Bu Risma: Pemimpin yang sudah lama saya Rindukan

Penampilanya sederhana nan bersahaja, banyak bekerja  dan sedikit beretorika. Bagi nya, jabatan bukanlah status sosial yang membuatnya merasa terhormat bak ratu atau raja. Tetapi amanah berat dari Tuhan, yang harus dia jalankan meski harus dengan berurai air mata. Dia akan sangat tegas dan marah besar jika sesuatu terjadi tidak sebagai mana seharusnya. Tetapi dia juga pemimpin wanita yang penuh cinta dan lembut hatinya. Yang mudah mengangis jika melihat penderitaan warganya. Dialah  Bu Risma, Wali Kota Surabaya yang mendunia dan dicinta itu.

bu_risma

Kemaren, Rabu Malam (12/02/2014) waktu Indonesia, jagad media sosial Twitter heboh dengan sebuah nama Bu Risma. Iya, wanita pertama wali kota surabaya itu menjadi trending topic nasional setelah curhatan hatinya ditayangkan pada acara talk show, Mata Najwa, di Metro TV. Banyak yang merinding, takjub  dan terkesima dengan kepemimpinan dan sosok pribadi arek suroboyo ini. Ada apa?

Jika anda berkunjung ke kota Surabaya, anda akan melihat bukti hasil kerja kerasnya. Berbeda dengan kota Jakarta yang secara kasat mata belum terlihat perubahanya, di Surabaya anda akan melihatnya. Surabaya yang dulu panas, kotor, dan gersang. Sekarang terlihat jauh lebih bersih, rindang, dan hijau. Ada banyak taman-taman kota yang ditata secara apik dan terkonsep tematik membuat kota ini semakin nyaman untuk ditinggali. Seorang teman asli Surabaya, yang dua tahun tidak pulang kampung karena belajar di Amerika, mengaku kaget sekaligus takjub dengan perubahan kota kelahiranya ini. Tapi, apakah pemimpin yang baik sekedar bisa membuat kota menjadi cantik?

Saya, yang kebetulan jauh dari tanah air pun, tak ketinggalan mengikuti dan mengagumi sepak terjang beliau dari jauh. Meskipun hanya dari beberapa video di youtube dan pemberitaan di media elektronik lainya, saya memiliki kesan pribadi yang mendalam terhadap pemimpin yang satu ini. Buat saya, Bu Risma adalah sosok pemimpin yang sudah lama dirindukan oleh rakyat  wong cilik selama ini. Kenapa?

Pemimpin yang Sangat Religious

Tingkat religious seseorang tidak kasat mata. Keimanan dan ketakwaan seseorang sama sekali tidak bisa diukur dari bungkus luarnya. Tidak diukur dari seberapa lebar dan gondrong jilbab nya atau seberapa panjang jenggot dan seberapa hitam jidad nya. Keagamaan seseorang juga tidak bisa dilihat  dari ibadah ritual dan seremonial belaka. Bukan diukur dari jumlah sudah berapa kali seseorang  menjalankan ibadah haji dan umrah. Bukan pula berapa kali dia sholat jamaah di masjid yang oleh wali kota Bandung Bengkulu akan diganjar mobil Inova.

Keagamaan adalah urusan sangat personal antara seorang hamba dan Tuhanya. Manusia bisa berpura-pura, seorang munafik bisa menyembunyikan kebusukan hatinya lewat jilbab lebar dan titel hajinya. Tetapi Tuhan melihat hati kita. Keimanan dan ketakwaan seseorang berada dihati, yang akan terpancar secara alamiah dari tutur kata dan perbuatan nyata.

Dari  beberapa tayangan wawancara dengan beliau, saya menangkap sinyal itu ada dari sosok Bu Risma. Tutur kata dan aura wajahnya menandakan kalau dia sangat Takut sama Tuhan nya dan tidak takut sama laiNya. Dia sangat takut jikalau dia mati nanti terakhir masuk syurga karena kepemimpinanya. Bu Risma juga sangat sadar betul bahwa dalam hidup nya ada kekuatan dan kekuasaan Tuhan yang mengatur segala-galanya. Dia sangat sadar bahwa ada tangan-tangan Tuhan yang bekerja dibalik tindakanya.

Itulah yang membuat dia terlihat sangat tidak membanggakan diri dengan segala capaian prestasi, apresiasi  dan pujian yang diarahkan kepadanya.

Pemimpin yang Amanah

Buat Bu Risma jabatan wali kota itu bukanlah sesuatu prestasi yang  harus dia raih apalagi diperebutkan. Buat beliau, jabatan itu adalah amanah berat dari Tuhan dan beliau pemimpin yang sangat sadar dengan amanah itu dan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankanya. Dalam Mata Najwa, dia bertutur : ” Saya tidak mau nanti saya tidak masuk syurga, gara-gara ada seorang rakyat yang merasa kecewa dengan kepemimpinan Nya”. Berkali-kali dia berkata dari dalam hati, ” BERAT”, dengan berurai air mata.

