Blokagung : Sebuah Catatan Pinggir dari ‘gothakan’ Pondok?

menara_masjid
*) Menara Masjid Pondok (ctsy: elhibbahkpi.blogspot.com)

Blokagung,  kaifa haalukpiye kabar mu? Entahlah, tiba-tiba aku kangen dengan mu. Darussalam, ada kesejukan dan ketuduhan setiap menyebut nama mu. Seteduh, dusun kecil: blokagung, diujung selatan kabupaten Banyuwangi, tempat mu berada. Tempat yang penuh barokah, tujuan ribuan santri dari berbagai pelosok negeri mondok untuk mengaji pada para kyai.

Oh, Pondok ku ! Kuhitung, rupanya sudah 15 tahun yang lalu aku meninggalkan mu. Arghh, sudah lama ternyata. Atau aku yang pura-pura lupa dengan usia ku yang tak lagi muda? Dan, sungguh aku kangen pada kesederhanaan dan kebersahajaan mu.

kamar_tedjo
*) Gothakan Santri

Kangen pada gothakan sempit, tanpa jendela, tempat kami melukis kenangan, merajut cerita, menenun makna, memahat hati-hati kami yang penuh gamang. Tempat kami melepas penat dan lara, meski tanpa bantal, tanpa tikar, kami tak pernah mengeluh karena tak bisa memejamkan mata. Tempat kami berkeluarga tanpa mengenal sekat rupa, harta, usia, pendidikan, atau apa pun jua. Kami hidup sama sebagai manusia biasa, sederhana, dan bersahaja.

gothakan
*) Penghuni gothakan

Kangen pada selep terong yang kelezatanya tiada tandinganya. Apalagi, kalau ngedrop masakan kang santri dari pawon umum di belakang asrama. Argh, rasanya jadi masakan terlezat di dunia. Apalagi kalau lagi mayoran, argh rasanya menjadi pesta paling mewah di jagat raya.

ngedrop
*) Ngedrop selep terong

Ngomong-ngomong, apa kabar layah batu raksasa di Dapur umum itu ya? Tapi, aku tidak yakin, masih ada santri yang mau kerepotan masak sendiri di dapur pondok. Dan apa kabar Blumbang besar tempat kami mandi bersama? Tapi, aku tak mau mengingat-ngingat tempat eek dan pipis yang itu.

pawon
*) Dapur Umum Pondok

Blok Agung, aku kangen mencium telapak tangan para kyai. Ingin rasanya, aku menciumi nya kembali, setiap habis sholat jamaah usai. Masihkah, (alm) kyai Syafaat  selalu ‘hidup’ ditengah-tengah para santri? Masihkah, dawuh kyai Hisyam, kyai Hasyim, dan Kyai Mad bak sabda pandipta ratu bagi para santri?

blokagung_04
*) Kyai Mukhtar Syafaat, Pendiri Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi

Semoga, doa-doa para kyai Blokagung senantiasa membaluri untuk keberkahan hidup kita. Dan senantiasa, menjadi inspirasi hidup dalam menjalani kehidupan kita. Petuah-petuahnya menjadi wejangan-wejangan hidup yang senantiasa mengisi hati-hati kita.

kh_hisyam
*) Kyai Hisyam Syafa’at, Pengasuh PPD, BB

Blokagung, aku kangen pada padatnya aktivitas mu. Dari sholat subuh jamaah, ngaji alquran, hafalan nadzaman awamil-tashrif-imrithi-alfiah di antara hijaunya hamparan tanaman padi di sekitar pondok. Aku juga kangen mendengar kang santri bersenandung pujian khas menjelang pengajian Kitab Ihya’ Ulumiddin dimulai, di setiap pagi dan petang hari. Mandi di blumbang, dan riuhnya aktivitas berangkat sekolah di sekolah umum milik pesantren. Walaupun, aku sering merasa kecewa. Bukan hanya karena teman-teman santri yang masuk hanya tak seberapa dan suka tidur di dalam kelas, guru-gurunya pun sering berhalangan masuk mengajar. Argh, sekolah yang ala kadarnya, tapi itu bagi kita tidak pernah jadi masalah, karena kita mengharapkan barokah.

tidur_dikelas
*) Santri tidur di Kelas

Dengan langkah gamang aku selalu pulang ke asrama lebih awal dari seharusnya. Aku lebih suka menghabiskan waktu menjelang siang ku di perpustakaan Al-Irfan, perpustakaan kecil milik pondok, yang nyempil di samping masjid. Kadang sambil tertidur,  hingga adzan duhur bergema memanggil sholat jamaah di masjid.

