Sukses ku, Sukses kamu, dan Sukses kita

Success is to be measured not so much by the position that one has reached in life as by the obstacles which he has overcome. – Booker T. Washington

mahasiswa_ku

Sebagian Mantan Mahasiswa Saya (Dok. Pribadi)

“… Alhamdulilah Cak, Si Anu sekarang bekerja di perusahaan XYZ di Jakarta, bahkan sekarang sudah ambil kredit Mobil lho.”

Itu adalah salah satu penggalan wawancara eksklusif saya  dengan salah satu mantan mahasiswa saya di satu kesempatan. Kebetulan mahasiswa tadi adalah salah satu dari angkatan pertama (i.e. 2009) yang pernah saya ajar. Lebih tepatnya, angkatan kelinci percobaan pertama saya dalam rangka belajar mengajar di salah satu kampus tersohor di kota Pahlawan. Karena kelinci percobaan pertama, saya nyaris hafal semua nama dari mahasiswa yang jumlahnya 180 an itu. Sebuah prestasi yang luar biasa buat saya yang tergolong sangat sulit untuk mengingat nama seseorang. Terkadang, saya merasa kasihan sekali mereka, karena harus bertemu saya yang belum punya jam terbang mengajar yang memadai di dua semester tahun pertama, kemudian bertemu saya lagi di Tahun terakhir di salah satu mata kuliah pilihan yang baru pertama kali dibuka tahun itu, sebelum akhirnya saya ngacir ke Nottingham. Kok, ndilalah salah satu dari mereka itu ( sebut saja namanya Fulan), ada yang nyusul saya di sekolah dan kampus yang sama untuk melanjutkan sekolah jenjang master. Mungkin, karena saking ngefan nya ke saya, sampek-sampek, saya sudah ngacir ke Nottingham pun masih dikerjar pula, hahahaha.

Bak Alvin Adam yang sedang mewancarai artis di acara Just Alvin, saya kepoin si Fulan. Setiap mahasiswa yang muncul di kepala saya, saya tanyain bagaimana kabarnya satu persatu. Si A sampai Z tak satupun luput dari sergapan pertanyaan saya yang kadang terlalu detail. Sebenarnya, saya diam-diam sudah stalking facebook beberapa mantan mahasiswa saya, hanya saja banyak untold story yang saya dapat  dari Fulan. Beuh jian, rasanya itu bangga bingit dan rasanya tuh disini *sambil megang belahan dada* mendengar mahasiswa-mahasiswa yang baru saja lulus itu, sudah bekerja di perusahaan-perusahaan besar di kota besar. Tidak hanya, perusahaan nasional dan multi-nasional bahkan perusahaan asing. Ada yang sedang training di salah satu kota kesohor di negeri paman sam. Ada juga yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri di Eropa, Korea, Jepang. Pun, ada yang sudah terlihat sukses berani memulai membuka usahanya sendiri. Sepertinya, meskipun jurusan kami relatif baru di kampus kami, tidak sulit buat mereka untuk mendapatkan pekerjaan bagus, hanya beberapa minggu setelah atau bahkan sebelum diwisuda.

Saya jadi ingat mereka di Tahun pertama dahulu. Di salah satu mata kuliah Pengantar, untuk mengasah kemampuan problem solving dan melihat seberapa meresap materi kuliah  yang mereka pahami, saya memberikan studi kasus permasalahan di sebuah perusahaan. Yang berbeda adalah, saya meminta mereka untuk tidak sekedar berdiskusi. Tetapi juga membuat sebuah role play. Semua mahasiswa saya minta berpakaian office look dan mereka saya suruh berpura-pura menjadi manajer-manajer di setiap fungsi bisnis perusahaan. Ada yang jadi general manager, manajer keuangan, manajer SDM, CIO (Chief Information Officer) dan sebagainya. Di kelas, mereka saya minta untuk berpura-pura mengadakan meeting besar dalam rangka menyelesaikan permasalahan kritis yang sedang melanda perusahaan abal-abal mereka. Saya pun, hanya senyum-senyum sendiri di pojok kelas melihat kelucuan mereka. Seperti menonton shooting sinetron gratis.

