Mengapa nulis, Mengapa ngeBlog?

 … ngeBlog itu menulis sejarah, melukis kenangan, mengikat ilmu, dan mewariskan kearifan hidup, – A Random Thought.

Buku, Produk Budaya Menulis (Dok. Pribadi)

Entah mengapa bulan November ini saya rajin sekali nulis blog, bahkan kalau dituruti seharian nulis blog pun rasanya betah. Mungkin karena bulan ini saya punya perintah agung, menulis dua paper untuk jurnal internasional yang impact factor nya tinggi dari ndoro dosen pembimbing saya, yang deadline satu minggu lagi. Ditambah kerjaan ngoreksi sak dos (baca: 1 box) tugas mahasiswa ndoro dosen saya juga. Lah kok malah ngeBlog? mbuh wes, saya ini terkadang orangnya somplak alias rodok gendeng sitik. Tapi, saya yakin insha Allah selesai kok. Kalau sudah kemasukkan roh moody+, beberapa jam saja juga selesai.

Kawan, bagi sebagian besar orang Indonesia kegiatan menulis itu (apalagi menulis paper jurnal) adalah pekerjaan yang tidak mudah dan painful. Setiap hari, bisa jadi entah berapa ratus atau bahkan berapa ribu  kata keluar dari mulut kita? Tetapi, kalau disuruh menulis ide dan gagasan kita secara terstruktur dalam sebuah tulisan, rasanya  otak kita tiba-tiba menjadi beku, jari-jari kita mendadak jadi keram. Hanya, sedikit orang yang menemukan kegiatan menulis ini, sebagai kegiatan yang menyenangkan. Belakangan, saya sadar bahwa siapa pun kita, kegiatan menulis itu, menulis apa pun, menulis blog misalnya, adalah kegiatan yang sangat penting dalam hidup kita. So, Mengapa ngeBlog?

Untuk Menumbuhkan Budaya Menulis

Sebagian besar dari kita mungkin berfikir seseorang itu menulis karena tuntutan pekerjaan; sebagai wartawan misalnya, atau karena menulis itu adalah hobi seseorang. Pandangan itu ada benarnya, tetapi menurut saya tidak sepenuhnya benar. Saya lebih cenderung memandang bahwa kegiatan menulis itu sebagai budaya. Tulisan adalah produk sebuah peradaban manusia literacy.

Suparto Brata, sastrawan senior penulis buku Pertempuran 10 November 1945, yang namanya tercatat dalam Five Thousand Personalities of The World ,  pernah mengatakan1:

Membaca dan menulis adalah tonggak kuat untuk memajukan bangsa. Orang yang membaca dan menulis  adalah orang yang maju mengikuti jaman.  Orang primitif tidak membaca dan menulis, tetapi hanya melihat dan mendengar.

Fakta sejarah pun menulis demikian, kejayaan Islam, kebangkitan Eropa, kebangkitan Jepang diawali dari budaya kegiatan baca dan tulis yang fenomenal dan heroik. Sistem pendidikan di negara-negara maju sekarang pun demikian. Sejak dini, siswa sudah dibudayakan untuk mengembangkan critical thinking mereka dengan tugas-tugas menulis. Bukan menghafal, seperti lazim nya sekolah di Indonsia. Di Inggris, banyak sekali program master (S2), dimana dari mulai masuk sampai lulus, penilainya 100% hanya dari menulis essay dan disertasi saja. Tanpa ada ujian, presentasi, apalagi defense disertasi. Jadi 100% dinilai dari karya tulisan mahasiswa.

