Dua Tangisan yang Ditunggu-tunggu

… pada setiap kelahiran juga menyisakan sejumput tanya. Akankah bulir-bulir padi di sawah, polo wijo, polo gumantung, dan polo kependem yang melimpah ruah di kampung kami, mampu memberi pangan si Jabang bayi hingga dewasa nanti? Masihkah udara yang segar, air yang jernih tetap lestari setidaknya satu abad lagi, untuk kehidupan sang jabang bayi di kemudian hari? Argh, kenapa pusing memikirkan, bukankan setiap jabang bayi merah yang lahir procot dari rahim ibu nya itu, sudah ditanggung rejekinya sama Tuhan Sang Maha Pemelihara kehidupan. – A Random Thought.

Nur Hafidz

Aditia Ahmad Nur Hafidz, Umur 1 hari (Fotografer: Bek Jizah)

Kawan, di dunia ini, ternyata tidak semua tangis adalah pertanda duka lara. Tidak semua tangis, harus disambut dengan hati pilu dan jiwa penuh nestapa. Sebaliknya, ada tangisan yang justru ditunggu-tunggu. Tangisan yang disambut dengan senyum penuh syukur kebahagiaan oleh orang-orang di sekitarnya. Itulah tangisan jabang bayi yang lahir procot dari rahim ibu nya.  Tangisan pertanda dimulainya sebuah awal kehidupan baru seorang anak manusia. Tangisan yang melahirkan sejuta harap dan ribuan doa-doa. Harapan dan doa akan sebuah perubahan kehidupan yang lebih baik.

Kawan, dalam sebulan ini betapa melimpah ruah kebahagiaan yang membaluri hati saya. Di bulan suro, bulan pertanda  tahun baru Islam ini saya mendapatkan kabar tangisan kebahagiaan itu, dua sekaligus. Pertama, seorang bayi laki-laki dari Paman saya, adik kandung ibu saya, Lek Iman dan Bek Tufi. Melengkapi anak lelaki pertama mereka yang sudah genap berumur satu dasawarsa. Bayi yang ganteng itu bernama Aditya Ahmad Nur Hafidz. Sebuah nama yang tentunya penuh harap dan do-doa.

baby boy

Ahmad Abdurrahman Albustomy, Umur 1 hari (Fotografer: Bek Jizah)

 

Kedua, seorang bayi laki-laki lagi, lahir dari rahim adik kandung saya. Dek Im dan dek Huda, di keluarga pasangan bahagia ini, si jabang bayi juga melengkapi anak sulung lelaki mereka yang juga hampir berumur satu dasa warsa. Si Jabang bayi bernama Ahmad Abdurrahman Albastomy itu adalah cucu ketiga dari orang tua saya, yang ketiganya laki-laki, termasuk anak saya. Rupanya, Tuhan sangat pemurah, mengaruniakan anak laki-laki dalam keluarga kami. Anak laki-laki, yang tentunya dalam budaya masyarakat Jawa yang patriarkhi, dipandang lebih dari anak perempuan. Jangkahe luweh dowo (baca: langkah nya lebih panjang), kata emak saya. Meskipun, pandangan itu kian memburam di tengah riuh arus kemajuan jaman dan pikiran.

Kebetulan pada keduanya terselip nama Ahmad. Nama, yang juga melekat pada diri saya.  Sebuah nama, untuk tabarrukan (baca: mengharap berkah) dengan nama kanjeng nabi Muhammad S.A.W. Tapi mungkin, tidak semua yang bernama Ahmad dipanggil Ahmad dalam keluarga mereka. Bahkan jarang sekali, yang memiliki nama Ahmad dipanggil Ahmad, karena biasanya hanya nama ‘pemanis’ atau nama tabarrukan saja. Dan saya mungkin salah satu yang sedikit itu, dipanggil Ahmad dalam keluarga kami.

Pada setiap kelahiran, selalu terselip do’a-do’a dan harapan. Begitu juga tak lupa do’a dan harapan ku untuk dua jabang bayi itu. Anak yang soleh, yang yang kenal dan takut pada Tuhanya. Berbakti pada kedua orang tua, bangsa dan negaranya, serta berbuat baik dan memberi manfaat selalu terhadap sesama. Berharap rejeki yang semakin melimpah dan penuh berokah, nasib, kehidupan, pendidikan, dan garis takdir yang jauh lebih baik dari kedua orang tuanya.

