Ketika Mereka Berpesta Pora di rumah Tuhan


* Interior Pitcher and Piano Bar, Nottingam (Courtesy: http://barmagazine.co.uk/ )

Satu Sabtu sore  di akhir musim semi menjelang musim panas itu, aku baru saja presentasi hasil penelitian ku, pada sebuah seminar yang kebetulan diselenggarakan di kampus ku, Universitas Nottingham. Aku tak mampu menyembunyikan luapan kebahagian ku, ketika bertemu dengan teman-teman sesama Mahasiswa PhD di bidang yang sama yang tidak saja dari kampus-kampus di Inggris, tetapi juga dari negara-negara eropa lainya seperti Belanda, Italia, German, Turki, dan sebagainya. Setelah seminar usai, tibalah saat nya bersosialisasi. Untuk saling mengenal lebih dekat secara informal dengan sesama peserta seminar.

Aku sebenarnya kurang nyaman dengan cara sosialisasi ala orang Eropa pada umumnya ini. Yah, tau kenapa mereka sosialisasinya pasti disertai dengan minum-minum minuman berakohol yang menurut aku sangat menusuk hidung. Meskipun mereka sudah menyiapkan minuman non-alkohol dan makanan Halal khusus buat yang bergama Islam seperti aku. Akhirnya hari pertama aku tidak ikut acara sosialisasi, meskipun aku sedikit merasa tidak enak karena tempat dan makan sudah di booked dan dibayar oleh panitia penyelenggara. Sore itu, adalah sosialisasi hari kedua dan terakhir untuk seminar kali ini. Seorang panitia, yang kebetulan berasal dari Kazahtan, meyakinkan aku bahwa minuman non-alkohol dan makanan halal sudah disiapkan khusus buat aku.

* Dari Luar Pitcher and Piano Bar, Nottingam (Courtesy: http://www.urbanghostsmedia.com )

Akhirnya karena dibujuk-bujuk beberapa teman baru kenal di seminar yang kebetulan aku merasa nyaman dengan mereka, akhirnya aku ikutan juga. Kami naik taksi yang sudah dibayar oleh panitia seminar. Betapa kagetnya aku, ternyata taksi itu berhenti di depan sebuah gereja Katolik Roma yang megah. Di depan gereja itu, berjubel orang sedang bersuka ria dengan gelas-gelas berisi minuman berakohol. Aku mlongo sejenak, baru sadar ternyata gereja katolik roma yang berasitektur cantik itu telah beralih fungsi menjadi sebuah Bar.

Bar itu bernama Pitcher and Piano, yang berada di tengah-tengah city centre Nottingham. Di depan pintu masuk gereja itu, ada dua orang guard berbadan kekar. Dua orang itu bertugas memeriksa ID setiap pengunjung, untuk memastikan setiap pengunjung berumur tidak kurang dari 18 tahun. Sial, beberapa dari kami termasuk aku tidak diperbolehkan masuk karena tidak membawa ID Card. Kami hanya bawa Student Card yang tidak bisa menunjukkan umur kami, karena tidak mencantumkan tanggal lahir. Seorang panitia mencoba melobi dua orang penjaga gerbang gereja, dengan meyakinkan bahwa kami ini mahasiswa PhD yang pastinya sudah berumur lebih 18 tahun, masak iya kami masih kelihatan seperti ABG? Lobi itu tidak mempan, akhirnya salah seorang panitia seminar terlihat agak emosi, karena pihak manajemen tidak memberitahu sebelumnya, kalau kita harus menunjukkan ID. Panitia pun minta dipanggilkan salah satu manager dari bar gereja itu, setelah beradu mulut cukup lama, akhirnya kami diperkenankan untuk masuk. Sore semakin merayap menjadi gelap ketika aku memasuki gereja Bar itu. Aroma alkohol yang tajam langsung menusuk-nusuk hidungku yang lagi tidak pelik.