blokagung_02
*) Sholat Jamaah di Masjid

Blokagung, aku selalu rindu suara bacaan alquran bergema di gothak’an setiap habis sholat jamaah. Sebelum bergegas ke aktivitas lainya. Argh, aku sungguh merindukan aktivitas setelah sholat duhur, sekolah di Madrasah Diniyah. Aku selalu berkata dalam hati saat itu, aku pasti sangat merindukan momen-momen ini. Saat ribuan santri bersarung, penuh semangat , menenteng kitab kuning, pulang pergi pondok-madrasah setiap habis duhur dan Ashar. Habis duhur untuk belajar dibimbing para ustadz, dan habis ashar untuk Taqrar, mengulang pelajaran bersama teman.

blokagung_08
*) Santri berangkat ke Madrasah

Blokagung, aku tak pernah bisa melupakan gedung madrasah yang megah itu. Tempat, kami naik turun tangga tiga kali sehari. Pada senyum para ustadz ku yang penuh kesabaran dan keikhlasan mengabdi. Pada sahabat-sahat ku yang tulus dan baik hati.

gedung_induk
*) Gedung Madrasah, pusat pendidikan

Blokagung, aku akan selalu rindu pada gerbang pesantren mu, yang akan terkunci jika matahari telah bersembunyi di ufuk barat. Saat adzan maghrib berkumandang, saat para santri yang tirakat puasa setiap hari, berbuka puasa, dan kembali ke pondok membawa rantang untuk sahur, dari emak kos makan mereka. Aku masih ingat, rantang warna hijau ku. Yang hampir tiap hari berisi nasi, jangan tewel (lodeh nangka muda), dan tempe goreng. Tapi, aku tidak boleh mengeluh karena bosan. Karena kami sidang menjalani laku ‘tirakat’ agar ilmu yang kita dapatkan barokah di kemudian hari.

blokagung_03
*) Ngaji kitab kuning di Masjid

Di setiap habis Maghrib adalah saat yang aku nantikan. Ngaji kitab Tafsir Alquran jalalain di masjid bersama Kyai Mad. Kitab paling tebal, yang pernah aku ngaji di pesantren ini. Memberi makna dengan tulisan pegon di bawah tulisan arab gundul pada kitab kuning, dengan pena kayu ‘ditutulkan’  pada kapas serabut pohon pisang bercampur tinta hitam batangan dari negeri cina yang telah digosok dalam tempat tinta kuningan. Argh, aku tak akan pernah bisa melupakan benda antik itu. Yang konon goresanya tak akan luntur terendam air.

VLUU L210  / Samsung L210
*) Wadah Tinta Kuningan (ctsy: http://loakanantik.blogspot.co.uk/)

Blokagung, aku juga rindu kehidupan malam mu yang seakan tak pernah berhenti berdenyut. Sorogan, ngaji kitab kuning : safinah, ta’lim, fathul qarib, secara perorangan dengan santri senior yang dengan sabar mengajariku membaca kitab gundul. Argh, aku jadi ingat Kang Munib, santri senior ku yang paling saya kagumi. Masih belia, cerdas, yang  paling pintar  dan gamblang menjelaskan kepada ku kaidah-kaidah ilmu nahwu dan sharaf yang sangat rumit. Kang Kafiludin yang bersahaja dan bijak, yang sering menyisipkan falsafah kearifan hidup dan sekaligus sering menanyaiku tentang fenomena alam, seperti kenapa terjadi siang dan malam? Dan santri-santri senior ku lainya yang baik sekali hatinya.

blokagung_05
*) Ngaji Bandongan

“Teng, teng, teng … ! ” Aku masih ingat suara lonceng malam yang  ‘ berdenteng ‘ setiap satu jam sekali. Ya, aku masih sangat ingat suara lonceng pergantingan jam dan kegiatan itu. Dari pengajian sorogan ke pengajian bandongan kitab satu, ke pengajian bandongan kitab yang lain, hingga larut tengah malam. Dan, jika tengah malam telah tiba, sejenak seluruh penjuru pesantren kembali riuh gaduh. Suara ‘timbo’  ember yang dibalik, yang dipukul2 kan, diatas sajadah di lantai, mengiringi lantunan sholawat nariyah, yang bergema di seluruh asrama di seluruh penjuru pondok pesantren. ” Allahumma Sholli Sholatan, Kamilataw wasalim salaman, tamman, ‘ala sayyidina…. “. Saya masih ingat betul nada alunan sholawat nariyah itu, yang diiringi gendang ember. Kang Amin, santri yang aku ingat paling rajin mendendangkan sholawat nariyah itu dengan suara emasnya.

ngaji_kitab
*) Ngaji Sorogan

Sejenak kemudian, pesantren menjadi sunyi senyap dan gelap, semua lampu dipadamkan. Semua terhanyut dalam sholat tahajut, hajat, dan do’a-do’a panjang di asrama. Tak jarang,  terdengar suara tangisan, dan kemudian berubah menjadi suara dengkuran. Lonceng malam, masih selalu berdentang setiap pergantian jam, memecah kesunyian malam. Hingga Subuh menjelang.

