Hanya Pahitnya Menuntut Ilmu Sesaat, bukan Perihnya Kebodohan Seumur Hidup

” … dia membuat pemilik nya bisa membedakanyang benar dari yang salah, dia menerangi jalan menuju syurga. Dia adalah satu-satu nya sahabat, ketika kita terasing sendirian di tengah padang pasir, teman pada saat kita berada dalam kesunyian, dan satu-satunya kawan setia saat semua meninggalkan kita. Dia membimbing kita menuju kebahagiaan, dia yang membuat kita tetap bertahan dalam kesedihan dan duka lara, dia menjadi hiasan kala kita berada diantara teman-teman kita, dan dia menjadi tameng pelindung kala kita berada diantara musuh-musuh kita. ” – Kanjeng Rosul S.A.W

menuntut_ilmu

“Argh… kepala ku pusing”, keluh ku sendiri sambil memijit-mijit kepalaku yang tidak sakit di depan ribuan baris-baris code program ku. Sudah coba dan kucoba lagi strategi baru dalam algoritma ini, tapi lagi-lagi tak jua menghasilkan hasil yang memuaskan. Hemm, pada akhirnya aku memahami betul, kenapa di awal-awal dulu, setiap membaca paper-paper ilmiah di bidang ini, di bagian pendahuluan penulis selalu menuliskan bahwa permasalahan ini sudah diteliti lebih dari 40 tahun, dan sampai sekarang masih diakui sebagai permasalahan yang sulit untuk dipecahkan dan terus diteliti oleh para peneliti di bidang Riset Operasi dan Kecerdasan Buatan.

Di tengah kepusingan ku itu, seorang teman sesama mahasiswa PhD yang di duduk sebelah ku, men towel ku dan mengabarkan kalau seorang mahasiswa PhD dari Bulgaria, di ruang sebelah, di grup riset yang sama dengan kami, baru saja memutuskan untuk Give Up dan mengakhiri studinya tanpa gelar di akhir tahun ke empat masa studinya. Beuh… kabar buruk yang kembali menakut-nakuti ku lagi. Beberapa bulan sebelumnya, seorang teman satu ruangan dengan kami, mahasiswa PhD dari Cina juga memutuskan Give Up setelah tidak lulus ujian tahun pertama. Sebenarnya, diberi waktu 3 bulan untuk ujian ulang seperti kebanyakan teman-teman yang tidak lulus ujian tahun pertama, tetapi dia memutuskan untuk menyerah.

Lagi-lagi, ketakutan itu datang menghantui ku. Seperti, hantu pocong yang tiba-tiba menyembul dari balik jendela, di tengah heningnya malam, dikala aku sendirian  di kamar. Akankah aku mengalami nasib yang sama? Oh tidak, jangan ya Allah. Insha Allah, seberat apa pun perjalanan panjang menuntut ilmu ini saya tidak akan menyerah, sampai hembusan nafas semangat yang terakhir.

Bila ketakutan-ketakutan itu datang menyerang semangat ku, aku selalu merasa berterima kasih kepada guru ngajiku waktu kecil, saat masih usia SD, di masjid kampung halaman ku. Dulu, setiap malam senin dan kamis, sebagai tambahan ngaji alquran setiap habis maghrib di hari-hari biasa. Kami ada kelas madrasah informal. Kelas ini hanya nama, faktanya adalah  beberapa gerombolan murid yang ndelosor di emperan masjid menghadap sebuah papan tulis sederhana yang disandarkan di tembok masjid. Kita murid-murid, hanya diminta urunan beli kapur tulis dan membeli triplek yang dihitamkan pakek karbon dari baterai bekas dan getah pohon pisang,  karena harga cat kayu warna hitam tidak terjangkau oleh kami anak-anak kampung waktu itu. Penghapusnya pun, kita buat sendiri, diambil dari luru (mencari) kapuk (kapas) dari pohon randu di kampung kami, kami masukkan dalam kain bekas dan kita jahit pakek benang dan jarum tangan.

