Cerita Pelajar Negeri Tetangga di Tanah Sebrang

… masa depan sebuah bangsa, bisa dilihat dari bagaimana bangsa tersebut mempersiapkan generasi mudanya. Terlepas dari takdir Tuhan yang Maha Kuasa, rasanya memang benar adanya karena anak-manak muda saat inilah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Di pundak-pundak merekalah, nasib bangsa ini dibebankan. Salah satu ikhtiar mempersiapkan pemimpin masa depan itu adalah dengan investasi pendidikan yang terbaik untuk para generasi muda, seperti yang telah dan sedang dilakukan oleh negara tetangga kita, Malaysia, bangsa serumpun dengan kita, yang telah berpuluh-puluh tahun mengirim ratusan ribu anak mudanya untuk belajar di kampus-kampus terbaik di dunia. Bagaimana dengan bangsa kita?

mhs_malay

Ilustrasi: Mahasiwa Malay di UoN (Coursey Akmal)

Suatu pagi di musim gugur itu, aku lari tergopoh-gopoh binti ngos-ngosan dari rumah kos-kosan ku di wilayah Dunkirk ke Bus Stop (baca: stopan bis rek) Art Centre, di University Park Campus, Universitas Nottingham. Beruntung, ketika aku sampai hopper bus – bus gratis jurusan University Park Campus – Jubilee Campus PP, tepat kurang beberapa detik berangkat. Artinya, aku tidak terlambat untuk ikut seat in jadwal kuliah paling pagi, pukul 09.00 pagi. Bukan kuliah serius sih, karena sebagai mahasiswa PhD, aku tidak ada kwajiban untuk mengikuti kuliah, hanya datang, duduk, dan mendengarkan saja (istilah englishnya: seat in ).

Karena menjelang jadwal kuliah dimulai, bus pagi yang datang setiap 15 menit sekali itu, sangat penuh sesak. Aku pun hanya bisa berdiri terhimpit berpegangan tiang besi di tengah bus, tak kebagian tempat duduk. Tidak hanya penuh sesak, bus ini juga crowded (baca: umyek dewe, rek ) sekali seperti suasana di pasar malam tiap hari rabu di taman maju, bandar U, dekat kampus UTP Malaysia. Bukanya kenapa-kenapa, tapi karena memang 90% penumpang bus pagi itu adalah mahasiswi-mahasiswi Malaysia yang sedang asyik ngobrol dengan bahasa nasional mereka. Sebagai pelajar yang pernah tinggal di negara jiran (baca: tetangga, rek ! ), saya sangat familiar dengan bahasa mereka.

Melihat mbak-mbak Malaysia yang berjilbab dan berbaju kurung menenteng buku-buku tebal itu pikiran dan perasaanku campur aduk menemani diamku sambil sesekali menguatkan genggaman tanganku pada tiang besi ketika bus menyusuri jalan berliku.

Ada perasaan iri, kenapa aku dulu ketika seusia mereka tidak memiliki kesempatan yang sama, menikmati pendidikan berkualitas gratis di kampus-kampus terbaik dunia. Iya, mereka adalah diantara tidak kurang 400 mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di berbagai fakultas, termasuk fakultas kodekteran di Universitas Nottingham ini. Mereka adalah diantara ribuan mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di kampus-kampus terbaik di Inggris. Mereka adalah diantara puluhan ribu mahasiswa Malaysia yang sedang disekolahkan oleh kerajaan mereka di kampus-kampus terbaik di dunia, di Eropa, US, Australia dan belahan dunia lainya. Mereka sebagian besar (90%) adalah mahasiswa  level undergraduate (S1), dengan beasiswa kerajaan Malaysia. Beasiswa yang kata mereka diprioritaskan untuk warga pribumi Malaysia, orang Melayu, bukan orang keturunan Cina atau pun India , yang merupakan komposisi terbesar kedua dan ketiga di Malaysia. Sedangkan mahasiswa dari Indonesia di kampus ini hanya sekitar 40-an mahasiswa, sebagian besar mahasiswa S1 keturunan Tionghoa dari Jakarta dengan biaya dari orang tua mereka sendiri, dan segelintir orang saja mahasiswa master dan PhD dengan beasiswa dari berbagai sponsor. Selalu ada tanda tanya sangat besar sekali, Indonesia yang sumber daya alam nya jauh lebih melimpah dari Malaysia itu, belum mampu menyekolahkan anak-anak mudanya ke luar negeri. Jangankan menikmati pendidikan tinggi di luar negeri, sekedar pendidikan dasar yang layak di negeri sendiri saja masih menjadi barang sangat mewah buat sebagian besar rakyat kecil di negeri kami.

Ada perasaan rindu pada masa lalu, di abad pertengahan. Ketika umat Islam berada di jaman keemasan. Ketika pelajar-pelajar Eropa masih berusaha keluar dari jaman kegelapan, dark ages, berduyun-duyun pergi ke kota Baghdad, di Irak, ke kota Cordova di Spanyol, belajar pada ilmuwan-ilmuwan muslim pada berbagai bidang ilmu yang sangat disegani pada jaman nya. Tetapi, sekarang keadaan terbalik. Aku hanya bisa menerka-nerka rahasia Tuhan dibalik mempergilirkan kejayaan dari bangsa satu ke bangsa lain, seiring bergulirnya abad demi abad perjalanan waktu. Aku hanya berani memendam harapan, suatu saat umat Islam akan memimpin puncak peradaban dunia kembali.

Ada perasaan bangga, melihat saudara sesama muslim yang begitu terlihat begitu bersemangat menuntut ilmu, meninggalkan kehangatan dekapan keluarga, untuk merantau ke negeri jauh. luru ilmu (baca: mencari ilmu) untuk kemudian kembali membangun negeri.

Ada perasaan penuh harap, suatu saat nanti, anak cucu ku bisa menjadi seperti mereka. Bisa mencicipi nikmatnya pendidikan berkualitas di kampus-kampus terbaik di dunia. Untuk kemudian membangun negeri menjadi lebih baik. Yah, hanya sebuah harap, suatu saat nanti …

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s