Rupanya, sekarang mereka saat ini tidak lagi berpura-pura bekerja di perusahaan besar abal-abal, tetapi beneran sudah bekerja di perusahaan-perusahaan besar di dunia nyata. Sungguh, sebagai mantan guru mereka, rasa bangganya itu tak mudah dilukiskan dalam untaian kata-kata. Mungkin, begitulah yang dirasakan oleh setiap guru yang melihat murid-murid nya berhasil. Benar, kata orang bahwa sukses yang sebenarnya adalah ketika kita bisa menjadi bagian dari kesuksesan orang lain. Guru yang baik adalah guru yang mampu menghantarkan muridnya menjadi lebih baik, lebih pintar dan lebih sukses dari dirinya sendiri.

sukses_itu_sederhana

Mengayuh Sepeda, Leuven, Belgia (Dok. Pribadi)

Hanya saja, dari wawancara saya tadi ada yang sedikit yang mengganjal di hati saya. Tersirat, menurut mereka, dan mungkin kebanyakan dari kita, ukuran sukses itu adalah bekerja di perusahaan besar, di kota besar, dengan gaji yang besar pula. Hidup dengan gaya hidup ala wanita sosialita dan pria flamboyan seperti di sinetron-sinetron. Mobilnya mewah, rumahnya megah, perusahaanya bonafit. Tongkronganya di Mal-Mal. Liburanya ke luar negeri. Sebuah ukuran sukses masyarakat yang terjangkit virus consumerism binti materialism.  Sehingga seringkali, Merek Mobil dan Gadget, dijadikan ukuran kesuksesan seseorang. Padahal, sebenarnya menurut saya mereka adalah korban bodoh dari Industri Manufaktur Mobil dan Gadget yang mencari konsumen dengan iklan dari program marketing nya yang dahsyat, yang bisa merubah filsafat hidup seseorang.

Tetapi benarkah ukuran kesuksesan itu dari merk Mobil dan Gadget nya?

Takdir hidup yang membawa saya bisa merasakan hidup di tengah-tengah masyarakat Inggris, dan beberapa negara maju di Eropa lainya, membuat saya melihat langsung betapa bahwa ukuran sukses menurut mereka sangatlah berbeda dengan ukuran orang Indonesia pada umumnya. Jikalau anda mengukur sukses diri anda atau orang lain dengan merek mobilnya, lihatlah di negara-negara Eropa, yang notabene negara produsen mobil-mobil mewah. Masyarakatnya, lebih senang kemana-mana naik sepeda pancal dan atau public transport. Datanglah ke kota Cambridge, Inggris. Brussel, Ghent, Lueven di Belgia. Atau di Amsterdam, Delf, Twente, Endoiven dan semua kota di  Belanda. Anda akan melihat seperti Indonesia di tahun 60-an. Dimana-mana sepeda pancal adalah alat transportasi utama. Hal ini membuat kota-kota ini sangat nyaman untuk ditinggali, udaranya segar dan teduh, tidak ada makhluk Tuhan paling menyebalkan di dunia bernama Macet. Coba bandingkan dengan kota Jakarta !

naik_sepeda_belanda

Supporter Sepak Bola Ngeluruk Ke Stadion, Eindhoven Belanda (Dok. Pribadi)

 

Disini, saya jadi melihat betapa kesuksesan itu sangat personal buat setiap orang. Setiap orang berhak mendefinisikan sendiri-sendiri arti kesuksesan dalam hidupnya. Sukses itu, jika setiap orang berhasil menemukan passion dan menjalani passion nya masing-masing dalam hidup. Tidak ada ceritanya, Jadi dokter dan insinyur itu lebih sukses dari seorang pelukis dan penari. Tidak ada ceritanya jadi Manager di perusahaan besar itu lebih sukses dari seorang peneliti monyet. Sayangnya, pendidikan kita pun sudah terjangkit virus virus consumerism binti materialism juga. Sehingga, sekolah bukanya menjadikan siswa menemukan passion hidupnya masing-masing, tetapi menjadi tempat doktrinisasi pemikiran tentang sukses menurut madzab consumerism binti materialism.

Tetapi, kita tidak bisa juga gebyah uyah seperti itu. Saya punya seorang sahabat, sama-sama dari desa. Kenal dari SD, satu kelas jaman SMP, hingga sekarang masih keep in touch. Sahabat saya ini sangat hebat sekali menurut saya. Meskipun sudah menjadi salah satu manager di sebuah perusahaan telco besar di Jakarta, sahabat saya ini bukanlah orang desa yang gampang kagetan. Banyak orang desa yang awalnya miskin, kemudian berhasil di luar desa, lebaran menjadi ajang pameran kekayaan. Sepertinya, bangga kalau ada orang kampung kaget harus minggir, ketika mobil mewahnya lewat jalan desa yang sempit dan dari jaman londo dulu belum diaspal. Sahabay saya ini sama sekali bukan termasuk orang-orang yang ikut aliran itu.