Salah satu dari guru ngaji itu, bernama Syaikhul Umam, salah satu putera dari Imam masjid di kampung kami. Kami biasa memanggilnya, Lek Sikul, tanpa embel-embel ustad. Kami anak-anak desa merasa aneh dengan kosa kata Ustadz. Lek adalah penggilan di desa yang artinya Om. Di kelas sekolah informal dua minggu  sekali, antara maghrib dan isyak itu, kami diajari banyak hal. Diantaranya tajwid, fiqih, akhlak, dan bahkan pernah diajari kitab nahwu: ‘ngawamil’ oleh salah seorang guru ngaji kami, sebelum akhirnya dihentikan, ditilang oleh Bapak ku sendiri karena dirasa terlalu berat untuk anak-anak seusia kami. Ceritanya, pada satu hari, saya sampek nangis, karena belum hafal nadzom ngawamil yang harus disetorkan pada hari itu, jika tidak hafal resikonya saya bisa di suruh berdiri sampai sekolah selesai. Belakangan, setelah saya di pesantren, saya baru tahu kalau kitab itu memang bukan untuk pemula. Ada pelajaran ‘Nahwu dan Shorf’ ( grammer bahasa Arab) yang harus dipelajari sebelum kitab itu. Guru ngajinya dulu ternyata barusan mrotol (putus di tengah jalan) dari pesantren, tapi dia merasa bertanggung jawab mengamalkan ilmunya dari pesantren, tapi tanpa melihat latar belakang murid yang diajar.

Nah, salah satu hafalan yang masih aku ingat dan menginspirasi aku hingga detik ini adalah hafalan nadzom (syair) yang setelah saya di pesantren baru tahu kalau nadzom itu dinukil dari kitab Ta’lim Muta’alim, tapi dikombinasi dengan syair dalam bahasa jawa. Waktu itu aku masih kelas 3 SD, tapi aku sangat senang menghafalnya. Salah satu penggalan nadzom itu berbunyi:

Ala la.. tanalul ilma illa bisittatin saumbika ‘amajmuaka bilbayani
zhukaain, wa hirishin , wastibarin, wabilghatin, wairsyadi ustadin, watulizzamani

Ilingo ndak bakal hasil ilmu anging nem perkoro, bakal tak ceritak ake kumpule kanti pertelo.
….
Bola bali den paham ambal-ambalan, datan weruh opo isine buntelan.

 

Bait syair inilah yang menjadi penawar rasa, setiap sering kali aku merasa ingin berputus asa. Intinya, ada 6 syarat yang harus dipenuhi agar berhasil menuntut ilmu, yaitu: 1. Harus punya akal sehat, 2. Bersungguh-sungguh , 3. Sabar, 4. Ada Bekal yang cukup, 5. Adanya Petunjuk Guru, 6.  Waktu yang lama.

Bola bali den paham ambal-ambalan, datan weruh opo isine Buntelan. Artinya: diulang-ulang berkali-kali, agar tahu isi dari Bungkusan. Syair ini ampuh untuk membuatku tidak mudah putus asa. Jika sekali membaca paper jurnal tidak paham itu sangat wajar, yang perlu dilakukan adalah mengulangi membacanya berkali-kali. Jika mencoba sekali tidak berhasil, harus dicoba berkali-kali.

Mengenai kesabaran dan ketelatenan dalam menuntut ilmu, Lek Sikul, guru ngajiku ini pernah mendongeng tentang Ibnu Hajar Alasqalani, yang belakangan waktu di pesantren saya baru tahu, dia adalah ulama besar dan terkenal pengarang kitab Bulughul Marom yang dipakek rujukan di pesantren-pesantren sampai sekarang. Di balik namanya yang indah itu, Ibnu Hajar, yang artinya ‘anaknya batu’, tersimpan sebuah cerita syarat makna. Konon dulu katanya, Ibnu hajar ini berguru pada seorang kyai, berpuluh-puluh tahun lamanya, tapi Si hajar ini merasa tidak paham-paham dengan ilmu yang disampaikan oleh gurunya, dia merasa sebagai santri paling bodoh di antara teman-temanya. Akhirnya, diapun kehabisan kesabaranya, bayang kan sudah puluhan tahun dia belajar tak sedikitpun ilmu yand dia dapat, dan dia pun memutuskan untuk menyerah, pulang ke kampung halamanya.

