Budi dan Zaidun Yang Melegenda: Do’a dibalik Nama ?

Mungkin, Si Budi  akan tinggal cerita, akan tetapi budi baiknya akan dikenang oleh jutaan manusia Indonesia.

ini_budi_nuh
(Courtesy: republika.co.id)

Diantara berita-berita politik menjelang pemilihan presiden 9 Juli 2014, ada satu berita duka yang menggelitik hati saya ,yang biasanya cukup selektif memilah berita yang ‘bermutu’ di antara berita-berita ‘sampah’, untuk membacanya. Berita duka itu adalah perihal kepergian Budi dari dunia perbukuan pendidikan dasar di Indonesia. Pak Menteri Pendidikan akan ‘mematikan’ Si Budi, keluarga, dan kawan-kawanya yang sudah ‘hidup’ melegenda berpuluh-puluh tahun, menemani anak-anak Indonesia dari generasi ke generasi belajar membaca dan menulis. Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Rest in Peace Budi ! Budi ‘dituduh’ sebagai biang kemonotonan sistem pendidikan dasar di Indonesia, dan segera akan hadir tokoh-tokoh baru Edo, Siti, dkk. yang lebih ‘segar’ bersamaan dengan datangnya mahzab pendidikan baru, bernama Kurikulum 2013. Oh, benarkah tuduhan itu?

buku_ini_budi
(Courtesy: http://blogs.phys.unpad.ac.id/sahrul/ )

Kenangan Si Budi

Siapa sih yang tidak kenal Si Budi? Anak-anak yang mengalami sekolah dasar di era 70-90 an, saya haqul yakin kenal dengan Si Budi. ‘Ini Budi’ mungkin adalah kalimat pertama yang paling banyak diucapkan oleh jutaan anak-anak Indonesia ketika pertama kali belajar membaca. Sebelum pada akhirnya menjadi anak-anak cerdas dan pintar di berbagai bidang kehidupan yang saat ini menjadi aktor-aktor utama dalam panggung besar bersama negara Indonesia raya ini.

Buat saya pribadi, Si Budi membawa ingatan saya pada bangunan terkucil di tengah-tengah sawah di dusun kami. Yah, bangunan sederhana penuh kenangan itu tidak lain adalah SD (INPRES) Negeri PLAMPANGREJO 3. Tetapi, masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan sebutan SD Inpres. Ini adalah satu di antara lima sekolah dasar negeri di kampung kami, dan menjadi yang terdekat dari rumah saya,  serta menjadi satu-satunya sekolah dasar di dusun kami, dusun Ringinpitu. Selain 5 SD negeri ini, ada satu lagi sekolah swasta di kampung kami bernama Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum yang dikelola Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) anak ranting Desa Plampangrejo. Yang letaknya cukup jauh dari rumah saya.

Masya Allah. Tiba-tiba saja saya jadi teramat rindu dengan kenangan memakai seragam merah putih di saat jaman dunia anak-anak yang begitu indah saat itu. Riuhnya anak-anak dusun menyusuri jalan setapak, galengan sawah, melintasi uwot, jembatan kayu yang menhubungkan dua bibir parit irigasi sawah, di antara hamparan tanaman padi, mendong, singkong, pisang dan rerimbunan pohon kelapa yang hijau adalah pemandangan setiap pagi hari. Dan kami pun hanya berpayung daun pisang dikala hujan deras datang di musim hujan. Seolah tak pernah ada kesedihan, yang ada hanyalah keceriaan anak-anak dusun yang begitu  menikmati dunia mereka.