Fakta sekarang pun demikian, konon katanya sebagai perbandingan, di Indonesia yang jumlah penduduknya, sekitar 240 juta jiwa, pertahunya hanya ada sekitar 5000 judul baru. Sementara negara tetangga kita Malaysia, dengan jumlah penduduk hanya 27 juta jiwa, ada sekitar 15.000 judul baru, dan di Inggris yang memiliki jumlah penduduk 60 juta jiwa, terdapat setidaknya 100.000 judul buku baru pertahunya 2. Belum lagi kalau kita bandingkan jumlah publikasi ilmiahnya, kita juga kalah jauh. Jadi jangankan orang awam, guru dan dosen kita saja tidak memiliki budaya nulis.

So, dengan ngeBlog, setidaknya kita bisa menumbuhkan budaya menulis pada diri kita sendiri.

Menulis Sejarah, Melukis Kenangan

Terkadang saya suka berandai-andai, seandainya ya para mbah, buyut dan leluhur saya dahulu menuliskan cerita hidupnya dalam sebuah buku, meskipun dalam tulisan tangan pun. Saya sebagai anak cucu mereka, pastinya akan sangat bangga membaca buku sejarah keluarga saya. Tidak hanya tahu dengan pasti fakta sejarah keluarga saya, tetapi juga saya bisa belajar kearifan hidup dari leluhur saja, yang tentunya akan menjadi inspirasi hidup terus menerus bagi kami anak cucu nya, dan generasi sesudah kami berikutnya. Nyatanya, saya hanya tahu siapa nama mbah saya saja. Siapa buyut saya, bagaimana perjuangan hidup mereka dahulu, tak seorang pun tahu. Memang, sejarah adalah apa yang tertulis atau yang terlupakan selama-lamanya.

Terkadang saya juga membayangkan suatu saat di hari tua nanti, ketika saya sudah mulai pikun, saya masih sempat mendongeng untuk cucu cicit saya. Tidak hanya tentang cerita di negeri awang-awang dan negeri dongeng, tetapi juga tentang belahan dunia lain yang pernah saya lihat sendiri. Tentang lembut dan putihnya salju di musim dingin. Megahnya bangunan peninggalan romawi kuno. Tentang pelajar cina yang rajinya tidak ketulungan dalam belajar. Menceritakan dongeng kehidupan saya sendiri. Semuanya, itu tentu hanya jika kita tulisan yang bisa dibukukan.

Mengikat Ilmu

Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Kita memiliki daya ingatan, daya pikir yang terbatas. Apalagi ketika suatu saat usia kita sudah di penghujung senja. Dalam kitab ta’lim muta’alim, yang dipakai di pesantren, saya agak lupa apakah Imam Syafii atau Sayyidina Ali yang mengibaratkan ilmu itu seperti binatang tangkapan berburu kita, agar tidak lepas, maka kita harus mengikatnya. Cara mengikat ilmu adalah dengan menulis nya.

Kita diberi akal untuk memahami ilmu, untuk berfikir, berimajinasi, dan belajar dari pengalaman hidup. Kita juga dikaruniai hati untuk merasakan, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar pelajaran hidup. Dengan nya, setiap dari kita memiliki perspektif yang berbeda tentang bagaimana melihat dunia ini. Sayangnya, semua itu akan mudah menguap begitu saja, ketika kita lupa untuk menulis nya. Haruskah kita pasrah pada perspktif main stream?

Karenanya, blog bisa dijadikan sebagai personal knowledge management system, yang setidaknya bermanfaat buat diri kita sendiri. Syukur-syukur kalau manfaat itu menular kepada orang lain.

Mewariskan Kearifan Hidup

Kawan, jikalau gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya. Pernah ndak memikirkan, kalau sampean mati meninggalkan apa? Harta warisan yang tidak habis tujuh turunan? Sayangnya, tidak semua orang ditakdirkan kaya raya, dan harta warisan yang kita tinggalkan tak sedikit pun memberi manfaat pada kehidupan kita selanjutnya. Hanya anak sholeh, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat yang berguna untuk kehidupan kita selanjutnya.

Ketika seorang guru, kyai, ustadz, dosen, peneliti meninggal dunia? Bisa jadi, ilmun mereka tetap bermanfaat buat orang-orang yang pernah belajar kepada mereka. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang tidak pernah belajar kepada mereka?