Blokagung, aku juga rindu pada kegiatan ‘lalaran’ setiap malam selasa. Pesantren menjadi riuh dengan alat musik sekenanya, mengiringi hafalan nadzom awamil, imrithi, tashrif, alfiah, yang nadanya digubah menjadi lagu-lagu melayu kontemporer.  Lagunya bang haji rhoma irama: “Sungguh aku masih penasaran” yang liriknya telah diganti dengan nadzom imrithi, alfiah menjadi hiburan mengsyikkan buat kami di tengah kepenatan jadwal pondok yang padat.

blokagung_01
*) Kegiatan lalaran

Blokagung, aku kangen dengan malam Jumat mu. Malam dimana kami, tibak’an membacaya kitab albarjanji, istigotsah, manakiban, tahlilan, yang berseling dari minggu ke minggu. Ada juga kegiatan khitobiah, latihan pidato yang mengurus emosi. Aku tak akan pernah lupa, dengan para audiens yang akan menggojlok, membuli, menghina ku secara berlebihan yang sedang latihan ceramah diatas podium. Walaupun itu cara kami, menguatkan mental-mental kami.

**

Blokagung, Apa kabar mu kini?
Masihkah kau sederhana dan bersahaja seperti yang dulu,
ataukah telah berubah menjadi gedung-gedung pendidikan megah dan angkuh?

Masihkah, kau terjangkau oleh rakyat jelata, para fakir miskin papa,
yang ingin menuntut ilmu kepada mu,
hanya berbekal sebuah semangat ngalap barokah?
ataukah kau telah berubah menjadi tempat pendidikan eksklusif, yang hanya terjangkau
oleh orang-orang yang membayar mu dengan uang berjuta-juta.

Blokagung, masihkah keikhlasan dan kebarokahan menjadi prinsip dan tujuan mu?
ataukah kejayaan fisik, materi telah menjadi ukuran mu.

Blokagung, masihkah para santri percaya pada barokah?
Ro’an, dan amalan-amalan hizib nashor, hizib bari, puasa dalail khoirot,
dalail quran, puasa ‘ngrowot’, puasa ‘mutih’, dan amalan tirakat lainya.
ataukah, mereka lebih percaya nalar logika ilmu sains dan teknologi modern?

Blokagung,
Masihkah, kali gesing, airnya segemercik yang dahulu,
terapi bagi santri yang sedang mengulang-ngulang hafalanya.
Masihkah, hamparan hijau padi membentang luas di antara pohon
kelapa yeng menjulang tinggi di persawahan sekitar pondok.
Tempat menyendiri para santri, untuk menambah hafalanya.
ataukah, sudah berganti dengan tanaman beton yang angkuh.

Blokagung,
Masihkah, para santri merasa bangga dengan pegangan kitab-kitab kuning
yang selalu dijadikan rujukan,
ataukah kitab biru dari barat sudah menggantikan minat mereka.
Masihkah, syawir, diskusi panjang membahas fiqih kontemporer,
dengan Kitab kuning tebal karya ulama-ulama klasik menjadi tradisi.
ataukah, seminar-seminar ilmiah, tentang kesetaraan gender, demokrasi, dan poltik islam
sudah mengalihkan dunia mereka?

Blokagung,
Apapun yang terjadi,
Aku akan selalu merindukan mu.
Bersamamu adalah kenangan abadi, yang telah menorehkan warna abadi dalam hidup ku.
Semoga, alamamater ku jaya abadi, hingga akhir jaman.
Melahirkan, manusia-manusia, khalifah alam.
Yang santun, yang bijak, yang senantiasa menghidupkan ilmu-ilmu agama,
hingga akhir dunia.

**) some pictures grabbed from : Tedjo Rifai Ahmad.

*) Catatan Kaki:
———————————————
– Gothak’an : bilik/kamar asrama
– Selep terong : Sambil terong pakai parutan kelapa
– Ngedrop : nimbrung ikutan makan bareng
– Pawon : dapur
– Blumbang : Kolam dari aliran sungai untuk mandi, cuci para santri
– Bandongan: ngaji sistem ceramah, 1 ustad diikuti banyak santri

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s