Mengelap Meja, Kepingan Poundsterling, dan Pengambilan Keputusan dalam Hidup

… hanya saja, saya sangat benci ketika uang terlalu mendikte setiap pengambilan keputusan-keputusan dalam hidup saya. Karenanya, saya sangat bersyukur dan menikmati pekerjaan “otot” ini – a random thought.

Belum juga, ‘Sang Fajar’  pertanda  waktu subuh dan bergantinya hari muncul di ufuk langit. Udara musim dingin di kota Nottingham masih terasa menusuk-nusuk tulang dan selalu menjadi alasan untuk berlama-lama bersembunyi di balik duve, selimut tebal yang menghangatkan itu. Setiap hembusan nafas pun berubah seperti kepulan asap rokok di pagi buta itu. Tetapi, saya harus memulai aktivitas saya hari ini dengan glove warna kuning di kedua tangan, selembar kain lap warna biru, sebuah ember biru beriisi campuran air dan bahan kimia, dan ‘mantra’ bismilah. Saya harus mendatangi setiap meja kerja di salah satu ruangan kantor dalam salah satu bangunan perkantoran megah di kota ini untuk membersihkan setiap titik noda, dan merapikanya. Di meja-meja berjumlah ratusan itu, sejenak saya tertegun, ketika melihat setiap tulisan nama berikut nama jabatan di bawahya:  ‘Business Analyst’. Rupanya, di ruang kantor ini, mereka semua berprofesi sebagai business analyst, profesi pekerjaan yang pernah saya impikan, dan walaupun sebentar, saya pernah merasakan profesi itu. Pun, di tempat saya mengajar, mahasiswa dididik salah satunya untuk menjadi profesional di bidang itu. Setelah semua meja kerja bersih, giliran kaca jendela yang harus dibersihkan, berikut karpet lantai yang harus dibersihkan dengan vacuum cleaner. Tak terasa, dua jam lebih pun berlalu, dan saya harus menyudahi aktivitas pembuka hari ini.

Yah, inilah cerita nasib mahasiswa dengan beasiswa dengan jumlah pas-pasan dan kiriman nya pasti telatan, yang mencoba bertahan hidup bersama keluarga tercinta, di salah satu negara dengan biaya hidup termahal di dunia.Bagimana tidak, beasiswa itu sebenarnya hanya dialokasikan untuk biaya hidup seorang bujangan, tetapi saya nekat memboyong keluarga saya disini. Jika sebelumnya, hanya perlu menyewa sebuah kamar, dengan keluarga, saya harus menyewa sebuah rumah sendiri. Sebenarnya, kalau bisa berhemat beasiswa itu cukup saja sih untuk membiayai satu keluarga, asalkan beasiswa itu kirimanya tidak telat seperti yang selalu terjadi, hehe. Tetapi, hanya saja, saya tidak suka, uang terlalu mendikte saya dalam setiap pengambilan keputusan saya sehari-hari. Ingin, jalan-jalan sambil belajar melihat museum di luar kota terpaksa harus dibatalkan karena tidak ada uang. Ini tentunya, sangat menyebalkan. Makanya, sejak akhir bulan kemaren, saya ikutan teman-teman yang sebagian besar dari Malaysia kerja part-time sebagai cleaner. Lumayan, setiap jam kami dibayar £6, dan saya bisa bekerja minimal 2 jam setiap hari nya.

Kebijakan yang Kurang Bijak

Bagaimana pun, saya harus tetap bersyukur, saya mendapatkan kesempatan ini. Bisa belajar di luar negeri, tentu saja bukan kesempatan yang dimiliki setiap orang yang menginginkanya. Tetapi, saya sering kali ‘gemas’ dengan pembuat kebijakan pemerintah yang sering kali kurang bijak dan tidak adil. Seharusnya, mereka tahu bahwasanya, mahasiswa S3 itu sebagian besar sudah berkeluarga. Kenapa beasiswa itu tidak meng-cover juga untuk keluarga penerima beasiswa? Untuk menyelesaikan S3 setidaknya dibutuhkan waktu 3 tahun, haruskah penerima beasiswa ini rela berpisah dengan anak dan istri tercinta mereka? Jika anda sudah berkeluarga, anda pasti bisa merasakan bagaimana beratnya berpisah dengan keluarga, apalagi dalam waktu bertahun-tahun. Sungguh, bukanlah kehidupan yang mudah. Lebih menyedihkan lagi, seorang kawan mengaku pada saat wawancara diancam akan dicoret dari penerima beasiswa, jika dia berencana membawa keluarganya. Penerima beasiswa dihadapkan pada dua pilihan sulit: hidup jauh terpisah dengan keluarga, atau nekat menjalani hidup pas-pasan dan penuh keprihatinan bersama keluarga.