Andai saja setiap guru, kyai, ustad, dosen, peneliti menuliskan ilmu nya , kearifan hidupnya, yang bermanfaat. Tentu selama tulisan itu masih ada, siapa pun orangnya, masih bisa ngalap manfaat ilmu yang mereka tulis.

Kawan, bayangkan, seandainya saja sampean menulis sesuatu yang bermanfaat dalam blog sampean. Kemudian, setiap hari ada seribu orang yang membaca blog sampean dan mereka terinspirasi, mengambil manfaat dari tulisan  sampean. Dalam setahun, sudah berapa ribu orang yang terinspirasi, mengambil manfaat? Di dunia nyata, rasanya berat sekali memberi kuliah kepada 1000 mahasiswa setiap hari, bukan? itulah sebabnya kita perlu menulis kawan!

Berbicara kepada Diri Sendiri

Berkomunikasi itu tidak harus berkomunikasi dengan orang lain (i.e. inter-personal). Tetapi, kita juga perlu berkomunikasi kepada diri sendiri (i.e. intra-personal). Buat saya, menulis blog itu seperti bicara kepada diri saya sendiri. Menulis blog juga menjadi media untuk menuangkan luapan emosi dan mengekspresikan keresahan jiwa saya. Serta tempat pelarian, kejumudan pikir dari hiruk pikuk rutinitas kita. Dan menurut hemat saya, itu semua baik buat kesehatan psikologis kita.

Itulah alasan-alasan saya mengapa saya ngeBlog? Saya yakin, setiap orang memiliki alasan yang berbeda untuk ngeBlog atau tidak ngeBlog. Lalu, bagaimana dengan sampean?

Tips Menulis Blog

Lalu, bagaimana tips memulai menulis blog? Bagaimana memunculkan ide tulisan untuk blog? Menurutnya, tipsnya hanya satu, shut up and write up ! tulis saja apa yang sampean pikirkan, rasakan, lihat, dan dengar dan teruslah menulis. Tak usah pedulikan seberapa buruk tulisan kita. Toh, kita tidak memaksa siapa yang akan membaca tulisan kita. Apa yang kita tulis, ya untuk kita, perspektif kita.

Buat saya, blog adalah sesuatu yang sangat personal. So, ora urus orang lain. Pemilihan kata, gaya penulisan ya ciri khas diri kita masing-masing. Kita bisa jadi, secara tidak sadar terinspirasi atau mengikuti orang lain. Tetapi, tidak perlu, secara sadar meniru gaya menulis orang lain. Seperti dalam kehidupan nyata sehari-hari, tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali ketika kita menjadi diri kita sendiri.

Semoga Menulis menjadi budaya kita semua, Ammiin!

Catatan Kaki:

  1. http://old.its.ac.id/berita.php?nomer=14335
  2. http://dmrosyid.wordpress.com/2007/08/20/indonesia-membaca-atau-bubar/
Advertisements

9 comments

  1. Aku lagi seneng main game e, blogku dadi suwe gak apdit. tapi wingi enek endorse an kemeja sih, walhasil kudu tak pekso nulis. Haha. Nulis blog memakan waktu minimal 3 jam kalau aku, belum blogwalkingnya, banyaaaaaak waktu dihabiskan untuk blogging. Tapi untungnya blogging jauh lebih bermanfaat dibanding facebookan.

      1. Huahaha sebenarnya aku ini manusia yg gak suka dikritik. Walhasil harus perfect. Ntar kalau ada yg ngritik aku delet komennya hahahaha..

  2. Iya kita harus budayakan menulis untuk pemuda2 kita yang masih bingung dengan hobinya, dari pada hobi ke negatif mendingan nulis yang punya banyak manfaat. kalau boleh tambahin inspirasi nya dapet dari mana aja pak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s