Psikologi Kekalahan : Oh, Ramadlan Ku Tahun Ini

ramadlan_2014
*)Buka Puasa Bersama Warga Muslim Indonesia di Beeston, Nottingam, Inggris 18 Juli 2014. **)

Ramadlan, Kaifa Haluk ! Setiap datang bulan Ramadlan, selalu terselip rasa kangen yang teramat sangat pada kampung halaman. Entahlah, susana ramadlan di kampung kelahiran selalu menyimpan epik kenangan klasik yang tak pernah tergantikan keindahan suasananya. Sebuah epik yang selalu ingin kubaca setiap senja di setiap hari di bulan Ramadlan. Ingin rasanya, sebulan penuh, menghabiskan Ramadlan di tempat ketika aku kecil penuh suka cita biasa menghabiskanya hari demi hari, detik demi detik, sepenuhnya. Mungkin nanti, di hari tua nanti, ketika semua ambisi hidup tak lagi memperbudak ku, ketika aku telah menjadi sosok yang arif dan bijak dalam memaknai kehidupan ini, aku bisa mewujudkanya kembali. Walaupun, aku sangat yakin, aku tak  akan lagi melihat segerombolan anak-anak dusun yang biasa tidur di langgar menabuh kentongan keliling dusun dengan ikhlas membangunkan orang-orang untuk melakukan ibadah sahur.

Seperti tahun yang sudah-sudah, tahun ini aku bersua Ramadlan di kampung perantauan. Kampung nan jauh di mata dari kampung halaman. Di negeri dimana saudara seimanku adalah minoritas. Di kampung Nottingham, Inggris tepatnya. Puasa di musim panas di negeri ini tak selalu mudah buat ku. Setidaknya, 19 jam aku harus menahan haus dan lapar. Malam yang terlalu pendek, membuat Ibadah malam terasa hilang kekhusukanya. Aku pun tak punya banyak waktu untuk istirahat, bahkan hampir setiap hari aku melawati ibadah sahur. Jam 1 selesai sholat tarawih, jam setengah 3 sudah harus memulai berpuasa lagi. Sementara jam 5 pagi aku harus memulai aktivitas ku.

Hari-hari pertama, di minggu pertama Ramadlan aku begitu semangat beribadah. Shalawat tarawih 20 rakaat di masjid dekat rumah, sholat mlam, sholat dhuha, tilawah alquran setidaknya 3 jus sehari, aku pun punya kelompok tadarus bersama teman-teman dari Malayisa setiap habis sholat Duhur di Mushola kampus. Dan masih beraktivitas di Lab. seperti biasa. Diam-diam, aku telah sum’ah, takabbur dalam hati, betapa hebatnya ibadah aku ini.

Hari-hari di minggu kedua Ramadlan, sepertinya Tuhan sedang menegur saya. Aku benar-benar drop. 10 hari terkapar tak berdaya di kasur. Kepala pusing, hidung pilek, badan terasa sangat lemas tak berdaya. Bibir dan lidah terkena sariawan sangat parah. Sehingga aku tak lagi kuat ke kampus, tak lagi bisa sholat tarawih di masjid, tilawah alquran pun terasa sangat berat karena lidah dan bibir sangat sakit untuk digerakkan. Bahkan 4 hari saya terpaksa tidak berpuasa. Di ketidakberdayaan ku ini, aku hanya bisa berdesis lirih: La haula wala quwwata Illa Billahil ‘aliyil ‘Adziim. Bahkan, kita ibadah pun, karena semata-mata kekuatan dari Gusti Allah yang membuat dan mengatur hidup bukan karena kehendak kita. Di tengah kekalahan ku ini, aku tersadar betapa lemah sebenarnya diri ini.

Alhamdulilah, 10 hari terakhir Ramadlan tahun ini aku perlahan kembali diberi kekuatan. Buka bersama dengan teman-teman muslim Indonesia di malam 21 Ramadlan hari itu sungguh memberi kekuatan kepada saya. Silaturrahim ini bak obat mujarab yang memulihkan segala duka dan lara. Ceramah ustad Bukhori Muslim yang diundang KBRI London khusus dari Indonesia itu begitu menyentuh hati saya. Tentang kekuatan do’a-do’a. Do’a orang tua dan orang-orang leluhur kita yang membentuk kita hari ini. Alhamdulilah, hari ini aku kembali beraktivitas seperti biasa di kampus, disambut senyum dosen pembimbing riset ku yang begitu perhatian perihal Ramadlan dan sakit ku. Sekaligus, mengingatkan ‘many things to do’ in the very near future.

Begitulah tentang hidup, terkadang kita terlalu percaya dan yakin dengan kekuatan diri sendiri, padahal sebenarnya itu semata-mata kekuatan Tuhan. Kita terkadang terlalu bersemangat dalam menjalani hidup penuh dengan angan dan mimpi dan kita sering kali merasa kalah, lemah tak berdaya dalam mengarungi hidup yang penuh coba, dan goda ini. Padahal, Allahlah semata yang mengatur hidup kita. Aku tiba-tiba jadi teringat dawuh Gus Mujib putra Alm. KH Musta’in Romly di timeline facebooknya:  “Ayo urip iki dilakoni seng temenan.. seng temenan mengko lak teko-teko dewe”  ( read: Ayo hidup ini dijalani dengan sungguh-sungguh, yang sungguh-sungguh nanti akan datang sendiri [kebaikanya]). Semoga perjalan hidupyang kita jalani dengan sungguh-sungguh akan datang sendiri apa yang terbaik buat kita dari Gusti Allah. Allahumma Ammiin !

Semoga Ramadlan ini membawa keberkahan hidup untuk kita semuanya ! Allahumma Ammiiin.

**) Courtesy Mbak Maryati

Advertisements

2 comments

  1. Membaca postinganmu ini, aku bersyukur sekali kang, sale aku diberi kesehatan selama berpuasa ini. Bersyukur banget aku gak merasakan sakit apapun. Pilek batuk juga enggak. Padahal jamaah sebelahku banyak yg batuk, gebres2… Bersyukur sekali..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s