Si Budi juga membuka memori ingatan saya pada sosok Pak Suroto. Sosok Guru paling sabar di dunia, yang setiap hari menemani saya di kelas 1 di sekolah itu, kelas paling ujung di sekolah kami yang berbatasan langsung dengan hamparan sawah yang luas. Iya, Pak Suroto pripun kabar panjenengan pak? Bahkan saya tidak tahu apakah beliau masih hidup atau kah sudah meninggal dunia. Kebetulan rumah beliau cukup jauh dari rumah saya, dan saya pun belum pernah tahu dimana rumah beliau karena berada di desa yang berbeda. Saya mungkin salah satu murid durhaka, dari jutaan orang-orang yang melupakan guru SD nya. Guru yang pertama mengajari kita belajar mengenal huruf, mengeja, membaca, menulis dan berhitung. KUnci-kunci pembuka semua ilmu pengetahuan. Seorang guru yang sangat telaten dan sabar mengajari kami, anak-anak dusun dengan kecerdasan yang pas-pasan dan nakal pula.

Semoga dimanapun beliau berada, selalu dalam lindungan Allah Swt. Ketulusan, kesabaran, kesederhanaan, kebersahajaan, pengabdian, semangat, perjuangan, cinta dan ilmu beliau akan selalu hidup dalam hati kami para murid-muridnya. Khusus buat guru SD kelas 1 saya, Pak Suroto, Alfaaatihah ! Saya yakin ilmu dari beliau adalah ilmu yang bermanfaat, sekaligus menjadi amal jariyah yang pahalanya akan terus dan terus mengalir meskipun jasad telah meregang nyawa.

ini_budi2
(Courtesy: http://koleksibarangdjadoel.blogspot.co.uk/)

Ada apa dengan Budi?

Sudahlah, saya simpan kembali dulu kenangan Si Budi dalam memori ingatan saya untuk dikenang, diceritakan kembali suatu saat ini. Ohya, mungkin dulu kita pernah bertanya kenapa sih dipakai nama Budi? Kenapa ndak Ahmad seperti nama saya yang artinya sangat terpuji ini. Kenapa tidak menggunakan nama-nama lain? Kenapa pula, nama Budi begitu ‘eksis’ hingga berpuluh-puluh tahun bahkan lintas generasi?

Pastinya, semua karena sesuatu alasan. Bukanlah sesuatu yang kebetulan.  Menurut hemat saya, Ada filosofi dibalik nama Budi. Ada pesan atau doa di balik nama itu. Bisa jadi, penulis buku itu sebenarnya ingin berpesan betapa penting nya memiliki budi yang baik itu penting di atas segalanya. Diatas capaian ilmu dan keterampilan ada yang jauh lebih penting yaitu Budi pekerti yang baik. Menjadi pintar menjadi percuma, ketika seseorang tidak berbudi. Iya Budi pekerti yang baik, yang tidak lain adalah pendidikan karakter yang menjadi jargon yang digembar-gemborkan oleh pemerintah melalui Kurikulum 2013.

Ada pesaing Budi bernama Zaid di Pesantren 

Sebenarnya, fenomena penggunaan nama berulang-ulang dalam lierature dunia pendidikan tidak hanya terjadi di pendidikan dasar di SD saja. Buat sampeyan yang pernah mondok di pesantren pasti kenal dengan yang namanya Zaid. Nama ini sama fenomenalnya sama Budi. Kalau budi terkenal dengan kalimat ” Ini Budi”  dan “Ini bapak budi” nya. Zaid terkenal dengan kalimat: ” Jaa a Zaidun “ (dibaca: Jaa a, wes teko, SOPO, Zaidun, Zaid  : artinya, Zaid sudah datang) dan “Doroba Zaidun Amron” (dibaca: Doroba, wes mbalang, SOPO, Zaidun, Zaid, Amron, ING, Amr  : artinya, Zaid memukul Amr) .

Di pesantren, nama zaid ini dipakai berulang-ulang di kitab-kitab (baca: literature) ilmu Nahwu dan Shorof. Dua ilmu utama, yang sering disebut ilmu alat, yang menjadi kunci untuk bisa membaca dan memahami kitab kuning. Kitab kuning adalah istilah yang digunakan untuk menyebut literatur berbahasa Arab yang ditulis dengan huruf Arab tanpa harokat. Jika anda menguasai dua ilmu ini anda dijamin bisa membaca dan memahami artinya, meskipun tertulis dalam tulisan Arab tanpa harokat. 

