“Ayah, Allah ada dimana?” : Ketika Si Kecil Bertanya tentang Tuhan nya

ilyas_bertanya

Jarum jam dinding hampir saja menunjuk tepat pukul 09.00 malam. Malam minggu ini, seperti biasa aku habiskan untuk bercengkrama dengan si Kecil, Ilyas dan tentu saja aku sangat menikmatinya. Maklum, di hari-hari kerja biasa, sepulang dari kampus aku biasa menjumpainya sudah dalam keadaan tertidur lelap. Jika sudah begitu, aku hanya bisa mengecup kening dan kedua pipinya, sebelum akhirnya aku pun tertidur lelap di samping nya. Sungguh, menghabiskan waktu bersamanya adalah waktu tak terkira nilainya. Memperhatikan dia tumbuh dan berkembang dari hari ke hari adalah anugerah dan berkah dari Tuhan yang luar biasa. Jujur, aku justru banyak yang belajar darinya, dia yang sering kali jauh lebih cerdas dari yang aku sangka. Mungkin banyak orang tua mengeluh akan ‘kebandelan’ dan ‘kenakalan’ anaknya. Tapi tidak ada istilah nakal dan bandel buat ku,  buat ku itu justru tantangan buat ku. Setidaknya, membuat aku belajar agar tidak terpancing emosi dan berfikir kreatif bagaimana menaklukkan ke ‘bandel’ anya. Ketika dia malas makan, aku jadi tahu bagaimana membuatnya bersuka ria dengan acara makanya. Ketika dia menolak mandi, aku jadi tahu bagaimana membuatnya ketagihan mandi. Dulu, saya yang tidak pernah tahu dan tak mau peduli bagaimana bapak ibu ku mencintai aku, aku sekarang bisa merasakan dan memahami cinta itu.

Menjelang usianya yang sebentar lagi akan genap tiga tahun, aku harus berhadapan dengan kekritisanya. Dia begitu banyak sering bertanya. ” Ayah ini apa? ”  “Ayah itu apa?” . Dan aku berusaha dengan telaten menjawabnya. Seperti malam minggu ini, sementara bundanya sudah tertidur lelap, aku masih berusaha meninabobok kan nya. Dengan kereta mainan di tanganya, dia tak henti-henti nya bertanya apa ini apa itu, sambil menunjuk setiap detil bagian dari kereta mainanya. Dari pertanyaan apa ini, apa itu beralih ke pertanyaan dimana. Dia menyebut satu persatu orang atau benda yang ada di ingatanya dan menanyakan dimana keberadaanya.

“Ayah, tante ada dimana?” aku  jawab: ” tante sudah tidur”. ” Ayah Tram nya ada dimana? ” aku jawab ” tram nya sudah tidur”. Aldo, Bu Rikha, Kak Yumna, Mas Rafi, Bus, Bunda, semua ditanyakan keberadaanya dan selalu aku jawab semua sudah tidur. Kemudian aku bujuk ” semua sudah tidur, ayo sekarang segera tidur”. Tiba-tiba, diluar dugaan saya, dia bertanya lagi, “Ayah, Allah ada dimana?” *tuiing…* aku terdiam sesaat, mencari jawaban yang pas sambil mbatin: “sial, dia tahu saja kalau Allah tidak pernah tidur”. Kemudian aku jawab sekenanya ” Allah ada di langit, Allah tidak tidur”. Dia yang dari tadi dalam posisi tidur, tiba-tiba terbangun sambil mengangkat kedua tanganya di depan mulut mungilnya, sambil mulutnya berdo’a: ” Allahummaghfili dzunubi waliwalidayya warham huma kama rabbayani shagira” ( terjemahan: Ya, Allah ampuni dosaku dan dosa kedua bapak ibu saya, dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi ku ketika aku masih kecil). 

Aku benar-benar terharu dan hampir saja menitikkan air mata melihat pemandangan malam itu, ketika hanya ada aku dan dia. Perlahan aku elus rambutnya dan ku kecup kening nya berkali-kali dan membuat hatiku penuh dengan ribuan tanda tanya. Betapa anak se kecil itu sudah mengenal Tuhan nya. Ilyas yang sering ikut sholat ayahnya, yang rajin berdoa, dan takut jika Allah marah. Kau ingatkan Ayah, bahwa setiap saat, dalam keadaan sesedih dan sebahagia apapun, kita tidak boleh melupakan Allah. Semoga, ayah kelak bisa membimbing mu mengenal Allah, Tuhan mu dan menapaki jalan Nya yang lurus ya nak ! Allahumma Ammiin..

***

“Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi ” – Shahih Bukhari 4402

 

Advertisements

11 comments

  1. kalau saya ditanya gitu sama anak saya.. mungkin agak bingung juga menjelaskannya. saya tidak mungkin Tuhan Allah ada di surga seperti orang nasrani. Allah itu lebih besar daripada surga,, malah surga ada di dalamNya.

    dan biasanya anak kecil itu (kalau sekolahnya campur antara muslim dan non muslim) biasanya sering debat soal Tuhan. kalo udah gini pinter2nya orangtua yg cari jawaban, hehe..

  2. Wooow, anakmu cerdas banget hahaha… 3 tahun wis puwinter yaaa..

    Alloh Maha Besar, jadi kita gak bisa melihatnya saking besarnya.

    Sama kayak semut melihat gajah, semut hanya bisa melihat abu-abu tanpa tahu bentuk gajah sebenarnya kayak apa.. 😀

    Ngono po ya kang? 😀

  3. Subhanalloh, memang anak2 selalu menanyakan apa yang mereka tidak tahu, bukan malah menebak2 seperti orang dewasa.bahkan tidak jarang pertanyaan yang dilontarkan adalah pertanyaan pertanyaan filosofis.
    Postingan njenengan ini mengingatkan saya sama pertanyaan yang pernah saya lontarkan ke bapak, ‘pak’e, kenapa kok kalau aku mau ngomong, kok tak ucapkan di hati dulu ya?’ bapak ndak bisa jawab waktu itu, tapi menurut saya jawabanya karena saya masih kecil, jadi mau ngomong itu sulit dan harus dipikir dulu.
    Tapi beberapa waktu yang lalu, saya jadi agak nyerocos bapak tiba2 mengingatkan ‘samean sekarang kok lek ngomong sak jeplak e ya, gak dipikir dulu, gak dirasakan di hati dulu kayak waktu kecil?’ saya langsung mak jleb rasanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s