Nerimo Ing Pandum : Berdamai dengan Ketidaksempurnaan Hidup

… tak perlu silau apalagi risau dengan kesuksesan dan kejayaan orang lain. Setelah yakin telah melakukan yang terbaik, terkadang kita hanya perlu berdamai dengan diri sendiri. Ikhlas dan ridho dengan ketetapan Yang Maha Menetapkan. Nerimo Ing Pandum kata orang Jawa. Karena itulah kunci pintu-pintu kebahagiaan, ketentraman, dan keberkahan  hidup. – a random thought.

nerimo_ing_pandum

**

Silaturrahim dengan orang yang sudah sepuh selalu menyenangkan bagi saya. Buat saya, mereka yang sedang menikmati hari tua selalu menjadi pemercik pelajaran tentang kebajikan dan kebijakan hidup yang selalu menyejukkan jiwa. Mungkin karena mereka sudah pernah merasakan muda, sementara kita yang muda belum pernah merasakan berproses hingga menjadi tua. Mereka seolah begitu arif dan bijak dalam memaknai hidup dan kehidupan ini. Memang menjadi tua tak selalu menjadi bijak, tetapi untuk menjadi bijak ada jalan panjang nan berliku yang harus ditempuh, kawan!

Seperti pagi itu, saya bersama istri dan anak semata wayang saya berkunjung ke rumah mbok Darmi. Mbok Darmi, bukan nama sebenarnya :p, dengan senyum dan air muka tulusnya yang tidak dibuat-buat seperti senyum karyawati  Alfa Mart, membukakan pintu rumahnya untuk kami. Beliau mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah joglo yang sederhana dan tidak terlalu besar itu, bahkan kecil untuk ukuran rumah di pedesaan. Beliau menggelar tikar mendong di tengah ruangan rumah yang masih berlantai tanah itu, kemudian mempersilahkan kami duduk dengan rumah. Berkali-kali beliau minta maaf atas keadaan rumahnya yang jikalau mungkin kurang berkenan buat kami. Dia juga maaf atas cucu lelakinya yang sudah remaja yang pagi itu masih tertidur pulas tengkurap di atas dipan kecil dari bambu yang juga berada di ruangan tengah rumah itu. Mata saya menyapu setiap sudut rumah sederhana itu, hanya ada satu kamar tidur kecil, ruang tengah, dapur dan kandang ayam. Bukan rumah mewah gedongan memang, tetapi entah kenapa sejak memasuki rumah itu ada kedamaian yang menyelinap dalam hati, sebuah keadaan yang justru jarang saya rasakan ketika memasuki rumah gedong yang mewah. Ingin rasanya berlama-lama berada dalam rumah itu, sambil mendengar simbok bercerita tentang hidup yang dia pahami.

Sebenarnya, maksud kedatangan kami adalah untuk memijatkan anak lelaki saya yang berumur dua tahun. Seperti anak desa pada umumnya, anak saya ini minimal satu kali dalam sebulan harus dipijit. Apalagi kalau sudah terlihat bawaanya rewel, Ajaib setelah dipijit rewelnya langsung hilang dan berganti dengan keceriaan, gelak dan tawa. Sambil, memijit perlahan tubuh anak saya yang terlihat sangat menikamati, mbok Darmi bercerita tentang hidup. Si mbok yang sudah berumur 90 tahunan tapi masih terlihat sehat ini, memulai kisahnya tentang anak-anaknya. Dengan tutur bahasanya yang halus, rendah hati, dan perlahan itu  Si mbok mengungkapkan rasa bangganya atas keputusan yang baru saja diambil oleh si ragil. Anak terakhir perempuanya itu baru saja memutuskan keluar dari kerja, dan memilih merawat anak dan mengabdi sama suaminya. Meski beliau yang banyak bercerita, tetapi si mbok sekali-kali menanyakan keberadaan kami. Sanjungan dan doa-doa tulus selalu keluar di antara tutur katanya yang menyejukkan itu. ” Cah bagus, Cah ayu, sing rukun, sing sabar, sehat, ayem, tentrem, gampang rejeki”  adalah di antara kata-kata yang keluar dari bibirnya.

Meskipun mungkin bagi pandangan orang pada umumnya, hidup mbok Darmi kekurangan. Tetapi saya menangkap kesan yang berbeda dari si mbok yang selalu memakai jarit dan baju kemben, pakaian khas perempuan-perempuan jawa jaman dulu itu. Beliau begitu ikhlas dan nrimo terhadap semua cerita hidup yang dia alami. Tak sedikitpun, beliau terlihat mengeluh apalagi menyesali atas kehidupanya. Sebaliknya, air mukanya memancarkan aura kesyukuran tanpa batas.

Setelah anak saya dipijit, kami pun pamit mohon undur diri. Sambil salaman, istri saya menyelipkan selembar uang untuk si Mbok. Dengan air muka tenang, si mbok berkata. Iya ini saya terima dengan penuh syukur, terima kasih sebanyak-banyaknya, mugi Gusti Allah sing mbales. Tapi ijinkan saya, sekali saja untuk memakai uang ini untuk nyangoni cucu saya yang satu ini. Uang itu pun diberikan kepada anak saya, yang sudah menggunakan jasanya. Saya pun meninggalkan rumah itu dengan hati menggantung dan penuh tanda tanya.