Nah, di kitab-kitab literature ilmu Nahwu dan Shorof  seperti kitab Jurumiyah, Imrithi, dan Alfiyah ibn malik, Nama Zaid sangatlah populer. Karena sering dipakai contoh berulang-ulang. Apakah ini juga potret kemonotonan sistem pendidikan di dunia pesantren, Pak Menteri? Bahkan, tidak saja puluhan tahun, kitab-kitab yang memuat nama Zaid ini sudah dipakai ratusan tahun yang sampai sekarang masih digunakan di pesantren-pesanten, bahkan mungkin akan terus dipakai hingga akhir dunia ini.

Lalu, apa filosofi dibalik nama Zaid?

Jujur, saya belum pernah bertanya hal ini ke kyai saya. Karena kekritisan itu sesuatu yang mungkin dianggap agak tabu di dunia pesantren. Tapi saya pernah bertanya kepada seorang Kang Santri yang lebih senior dari saya. Katanya sih, Zaid itu artinya bertambah. Jadi filosofinya, kenapa dipakai nama Zaid berulang-ulang, itu supaya ilmu kamu cepat bertambah. Haha, kedengaran tidak masuk akal memang. Tapi saya selalu memaknai sebagai Do’a dibalik sebuah nama. Biar ilmunya bertambah dan barokah. Ohya, di pesantren ada jargon yang sangat sakral di antara para santri, yaitu BAROKAH. Mungkin kalau diadakan studi analisa kata, kata barokah ini menjadi salah satu kata yang paling sering dibicarakan di pesantren. Ketika saya bertanya apa itu Barokah? belum ada seorang pun yang bisa menjelaskan dengan kata-kata dengan sangat baik. Tetapi, barokah sering diartikan “ziyadatul khoir” yaitu bertambahnya kebaikan. Tuhkan, masih ada kaitanya dengan Zaid. Hehe…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kitab Kuning (Courtesy: http://nahwusharaf.wordpress.com/)

Baiklah, Pak Menteri. Jika Si Budi harus di ‘mati’ kan, biarlah saya mengucapkan Rest In Peace buat Budi. Mungkin, Si Budi  akan tinggal cerita, akan tetapi budi baiknya akan dikenang oleh jutaan manusia Indonesia. Dan Zaid sepertinya bernasib lebih mujur dari si Budi. Tapi, siapa tahu suatu saat nanti ada yang berani ‘obrak abrik’ kurikulum pesantren dan mengkudeta Zaid dari dunia kepesantrenan. Entahlah.

Terlepas semuanya, saya ingin menghadiahkan Alfatihah buat seluruh guru, ustad, ustadzah, kyai, bu nyai, dosen saya di dunia ini, lahumul fatihah…….!

Advertisements

4 comments

  1. 1. sampai sekarang saya gak tau nama asli ayah budi, ibu budi, kakak budi, adik budi 🙂
    2. sd plampang 3 juga sudah tidak ada cak?. sdku plampang 5 sudah jadi plampang 4. apakah sd plampang 3 berubah jadi plampang 2 atau tetep ? 🙂
    3. zaid. terangno cak hehehe …

  2. Wah aku duduk cah pesantren walhasil gak mudeng tentang si Zaid. Haha..

    Wah, sak jane perkoro Budi dihapus itu GAK PENTING banget. Harusnya dipertahankan saja. Khan yg belajar bukan orang dulu, tapi anak anak yg baru yg belum ngerti siapa itu Budi. Jadi menurut anak yg baru belajar, nama Budi tetep aja baru..

    Ah gimana sih.. kok aneh ya 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s