Pribadi yang Otentik ala Mahfudz MD

mahfud_MD

” … tapi ingat dibalik penampilan priyayi Jawa yang santun itu, terselip keris di belakang punggungnya. ”

Ada apa dengan Tahun 2014 kawan? Saya lulus PhD? Ammiin ya Rabbal ‘alamiin. Tapi mungkin ndak ya? Dahulu sebelum berangkat sekolah dan awal-awal sekolah PhD saya selalu berdoa dan meminta do’a khusus kepada beberapa teman dekat yang sedang Haji atau Umroh agar saya bisa lulus PhD cukup dalam waktu dua tahun dari tiga tahun yang dijadwalkan. Tapi, ternyata 4 bulan lagi saya sudah genap 2 tahun dan rasanya saya belum dapet apa-apa. Hiks, sepertinya ndak mungkin kecuali ada keajaiban. Tetapi apa sih yang tidak mungkin di dunia ini jika Tuhan berkehendak? Toh dua tahun lebih beberapa bulan masih bisa dibilang dua tahun bukan? Hehehe……..

Yang jelas di tanah air, tahun 2014 ini adalah tahun politik. Di tahun ini, Indonesia akan menulis lembaran sejarah baru dengan presiden nya yang baru. Sang presiden yang akan memimpin untuk menulis lembar demi lembar sejarah Indonesia lima tahun yang akan datang. Meski jauh dari tanah air, saya pun tak luput terhanyut dalam pusaran suhu politik yang semakin menghangat . Seperti menjelang pemilihan presiden ini, social media terlalu penuh dengan bau politik, yang membuat saya lebih memilih mengurangi akases terhadap social media.

Yang menarik adalah beberapa hari yang lalu, di acara Mata Najwa yang menghadap-hadapkan dua kubu calon Presiden. Yang paling menarik buat saya adalah ketika Pak Mahfudz MD dan Pak Anies Baswedan ‘di adu’ sama Najwa Sihab. Kebetulan keduanya adalah dua tokoh yang pernah singgah di hati saya. Eits, maksudnya keduanya pernah saya kagumi dan mungkin secara tidak langsung telah menginspirasi saya. Di youtube, rekaman video ini banyak sekali yang kasih komentar. Sebagian besar, memuji setinggi langit Anis Baswedan dan memojokkan Pak Mahfudz. Menurut saya, sangat wajar karena kebanyakan orang-orang itu hanya melihat yang tersurat, terdengar,  dan tidak terbiasa menggunakan nalar kritisnya pasti akan sangat mudah terhanyut oleh kata-kata sangat manis Pak Anis Baswedan yang melankolis dan sangat flamboyan itu.

Saya lebih tertarik melihat yang tersirat dari dua orang ini. Menurut saya, keduanya adalah potret dua kepribadian yang sangat berbeda bahkan saling bertentangan. Keduanya adalah potret dua kutub kepribadian orang-orang di sekitar kita pada umumnya. Keduanya juga potret nyata, bagaimana latar belakang budaya, pendidikan, dan pekerjaan seseorang telah mendefinisikan siapa seseorang itu.

Pak Anis, menurut saya adalah simbol Pria priyayi Jawa. Pria jawa ningrat ala keraton Yogya dan Surakarta. Kaum jawa halus. Penampilanya tenang, senyumnya manis, tutur katanya halus nan santun. Tutur katanya begitu tertata, dan pandai memilih dan merangkai kata-kata yang indah. Seolah sosok yang baik dan berbudi sempurna. Tetapi menurut saya, sebagai mana tergambar dalam busana keraton jawa, di balik punggung mereka terselip keris. Memang tampak di depan kita, orang seperti ini selalu terlihat manis, tetapi jangan salah di balik sikap manisnya itu bisa jadi tersembunyi kebencian dan dendam yang dalam terhadap kita. Orang seperti ini memang sangat pandai menyembunyikan perasaan dan sesuatu. Istilahnya pandai ngangkat duwur mendhem jeru (baca: Mengankat tingi-tinggi, dan mengubur dalam-dalam). Pandai menjaga kehormatanya, dan menutup rapat aib-aib  nya.

Pak Mahfudz, sebaliknya, menurut saya adalah simbul orang Madura atau orang Jawa timuran. Berbeda dengan orang Jawa yang dekat-dekat keraton yogya maupun keraton Solo yang tutur bahasanya halus dan perangainya santun. Orang Madura atau jawa timuran tutur bahasanya terkesan kasar. Tetapi menurut saya, mereka adalah pribadi yang otentik. Pribadi yang apa adanya, jauh dari yang namanya kepura-puraan. Bicaranya lugas, blak-blakan, apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi, pun tidak pandai menyembunyikan sesuatu. Tetapi, tidak jarang dibalik semua itu tersimpan hati yang sangat lembut. Istilah orang jawa Bloko Suto (apa adanya). Ditambah latar belakang Pak Mahfud di bidang hukum, tentu dia terbiasa berbahasa yang lugas dan tidak mungkin berbahasa melankolis yang mendayu-dayu.