***

Senja itu kami sedang jogging lari-lari kecil menyusuri jogging track yang meliuk-meliuk bak ular memutari danau buatan di dekat gerbang pintu utama masuk ke area kampus kami. Sinar matahari yang hendak terbenam diufuk barat dan ikan-ikan yang berenang di dalam air danau serta rumput hijau yang terhampar luas membuat sore itu terasa indah apalagi sehabis seharian beraktivitas seharian di depan komputer di Lab. Setelah, satu kali putran, kami memperlambat kecepatan kaki kami, berjalan perlahan sambil memperhatikan ikan-ikan yang sedang berpesta dengan potongan roti tawar yang kami lempar ke danau.

Disamping saya, seorang anak muda berperawakan tegap, tinggi besar, dan berambut pendek. Kulitnya putih langsat dan wajahnya tampan. Sebuah tampilan fisik yang sangat sempurna mungkin buat anak-anak gadis remaja. Sebentar lagi, dia akan diwisuda dan mendapat berbagai penghargaan sangat bergengsi sebagai lulusan dengan capaian terbaik baik dalam akademik maupun non akademik. Menariknya, penghargaan itu akan diberikan langsung oleh seorang Mantan Perdana Menteri yang sangat dihormati di negara itu. Dalam hati saya berbisik,  luar biasa dan beruntung sekali anak Indonesia lulusan sekolah islam di bilangan Serpong, Jawa Barat ini. Mungkin semua orang maklum dengan penghargaan itu, karena tidak saja prestasi akademik di Jurusan gabungan ilmu Bisnis dan Ilmu Komputer nya yang luar biasa, dia juga mantan ketua perhimpunan mahasiswa internasional di kampus kami.

Sambil kami terus berjalan, sesaat dia bercerita tentang rencana kedepan setelah dia lulus. Menurutnya, ada tiga hal yang harus dia capai dalam hidupnya. Yang pertama pendidikan setinggi-setingginya. Oleh karenanya, dia akan berjuang kembali mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri demi gelar masternya. Dia memang mendapatkan beasiswa penuh untuk gelar sarjananya. Yang kedua, financially growth, dia harus mandiri secara finansial. Oleh karenanya, suatu saat dia akan memilih menjadi pengusaha seperti keluarganya pada umumnya. Yang ketiga, socially contributed, dia harus juga berkontribusi terhadap lingkungan sosialnya termasuk terhadap agamanya. Dengan air muka sangat optimis dan ambisius, dia terlihat sangat yakin akan mampu mewujudkan semua mimpi-mimpinya itu. Hanya rasa kagum yang berlanjut dengan perasaan inferior yang menyelinap di dalam hati saya ketika berada di samping kawan saya yang luar biasa ini.

Belakangan saya tahu, di hari wisuda yang dinantinya itu  sang Perdana Menteri  berbisik kepadanya, ” You have every thing, just make it happen, Good Luck!” Dan belakangan saya juga tahu, kawan saya ini berhasil mewujudkan semua mimpi-mimpinya. Setelah gelar master berhasil dia dapatkan dengan beasiswa dan sederet penghargaan dari sebuah negara kaya raya di Timur Tengah. Tidak hanya sukses sebagai pengusaha, dia juga terkenal sebagai motivator dan penulis buku-buku national best seller . Bangga rasanya, tahu bahwa buku-buku best seller yang terpajang di toko buku itu penulisnya adalah orang yang saya kenal. Begitu juga ketika dia diundang sebagai pembicara oleh mahasiswa-mahasiswa di kampus saya mengajar, bangga rasanya kalau si pembicara itu adalah pernah jadi teman mbolang saya. Dia pun dikaruniai istri yang sangat cantik dan cerdas yang kebetulan juga saya kenal. Kebahagian itu bertambah sempurna dengan kehadiran buah hati mereka. Beruntung sekali kawan saya satu ini, diusianya yang lebih muda dari saya, dia sudah mendapatkan apa yang diimpikan oleh banyak orang. Dan saya pun hanya bisa mengagumi dan mendoakannya dari jauh.

****

Argh… kawan! itulah sawang -sinawang hidup. Setiap kita memiliki kenyataan hidup yang berbeda. Dan kita hanya melihat semuanya dengan seolah-olah. Padahal, pandangan seolah-seolah itu sering kali menipu. Seorang yang terlihat sangat kuat, sering kali kita tahu ternyata kenyataanya begitu rapuh dan lemah. Begitu juga sebaliknya, seorang yang kita pandang sebelah mata terlihat rapuh, tetapi sebenarnya sangat kuat dan luar biasa!

Kawan! sering kali kita hidup terjebak diantara bayang-bayang ambisi, keinginan, mimpi dan angan-angan kita. Seringkali, itu membuat kita lupa bahwa disana ada yang mengatur dan mengendalikan hidup kita. Jika ternyata ambisi, keinginan, mimpi, dan angan-angan kita terbentur dengan kenyataan yang ada. Janganlah frustasi, mengeluh, apalagi berputus asa. Sekuat tenaga kita berusaha, kita tetap tidak wajib untuk berhasil. DIA lah yang maha menentukan.  Jika kita sudah yakin telah melakukan yang terbaik, terkadang kita hanya perlu berdamai dengan diri sendiri. Ikhlas dan ridholah dengan ketetapan Yang Maha Menetapkan. Nerimo Ing Pandum kata orang Jawa. Qanaah kata orang Arab. Karena itulah kunci pintu-pintu kebahagiaan, ketentraman, dan keberkahan  hidup.

Semoga Tuhan menganugerahi kita keberkahan hidup senantiasa selalu, di dunia dan kehidupan setelah dunia ini berakhir, Ammiin!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s