Di tengah perjalan pulang itu, Si Hajar melintasi sebuah hutan, dan singgah di dalam sebuah gua. Di tengah kesendirian dalam keheningan gua itu, dia mendengar suara tetesan air. Si Hajar mencari sumber suara itu, dan didapatinya seonggok batu besar yang cekung permukaanya karena tetesan air yang terus menerus itu. Pemandangan di depan matanya itu, membuat dia berfikir: wah batu, saja yang sekeras itu bisa cekung karena tetesan air yang terus menerus, apalagi otak ku yang tidak sekeras batu itu. Pada akhirnya, dia sadar bahwa dia kurang sabar dan telaten dalam menuntut ilmu. Ilham dari batu dan tetesan air itu pada akhirnya menghantar Si Hajar kembali lagi ke hadapan kyai nya. Di akhir cerita, ketekunan nya lah yang membentuk Ibnu Hajar menjadi ulama besar yang dikagumi,  dan ilmunya, kitab-kitab karanganya, sampai sekarang dan mungkin sampai akhir jaman nanti masih dipelajari, dikaji, dipahami oleh jutaan umat manusia. Itulah ilmu yang bermanfaat, yang pahalanya dijanjikan tetap mengalir, meskipun nyawa sudah tidak bersatu dengan badan. Ceritanya pun menginpirasi banyak orang dari generasi ke generasi.

Semoga, Ibnu Hajar ini juga terus menginpirasi kita dalam menuntut ilmu. Memang, menuntut ilmu itu tak selalu mudah dan indah, kadang menuntut ilmu itu terasa menyakitkan. Tetapi ingat kata Imam Syafii, yang juga Ulama besar yang ilmunya masih dikaji dan dijadikan rujukan utama jutaan umat di seluruh dunia, bahwa:

“Barangsiapa tidak tahan pahitnya belajar, maka akan menanggung perihnya kebodohan”

Sepahit-pahitnya menuntut ilmu, pasti ada akhirnya, daripada menanggung perihnya kebodohan seumur hidup, bahkan sampai di akhirat nanti. Betapa ruginya kita jika di hari tua nanti kita miskin harta miskin ilmu. Selagi masih muda, selama masih ada kesempatan mari bersemagat, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Teringat sabda Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. :

Carilah Ilmu, Dia membuat pemilik nya bisa membedakanyang benar dari yang salah, dia menerangi jalan menuju syurga. Dia adalah satu-satu nya sahabat, ketika kita terasing sendirian di tengah padang pasir, teman pada saat kita berada dalam kesunyian, dan satu-satunya kawan setia saat semua meninggalkan kita. Dia membimbing kita menuju kebahagiaan, dia yang membuat kita tetap bertahan dalam kesedihan dan duka lara, dia menjadi hiasan kala kita berada diantara teman-teman kita, dan dia menjadi tameng pelindung kala kita berada diantara musuh-musuh kita.

P.S.

Khususon ila Rosulillah Muhammad SAW, Imam Syafii,  Ibnu Hajar, lahumul Alfatihah…..

Advertisements

5 comments

  1. …kembali tulisan Cak bisa mengisi baterai yang mulai berkurang sepertihalnya tulisan sebelumnya, yazidu wa yankuz. Salam hangat dan du’a dari saya di Belfast untuk kesuksesan Cak. Luqman Hakim, yang namanya diabadikan dalam surat itu, pernah ditanya kenapa ia mendapatkan hikmah, jawabnya: 1. Itu bagian dari takdir allah swt 2. Ia selalu menjalankan amanah 3. Ia selalu jujur dan 4. meninggalkan sesuatu yang tak penting.

    Ditunggu tulisan selanjutnya…

  2. uapik tulisane, cak shon.

    matur nuwun sudah membangkitkan semangat saya buat lanjutin phd yang hampir kena deadline, di tengah keinginan saya untuk mrotol di-akhir jalan. kurang tekun, kurang tekun, kurang tekun..

    Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa’ala ali sayyidina Muhammad

  3. Semangat kak shooon… Suk mben nek wis lulus pokoke kudu mbalik indonesia loh ya, khan kita belum sharing fotografi bareng nih. Sesama pengguna nikon d3200 hahahah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s