Dentuman musik keras ala diskotik terdengar begitu keras di telinga saya. Di dalam ruang utama itu penuh dengan manusia, sedang menikmati atau mengantri Bir dan minuman berakohol lainya. Bercampur laki-laki dan perempuan sambil sesekali bergoyang-goyang mengikuti dentuman musik diskotik itu. Yang laki-laki masih berbusana wajar, yang perempuan naudzubillah sangat tidak wajar menurut saya, sangat menimalis bak pakaian para pelacur di Gang Dolly Surabaya. Hanya cahaya lampu remang-remang yang menerangi bangunan dua lantai. Kami langsung menuju lantai dua, di tempat dimana tempat itu sudah di booked jauh hari untuk kami. Sebelum duduk di kursi yang disediakan, aku sekali lagi masih nggumun . Maklum ini baru pertama kali saya masuk Bar yang benar-benar bar dan Pertama Kali masuk Gereja. Dari dulu, kalau sedang jalan-jalan dengan teman-teman  dekat ku, aku selalu berujar pengen sekali masuk gereja dan masuk Bar sekedar ingin tahu ada apa sih sebenarnya di dalamnya. Nah, sore itu secara kebetulan tidak disengaja, dua keinginan ku yang agak nyentrik itu terjadi beneran. Aku sedang menertwakan diriku sendiri.

Dari lantai dua aku melongok ke bawah dan ke atas mengamati aristektur interior gereja itu yang sangat indah. Arsitektur yang sangat rumit ala kerajaan Romawi. Di dalam gereja itu, masih terlihat jelas sisa-sisa lukisan Bunda Maria, Bayi Yesus, Yesus yang lazim ditemui dalam gereja-geraja Katolik pada umumnya. Sebuah tanda nyata, bahwa tempat ini dulunya pernah menjadi  rumah Tuhan, tempat memuja dan memuji Tuhan serta tempat berdo’a memohon kemurahan Tuhan. Nah kok, sekarang berubah menjadi Bar garis miring Diskotik. Telah diusir dimanakah Tuhan mereka itu? Setelah mata ku puas, menyapu seisi ruangan gereja, aku beranjak menuju meja yang disitu sudah tertulis nama ku. aku mendapat tempat duduk di paling ujung. Pas di depan dan di samping kiri ku kebetulan kedua nya orang Italia.

Di samping kiri saya seorang gadis Italia yang sangat jelita, yang Alhamdulilah masih berpakaian normal, kaos oblong lengan pendek warna hitam bertuliskan ” be yourself because everyone else is already taken ! ” Di depan aku seorang cowok Italia, yang saya kira orang Pakistan. Kami ngobrol begitu gayeng, dengan logat Inggris ala Italiano mereka yang terdengar cukup aneh di telingaku. Ternyata cowok di depan ku itu seorang Katolik taat, yang kebetulan juga tea total, tidak minum minuman berakohol.

So, di depan kami berdua, hanya ada dua Gelas besar berisi Jus Jeruk dan Air putih.  Sementara di depan teman kami yang lain, ada dua gelas besar berisi Wine, Anggur berakohol, merah dan putih. Kami minum, makan, ngobrol, foto-foto di tempat itu sampai berjam-jam. Sampai aku merasa kehabisan topik apalagi untuk diperbincangkan. Para pelayan hilir mudik, berpakaian serba hitam, bergerak sangat cepat, melayani permintaan kami. Kami sudah dipesankan dan dibayar oleh panitia seminar. Untuk makanan pembuka aku memilih roti dan sup vegetarian yang terasa seperti Curry India, makanan utama aku memesan ayam goreng yang rasanya sangat tidak enak, sementara makanan penutup berupa puding, rasa gula jawa. Malam semakin larut, gereja itu semakin penuh sesak oleh manusia, dentuman musik terdengar semakin keras, dan orang-orang terlihat semakin ‘gila’ karena pengaruh alkohol. Begitu selesai menghabiskan puding rasa gula jawa itu, aku mentowel seorang teman aku yang dari Thailand. Aku mengajak dia menemaniku, pulang duluan, karena aku belum sholat maghrib yang segera usai waktunya pukul 10.00 Malam. Beruntung teman saya itu mau, pastinya sangat sungkan jika aku harus pulang duluan, ngacir sendirian. Setelah pamitan kami segera ngacir dari Gereja Bar itu mencari Bus umum dan segera Pulang.

