Antara Yazid, Yankus dan Istikomah : Bukan Cinta Segitiga

“… berada dalam kondisi tidak tahu apa yang harus dilakukan adalah bagian dari proses pelatihan sekolah PhD ” – Kata Sang Guru.

sticky_note_arep_lapo_yoo

Hari ini, entah sudah hitungan keberapa ratus kali aku memasuki ruangan ini. Membuka pintu yang masih dalam kondisi terkunci, melempar tas di atas meja, dan duduk manis di atas kursi empuk warna biru  di sudut ruangan di salah satu sudut ruangan yang paling tersembunyi. Di depan ku, hanya ada monitor, keyboard, mouse, pena, tumpukan buku-buku tebal, serta kertas-kertas yang berserakan. Kertas-kertas itu penuh coretan-coretan tulisan, simbol dan angka yang mungkin hanya aku yang tahu. Di tempat inilah, berjam-jam dari pagi hingga larut malam aku habiskan hari-hari ku. Berdiskusi dengan kepalaku sendiri, memecahkan setiap teka-teki yang datang silih berganti setiap hari. Seperti menyusun puzzle yang seolah tak pernah berkesudahan.

Sebelum memulai hari panjang ku, seperti biasa, aku mengambil secarik sticky note dan menulis apa-apa yang harus aku kerjakan hari ini. Lalu menempelnya di halaman-halaman majalah bekas. Tapi, ada yang aneh dengan hari ini. Karena aku tidak tahu apa yang harus kutulis di atas sticky note ini. Entahlah, mungkin kepala ku sudah terlalu penuh dengan dengan teka-teki yang belum terpecahkan.

Hari ini, aku juga enggan membuka Eclipse berisi ribuan baris-baris code Java makanan ku setiap hari,  ataupun membuka Latex tempat mencurahkan isi di kepala ku. Entahlah, mungkin gairah dan semangat ku sedang dipinjam oleh seseorang. Aku seperti orang gila saja, berkali-kali tutup buka tab di browser antara email, portal berita, youtube, dan facebook. Seolah sedang menunggu kabar dari seseorang yang sedang ditunggu-tunggu. Padahal, tak ada yang ditunggu.

Yah, seperti Iman yang bisa bertambah (Yazid) dan berkurang (Yankus), semangat pun ternyata juga demikian. Ada kalanya, aku begitu menggebu-gebu mengejar apa yang aku mau. Ada saat nya, aku hanya duduk diam termangu.

Tapi, haruskah aku membiarkan keadaan ini terus membelenggu ku? Ah tidak, aku tidak mau. Aku tidak boleh lelah, aku tidak boleh jenuh, aku tidak boleh menyerah ! Sekali lelah, sekali jenuh, sekali menyerah akan tuman kerasan, jadi kebiasaanSeperti waktu yang terus berjalan, aku pun tak boleh berhenti. Aku harus istikomah ! Sejenak, aku temukan catatan pinggir di antara kertas-kertas lusuh berserakan penuh dengan coretan, yang entah aku mengutipnya dari mana, sepertinya tulisan Prof. Ken Soetanto:

Waktu aku terbentur tembok, aku tabrak lagi sampai keluar darah. Sampai bagaimana pun, aku tidak akan berhenti. Jangan takut akan jatuh dan berdarah. Karena, pasti ada dunia lain yang lebih indah.

Dan perlahan, semagat ku pun mengalir kembali, seperti aliran darah yang memberi tanda-tanda adanya kehidupan.

Kawan, adalah manusiawi semangat kita mengendur, karena ketetapanya memang begitu, bisa bertambah (Yazid) dan berkurang (Yankus). Tapi kita tidak boleh berhenti, kita harus berjalan terus, harus istikomah melanjutkan perjalanan ini, walaupun harus dengan tertatih. Semoga Tuhan, senantiasa memberi kekuatan pada kita, Allahumma ammiin.

Advertisements

2 comments

  1. “Waktu aku terbentur tembok, aku tabrak lagi sampai keluar darah. Sampai bagaimana pun, aku tidak akan berhenti.Jangan takut akan jatuh dan berdarah. Karena, pasti ada dunia lain yang lebih indah.”
    harus dicoba ini.
    hehehe
    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s