Eidul Adha 2014: Ketika Panggung Kehidupan Berganti Peran dan Cerita

… kawan, teman, sahabat datang dan pergi dalam kehidupan kita. Sebagian berlalu bergitu saja, seperti angin yang berhembus, memberi keteduhan sejenak, dan pergi menghilang tak pernah kembali lagi. Sebagian meninggalkan kesan yang mendalam, seperti goresan kuas yang melukiskan bentuk dan warna yang berbeda pada kanvas kehidupan kita.

iduladha_nott_2014

Mahasiswa Indonesia di Univ. Nottingham, Sutton Bonington Campus

Hari ini adalah Eidul Adha 2014, 04 Oktober 2014. Tidak terasa, ini adalah Eidul Adha ketiga kali saya di kota Nottingham. Idul adha selalu memberi cerita sendiri bagi saya. Dan selalu menjadi momentum yang sentimentil buat saya. Idul Adha, selalu menjadi pertanda akhir liburan musim panas yang panjang, dan pertanda dimulainya tahun akademik baru. Karenanya, di setiap Idul Adha, saya selalu merasakan luapan kegembiraan karena bertemu dengan orang-orang baru, tetapi sekaligus merasakan perihnya kehilangan beberapa teman yang baru saja saya kenal setahun yang lalu. Masih ingat betul, persis setahun dan dua tahun yang lalu, di tempat yang sama, saya bertemu dengan wajah-wajah baru penuh semangat itu. Dan entahlah, di belahan bumi yang mana  saat ini mereka berada. Wajah-wajah baru itu kini telah berganti dengan wajah-wajah baru yang lain. Tetapi begitulah, takdir alam semesta. Panggung kehidupan harus selalu berganti peran dan cerita. Boleh dikenang, tetapi tak perlu diratapi.

Tahun ini, kebetulan Idul Adha jatuh pada hari Sabtu. Jika tidak, selepas sholat eid di sport centre di kampus, para jamaah yang sebagian besar adalah mahasiswa pasti sudah berhamburan pergi ke ruang-ruang kuliah. Untuk perayaan kali ini, kami mahasiswa Indonesia dan warga negara Indonesia lainya yang tinggal di Nottingham, seperti biasa mengadakan acara pengajian. Iyah, pengajian sambil makan-makan bareng, habis itu foto-foto bareng dan di upload di facebook.

Pengajian? Argh, saya (S) jadi ingat seorang teman saya (T), yang suka sekali membuat rule of thumbs terhadap fenomena sosio-cultural, masyarakat Indonesia. Waktu itu, kami sedang ngobrol santai di dalam masjid.

. . .

T  : Mas, sampean ki wong NU yo?

S  : Iyo, emange lapo?

T  : Halah, wong NU iku berarti, apa pun masalahnya solusinya adalah P E N G A J I A N.

S  : asyem, enak saja. 😀

. . .

Tentu saja, kawan saya tadi tidak sepenuhnya betul dan tidak sepenuhnya salah jika pengajian tidak dimaknai literally , permasalahan apa pun jika dikaji dengan mendalam akar permasalahanya, tentu nya bisa ditemukan solusinya.

Yang berbeda dari pengajian yang biasanya diadakan warga Indonesia di Derbyshire, Leicestershire, dan Nottinghamshire, kali ini adalah selain ketua baru, Pak Peni Indrayudha menggantikan Pak Irwan, dan kehadiran wajah-wajah baru (kurang lebih 50 orang baru, 3 diantaranya dari satu jurusan yang sama di almamater S1 saya) sebagian besar dengan beasiswa LPDP), adalah untuk kali pertama sepanjang yang saya tahu, pengajian kali ini dihadiri juga teman-teman non-muslim, bahkan teman-teman Indonesia keturunan Tionghoa. Sejuk dan adem rasanya, melihat suasana pluralis semacam ini. Perbedaan warna kulit, background socio-economy, etnis, agama, usia, jenis kelamin, preferensi politik, tak seharusnya membuat kita saling membangun tembok ekslusivisme. Sebaliknya, seharusnya bisa berkolaborasi membangun sebuah haromoni yang indah. Walaupun, sering kali segregasi sosial semacam itu, terjadi secara alamiah dan sulit untuk dihindari. Kita pastinya punya kecenderungan alamiah untuk merasa lebih nyaman dengan orang-orang yang lebih banyak memiliki kesamaan dengan kita bukan? Seperti saya yang sekarang sudah merasa terlalu tua dan berada di gelombang radio yang berbeda, ketika berkumpul dengan muda. Padahal, dahulu sebaliknya, merasa terlalu muda jika berkumpul dengan bapak-pak dan Om-Om.

Kumpul, ngobrol, makan-makan, foto-foto, yang beberapa saat kemudian beredar di beberapa media social. Begitulah, state-of-the-art gaya sosialisasi manusia urban Indonesia jaman sekarang bukan? Kurang lebih begitulah perayaan Idul Adha 2014 kami di Nottingham tahun ini. Lebihnya, Pak Irwan dalam pengajian kali ini berbagi cerita pengalaman haji dari Inggris, yang tidak pakai lama, alias langsung berangkat, setelah anda mendaftar beberapa bulan sebelumnya di tahun yang sama. Dengan biaya sekitar 3500 GBP ( Rp. 65 juta ), biaya hidup minimum per orang selama 5 bulan  di Inggris. Semoga saya dan istri bisa mewujudkanya tahun depan, insha Allah. Allahumma Ammiin.

Berkumpul seperti ini buat sebagian orang mungkin sekedar membuang waktu dengan percuma. Tetapi, buat saya, seringkali keberkahan hidup itu sering kali karena kumpul-kumpul seperti ini. Selamat datang , semoga sukses dan get the most di bumi Nottingam ini.

Advertisements

7 comments

  1. @hattabagus: yang penting khan bisa kumpul2. Pengajian khan gak selalu ngomongin agama lain buruk, agama kita yg paling bagus. Tapi banyak materi lain tentang akhlak yg baik, dll.

    Keren banget ya kang kegiatanne.

    Btw, dadi pingin pindah Notingham wae, iso budal kaji ra perlu antri. Ndik Nganjuk kene PITULAS TAHUN! *nangis umbel*

    1. Saya tidak berfikiran sejauh itu kok, cuma kagum aja bisa “ngajak” orang lain kumpul yg dmana itu bukan “lingkungan”nya

  2. Alhamdulillah ya mas…. taun ini kita berhasil menghapus barrier antara postgrad/undergrad dan juga muslim/non-muslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s