Mengintip Peradaban Sebuah Kota dari Sungainya

… bengawan Solo, riwayat mu ini. Sedari dulu jadi perhatian insani. Di musim kemarau, tak seberapa air mu. Di musim hujan … -Gesang.

Jembatan Sungai Trent, Nottingam

Jembatan, Bebek di Sungai Trent, Nottingam, UK (Dok. Pribadi)

Tidak berlebihan rasanya jika sungai atau kali (bahasa jawa) dikatakan banyak menyimpan sejarah peradaban manusia dari jaman ke jaman. Ibarat pembuluh darah dalam tubuh manusia, sungai memiliki peran penting dalam menyokong kehidupan umat manusia. Mengalirkan air kehidupan, membawa kesuburan, menawarkan sumber penghidupan dan keberkahan yang melimpah ruah, tetapi terkadang juga menjadi sumber petaka.

Ketika masyarakat masih hidup sederhana, daerah sekitar aliran sungai selalu menjadi daerah padat penduduk. Kerajaan-kerajaan dan pesantren-pesantren di tanah Jawa misalnya, biasanya mereka berada  di pinggir aliran sungai.

Rasanya, lagu mbah Gesang, Bengawan Solo, yang legendaris dan saya yakin akan selalu hidup itu, cukup indah melukis betapa pentingnya sungai di tengah-tengah peradaban umat manusia. Setiap sungai menyimpan riwayat cerita sendiri bagi orang-orang yang hidup di sekitarnya.

Kali Setail, Riwayat mu Dulu dan Sekarang

kali_setail_jemb_gantung_updated

Kiri: Sungai (Kali) Setail, Desa Plampangrejo. Kanan: Jembatan Bambu (Sesek Pring) Sungai setail (source: http://www.awedionline.com)

Buat saya pribadi, satu-satu nya sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari riwayat hidup saya adalah sungai setail, di dusun ringin pitu, desa Plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi. Sumber air sungai ini berasal dari gunung Raung, mengalir ke wilayah selatan kemudian ke wilayah timur kabupaten banyuwangi, dan bermuara di selat bali atau samudera hindia. Di pinggir sungai inilah mbah saya, mbah H. Abdul Fatah, memulai cerita kehidupan di tanah rantau, tanah osing Banyuwangi, setelah meninggalkan kampung halamanya di kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dan bertekad untuk tidak kembali lagi hingga akhir hayatnya. Bahkan, anak cucu nya pun tidak pernah diperkenankan tahu menahu dimana tepatnya kampung halaman beliau. Hanya karena sebuah alasan harga diri, tidak mau pulang kampung karena tidak mau dianggap meminta bagian harta warisan jika pulang ke kampung halaman.

Masa kecil saya menyaksikan sendiri bagaimana kali setail menjadi bagian kehidupan orang-orang di kampung kami. Kali setail yang airnya yang jernih dan segar, dengan pasir dan batu kerikil dari gunung raung yang melimpah, yang menjadi tempat mandi, cuci dan toilet terbuka untuk semua warga. Lelaki, perempuan, anak-anak, dewasa menjadi satu. Bahkan juga untuk sapi dan kerbau. Kali setail juga menjadi kolam renang gratis untuk anak-anak kampung. Lumban adalah istilah untuk berlama-lama berenang dan menyelam dalam air sungai. Argh, sungguh kenangan masa kecil yang teramat indah. Dan kenangan itu sekarang sudah benar-benar mati.

Saat itu, kali setail juga sumber kehidupan yang barokah. Ada puluhan jenis ikan sungai yang melimpah. Ada ikan tombro, tawes, wader, uceng, udang, empet, remis, lele, sepat, kocolan, dan ikan-ikan yang saya tak mampu lagi saya mengingatnya. Ikan-ikan itu begitu mudahnya didapat dengan dijala, dijaring, diseser, atau dijebak dengan besangan alias jebakan ikan yang dibuat dari lidi kayu bambu. Atau ketika kaline dilontor, yaitu ketika pintu air Dam/bendungan air untuk irigasi dibuka 3 bulan sekali, mengalirkan air warna kecoklatan. Ratusan warga desa berbondong-bondong pergi ke sungai, beramai-ramai, bersorak riang, menangkapi ikan-ikan sungai yang semaput minggir di bibir sungai dengan seser dan jaring. Duh, saya jadi kangen menikmati renyah dan nikmatnya rempeyek udang kali setail.

Pinggir kali setail juga tempat bermain yang indah. Gundukan pasir lembut bercampur debu adalah tempat yang sempurna untuk bermain perang-perangan. Dikelilingi rerimbunan tananman kerangkong yang bunganya berbentuk seperti terompet, berwarana putih keungu-unguan, dikerumuni seranga lady bug yang sayapnya indah berwarna-warni. Dan juga buah ceplukan yang rasa buahnya aduhai manis sekali. Serta pohon bendo, yang menjatuhkan biji-bijian yang kalau digoreng kereweng (penggorengan dari tanah liat, tanpa minyak) rasanya paling nikmat sedunia. Ada juga sasak gantung, jembatan gantung dari bambu di atas kali setail , penghubung desa lor kali dan kidul kali yang menjadi tempat bermain pemacu adrenalin paling menantang, yang tidak kalah dengan roller coaster.