Mungkin pemerintah beralasan keterbatasan dana, tetapi faktanya mereka juga mengaku banyaknya dana anggaran yang tidak terserap. Pemerintah bisa saja berkelit, itu sudah aturan dari menteri keuangan. Tapi nyatanya itu tidak berlaku di departemen lain, yang sama-sama menggunakan uang rakyat, dana APBN. Saya, nelongso rasanya, ngelihat beasiswa teman satu kampus di Nottingham, yang sama-sama dibiayai negara , sama-sama menggunakan dana APBN tapi dengan jumlah yang jauh lebih besar. Belum lagi, dia mendapatkan tunjangan-tunjangan lain yang tidak dicover dalam beasiswa saya. Jelas, sebuah kebijakan yang tidak adil bukan?

gl_me
Beasiswa saya

Padahal, tentu saja investasi buat saya sebagi dosen tentunya akan berdampak jauh lebih besar dari teman saya yang bukan dosen. Saya yang akan menularkan ilmu saya suatu saat nanti untuk ribuan mahasiswa-mahasiswa saya. Ilmu saya untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan lebih lanjut, Ilmu saya untuk pengabdian masyarakat  yang menjadi tugas saya sebagai dosen. Sementara, dia tanpa bermaksud mengecilkan, paling-paling untuk dia sendiri dan lingkungan kantor dia sendiri. Bahkan, dia blak-blakan mengaku kalau dia sekolah tidak lain hanya untuk mendapatkan promosi jabatan lebih tinggi dengan lebih cepat di kantornya.

gl_youBeasiswa Teman Saya

Saya tidak sedang iri, apalagi mengeluh, tapi terus terang saya sangat geli sekaligus sangat gemas dengan para pembuat kebijakan di negeri ini yang seringkali kurang bijak, kurang adil dan kurang ‘manusiawi’.

Aku #Ra Po Po

Buat saya pribadi, sebenarnya semuanya tidak masalah, aku ra popo  (bahasa Jawa). Pantang buat saya pribadi untuk mengeluh. Buat saya, keyakinan bahwa yang terjadi atas diri saya adalah yang terbaik adalah sebuah prinsip. Saya yakin, dimana pun selalu ada tangan-tangan Tuhan, yang sering kali logika manusia tak mampu menjangkau nya. Senang-susah,ringan-berat, bahagia-menderita semua tergantung bagaimana kita masing-masing memaknainya. Hanya saja, jika ini menyangkut kepentingan public, kepentingan orang banyak, kita semestinya bebesar hati harus memperbaikinya.

Advertisements

12 comments

  1. Bagus sekali tulisanya Cak. Mengena, nasehatnya tersampaikan, kejanggalan sudah tergambarkan, alasanpun sudah diterangkan. Harusnya mereka yang membuat kebijakan tersebut jika membaca ini akan tergugah adanya.

    Tentu tak ada kata terlambat bagi para pembuat kebijakan untuk merubah kebijakan mereka agar lebih baik lagi.

    Sepeda ini terus kan kukayuh agar ia tak terjatuh.
    Salam hangat dari kami sekeluarga di Belfast.

  2. Wah, Cak… tulisan ini mengingatkan saya pd seorang sahabat penerima bidikmisi yg harus pontang-panting kerja part time sbg pembuat pot, pencuci mobil, bahkan krn telatnya beasiswa dan ketidakmampuannya, dia pernah jd pemulung kertas. But both of you are awesome. Semoga sukses mencapai organ target. 🙂

  3. Salam Pak Muklason,
    Mohon info tempat kos pak Muklason waktu masih sendiri (belum bawa keluarga) di Nottingham itu dimana ya? Saya rencananya akan melanjutkan study master di Nottingham mulai september ini. Mohon info mengenai tempat kos pak Muklason, mungkin bisa via japri email di madejatmika@gmail.com. Matur nuwun sadherengipun.

  4. Hahahha… kok kaceke akeh ya Kang. Wah gak adil ya hahaha..

    Tapi rapopo kang, khan sampeyan iso cerito ning murid2mu suk mben nek sampean tau kerjo dadi cleaning servise tukang ngelapi mejo. Mahasiswamu suk mben luwih manusiawi dibanding koncomu kuwi sing niate cuma sekedar jabatan. Gak keren dan gak menginspirasi!

  5. Ternyata beasiswa DIKTI benar2 tidak manusiawi, semoga dimudahkan dan dilancarkan cak shon.. insyallah berkahe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s