Pada setiap kelahiran juga menyisakan sejumput tanya. Akankah bulir-bulir padi di sawah, polo wijo, polo gumantung, dan polo kependem yang melimpah ruah di kampung kami, mampu memberi pangan si Jabang bayi hingga dewasa nanti? Masihkah udara yang segar, air yang jernih tetap lestari setidaknya satu abad lagi, untuk kehidupan sang jabang bayi di kemudian hari? Bagaimana juga dengan nasib pendidikanya nanti? Bagaimana juga dengan pekerjaanya nanti? Apakah pemerintah akan memikirkan nasib para jabang bayi ini? lahwong Yang sekarang saja, mereka begitu mengabaikanya. Lihat saja bagaimana nasib anak-anak di pedalaman Papua? Nasib anak-anak buruh yang mencari penghidupan di perkebunan kelapa sawit di pedalaman hutan di negeri tetangga?Argh, kenapa pusing memikirkan, bukankan setiap jabang bayi merah yang lahir procot dari rahim ibu nya itu, sudah ditanggung rejekinya,sudah diatur nasib dan takdirnya sama Tuhan Sang Maha Pemelihara kehidupan.

Yang jelas, Si jabang bayi itu sudah tak bisa mendengar merdunya suara dan melihat keindahan bulu burung prenjak, burung kutilang, manuk emprit, manuk trocok, manuk srikatan, manuk deres, dan manuk-manuk lainya. Yang dahulu selalu dengar dan saya saksikan di setiap pagi. Si Jabang bayi itu juga tidak akan pernah tahu bagaimana rupa ikan melem, ikan tawes, ikan wader, ikan uceng, udang, empet, sepat, kutuk dan ikan lainya yang dulu pernah hidup begitu melimpah ruah di sungai dan sawah kami. Si Jabang bayi juga tidak akan pernah tahu bagaimana tanaman kopi, melinjo, jambu wer, jambu mente, jambu klutuk, sukun, kluwih, nangka, kenitu, dan tanaman lainya yang dulu tumbuh subur di belakang rumah kami. Si Jabang bayi pun juga tidak akan pernah tahu bagaimana luwak, bajing, ampal, jentrung, jangkrik, garengpong, bunglon, dan hewan-hean liar lainya pernah hidup berdampingan mesra dengan kami.

Pada setiap kelahiran selalu mendera rasa kerinduan pada kanjeng nabi. Rindu yang disenandungkan dalam bait-bait syair berzanji di malam umur sepasar (5 hari) si jabang bayi. Ketika ritual mahalul qiyam dan sholawat: Ya nabii…  salam ‘alaika, Ya Rosoul salam ‘alaika,……Anta Syamsun anta Badrun … berkumandang.  Dan beberapa helai rambut si jabang bayi dipotong oleh pak modin, kyai kampung yang dituakan di kampung. Do’a-doa pun dipanjatkan, agar ssi jabang bayi meneladani akhlak kanjeng nabi.

Pada setiap kelahiran juga meninggalkan sebuah pesan, untuk menjauhi setiap keserakahan.  Betapa, alam warisan nenek moyang kita ini harus tetap lestari  tidak hanya untuk kehidupan kita saja. Tetapi, juga untuk kehidupan setiap bayi-bayi merah yang lahir setiap detik di atas alam ini. Alam ini bukan untuk generasi kita saja, tetapi juga untuk generasi-generasi sesudah kita. Anak, cucu, cicit, dan keturunan kita selanjutnya juga berhak atas alam ini. Daripada menebang sebuah pohon, lebih baik menanam sebuah pohon. Meskipun buah nya bukan kita yang menikmati. Tetapi, anak-cucu kita yang akan menikmati. Daripada mewariskan kemelaratan, alangkah indahnya bila kita mati mewariskan kemakmuran untuk anak, cucu, cicit kita.  Semoga kita bisa !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s