Setiap ada kesempatan di Jakarta, saya selalu mampir di kos-kosan nya yang sangat sederhana dan sempit. Tidak jauh beda, sama kos-kosan saya dulu jaman mahasiswa. Pun, sampai sekarang jadi manajer tetap di kosan yang sama. Ke kantor pun hanya jalan kaki, melewati gang-gang sempit yang kumuh. Dandananya ndak umum, harikotul ‘adat ,  para manajer padaghalib nya. Pakek celana kain sederhana, dan baju lengan pendek yang sepertinya juga tidak mahal. Jangankan pakek dasi dan jas rapi ala pria flamboyan , lahwong bajunya saja tidak dimasukkan. Oh iya, gadget nya pun made in China. Oalah lek sampean iki manager cap opo? batin ku suatu saat ketika diajak main ke kantornya. Sahabat saya ini, dengan senang hati menemani saya melipir-melipir keliling Jakarta dan sekitarnya. Kalau ndak ngantri bus way, gelayutan bus metro mini, ya berdesak-desakan naik KRL. Paling-paling kalau kemaleman, di atas jam 12 malam, kita naik taksi. Makanpun masih milih yang murah meriah di Warteg.

Pernah suatu saat, saya menemani dia ngawasin, lebih tepatnya bayarin, para anak buahnya di kantor yang sedang main futsal. Pas pulang, ketika anak buahnya pada menuju parkiran mobil, tapi si sahabat dan saya hanya jalan kaki menuju halte busway terdekat haha. Salut sekali, saya pada kesederhanaan, kebersahajaan dan kebaikan sahabat saya satu ini. Kalau pulang kampung pun masih seperti biasa, naik kereta api. Terus kalau saya kebetulan di rumah, selalau main ke rumah saya, dan selanjutnya melipir bareng ke teman-teman dan guru-guru jaman SMP pakek sepeda motor. Semoga sahabat saya yang satu ini tetap istiqomah, ajeg jejeg dalam kesederhanaan dan kebersahajaanya.

Hidup sederhana dan bersahaja seharusnya sederhana lumrah, dan biasa saja. Tapi, entahlah belakangan hidup sederhana dan bersahaja itu menjadi tidak sederhana dan tidak lumrah, di kota-kota  besar di negara kita. Ndak kebayang, betapa rumitnya perasaan kita, ketika teman-teman sekantor pada jor-joran dengan mobil barunya, sementara kita berusaha hidup bersahaja dengan naik sepeda ontel misalnya. Kita pasti di stempel yang paling tidak sukses oleh orang-orang yang hanya melihat kita dari balik jendela. Terlepas  bagaimana sampean mendefinisikan apa itu sukses. Semoga Tuhan menakdirkan sukses buat saya, sukses buat sampean, dan sukses buat kita semua. Tidak hanya di dunia tentunya, tetapi juga di kehidupan abadi kampung akhirat. Allahumma Ammiiin…

Advertisements

6 comments

  1. Aku suka postingnya, cak Shon… Bagus dan sepakat 😀

    “Disini, saya jadi melihat betapa kesuksesan itu sangat personal buat setiap orang. Setiap orang berhak mendefinisikan sendiri-sendiri arti kesuksesan dalam hidupnya. Sukses itu, jika setiap orang berhasil menemukan passion dan menjalani passion nya masing-masing dalam hidup.”.

  2. Reblogged this on Scripta Manent Verba Volant and commented:
    Inilah fenomena negeriku : ketika semuanya dinilai dari apa yang tampak, bukan dinilai dari apa yang tidak tampak. Ketika gengsi jadi pertimbangan benar-salah. Ketika yang si kaya membutuhkan pengakuan atas kekayaannya dan si miskin pun tidak mau kalah dengan bergaya punya agar dianggap kaya. Semua dinilai dari sisi materi.

    Apa yang salah dari hidup sederhana? Gengsi makan lauk hanya tahu-tempe? Toh makan pizza pun, 8 jam kemudian akan tetap lapar. Jadi buat apa buang-buang uang untuk sekedar membeli gengsi?

    “Hidup sederhana dan bersahaja seharusnya sederhana lumrah, dan biasa saja. Tapi, entahlah belakangan hidup sederhana dan bersahaja itu menjadi tidak sederhana dan tidak lumrah, di kota-kota besar di negara kita.”

  3. Huahahha… kena deh teman2ku yg pernah membullyku dengan bilang, “Kapan majune ndop nek panggah ngontel ae?”

    Ya lihat saja deh, aku sama mereka bahagiaan mana. Paling maksimal ya sama bahagianya. Rata2 paling bahagiaan aku lah. Bangun tidur ak gak mikir apa2. Bangun tidur mereka mikir biaya cicilan, harus ngantor pagi2 terikat aturan dll.

    Suwun postingane kak Son, gaya hidupku emang tak miripne koyok wong luar negeri tapi sing rodok santri sitik gak atek mabuk2an hahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s