Melukis Sketsa Hujan

Hujan
Hujan,
Pagi ini kau menyambut bangun tidur ku,
di akhir pekan pertama ku, di bulan November ini.

Tik, tik, tik ….
Suara tetesan mu, yang terjatuh dari atap rumah,
Membangun kan tidur malam panjang ku di awal musim dingin ini.
Memecah kesunyian alam di pagi yang masih teramat perawan.
Menyempurnakan kemalasan ku, melepas penat di akhir pekan.

Hujan…
Ku tatap nanar lukisan sketsa mu, yang membasahi dinding jendela kaca rumah ku.
Aku selalu damai mendengar suara percikan mu,
Aku selalu rindu sketsa lukisan mu.

Mulut ku membisu,
Hatiku hanya bicara dengan diri mu.

Hujan,
Kau mengajak angan ku
Mengenang kebiasaan-kebiasaan kecilku,

Melihat mu dengan hati, dari balik jendela kaca rumah ku.
Menghirup harum semerbak bau mu,
Meredam debu-debu di setiap jengkal tanah kampung halaman ku yang telanjang.

Merasai segar airmu,
dari gerojogan yang tumpah ruah dari talang atap rumah ku
Bak di bawah air terjun di kaki gunung lawu.

Hujan,
Kau menuntun ku untuk merindu
Pada hangatnya, teh panas kentel manis
dan pisang goreng manget-manget buatan emak ku

DSC_1006

Argh hujan …
Sayang, ada sinar surya mengusir mu perlahan.
Memenuhi janji menghangatkan pohon dan ranting-ranting
yang kedinginan dan kesepian
ditinggalkan daun-daun yang hampir habis berguguran.

Argh hujan …
Sayang, aku tak pernah bisa melukiskan keindahan mu
dengan kata-kata indah laiknya para Pujangga.

Argh… hu jan …

 

Nottingham, 1 November 2014
Pecinta Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s