran Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai orang yang beriman, kita tidak punya pilihan lain kecuali berdamai dengan takdir itu sendiri. Nerimo, legowo, dan ikhlas dengan segala takdir Tuhan adalah ciri-ciri kepribadian orang yang beriman.

Merayu Nasib Baik Berpihak Pada Kita

Melihat kenyataan bahwa apa yang kita peroleh tidak selalu setimpal dengan yang kita usahakan, terkadang membuat saya sering menduga-duga? Apa ya yang membuat seseorang selalu beruntung? Saya menduga seseorang yang beruntung itu mendapat musabab dari kebaikan orang lain. Entah karena bapak/ibu, kakek/nenek moyang dia yang sudah kerja mati-matian sebelumnya. Atau karena balasan kebaikan yang belum terbalas dari bapak/ibu, kakek/nenek moyang dia sebelumnya. Atau mungkin keberuntungan itu adalah jawaban do’a dari bapak/ibu, kakek/nenek moyang, guru-guru dan kyai-kyai dia. Bisa Jadi, bukankah hanya do’a yang bisa merubah takdir?

Apapun itu, kita harus ingat bahwa Allah Maha Adil, Allah tidak pernah mengantuk apalagi tertidur. Semuanya, insha Allah akan indah pada waktu yang tepat. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu beruntung (Muflihuun) tidak hanya di kampung dunia yang sementara ini, tetapi juga di kampung akhirat yang abadan abadan (selama-lamanya)Dan kita terhindar dari golongan orang yang merugi (muflis). Dan semoga kita senantiasa dikarunia jiwa yang ikhlas, nerimo,sumeleh, menjalani apa pun lakon drama kehidupan yang sedang kita perankan saat ini. Karena disitulah letak kebahagiaan yang sesungguhnya. Allahumma Ammiin.

Advertisements

6 comments

  1. Terimakasih pak. Posting ini datang diwaktu yg tepat *atau saya yg ndilalah scroll2 wordpress dan nemu postingan sampean* 🙂

  2. Semua indah pada waktunya… Betul sekali itu mas, biar sampe nyungsang njempalik kl Yang di Atas merasa blm waktunya ya ga ada hasil apa2, tp kl Yang Kuasa udah niat ngasih – ga minta pun dikasih…betul kan mas? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s