Pak Anis dan Pak Mahfud ini mengingatkan saya jaman kuliah dulu. Ada seorang teman yang ndak bisa bikin program, tapi karena sangat pandai presentasi di depan Dosen akhirnya dapat nilai sempurna. Sementara, sebaliknya ada seorang kawan yang sebenarnya sangat pintar membuat program, tapi karena tidak bisa presentasi dengan baik di depan Dosen akhirnya dapat nilai yang sangat mengecewakan. Padahal, teman yang pertama programnya mbacem alias nyontek program teman yang kedua. Haha… Yang sejatinya bodoh kelihatan pintar, sementara yang pintar kelihatan bodoh :D.

Secara pribadi, saya jauh lebih respek dan hormat terhadap sosok Pak Mahfud MD. Meskipun belakangan banyak orang yang menghina, dan memojokkan beliau selepas keputusan beliau mendukung Prabowo-Hatta. Pak Mahfudz, sangat jujur mengakui kalau dia kecewa dengan si Cak Imin. Apa yang salah dengan kecewa? Sesuatu yang sangat manusiawi bukan? Pak Mahfud pun mengakui kalau dia sempat galau di persimpangan jalan. Sesuatu yang sangat manusiawi juga, bukan?

Saat ini rasanya susah menjadi orang apa adanya.  Pak Mahfudz, mungkin sedikit orang yang masih otentik ini yang perlu kita teladani. Di saat dunia kita semakin menjadi dunia kesan, atau kata orang jawa hidup dalam sawang sinawang, dimana orang-orang berlomba-lomba menimbulkan dan melihat kesan daripada kenyataan, tampil apa adanya semakin susah. Semakin banyak orang yang berpura-pura, memakai topeng kehidupanya masing-masing. Semakin banyak orang-orang yang berusaha menimbulkan kesan, mencoba menutupi kenyataan sebenarnya. Miris, banyak orang rela berhutang bertahun-tahun, demi gadget, pakaian, dan kendaraan ‘Wah’ hanya biar terkesan berkelas.

Kita memang mudah sekali terjebak dengan kesan. Tetapi, bagaimana pun juga, apa adanya adalah cermin kejujuran, dan kepura-puraan adalah cermin kemunafikan. Kejujuran membawa ketenangan, sedangkan kemunafikan membawa keresahan. Jadi masihkan kita terus berpura-pura, atau mencoba jujur apa adanya saja?

Advertisements

14 comments

  1. Posting yang sangat bagus, cak Shon. Tepat sesuai dengan pandangan saya atas kenyataan yang terjadi di sekitar kita; termasuk contoh kasus teman sampeyan yang mbacem itu 😀

    Semoga Tuhan masih dan selalu memelihara dan menyelamatkan orang-orang yang jujur. Oh iya, dan menyadarkan orang-orang yang tidak jujur, bagaimanapun caranya.

    Eh, ini lepas dari masalah Pemilu lho ya… Lepas dari Anies vs. Machfud 😀

  2. untuk kondisi yang serba sempit ini di mana tak ada satupun partai yang pede untuk membuat pilihan yang ke-3 saya berharap Prabowo-Mahfud, sayang pak Mahfud tak punya daya jual (bukan karena kualitasnya namun karena beliau tak punya partai yang mengusungnya) karena PKB sudah terlanjur me/dipinang yang lain.
    Insyaallah tahun 2019 Chak. Dan akhirnya menjelang tahun ke-3 berakhir saya berdoa cita cita Chak dan saya tercapai sehingga 2 tahun lebih beberapa bulan terpenuhi. Aamiin.

  3. Woh, berati bener opo sing tak rasakne. AKu pas ndelok anis ngomong ning iklan, ada aura yg nggak enak. Dulu sih auranya bagus ya menurutku, sekarang sudah enggak huahahah..

    Btw, contoh kasus koncomu sing pinter mrogram kuwi, tokoh sing bijine apik, kuwi aku kang huahaha.. cuman bedane aku unggul dalam design “kulit” program, bukan presentasinya hahaha. Tapi pemrogramane mbacem koncoku tak modif sitik2 hyuahahah

  4. hummm aku yo mbacem an,,tp klambine ato kulite yo ra pinter sisan,,,ancen ra seneng mrogram kok :P, tp nek mung nilai..ternyata masih banyak cara mendapat nilai apik..yo lewat teorine hahaha..mrogram e ra isok..mung teorine sing dimempeng 😀
    humm terkait pak anis..sekilas seneng (kesan lewat tok), tp ga nyantol di hati..padane panganan mung delok bungkuse tok sing apik…krn itu tadi..pinter dodolane..iku mnrtku ya,,, hehe *maapDowo2iPanggonKomenNjenengan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s