PakistanCentre
* Pakistan Centre Nottingham (Sebelumnya Gereja Katolik)

Memang bukan rahasia lagi, bahwa banyak sekali gereja-gereja di kota-kota di Eropa yang beralih fungsi menjadi Bar dan diskotik. Sebagian dibeli oleh muslim dijadikan masjid atau islamic centre. Seperti salah satu gereja Katolik di Nottingham yang telah beralih fungsi menjadi Pakistan Centre, tempat diman teman-teman Muhammadiyah se Inggris pernah mengadakan rapat kerja disini. Sebagian lagi dibiarkan menjadi gereja tua menjadi rumah laba-laba. Sebagian kecil masih berfungsi sebagai tempat ibadah sebagai mana mestinya. Memang agama tidak lagi dipahami sebagai perbuatan ritual penyembahan Tuhan di gereja-geraja oleh sebagian besar oleh masyrakat Eropa. Hanya segelintir orang saja yang masih mau pergi ke Gereja.

Buat mereka yang terpenting adalah budi baik sesama umat manusia, berdasarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Memang secara ritual, mereka sudah bisa dibilang tidak lagi bergama, tetapi secara kemanusiaan mereka sangat berbudi baik nan santun, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kesetaraan, salaing menghargai dan menghormati, saling percaya terhadap sesama. Kontras dengan di Indonesia, memang sebagian besar masyarakatknya secara ritual sangat rajin ke masjid ke gereja. Tetapi, msayrakatnya masih sering berbuat tidak adil, tidak jujur, dan korupsi?

Dalam hati kecil saya sering bertanya-tanya, Jika manusia seolah tanpa campur tangan mampu menciptakan kesejahteraan hidup? Masihkan manusia membutuhkan Tuhan? Sebagaimana terlihat orang-orang Eropa yang meninggalkan gereja mereka. Kalau begitu, Bagaimana masa depan Agama dan Tuhan? Aku pribadi rasanya sampai kapan pun tetap membutuhkan agama dan Tuhan, karena disanalah aku merasa menemukan kebahagiaan sesungguhnya, bukan kebahagian semu ciptaan manusia. Ataukah ini hanya Ilusi? Tapi rasanya tidak. Semoga Allah menjaga kenikmatan Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT. Allahumma Ammin.

Advertisements

9 comments

  1. “Buat mereka yang terpenting adalah budi baik sesama umat manusia, berdasarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.”

    ini menarik sebenarnya, dan ini memang benar adanya. Tapi dalam beberapa hal, ada sedikit banyak perbedaan dalam melihat dan menyikapi perbuatan seseorang akibat value system yang mereka anut dan kita (at least saya sbg muslim dan orang timur) adalah berbeda. Terlebih lagi value system yang berasal dari manusia, seperti halnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan, pasti akan ada pergeseran nilai, for the better or the worse.

    Jadi kadangkala, mungkin sering juga, saya kurang sependapat/berbeda pendapat dengan teman-teman yang berasal western countries. Tapi untungnya mereka semua open minded dengan perbedaan-perbedaan 🙂

  2. beruntung cak son diberi kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang dan budaya yang berbeda-beda 😀 dan bisa melihat kuasa Allah SWT dari sudut pandang yang lain..

    wish i could experience it once ..

      1. iya bener.. alhamdulillah kabar baik cak son.. sekarang masih dalam tahap usaha mo nerusin sekolah lagi.. doa’kan lulus ya..

  3. Pas ndik mbali biyen aromane dupo. AKu langsung bad mood pas hari pertama kerjo. Suwe2 terbiasa. Walaupun cuma betah 5 wulan soale angel golek mejid huahahaha.. Godaane nek ndik mbali akeh juga soale, wong2 santrine saitik, konco kantor sing islam akeh tapi sing gelem sholat sitik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s