Kesadaran ini membuat dia sama sekali tidak tertarik dengan Jabatan Presiden, meski pun banyak orang lain berusaha memperebutkan jabatan itu.

Pemimpin Pekerja dan Pengabdi Sejati

Bu Risma bukanlah pemimpin politisi yang pandai beretorika kosong. Mungkin latar belakang pendidikan teknik dari Teknik Arsitektur ITS yang membuat dia lebih banyak memimpin dengan bekerja dari pada berkata-kata. Dia adalah pemimpinya para pekerja. Dia tidak pernah menyuruh hanya dengan berkata-kata, tapi dengan kerja dan keteladanan langsung.

Bukan rahasia lagi,  kalau dia tak segan-segan memungut sampah langsung di jalanan, memperbaiki got, gorong-gorong dan saluran air, bahkan mengatur lalu lintas sendiri. Dia juga berusaha memberikan segala yang dimiliki, waktu, dan segala keahlianya dicurahkan secara all out untuk kota Surabaya yang dipimpinya.

Pemimpin ala Umar Bin Khatab

Jika anda pernah membaca, sejarah para sahabat nabi, sepak terjang beliau mirip sekali dengan kepemimpinan ala Umar Bin Khatab. Yaitu blusukan langsung menemui rakyat kecil yang dipimpinya secara sembunyi-sembunyi. Blusukanya tidak perlu membawa media untuk pencitraan belaka. Blusukanya inilah yang pada akhirnya menjadi inspirasi-inspirasi kepemimpinanya. Seperti bertemu PSK senior, berumur 60 tahunan dengan pelanggan anak SD dan SMP yang pada akhirnya membulatkan tekadnya untuk menutup Lokalisasi protistusi terbesar di Asia Tenggara itu.

Dia juga bertemu rakyat renta jelata berumur 90 tahun yang sakit terkapar tak berdaya ditungguhi anaknya umur 60 tahun yang ternyata gila. Blusukanya ini yang menyadarkan dia bahwa masih banyak rakyat surabaya yang hidup masih dalam pelukan derita. Orang-orang tertindas dan terlemahkan inilah yang menjadi inspirasi yang meneguhkan kepemimpinanya hingga detik ini.

Pecinta sejati wong cilik

Dia sangat mencintai rakyat miskin dan anak yatim sebagaimana yang diajarkan kanjeng Rosul Muhammad S.A.W.  Kebijakanya banyak berpihak kepada rakyat jelata ketimbang para pengusaha. Menaikkan pajak reklame dan penolakan pembangunan Tol tengah kota adalah buktinya. Jauh sebelum pemerintah memberikan dana BOS, Surabaya adalah salah satu kota yang pertama menggratiskan sekolah dan juga pelayanan kesehatan.

Anak-anak miskin dan yatim dia perhatikan khusus, dengan memberikan beasiswa, memasukkan ke sekolah-sekolah unggulan tanpa tes, bahkan ada yang sampai disekolahkan untuk sekolah S1 hingga S3 di Malaysia. Dia sendiri yang mencari anak-anak itu.

Di akhir acara Mata Najwa, Bu Risma menuturkan kata-kata yang sangat indah khusus buat anak-anak yang kurang beruntung itu,

Bahwa keberhasilan dan kesuksesan itu adalah hak semua orang. Kalian tidak perlu berpikir darimana asal kalian atau siapa orang tua kalian. Orang tua kalian tukang becak, orang tua kalian buruh cuci, kalian berhak untuk berhasil. Karena Tuhan itu Maha Adil.

Maju terus Bu Risma! kami rakyat kecil mencintai dan senantiasa mendukung mu!

Advertisements

8 comments

  1. Bu Risma, menunjukkan bahwa seorang nasionalis adlah religius pada level yg lebih tinggi.
    Bahwa moralitas dalam pemerintahan adalah peraturan yang tegak, bukan masalah sholat berjamaah, bukan masalah makan harus pakai tangan kanan. Justru lebih hakikat dr sekedar pakai tangan yg mana, krn lebih dalam lagi apakah ada yg dimakan ?? Apakah semua rakyatnya sudah makan ??
    Bagaimana dgn pemimpin2 lain negri ini yg ngakunya muslim, dan diangkat dr parpol2 islam, yg mengaku memiliki moralitas tinggi krn hal itu, apakah anda tidak malu dgn apa yg dilakukan bu Risma yg anda cap “merah” krn diangkat partai merah, yg slalu anda katakan tempatnya para bajingan ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s