Sekarang, setiap kali pulang kampung, aku biasa pergi duduk di pinggir sungai setail, sambil mengenang betapa indahnya masa kecil saya. Memandang aliran kali setail yang sedang sekarat dan kesepian. Mengenang ribuan kenangan-kenangan masa kecil yang telah mati. Air sungai yang dulu airnya jernih dan mengalir, kini tak ubahnya bak kubangan kerbau, tercemar dan kotor. Bebatuan dan pasir sungai yang dulu melimpah sudah habis dijual warga ditukar dengan lembaran rupiah-rupiah. Jangan tanya akan ikan, udang, empet dan remis ! Mereka semua sudah musnah, sejak sebagian warga ada yang serakah membunuh seluruh penghuni alami sungai dan bayi-bayi nya dengan obat kimia pembunuh serangga.

Jangan tanya pula gerombolan anak-anak yang dulu bermain riang di pinggir sungai. lumban berjam-jam di tengah aliran sungai yang mengalir deras. Yang ada hanyalah sepi. Sungai yang sudah sekarat hampir mati, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Warga pun yang dulu selalu mandi bersama, sekarang sudah punya kamar mandi keluarga. Pun, anak-anak yang dulu selalau bermain bersama, sekarang mereka asyik di depan TV keluarga. Keluarga sudah menjadi penjara-penjara kecil bagi warga desa, yang dulu seolah-seolah mereka adalah satu keluarga.

Inikah yang namanya kemajuan jaman yang menjanjikan segala kemudahan dan perbaikan itu? Tapi, entahlah hati saya selalu seperti merasa kehilangan yang teramat dalam. Kehilangan suasana masa lalu yang selalu saya rindukan setiap pulang ke kampung halaman.

Pesona Sungai Trent, Nottingham

Di salah satu akhir pekan pada musim panas kemaren, untuk mengobati kangen akan kampung halaman, saya bersama keluarga bermain menyusuri Sungai Trent yang berada di pinggir kota Nottingham. Lokasinya, tidak jauh dari city centre, naik bus nomor 1-10, hanya butuh waktu sekitar 10 menit. Turun di Jembatan Trent, yang lokasinya berdekatan dengan stadion Nottingham Forest, klub sepak bola kebanggaan warga Nottingham. Entahlah, ketika menyusuri sungai ini, kenangan indah masa kecil saya terasa hidup kembali.

Sungainya sangat well-developed , sepertinya dibangun dengan penerepan hydrology yang mutakhir. Airnya jernih seperti kaca, airnya melimpah, mengalir mengelilingi kota Nottingham. Ada rerimbunan pohon dan rerumputan hijau yang terawat rapi menghadirkan suasana pedesaan , memanjakan mata memandang . Suasananya tenang, hawanya teduh, udaranya segar.

Main di Pinggir Sungai

Main di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Di sisi kiri dan kanan sepanjang aliran sungai ada jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang cukup lebar. Lengkap dengan kursi-kursi kenangan yang menghadap ke sungai. Di akhir pekan itu, saya melihat banyak orang, tua, muda, anak-anak, berlalu lalang menyusuri pinggiran sungai dengan berjalan kaki atau bersepeda. Ada juga yang memancing ikan, atau sekedar duduk manis di kursi-kursi kenangan sambil membaca buku sendirian, menghadap aliran sungai.

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda Yang Luas (Dok. Pribadi)

Dalam airnya yang jernih, masih terlihat tanda-tanda kehidupan ikan. Gerombolan burung pelikan, camar, bebek, dan angsa pun ikut meramaikan suasana sungai yang indah dan hangat di musim panas itu. Mereka seolah hidup damai berdampingan menciptakan sebuah harmoni alam.

Sepedahan di Pinggir Sungai

Sepedahan, Mancing, di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Ada Jembatan cantik di atas sungai, yang menarik dijadikan latar belakang foto pre-wedding. Ada juga perahu-perahu bersandar di tepi sungai, dan boat trip mengelilingi kota nottingham via jalur sungai yang juga background foto-foto yang indah. Di sekitar pinggiran sungai itu juga terdapat lapangan olah raga yang luas, taman bermain anak-anak dengan berbagai jenis permainan lengkap dengan kolam renang gratis. Puluhan bahkan mungkin ratusan anak-anak berkumpul, bermain gembira, betah berjam-jam disana. Sungguh, bak syurganya anak-anak.

Boat trip di Sungai

Boat trip di Sungai (Dok. Pribadi)

Di tempat ini, di pinggir sungai ini, kenangan masa kecil ku yang telah mati seolah hidup kembali dan hadir kembali. Sungai yang hidup, alam yang harmoni, dan tawa ceria anak-anak di pinggir sungai itu seolah menghadirkan masa kecil saya kembali. Ratusan bahkan ribuan supporter sepak bola yang berjalan berduyun-duyun sepanjang pinggir sungai menuju stadion Nottingham forest itu mengingatkan ku pada menjelang ritual sepei di kali setail.

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Argh ternyata, kemajuan jaman tak harus membunuh kenangan. Ternyata, kemajuan jaman tak harus membinasakan harmoni sang alam. Bahkan justru melestariakan. Tiba-tiba, saya bermimpi, suatu saat kali setail saya yang sekarat hampir mati, suatu saat akan hidup kembali seperti sungai Trent Nottingham ini. Tapi, entah kapan?

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s