Seorang Ayah dan Anak Lelakinya

… biarlah cerita hidup mengalir begitu saja, mengikuti alur yang tak pernah kita tahu dengan pasti ujung dan pangkalnya. Penuh misteri, penuh dengan kejutan-kejutan. Ada tangis pilu menggores perih luka di hati. Ada tawa yang meledak-ledak. Ada keindahan simfoni cinta lembut membelai jiwa.  Ada kerinduan menyayat  batin. Ada amarah dan dendam menyesakkan dada. Rasanya, kita tak perlu menerka-nerka jawaban untuk setiap teka-teki kehidupan. Tak perlu terlalu mengatur setiap inchi detail hidup kita. Buat apa? Jika ada Dia yang Maha Tahu dan Maha Mengatur kehidupan kita.

Satu Senja di York

Ayah dan Anak Lelakinya: Satu Senja di York

Rasanya, waktu berlari begitu cepat. Seolah, tak pernah memberi kesempatan kepada mereka yang menunggu. Terkadang, aku hanya bisa mengumpat, dan mengutuk diri sendiri yang tak pernah tersadar untuk berlari cepat mengejar angan dan mimpi yang bergelut dengan sang waktu. Tapi, terkadang akal sehat ku bertanya: buat apa aku terlalu ngoyo mengejar capaian hidup, jika aku tak pernah tahu bagaimana menikmatinya?

Memasuki usia 30-an dan menjadi seorang ayah. Ini adalah fase kehidupan yang baru saja aku jalani. Di fase ini, mungkin setiap orang mengartikan nya berbeda-beda. Mungkin, buat sebagian besar orang adalah fase bekerja keras untuk menumpuk-menumpuk kekayaan, membangun titian emas untuk sebuah kursi empuk jabatan dan kedudukan, serta sejumput kekuasaan. Dan pada akhirnya untuk sebuah arti kemapanan di usia 40-an. Yah, kata orang hidup dimulai diusia 40 tahun.

ilyas_playground

Ilyas di Nottingham. Trent University

Lalu, buat aku? Argh entahlah. Yang jelas, ketakutan akan gelapnya masa depan ketika usia 20-an perlahan menghilang. Yah, ketakutan tidak mendapatkan kehidupan yang layak, ketakutan siapa jodoh ku, dan ketakutan-ketakutan lumrah diusia labil itu perlahan pergi. Tetapi, ternyata sekarang muncul lagi ketakutan-ketakutan yang lain. Argh, entahlah, haruskah hidup berlari dari ketakutan yang satu ke ketakutan yang lain?

ilyas_surban

Siap untuk Sholat

Terkadang terlalu memikirkan hidup ini, membuat saya lupa untuk menikmatinya. Karenanya, aku sedang berusaha menikmati menjadi seorang ayah. Seorang ayah dari seorang ‘malaikat’ kecil dari Tuhan yang ditipkan oleh Tuhan untuk ku. Walaupun, sering kali aku gagal menikmatinya.

Lebih dari sekedar sering, aku datang menjumpainya ketika dia sudah terlelap tidur melepas lelah di hari yang panjang tanpa kebersamaanku. Lebih dari sekedar sering, aku pun sudah pergi meninggalkan nya sebelum matanya sempat melihatku jika semalam aku tidur di samping nya. Aku pun selalu memiliki seribu satu alasan untuk segera menyudahi saat-saat aku dan dia memiliki kesempatan untuk bermain bersama. Sungguh aku bisa mendengar suara di hatimu:

” Ayah, aku ingin bermain lama bersamamu ! Bermain bersama dengan pesawat dan perahu kertas yang selalu kau buatkan untuk ku, agar aku terlena dan tak mengganggu kesibukan diri mu “

Iya, aku yang tak pernah hadir sepenuhnya untuk nya. Tuhan, maafkan jika aku belum bisa menjaga sebaik-sebaiknya titipan mu.  Tapi, sungguh, kehadirannya di tengah-tengah kehidupan ku tak pernah membawa yang lain kecuali kebahagiaan dan keceriaan. Dialah lentera, ketika semangat hidup mulai ridup. Dialah alasan, untuk bangkit ketika terjatuh.

ilyas_school

Siap Berangkat Sekolah

Alhamdulilah, Ya Allah. Terima kasih Tuhan, untuk semua berkah dan anugerah kehidupan.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s