Media dan Pelacur

…. media itu seperti pelacur, dia siap melayani kepada siapa yang mau membayar. – Seorang kawan.

Be Ha diObral

Ilustrasi: Summer Big Sale

Semenjak ramai pemilu pemilihan presiden kemaren, saya jadi orang yang sangat antipati dengan yang namanya media. Apalagi yang namanya media berita online mainstream . Saya heran, sebegitunya orang-orang memuja calon presiden yang disanjungnya, sampai-sampai kehilangan nalar kritisnya. Seolah, setiap inci dari bagian kehidupanya menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diberitakan. Saya eneg dan muak dengan itu semuanya. Mungkin itu salah satu sebab, saya yang semula suka dengan gaya kepemimpinanya, justru eneg dan berharap bukan dia yang memimpin negeri ini, ketika dia secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden.

Aneh tapi nyata, ternyata apa yang saya rasakan sama persis yang dirasakan beberapa teman ‘dekat’ saya. Meskipun, kami terpencar-pencar di tempat-tempat yang berbeda dan hanya berkomunikasi lewat social media. Mungkin, inilah yang disebut dengan homofilia dalam kajian ilmu Sosiologi. Salah satu teman ‘dekat’ saya bahkan secara ekstrem menyayangkan betapa bodohnya orang Indonesia ini dikibuli oleh media. Dia bilang, mengutip kata guru ngaji  nya: ” Media itu seperti pelacur, yang siap melayani siapa saja yang mau bayar”. Hemat saya, pernyataan itu lebih banyak benarnya daripada salahnya, dengan catatan tidak menyempitkan makna ‘bayar’ dengan ‘memberi uang’.

Pun, ketika sang calon presiden itu pada akhirnya benar-benar menjadi pemimpin negeri ini. Rasa antipati saya dengan media pun semakin menjadi-jadi. Media semakin jauh dari ekspektasi saya dari sebuah media yang ideal menurut pendapat saya. Alih-alih, berani mengkritisi pemerintah atau menyuarakan the silent majority , media tidak lebih dari sekedar congor pemerintah yang baru. Lagi, seolah semua kebijakan, tingkah laku, dan setiap inchi sisi kehidupan pemimpin nomer satu negeri ini berikut orang-orang disekitar nya, semuanya adalah prilaku yang nyaris tanpa cela.  Apa jadinya, jika media sudah kehilangan nalar kritisnya?

Saya yakin, diluar sana, banyak sekali yang lebih banyak berbuat untuk negeri ini, tetapi memilih jalan sunyi. Tak dikenal dan tidak pernah didengar. Merkalah para pengabdi negeri yang sejati. Dan saya sangat yakin, di padang mahsyar akhirat nanti, kita akan tahu bahwa ternyata banyak sekali orang-orang yang sangat terkenal dan mulia di ‘bumi’ tapi tak terdengar di kerajaan ‘langit’. Begitu pula sebaliknya, banyak yang tak pernah terdengar namanya di ‘bumi’, tetapi terkenal dan mulia di kerajaan ‘langit’.

Tetapi, bagaimana pun, saya harus berterima kasih kepada media online mainstream, yang telah membuat saya antipati. Sehingga, saya bisa menggunakan waktu saya yang singkat untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, dari pada membuangnya percuma untuk sekedar update berita.  Dan semoga kita, sebagai konsumen berita, bisa menjadi konsumen berita yang kritis. Kalau boleh mengutip kata-kata  Si Genius Albert Enstein:

“Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is to not stop questioning.” – Albert Einstein

Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s